
"kakak tinggal sebentar ya, kakak mandi dulu kamu mau apa biar kakak ambilkan atau kamu mau istirahat saja?" Tanya arya setelah membuat sang istri duduk nyaman di atas ranjang mereka.
"Jangan suruh Dira tidur terus dong kak, Dira sudah bosan istirahat beberapa hari di rumah sakit. Dira hanya ingin buah saja sepertinya segar sekali." Ucap Dira membayangkan kesegaran buah di sore hari itu.
Arya tersenyum sembari mengelus kepala sang istri, Arya bahagia karena beberapa hari ini Dira semakin manja kepadanya. Tak mengapa di repotkan oleh permintaan sang istri yang kadang-kadang sedikit tidak masuk akal. Arya merasa bahagia karena bisa merasakan bagaimana repotnya mencari keinginan Dira yang sedang ngidam. Kali ini Arya bersyukur sang istri tidak meminta yang aneh-aneh hanya buah saja bukankah itu sangat mudah, mengingat sang mama yang selalu membeli persediaan buah cukup melimpah di rumah mereka.
"Hanya itu?" Tanya Arya memastikan.
Dira menganggukkan kepalanya, kemudian Arya keluar dari kamar mereka dan langsung menuju dapur untuk mengambilkan pesanan sang istri. Dari kejauhan Davina melihat putranya mendekat ke arah dapur, beberapa asisten rumah tangga memang sedang sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam sedangkan Davina sedang mengupas buah untuk di berikan kepada sang menantu. Walau tidak di minta oleh Dira tapi sebagai wanita yang sudah berpengalaman ia tahu jika ibu hamil sangat baik mengkonsumsi buah. Davina ingin merawat dan memastikan sang menantu memakan makanan yang bergizi dan sehat.
"Kamu ngapain kesini, sana temani istri kamu. Jangan di tinggal sendiri kasihan nanti Dira kesepian." Tegur Davina pada sang putra yang kini berada di hadapannya.
"Arya mau ngambil buah untuk Dira, katanya ia pengen makan buah ma." Jawab Arya santai.
"Ya sudah kamu bawa saja ini, mama memang mengupas buah ini untuk Dira." Davina menyerahkan sepiring buah segar yang terlihat menggiurkan untuk di cicipi.
Arya tersenyum dan langsung mengambil sepiring buah segar yang sudah di kupas dan di potong-potong oleh sang mama. Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padanya hari ini tidak seperti biasanya, kali ini permintaan sang istri bisa ia dapatkan tanpa hambatan dan rintangan seperti biasanya.
"Terima kasih mama" Ucap Arya mencium pipi Davina kemudian pergi meninggalkan sang mama yang tersenyum melihat kelakuan putra semata wayangnya itu.
Davina kini bahagia karena Arya sudah sadar dan berubah, kini putra satu-satunya itu sudah mencintai menantu kesayangannya itu. Bahkan Davina tahu jika saat ini sang putra sang takut kehilangan Dira. Davina hanya bisa berdoa semoga Tuhan berbaik hati kepada mereka agar Dira bisa sembuh sehingga kebahagian mereka tidak hilang.
__ADS_1
"Sayang ini buahnya, apa kakak sudah bisa mandi atau kamu masih menginginkan sesuatu ratuku ?" Tanya Arya memberikan sepiring buah yang ia bawa kepada Dira.
"Tidak ada rajaku, silahkan yang mulia anda bisa segera membersihkan diri anda yang mulia." Ucap Dira membalas godaan sang suami.
Arya semakin gemas melihat tingkah Dira yang membalas godaannya, ingin rasanya ia menerkam wanita yang ia cintai itu. Arya teringat bagaimana panasnya percintaan mereka saat liburan waktu itu. Rasanya Arya ingin sekali mengulang malam tersebut, membuat Dira mendesah nikmat di bawah kukungannya.
