
...Persoalannya kesedihan dan kebahagiaan itu kadang kala pemberian, walau kita telah berusaha mengejar dan meninggalkannya...
...~ Anugrah Dwi Altaf Aksara...
...Happy Reading...
" Mas Altaf ayo ih buruan kita berangkat.. " Teriakan Nafisah yang memenuhi ruang di pagi ini
" Ya sayang sebentar mas ambil jaket mas dulu. " Ucap Altaf yang melangkahkan kaki nya menuju lemari pakaian, ia mengambil jaket nya lalu dia pun kembali ke tempat Nafisah berdiri menunggunya.
" Sudah?. " Tanya Nafisah.
" Sudah, yuk. " Altaf menggandeng tangan Nafisah untuk berjalan ke luar. Mereka berdua pergi dengan menggunakan taksi online karena lumayan jauh dari hotel.
...•••...
Setiba mereka, Nafisah langsung kagum akan indahnya tempat ini.
" Subhanallah. " Ucap Nafisah karena dia sangat suka tempat indah seperti ini, udara yang sejuk membuat dia lupa akan segalanya.
" Mas ke sana yuk. " Ucap Nafisah yang menarik tangan Altaf, Altaf hanya bisa pasrah dan ikut saja selagi istrinya itu bahagia dia akan nurutin semuanya.
" Mas Altaf. " Panggil Nafisah saat melihat suami nya itu diam saja sejak awal mereka sampai. Nafisah bertanya-tanya dalam hati, apa suami nya tidak bahagia ia ajak ke sini.
" Ya sayang?. "
__ADS_1
" Mas kenapa?. " Tanya Nafisah
" Kenapa apa nya. "
" Mas diam saja Fisah perhatikan, mas nggak bahagia ya Fisah ajak ke sini kalau nggak bahagia kita pulang saja mas." Ucap Nafisah.
" Mas bahagia ko sayang. "
" Mas Altaf, Fisah nggak apa-apa ko kalau kita harus balik ke hotel daripada mas diam saja dan nggak bahagia." Ucap Nafisah yang merasa bersalah telah mengajak Altaf ke sini.
" Hei dengerin mas, mas bahagia sekali ke sini hanya saja tadi mas terlalu fokus melihat wajah mu jadi mas lupa mengekspresikan kebahagian mas di hadapan mu. " Ucap Altaf.
" Jadi jangan pernah berpikir seperti tadi ya, dah sekarang kita bersenang-senang di sini sebelum kita balik ke hotel dan besok pagi pulang ke Jakarta. " Lanjut Altaf. Nafisah hanya terdiam dan tersenyum manis ke hadapan Altaf.
" Mas Altaf BUCIN. " Teriak Nafisah
" Berani ya kamu mengatai suaminya. " Ucap Altaf, Nafisah melangkah mundur dan lari tapi Altaf pun mengejar nya jadilah mereka berlari-lari seperti di adegan sinetron di televisi.
" Mas udah ah, Fisah capek huft. " Ujar Nafisah yang sedang mengatur nafasnya.
" Lagian kamu mengatai mas, capek sendiri kan. " Ucap Altaf yang mengejek Nafisah tapi Nafisah mengabaikan nya karena asik melihat orang naik sepeda air yang kelihatannya seru sekali.
" Mas Altaf. " Panggil Nafisah
" Apa sayang. " Sahut Altaf yang sedang merapihkan tali pinggang celananya.
__ADS_1
" Fisah mau naik itu. " Ucap Nafisah yang menunjuk ke arah orang yang sedang mengayuh sepeda air itu.
" Mau naik itu?. " Tanya Altaf, Nafisah mengangguk.
" Ya sudah yuk ke sana. " Ucap Altaf yang mengajak Nafisah ke tempat penyewaan sepeda air itu.
" Pak saya mau menyewa satu sepeda air nya. " Ujar Altaf kepada pria yang sudah kelihatan paruh baya itu.
" Baik pak, silahkan. "
" Biar mas duluan yang turun. " Titah Altaf, Nafisah hanya bisa menuruti dan menunggu saja.
" Ayo pegang tangan mas. " Ucap Altaf yang sudah memastikan diri nya sudah turun sempurna ke bawah.
Mereka berdua pun larut dengan kebahagian di atas sepeda air itu terutama Nafisah karena ini kali kedua dia naik ini dulu pernah bersama ummah dan abi nya sewaktu dia kecil.
Momen ini sama dengan momen saat bersama ummah dan abi nya, sama-sama bahagia sekali dia tidak akan lupa momen saat dia bersama Altaf.
Altaf yang sekarang menjadi pengganti abi nya yang membuat Nafisah merasa ke hadiran Abi nya kembali. Sosok penyabar, melindungi dan mau menuruti apa kemauan dia tanpa membantahnya sedikit pun.
" Mas altaf fisah mencintai mu sampai nanti saat ajal menjemput kita berdua dan memisahkan kita berdua, fisah selalu berdoa kelak akan kita dipersatukan kembali di surga allah.
Amin. "
To be continue..
__ADS_1