Menanti Cinta Suamiku

Menanti Cinta Suamiku
Arya Marah


__ADS_3

"Apa salah jika aku mengurus surat wasiat itu, kak Arya tahu sendiri jika umurku sudah tidak panjang lagi. Sangat kecil kemungkinan untuk bertahan setelah aku melahirkan nanti. Apa salah seorang ibu yang ingin mempersiapkan sesuatu yang berharga untuk kedua anakku nanti. Aku tahu kamu juga punya banyak harta dan aku tahu jika kamu bisa dan mampu mengurus kedua anak kita nanti. Aku hanya seorang ibu yang khawatir dengan masa depan anak-anaknya. Aku hanya ingin anakku tidak kekurangan apapun sampai mereka bisa mencari uang sendiri." Tutur Dira.


"Tapi tidak perlu dengan mengurus surat wasiat Dira, kamu tidak percaya kepadaku. Umur tidak ada yang tahu, bisa saja aku yang pergi duluan. Jadi jangan memikirkan yang belum terjadi." Ucap Arya emosi.


"Aku hanya mempersiapkan masa depan anak-anakku, kamu benar kak aku tidak dapat menjamin apakah kamu masih memprioritaskan kedua anak kita nanti disaat kamu sudah mendapatkan keluarga baru. Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama." Akhirnya Dira mengutarakan isi hatinya. Lo


"Maksud kamu?" Arya sedikit bingung dengan ucapan istrinya.


"Kamu terlalu buta jika sudah jatuh cinta kak, aku tidak dapat menjamin jika nanti istri barumu bisa menerima kedua anakku. Syukur-syukur kamu bisa mendapatkan wanita yang baik kalau tidak bagaimana? Aku hanya ingin apa yang aku rasakan tidak di rasakan oleh kedua anakku. Walau nanti mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya tapi setidaknya mereka masih bisa hidup layak dengan harta yang aku tinggalkan. Aku hanya ingin memastikan hidup kedua anakku terjamin karena belum tentu aku bisa mendampingi mereka nantinya. Aku hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk." membuat emosi Arya terpancing.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kamu sampai berpikir seperti itu, sudah aku katakan hanya kamu yang akan menjadi istriku. Walaupun kamu pergi aku tidak akan mencari penggantimu. Aku akan membesarkan kedua anak-anakku sendiri. Ternyata kamu memandang cintaku serendah itu Dira." Arya langsung pergi meninggalkan kamar mereka, terdengar suara pintu di banting Arya untuk meluapkan emosinya.


Dira menangis karena sadar sudah membuat kesalahan, ternyata Arya sangat marah dengan tindakannya. Dira hanya mempersiapkan kemungkinan terburuk, karena hanya ini yang bisa ia lakukan untuk masa depan kedua anaknya. Dira hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


Davina sedang duduk di ruang keluarga sembari menikmati teh dan membaca majalahnya menikmati waktu santainya dengan tenang. Davina melihat Arya dengan wajah memerah terlihat sedang emosi membuat ia penasaran pada sang putra.


"Kemana saja yang pasti tidak di rumah ini." Jawab Arya singkat.


"Ada apa, apa kalian ada masalah?" Davina mencium aroma-aroma pertengkaran antara anak dan menantunya itu.

__ADS_1


"Hmmm" Jawab Arya malas.


"Masalah apa, sampai kamu semarah itu. Jangan bertindak gegabah, ingat Dira tidak boleh merasa tertekan atau kamu akan menyesalinya." Ucap Davina memperingati putranya.


Arya menelan salivanya, akibat emosi yang tidak dapat ia tahan membuat lelaki itu lupa jika Dira tidak boleh banyak pikiran. Dengan prustasi Arya menjambak rambutnya menyesali perbuatannya.


"Aaakhhhh" Teriak Arya melepaskan semua emosinya.


"Ada apa ? ayo cerita sama mama, jangan sampai kamu membuat kesalahan karena masalah sepele nak. Cobalah dengan untuk bersabar dan mengerti kondisi istrimu." Ucap Davina.

__ADS_1


__ADS_2