
"Arrgghhh....." Teriak Tari seperti orang kesetanan.
Ruang tamu apartemen yang semula tertata rapi kini sudah seperti kapal pecah, barang-barang sudah tidak pada tempatnya akibat dari pelampiasan amarah Tari. Wanita itu mengamuk tidak terima dengan keputusan Arya yang mengakhiri hubungan mereka. Arya bahkan tidak peduli saat ia memohon agar hubungan mereka tetap berlanjut bahkan Tari dengan suka rela menunggu sampai anak yang di kandung Dira lahir agar Arya bisa menceraikan Dira seperti yang di katakan Arya dahulu.
Arya seolah tuli dan tidak mendengar semua permohonan Tari, selesai dengan urasannya dengan cepat laki-laki itu pergi meninggalkan apartemen Tari tanpa mau memperdulikan tangisan Tari yang masih dapat di dengar olehnya, dimana hal itu membuat Tari semakin meradang.
"Sial, kenapa jadi seperti ini. Bahkan aku tidak bisa mempengaruhi Arya dengan aktingku lagi. Ternyata wanita itu tidak bisa di anggap remeh, dengan mudahnya ia bisa membuat Arya memilihnya dan meninggalkan aku.
Lihat saja Arya, aku akan membuat kamu kembali lagi dan untuk kamu wanita sialan, tunggu waktunya karena aku pasti akan menyingkirkan kamu." Tangis tari meratapi rencana yang sudah ia susun tidak berjalan sesuai ekspektasinya.
Arya yang baru memasuki mobilnya setelah keluar dari apartemen Tari tidak langsung menghidupkan mobilnya. Laki-laki itu lebih memilih untuk duduk di dalam mobil terlebih dahulu. Arya memejamkan matanya kemudian ia memegang dadanya, ada perasaan lega setelah ia memutuskan hubungannya dengan Tari. Bukan perasaan sakit seperti yang ia pikirkan, bahkan saat mendengar tangisan Tari tadi ia tidak merasa iba sedikitpun.
"Kenapa aku malah merasa lega dan plong setelah menyelesaikan hubungan ini. Apa benar rasa cinta untuk Tari itu sudah hilang? Ya benar rasa cinta itu sudah tidak ada, aku hanya merasa bersalah saja karena biar bagaimana Tari adalah korban dari perbuatan mertuaku. Sudahlah tidak usah di ingat lagi sekarang aku harus fokus untuk merawat Dira aku ingin selalu ada di sampingnya dan memberikan ia kebahagiaan." Ucap Arya berbicara dengan dirinya sendiri.
*
*
*
Tidak terasa sudah tiga hari Dira di rawat, keadaan wanita hamil itu berangsur-angsur mulai membaik, Dira selalu di temani oleh Arya dan ibu mertuanya. Bahkan Hendra terpaksa mengambil alih pekerjaan putranya karena Arya ingin fokus untuk merawat Dira.
__ADS_1
Hubungan Arya dan Dira kembali membaik setelah Dira sadarkan diri. Arya meminta maaf kepada istrinya dan berjanji akan selalu ada di sampingnya bahkan Arya mengatakan jika ia sudah tidak berhubungan dengan Tari.
Dira memaafkan suaminya tetapi wanita itu tidak percaya begitu saja dengan semua apa yang dikatakan oleh Arya. Dira berpikir Arya hanya ingin menyenangkan hatinya saja, toh jika ia sudah tiada laki-laki itu pasti kembali kepada Tari. Dira beranggapan mungkin Arya hanya ingin membuat ia bahagia sebelum azal menjemputnya.
"Kondisi jantung kamu sudah membaik Dira, sore ini kamu sudah boleh pulang. Tapi ingat semua yang kakak katakan jangan di langgar agar kondisi kamu terus stabil." Ucap Dani memperingati Dira.
"Iya kak. Dira akan mematuhi semua perintah kakak." Jawab Dira tersenyum manis.
"Ya sudah kalau begitu kakak pamit dulu, Ar sebaiknya kamu urus administrasinya agar bisa pulang." Suruh Dani sengaja agar Arya ikut keluar bersamanya.
