Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Bagian 11


__ADS_3

...Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu....


...Ali bin Abi Thalib...


.......


.......


...Happy Reading...


Setelah Nafisah memesan tiket, dia menunggu waktu penerbangan.


Nafisah mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas. Dia akan pergi ke suatu kota yang mungkin bisa menghilangkan kesedihan hatinya.


Menggigil, yang saat ini Nafisah rasakan karena tadi dia sangatlah kebasahan tapi sekarang cukup mendingan karena gamisnya sudah tak terlalu basah seperti tadi dan jaket yang Altaf berikan masih ia pakai.


Rasa kantuk menghampiri Nafisah karena ini sudah larut malam wajar bila dia mengantuk. Nafisah menahan rasa kantuk itu biar nanti di pesawat saja baru dia akan tidur.


Nafisah belum sempat mengganti baju karena pesawat nya beberapa menit lagi akan terbang.


" Assalamualaikum. " Salam seseorang menyakinkan bahwa itu dia tidak salah melihat kalau itu sahabat nya waktu SMA.


Ada rasa tak yakin tapi ia mencoba membuktikannya, pasalnya sahabat nya dulu tak berhijab seperti sekarang.


"Waalaikumsalam." Jawab Nafisah memastikan kalau dia yang di sapa wanita itu.


ya benar yang di sapa wanita itu adalah dia karena siapa lagi kalau bukan dia sedangkan di sampingnya kosong.


" Nafisah Humaira. " Ucap wanita itu menyakinkan.


" Maaf siapa ya?. " Tanya Nafisah.


" Arum sahabat kamu waktu SMA, kamu masih ingat kan?. " Tanya wanita itu. Nafisah tersenyum dan memeluk wanita itu.


" Arum aduh aku kangen banget sama kamu. Masya allah Arum kamu berubah sekali, tambah sholeha nih. " Balas Nafisah saat mengetahui bahwa dia benar adalah sahabat Nafisah sejak SMA.


" Gimana kabar kamu Fisah?. " Tanya Arum.


" Alhamdulilah baik. " Jawab Nafisah


" Ini anak mu. " Tanya Nafisah mengelus kepala anak kecil yang imut dan menggemaskan ini.


Arum mengangguk


" Walah Arum kamu sedang hamil lagi?. " Tanya Nafisah saat melihat perut Arum yang buncit, Arum mengangguk lagi membuat Nafisah kaget.


Anak yang pertama nya baru berumur satu tahun dan dia sudah mau punya adik.


" Ya Fisah. Oh ya kamu sudah menikah. " Tanya Arum saat melihat cincin yang berada di jari manis Nafisah.


Nafisah mengangguk dan tersenyum.


" Ayahnya kemana?. " Tanya Nafisah karena tak melihat ada yang menemani Arum, Arum hanya sendiri bersama anaknya.


" Dia sedang dalam perjalanan katanya sebentar lagi. " Ucapnya, Nafisah pun mengangguk dan berbincang. Mereka berbincang tidak seperti dulu yang sangat dekat mungkin karena mereka baru ketemu lagi jadi ada rasa canggung apalagi status mereka yang bukan remaja lagi.


" Fisah kapan nyusul punya momongan. " Pertanyaan itu membuat Nafisah terdiam karena dia selalu menjauhi pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuat dia juga bingung untuk menjawabnya.


" Doakan saja Rum. " Ujar Nafisah tersenyum


" Amin. "


" Rum, Aku duluan yah. " Pamit Nafisah mengambil tas ku yang berada di samping.

__ADS_1


" Oh ya itu juga suami ku sudah datang, Next time kita ketemu lagi ya. " Jawab Arum yang langsung pamit


Setelah Nafisah menjawab salam, dia pun pergi.


...•••...


Nafisah sudah sampai pada tujuan nya sekarang. Dia juga sudah berganti pakaian tadi saat di pesawat.


Nafisah sendiri tak yakin datang kesini, kota yang mungkin asing baginya karena baru pertama kali dia datang kesini.


Oh tidak, dia pernah kesini waktu Nafisah masih kecil itupun hanya sekali. Ummah mengajakku kesini karena ia mau memperkenalkan kampungnya tapi Ummah tak pernah memperkenalkan siapa keluarga yang lainnya.


Waktu sudah larut malam, jalanan terasa sepi. Ia menunggu taksi lewat.


Sepuluh menit kemudian.


Saat di pertengahan jalan taksi yang dia naikin berhenti.


" Mas mobilnya kenapa?. " Tanya Nafisah


" Engga tau mba, sepertinya mobil nya mogok." Ucap supir taksi itu, supir itu pun turun akhirnya Nafisah pun ikut turun juga.


" Mba maaf saya tidak bisa antar mba sampai ke tempat tujuan. " Ujar supir taksi itu.


Nafisah mengangguk memaklumi dan mengeluarkan uang untuk membayarnya.


" Kembaliannya ambil saja mas. " Ucap Nafisah dan segera pergi mendorong koper ada rasa takut tapi dia mencoba memberanikan diri.


" Ya allah jagalah hamba dari orang-orang jahat. " Ucap nafisah berdoa.


Tak ada satupun taksi yang lewat


" Assalamualaikum. " Salam seseorang, Nafisah menoleh ke arah suara.


" Kamu ko jalan sendirian. " Tanya wanita itu tapi Nafisah diam saja.


