
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, Arya dan Dira hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka. Arya menepati janjinya membuat Dira bahagia hidup bersamanya. Dira selalu merasa di cintai oleh suaminya, kini wanita itu merasa sangat beruntung dalam hidupnya. Bagaimana tidak hidupnya sekarang berubah drastis, dulu hanya ada air mata dan kesedihan yang kerap menemaninya berbanding terbalik dengan hidupnya yang sekarang di penuhi cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
Dicintai laki-laki yang selama ini dicintainya, memiliki dua buah hati yang lucu dan menggemaskan, tumbuh sehat dan aktif. Memiliki mertua yang baik hati sungguh indah bukan hidup Dira.
Pagi itu suasana rumah keluarga Nugroho di hiasi oleh kecerewetan Gita di meja makan, anak perempuan yang akan memasuki taman kanak-kanak itu selalu ada saja tingkah lucunya berbanding terbalik dengan Gilang yang terlihat lebih anteng dan cuek. Davina dan Hendra sangat menikmati peran mereka sebagai kakek dan nenek, kehadiran si kembar membuat hidup mereka lebih berwarna. Menghabiskan masa tua bermain dengan cucu adalah impian keduanya. Jadi jangan heran kalau Dira bisa dengan tenang meninggalkan kedua buah hatinya saat ia bekerja mengurus perusahannya.
Setelah setahun sembuh dari sakitnya akhirnya Dira kembali bekerja, sesekali ia pergi memantau perusahan peninggalan sang papa. Dira memang sudah mempercayakan perusahan tersebut pada dua sahabatnya Rio dan Lisa. Wanita itu hanya sesekali mendatangi perusahan itu untuk memantau perusahan. Sebagai istri dan ibu Dira sangat pandai membagi waktunya antara keluarga dan pekerjaan. Dira tidak ingin terlalu sibuk dalam bekerja sehingga ia tidak bisa mengurus anak dan suaminya.
__ADS_1
Dira sebisa mungkin menjadi ibu dan istri terbaik, selalu ada saat anak dan suaminya butuh. Mencurahkan semua cinta dan kasih sayangnya pada keluarga kecilnya. Dira tidak ingin memberi cela sedikit saja bagi para wanita-wanita pengincar suami orang yang kini sedang merajalela di luar sana, menunggu laki-laki beristri yang siap di mangsa. lengah sedikit saja akan berakibat fatal. Dira memastikan Arya terurus segala kebutuhannya, begitu juga dengan kebutuhan ranjang Dira sangat memperhatikan itu.
Dira sadar hal terberat bagi kebanyakan laki-laki adalah menahan nafsu mereka, oleh karena itu Dira tidak akan membiarkan sang suami tidak tercukupi kebutuhan ranjangnya. Jika sudah terpuaskan Dira yakin Arya akan tahan dengan berbagai macam godaan di luar sana.
"Hari ini cucu-cucu kakek sudah mulai masuk sekolah ya? Nanti yang rajin ya belajarnya." Ucap Hendra pada kedua cucunya.
Pagi itu semua keluarga Nugroho sedang menikmati sarapan pagi mereka bersama, tidak terasa si kembar akan memasuki taman kanak-kanak rasanya Hendra tidak rela karena semakin hari cucunya semakin besar, lelaki paru baya itu tidak ingin kehilangan momen bersama kedua cucunya. Jika sudah memasuki bangku sekolah, otomatis waktu kebersamaannya bersama kedua cucu kesayangannya akan berkurang.
__ADS_1
"Kenapa tidak ingin menjadi seperti papa sayang?" Goda Arya pada anak perempuannya itu.
"Tidak mau, papa terlalu sibuk. Gita ingin seperti mama saja, pergi ke kantornya tidak sering seperti papa. Gita juga ingin menjadi istri dan ibu seperti mama. Kalau papa mau suruh saja Abang Gilang seperti papa." Ujar Gita pada sang ayah.
"Gilang gak mau, Gilang mau jadi pilot saja." Tolak Gilang yang sedari tadi diam saja.
Terlihat anak lelaki itu tidak suka dengan usulan sang adik yang selalu menyuruhnya untuk seperti ayah mereka.
__ADS_1
"Sudah jangan ribut lagi, terserah Gilang mau jadi apa kalau sudah besar nanti. Sekarang ayo habiskan sarapannya." Tegur Davina menengahi perdebatan antara cucu dan anaknya itu.
"Sudah-sudah