Kedua lelaki tampan itu kini sedang berjalan di koridor rumah sakit sembari berbincang. Tak sedikit para wanita melirik kedua lelaki tampan itu, memuja ketampanan keduanya. Dani kembali mengingatkan Arya agar bisa menjaga emosi dan pikiran Dira.
"Iya kamu tenang saja karena aku sudah mengakhiri hubungan kami. Dira pasti aku rawat dengan baik, apa kamu lupa kalau aku adalah suaminya." Jawab Arya sedikit ketus.
"Apa kamu salah minum obat sampai bisa dengan entengnya mengakhiri hubungan kalian, bukannya kamu cinta sekali dengan wanita licik itu. Apa jangan-jangan ada udang di balik batu ?" Ucap Dani tidak percaya.
"Apaan sih, jangan pikir yang aneh-aneh deh. Aku sudah sadar kalau sekarang bukan cinta yang aku rasakan untuk Tari tapi rasa bersalah karena gara-gara mertua gue dia jadi begini Dan." Ucap Arya.
"Hahahaha.... kirain otak kamu sudah benar tapi masih eror ternyata. Ingat ya Ar, gue jamin setelah kamu mengetahui yang sebenarnya kamu bakal nangis darah karena di penuhi rasa sesal. Tari tidak sebaik yang kau kira dan mertuamu tidak bersalah mereka hanya korban fitnah Tari. Gue gak maksa kamu untuk percaya sekarang tapi gue janji akan bawa bukti bahwa Dira dan mertua kamu tidak ada hubungannya dengan kepergian Tari." Ucap Dani kemudian pergi meninggalkan Arya.
Arya mematung mendengar ucapan sepupunya itu, Arya tahu jika Dani tidak akan pernah asal bicara. Arya semakin gusar apa yang sebenarnya terjadi. Apa Dani mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui pikirnya.
__ADS_1
*
*
*
Arya menyelimuti tubuh Dira yang sudah berbaring di ranjang mereka. Arya dan Dira sudah sampai di apartemen dan kini sedang berada di kamar.
"Kamu istirahat ya, nanti kakak bangunin kalau sudah mau makan malam. Kakak mandi sebentar. " Ucap Arya dengan lembut.
Dira menganggukkan kepalanya sedangkan Arya mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya kemudian ia beranjak dari duduknya dan bergegas memasuki kamar mandi.
Selama Arya di kamar mandi Dira tidak dapat beristirahat dengan tenang karena sedari tadi dering ponsel Arya mengganggunya. Rasa penasaran membuat Dira menyentuh ponsel Arya yang berada di atas nakas samping tempat tidur mereka. Karena sedari tadi tidak berhenti berbunyi Dira takut jika itu adalah panggilan penting tapi setelah ia melihat layar ponsel Dira hanya menghela napasnya dengan kasar ternyata yang menghubungi Arya adalah Tari.
"Katanya sudah tidak ada hubungan apa-apa tapi nama kontaknya saya masih honey, Ya sudahlah aku sudah tidak peduli dan sudah tidak berharap lagi. Ingat Dira kamu hanya ingin menghabiskan sisa umur kamu dengan lelaki yang kamu cintai dan ingat jangan pernah mengharapkan cintanya." Ucap Dira mengingatkan dirinya.
Dira sudah terbiasa dan semakin menguatkan hatinya, kembali ke tujuan awal yaitu menghabiskan sisa hidupnya dengan Arya dan calon anak mereka. Setidaknya ia, Arya dan calon anaknya pernah hidup bersama.
"Kamu tenang saja ya nak, mama akan buat papa ada terus bersama kita selama kamu ada dalam perut mama, mama pastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang dari papa dan mama selama kamu di dalam perut mama. Tapi maaf ya nak jika nanti kamu lahir mama tidak bisa merawat kamu. Tapi kamu harus tahu kalau mama sangat sayang sama kamu melebihi diri mama sendiri." Ucap Tari mengelus perutnya.
Hari ini segini saja ya sudah lebih seribu kata. jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih.
__ADS_1