Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Ketahuan


__ADS_3

Bib...bib....bib....


Terdengar seseorang menekan Sandi apartemen Arya, dengan cepat Arya langsung mencium bibir Tari. Laki-laki itu yakin jika yang datang adalah istrinya. Arya sengaja mencium Tari agar Dira sakit hati. Tari langsung membalas ciuman Arya bahkan tanpa ragu-ragu wanita itu mengalungkan tangannya di leher sang kekasih, Tari tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Walau ia tahu jika Arya menciumnya hanya untuk membuat Dira cemburu dan sakit hati. Sebab sejak sampai di apartemen Arya, kekasihnya itu hanya bersikap biasa dan berubah saat mengetahui seseorang ingin masuk barulah Arya dengan cepat menciumnya.


Tari mengikuti permainan Arya karena apa yang di lakukan Arya sangat menguntungkan dirinya.


Tari semakin agresif ******* bibir sang kekasih bahkan dengan cepat ia duduk di atas pangkuan Arya. Wanita itu menelusuri leher sang kekasih bahkan Tari dengan cepat membuka kemeja Arya.


Deg....


Detak jantung Arya berdetak dengan cepat, tak menyangka Tari akan bersikap seberani itu. Rencana awal Arya hanya ingin mencium Tari tetapi kekasihnya itu begitu agresif sehingga ia terpaksa melanjutkan permainan tersebut. Sebenarnya ada sedikit rasa takut dan was-was akan reaksi Dira saat melihat keintiman dirinya dengan Tari.


Jauh di lubuk hati Arya yang paling dalam lelaki itu tidak tega untuk menyakiti istrinya tetapi rasa ego dan hasutan dari Tari membuat ia tidak bisa berpikir dengan benar. Sikap cuek dan masa bodoh Dira padanya membuat Arya nekat membawa Tari ke apartemen mereka walau sudah di peringatkan oleh Dira.


Dira memasuki apartemennya dengan membawa barang belanjaan di tangannya, wanita itu ternyata dari supermarket. Dira diam mematung saat melihat suaminya sedang bercumbu dengan kekasih suaminya. Dengan jelas Dira melihat betapa panasnya adegan di depannya, terlihat sang wanita yang begitu aktif menjamah tubuh suaminya.


Bohong jika Dira tidak sakit melihat keintiman suaminya dengan wanita lain walau ia selama ini bersikap cuek dan tidak peduli. Rasa cinta itu masih sama, Dira masih mencintai Arya. Tetapi wanita itu sudah lelah menanti cinta sang suami yang tak kunjung ia dapatkan. Sehingga membuat Dira berusaha melupakan Laki-laki yang selalu membuat ia menangis.


Sekuat tenaga Dira menahan air mata, Dira mengepalkan tangannya menahan rasa sakit yang begitu menusuk di hatinya.


Tari tersenyum saat melihat amarah di wajah Dira, wanita itu terus melanjutkan aksinya walau sudah mengetahui jika istri dari kekasihnya sedang menyaksikan aksi keduanya.


Dira yang sudah tidak tahan melihat adegan menjijikkan itu berjalan dengan cepat mendekati keduanya, emosi Dira sudah di ubun-ubun dengan sekuat tenaga Dira melempar belanjaan yang ada di tangannya tepat mengenai kedua manusia yang sedang asyik bercumbu itu.


"Akh. .."

__ADS_1


Tari mengerang kesakitan karena merasakan sakit sedangkan Arya menatap tajam pada istrinya. Arya tidak menyangka jika Dira yang ia kenal manja dan lembut bisa berbuat sekasar itu. Sejujurnya melihat sorot mata sang istri membuat Arya sedikit takut tapi sudah kepalang tanggung membuat Arya melanjutkan rencananya. lagian bukannya itu bagus, ternyata ia berhasil membuat Dira marah dan sakit hati.


"Kamu apa-apaan sih lempar orang sembarangan. Kamu pikir kamu siapa. Menganggu saja." Bentak Tari sementara Arya hanya diam sembari memperhatikan gerak gerik Dira yang terlihat emosi.


"Kamu yang siapa, berani-beraninya datang ke apartemen saya dan berbuat mesum di sini. kamu pikir ini tempat maksiat. Sekarang pergi dari sini." Teriak Dira.