Tapi semua itu hanya akan menjadi angan-angan saja, karena sang Dokter kandungan sudah berpesan agar Arya tidak menyentuh Dira sampai mereka kembali kontrol kandungan Minggu depan. Dokter harus memastikan keadaan Dira dan kandungannya sudah kuat dulu baru ia bisa menyentuh sang istri.
"Baiklah kakak mandi dulu, kamu jangan turun dari ranjang kita. Ingat pesan dokter kamu harus bed rest total, kalau ada apa-apa panggil saja kakak." Ucap Arya mengingatkan sang istri.
Arya kini sudah di dalam kamar mandi dengan cepat ia menyalakan shower untuk mendinginkan badannya yang sempat bergairah saat mengingat percintaan panas mereka, lelaki itu harus bersabar untuk berpuasa seminggu ke depan dan berharap Minggu selanjutnya ia sudah bisa menyentuh Dira.
*****
Tok.... tok....
Terdengar suara pintu kamar Arya di ketok, Arya dan Dira sedang asyik menikmati drama Korea romantis terganggu dengan suara ketukan tersebut. Setelah selesai mandi, sepasang suami istri itu menikmati waktu mereka dengan menonton sesuai dengan keinginan Dira. Walau tidak terlalu menyukai drama Korea tetapi Arya dengan setia menemani sang istri. Ya beginilah Arya sekarang yang sudah bucin kepada istrinya. Arya terpaksa melepaskan pelukannya pada tubuh Dira dengan malas Arya menuruni ranjang dan membukakan pintu kamarnya.
ceklek....
Terlihat dua orang asisten rumah tangga berdiri dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Arya dan Dira.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Arya sedikit kesal karena kemesraannya dengan sang istri terganggu.
"Kami hanya ingin mengantarkan makanan ini untuk tuan Arya dan nona Dira, nyonya Davina yang menyuruh kami tuan." Ucap asisten rumah tangga itu.
"Bawa masuk dan letakkan di meja saja." suruh Arya.
Setelah asisten rumah tangga itu keluar, Arya langsung menggendong sang istri untuk duduk di sofa untuk menikmati makan malam mereka. Dengan telaten Arya melayani Dira, membuat wanita hamil itu merasa tidak berguna. Arya yang menyadari perubahan raut wajah sang istri yang kini menjadi murung menjadi khawatir.
"Sayang kamu kenapa, apa yang salah? Apa kamu tidak menyukai makanannya, kalau tidak biar kakak ganti. Katakan makanan apa yang kamu inginkan?" Tanya Arya panik.
Dira menggelengkan kepalanya, air matanya menetes membasahi wajah cantiknya yang mana membuat Arya semakin bingung dan panik. Arya merasa dia tidak melakukan kesalahan tetapi kenapa istrinya jadi menangis seperti ini.
"Terus kenapa kamu nangis sayang?" Tanya Arya lembut.
"Aku merasa tidak berguna kak, harusnya aku yang melayani kakak bukan kakak yang melayani aku. Aku hanya menjadi beban untuk kakak." Ucap Dira terisak.
Arya langsung menarik Dira ke pelukannya menenangkan sang istri yang sedang tidak percaya diri dan merasa tidak berguna. Arya paham apa yang di rasakan sang istri saat ini. Dengan penuh kasih sayang Arya mengelus punggung Dira menenangkan tangisan istrinya dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi di kening sang istri.
"Kamu ngomong apa sih dek, kakak tidak merasa terbebani. Kakak malah senang bisa melakukan semua ini. Seorang suami atau istri harus ada disaat pasangannya sedang senang atau sedih, sehat atau sakit. Kamu jangan pikirkan apapun, kakak hanya meminta agar kamu kuat dan berjanjilah untuk tetap bertahan jangan tinggalkan kakak. Kamu pasti sembuh, kita akan merawat anak-anak kita bersama."
rasain Lo Arya, bucin kan lo sekarang.
__ADS_1