Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Kamu Pasti Kuat


__ADS_3

Tidak ingin berlarut dalam rasa sesalnya, Bimo akhirnya mendekati kedua wanita yang sangat berharga di hidupnya itu, melihat sang istri yang sangat kesakitan membuat Bimo ingin menggantikan rasa sakit istrinya jika bisa. Tak tega melihat wanita yang begitu ia cintai itu meringis kesakitan sampai berurai air mata.


"Ma kenapa tidak ada Dokter yang mendampingi istriku. Dimana mereka semua, apa mereka hanya makan gaji buta. Pelayanan seperti apa ini, lihat saja nanti akan aku tuntut rumah sakit ini." Ucap Bimo yang kini berdiri di samping mamanya.


"Astaga ni anak ngagetin orang saja, tiba-tiba nongol sudah seperti setan saja. Dari mana kamu dasar suami sialan, bisa-bisanya kelayapan saat istri hamil tua. Mana datang-datang bukannya bantu nenangin istrinya malah sibuk mau nuntut rumah sakit. Bukan rumah sakit yang di tuntut tapi kamu yang lebih baik di tuntut sebagai ayah dan suami tidak bertanggung jawab. Istri kamu masih pembukaan tujuh, bukannya Dokter dan perawat menelantarkan istrimu mereka sudah datang bolak balik untuk mencek pembukaan, makanya jangan telat biar tahu. Wanita melahirkan memang seperti ini, tunggu bukaan lengkap baru bisa melahirkan. Jangan sok tahu jadi orang, main nuntut segala. Lebih baik sekarang kamu temani istri kamu, jangan ketika membuatnya saja kamu cepat." Omel mama Bimo yang kesal melihat tingkah putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


Kini hanya Bimo dan Bunga yang tinggal di dalam ruangan itu, sedangkan mama Bimo sudah keluar karena sudah terlalu capek menemani sang menantu sedari tadi. Mama Bimo memang sengaja meninggalkan sepasang suami istri itu berdua di dalam, agar Bimo bisa melihat bagaimana perjuangan menantunya untuk melahirkan keturunan mereka. Semoga dengan melihat pengorbanan Bunga yang siap bertarung nyawa demi sang anak membuat Bimo berpikir seribu kali untuk menyakiti menantunya itu.


"Dimana yang sakit sayang?" Tanya Bimo membuat Bunga semakin kesal mendengar pertanyaan suaminya.


"Mas Bimo masih nanya, menurut mas kalau wanita hamil ingin melahirkan itu yang sakit apanya, perutnya atau kepalanya?" Ucap Bunga menahan kesal dan sakit bersamaan.

__ADS_1


"Kalau sudah tahu kenapa di tanya lagi sih mas, jangan buat aku kesal deh. Lebih baik bantu aku elus perut dan pinggang aku. Rasanya sakit sekali, oh tuhan tolong aku tuhan." Tangis Bunga kembali pecah saat kontraksi tiba-tiba datang lagi.


Entahlah karena panik atau mungkin karena ini pengalaman pertama menemani istrinya bersalin membuat Bimo gugup dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Melihat Bunga yang terus menangis bahkan berteriak kesakitan membuat laki-laki itu ikutan panik. Tak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi berusa ia tahan kini Bimo sudah tidak malu lagi menangis melihat kondisi sang istri. Biasanya ia selalu bisa mengatasi semua masalah dengan mudah, hanya perlu uang dan kekuasaan saja pasti sudah beres. Tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyemangati sang istri. Sembari mengelus pinggang dan perut Bunga, Bimo juga terus memberi kata-kata cinta dan penyemangat saat Bunga sudah mulai menyerah.


"Mas sakitnya semakin menjadi, aku sudah gak kuat mas." Aduh Bunga yang kini wajahnya sudah di banjiri keringat.

__ADS_1


"Jangan seperti itu sayang, kamu harus kuat kamu pasti bisa. Istriku adalah wanita kuat yang pantang menyerah. Sedikit lagi sayang kita akan bertemu dengan buah hati kita. Jangan takut mas akan menemani kamu, mas sangat mencintaimu Bunga." Tutur Bimo mencium kening istrinya.


__ADS_2