" Kenapa? Kamu tak usah takut, aku bukan wanita jahat ko. " Ucapnya menyakinkan Nafisah.


Nafisah masih terdiam, dia melihat pakaian yang di gunakan wanita itu. Wanita itu memakai pakaian yang sama seperti Nafisah.


" Baiklah. " Ucap wanita itu terus pergi, wanita itu masuk ke dalam mobil.


" Kakak. " Panggil wanita itu lagi dengan berada di mobil.


Nafisah menoleh ke samping. Seperti orang bodoh yang tak tau harus melakukan apa. Nafisah melihat di dalam mobil ada seorang pria yang cukup tampan.


" Iya ada apa?. " Tanya Nafisah membuka suara


" Naiklah kakak tak baik cewek jalan sendirian apalagi ini sudah malam begini. " Ucap nya, Nafisah kembali terdiam


" Makasih tapi engga usah. " Tolak Nafisah tersenyum.


" Beneran?. " Tanyanya menyakinkan


" Ya engga usah. "


" Baiklah kalau gitu kakak hati-hati ya, assalamualaikum. " Mobil wanita itu melaju


" Waalaikumsalam. " Nafisah hanya bisa pasrah dan berdoa saja.


Melihat ada segerombolan pria yang berada di kedai kopi yang sudah tutup dan tampak nya mereka sedang mabuk. Melihat itu Nafisah takut.


Apakah ia harus berjalan di depan mereka karena tak ada jalan lain selain berjalan di sana tak mungkin juga ia kembali sudah terlalu jauh dia berjalan.

__ADS_1


Nafisah memberanikan diri berjalan dan beristigfar. Satu pria yang ada di sana melihat ke arah ku.


Nafisah kembali menunduk dan mempercepat langkah nya tetapi langkah kaki pria itu semakin mendekat.


" Naila sayang. " Panggil seseorang berjalan ke arah ku, Nafisah mengangkat kepalanya melihat siapa yang orang itu panggil.


Nafisah melihat sekelilingnya tak ada orang hanya dia saja.


" Naila sayang. " Ucapnya memeluk ku, Nafisah berusaha melepas pelukannya dengan cara memukul dada nya tetapi nihil ia terlalu kuat.


" Lepas kan saya. " Nafisah terus memukul dada orang itu sambil menangis dan beristigfar.


" Naira sayang, aku minta maaf. " Ucapnya melepas Nafisah dari pelukannya. Nafisah mengatur nafas menatapnya dengan sekuat tenaga akhirnya dia berlari.


" Astagfirullah. "


Nafisah berusaha menghindar karena banyak pria di hadapan nya sepertinya mereka teman pria yang memanggil ku Naila.


Tangan Nafisah kembali di genggam oleh pria itu menurut Nafisah dia sudah gila. Nafisah berusaha melepasnya sambil menangis.


" Hiks hiks mas lepaskan tangan saya. " Tangis Nafisah berusaha melepas genggaman tangannya.


" Tolong maafkan saya Naila. " Ujarnya memohon ke aku, aku bingung rasanya ia mengenalku tapi ku tak mengenalnya.


" Saya bukan Naila. " Ucapku tegas dan menggigit tangannya.


Terlepas, Nafisah langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan kopernya. Dengan keadaan nafas yang mulai memburu, kehausan dan kecapean karena berlari.


Nafisah melihat kebelakang


" Alhamdulilah dia sudah tak terlihat. " Nafisah bersyukur dan menghentikan langkahnya saat dia yakin bahwa dia sudah jauh dari tempat itu.


" Astagfirullah. "


Nafisah kaget saat berbalik badan melihat orang itu ada di hadapannya.


" Saya tak akan melepaskan mu Naila. " Ucapnya menarik ku dengan sekuat tenaga. Nafisah coba memberontak tak ada pilihan lain dengan seenak jidat nya pria ini memegang tanganku.


" Saya bukan Naila, saya Nafisah. Hiks hiks tolong lepaskan tangan saya. " Ucapku memberontak. Ia tak mendengarnya malah menyuruh ku masuk ke dalam mobil.


" Naiklah. " Titahnya


" Tidak. " Ketus Nafisah. Air matanya terjatuh dengan semakin deras memukul dada pria itu tapi nihil pukulan Nafisah tidak keliatan sakit di tubuhnya.


" Jangan takut aku berjanji tak akan menyakiti mu lagi Naila. Ikutlah dengan ku. " Mohon nya masih dengan menggenggam tangan ku.


" TOLONG. " Nafisah mencoba berteriak tapi nyatanya percuma saja karena di sini tak ada orang.


" Percuma Naila di sini tak ada orang, hanya teman aku saja yang bisa mendengar teriakan mu. " Ujarnya


" Itupun jikalau mereka mau membantu mu."


" Lepaskan. " Berontak Nafisah


" Bagaimana jikalau aku tidak mau, eum. " Tanyanya, Nafisah menatap nya tajam tapi orang itu malah tersenyum tanpa menghiraukan tatapan ku yang tajam.


" Naiklah, jangan membuatku kembali menyakiti mu Naila. "


" STOP. " Teriak seseorang yang membuat mereka menoleh bersamaan.


Hati Nafisah cukup lega saat mendengar suara seseorang mungkin dia akan menolong Nafisah.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2