"Ini apartemen kekasih saya, jadi kamu tidak ada hak untuk mengusir saya." Ucap Tari dengan sombong.


Dira tertawa melihat wanita yang ada di hadapannya, rasanya tidak percaya jika ada manusia yang tidak punya urat malu seperti ini. Sepertinya ia perlu untuk mengingatkan wanita ini dengan siapa ia berhadapan sekarang.


"Kamu lupa jika kekasihmu itu adalah suami saya. Sampai ke ujung dunia sekalipun kamu tidak akan pernah menang melawan saya. Ingat baik-baik dan simpan di dalam otak kotormu itu. Saya adalah nyonya di rumah ini, diakui negara dan agama sedangkan kamu cuma wanita simpanan suami saya yang akan selalu hina di mata dunia. Saya tidak sudi wanita murahan sepertimu menginjak tempat tinggal saya. Jadi pergi dari sini jangan mengotori apartemen ini dengan keberadaan mu." Dira menarik Tari dengan kasar.


"Dira hentikan, cukup.... Jangan sakiti kekasihku." Bentak Arya.


"Aku tidak akan berhenti sampai wanita murahan ini pergi dari sini. Sudah aku peringatkan jangan pernah membawa wanita sampah ini ke sini tapi kamu malah berani berbuat kotor di sini. Ayo keluar dari sini." Dira menarik paksa Tari yang merengek agar dibela oleh Arya.


"Akhhh...."


Terdengar erangan kesakitan Dira tetapi Arya sama sekali tidak peduli, dengan cepat ia menggapai tangan Tari untuk membawa sang kekasih pergi.


"Jangan pernah mencoba untuk menyakiti Tari karena ia adalah wanita yang sangat berharga untukku. Jika sekali lagi kamu berani menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu." Ucap Arya.


Arya mengandeng tangan Tari, mengajak wanita itu pergi, tapi sayang saat Arya berbalik tiba-tiba tubuhnya menegang saat melihat dua orang yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Arya menelan ludahnya dengan kasar karena tidak menyangka kedua orang tuanya melihat semua perlakuannya pada Dira.

__ADS_1


Bugh....


"Dasar anak kurang ajar. Beraninya menyakiti menantuku." Teriak Hendra memberi satu bogem mentah di wajah sang anak.


"Aku bisa jelasin semuanya pa, papa salah paham. Aku tidak akan berbuat kasar jika wanita itu tidak mencari masalah pa." Ucap Arya mencoba menjelaskan.


"Jangan mencoba membela diri Arya, jelas-jelas kamu yang salah dengan membawa wanita itu ke apartemen kalian. Apa kalian menjalin hubungan di belakang kami? Dimana otak kamu Arya, sadar nak. Wanita ini yang sudah meninggalkan kamu." Ucap Hendra dengan emosi.


"Ya kami memang menjalin hubungan kembali. Tari meninggalkanku karena ancaman dari almarhum papa Dira pa, beliau tega melakukan itu agar putrinya menikah denganku." Ucap Arya dengan nada sedikit meninggi.


Plak....


Terdengar suara tamparan yang begitu keras mengenai wajah Arya, bukan Hendra kali ini Davina yang melakukannya.


"Jaga ucapan kamu Arya, apa kamu punya bukti dengan semua omonganmu ini?" Tanya Davina yang terlihat kecewa dengan sang putra.


Arya terdiam sembari menahan sakit akibat pukulan dan tamparan dari kedua orang tuanya. Laki-laki itu bungkam karena memang tidak memiliki bukti.


plaaakkkk....


"Jadi kamu yang menghasut anak saya, tega kamu memfitnah orang yang sudah tiada. Dasar wanita murahan pergi kamu dari sini." Teriak Davina.


Saat semuanya sedang sibuk adu mulut, Dira yang sudah menahan sakit sedari tadi akhirnya bersuara.


"Tolong, mama tolong Dira ma." Ucap Dira takut saat melihat darah mengalir di kakinya.

__ADS_1


Jangan bilang up-nya sedikit ya, karena author gabungin jadi satu bab. Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat lagi.


__ADS_2