
Ranti sangat lihay membuat Bobby terlena dengan rayuan maut. Bobby sampai tega tinggalkan Sania yang beri banyak hal positif padanya. Bersama Sania semua terasa gampang. Proyek datang sendiri dan pundi emasnya selalu melimpah ruah. Kini semua telah berlalu. Bobby telah kehilangan pamor sejak menjadi suami bintang top Ranti.
Suara mobil berhenti terdengar di luar. Bobby menduga itu Ranti yang baru pulang dari kumpul teman atau apa saja yang menurut Ranti bisa naikkan gengsi orang kaya.
Benar saja dugaan Bobby. Tak lama berselang masuk Ranti dengan pakaian super super ketat perlihatkan lekukan tubuh dengan perut buncit. Kelihatan sangat aneh wanita hamil memakai pakaian ketat ekspos gunung berisi janin di tengah tubuh. Bukannya makin sedap di mata malah mendatang kesan menjijikan.
"Sayang...kok cepat pulang?" Ranti segera memeluk Bobby dengan manja. Suaranya dibuat semanis mungkin untuk raih simpatik Bobby.
"Dari mana? Hamil kok ngelayap."
Ranti mengecup pipi Bobby lantas bersandar manja di dada suami, "Aku pergi jalan sama teman. Rencana mau beli perlengkapan bayi. Eh jumpa produser sinetron! Itu lho Pak Vikar yang pernah jadi produser sinetron ku dulu. Ya kami ngobrol sebentar!"
"Jangan sering keluar rumah! Tak baik untuk ibu hamil. Oya..papa dan mama datang ajak kita pindah ke rumahnya! Katanya kita di sini cuma berdua tak baik untuk kesehatanmu. Mama mau jaga kamu dan anak kita. Itu bagus kalau aku pergi luar kota ada yang jaga kamu." Ujar Bobby tak ingin katakan hal sebenarnya soal rumah yang sebentar lagi bukan milik mereka lagi.
Ranti melepaskan pelukan mendengus marah tak suka tinggal di rumah mertua yang dianggap sangat tak sepadan dengan statusnya sebagai bintang top.
"Tidak...aku mau tetap di sini. Di luar sudah muncul rumor kalau rumah ini bukan milik kita. Kalau kita pindah artinya itu bukan rumor tapi fakta. Aku tak mau." Ranti buang muka tak Sudi pindah.
"Ranti..ini hanya sampai kau lahiran. Setelah itu kita balik sini. Aku akan beli rumah ini untukmu. Kau sabar dulu." bujuk Bobby seperti bujuk anak kecil sedang ngambek.
"Aku ada jumpa Sania. Dia bilang rumah ini miliknya. Dia minta kita segera pindah. Dasar apa dia omong gitu? Dia sudah kawin. Suaminya lumayan juga. Tapi bukan level kamu. Suamiku tetap the best."
Bobby termenung setelah dengar cerita Ranti. Bara pernah mengaku Sania isterinya. Artinya ini bukan rekayasa Sania menolak kehadirannya. Ternyata Sania memang sudah menikah dengan Bara. Ada rasa sesak di hati mendapatkan kenyataan pahit bahwa Sania telah berhasil move on. Sania makin susah diraih.
"Di mana jumpa?"
"Di restoran seafood..dia bersama dua laki ganteng. Kelihatannya mereka bahas bisnis di situ. Sania makin sombong dapat suami. Dia berani menantangku. Kita buat dia sengsara. Kamu hancurkan perusahaan suaminya yang seupil itu." Ranti masih angkuh dengan kekayaan Bobby yang sebentar lagi tinggal kenangan.
"Ranti...untuk sementara kita pulang rumah orang tuaku. Aku akan lebih sering keluar kota sekarang. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Bersiaplah kita pindah! Jangan open pemikiran orang lain! Yang penting kamu sehat sampai lahiran." Bobby masih berusaha sabar hadapi sifat buruk Ranti senang hidup mewah.
"Tidak...suruh orang tuamu pindah sini! Toh rumah kita besar. Mereka bisa pindah sini." Ranti bersikukuh tak mau tinggalkan segala kemewahan rumah yang seharusnya milik Sania. Ranti tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah ini masih merasa di atas angin.
Bobby habis akal hadapi sifat keras Ranti. Sungguh berbeda dengan Sania yang selalu patuh bila di minta laksanakan perintahnya. Banyak kelebihan Sania namun Bobby terlanjur cinta pada Ranti. Di mata Bobby hanya ada Ranti. Apa lagi kini Ranti mengandung anaknya. Cinta Bobby makin berlipat ganda.
"Terserah kamulah! Aku mau mandi! Aku pusing."
"Oya...gimana proyek raksasa yang kamu bilang dulu? Gol kan? Trilliunan lho!"
__ADS_1
"Kita tak ikut tender. Kita tak punya gambaran tentang proyek itu. Mau rancang sudah terlambat. Kita tak tahu posisi lokasi proyek. Bukan rezeki kita. Pasti ada yang lain."
Ranti terhenyak kaget dengar Bobby tak ikut tender raksasa itu. Bayangan uang bergoni-goni raib gara-gara omongan Bobby tak ikut tender Mega proyek itu.
"Mana bisa gitu? Bukankah PT. SHINY sudah kasih signal proyek itu untuk kita?" seru Ranti sampai terbangun dari sofa. Tampak jelas Ranti tak terima Bobby tak berhasil memenangkan tender impian para kontraktor.
"Ranti...semua rancangan ada sama Sania. Mungkinkah dia akan bantu kita setelah kita bodohi? Pakai logika. Kita sudah berdiri di atas penderitaannya. Aku rencana mau nikahi dia tapi dia malah duluan menikah." gumam Bobby kesal dilangkahi Bara. Bobby yakin keberhasilan Bara masuk bursa tender berkat bantuan Sania. Hanya otak Sania mampu merancang demikian sempurna.
"Dia itu apa? Hanya karyawan kecil. Culik dia lalu ancam berikan hasil rancangan! Gampang kan?"
"Otakmu sudah tak beres. Itu mencari mati lawan hukum! Tak usah pikir soal proyek. Yang penting jaga bayi kita dengan baik."
"Uang triliunan melayang gitu saja padahal aku mau beli mobil Lamborghini. Temanku sudah beli. Masa aku harus ketinggalan dari temanku. Rugi punya suami kaya tak bisa penuhi permintaan isterimu."
Bobby memejamkan mata tak sanggup dengar rengekan Ranti. Masalah rumah belum tuntas kini muncul lagi masalah baru. Mengapa Bobby terjerat cinta penuh ******* dolar? Ranti akan antar Bobby ke jurang kehancuran bila terusan menuntut kemewahan.
"Aku mau mandi. Kau istirahat saja." Bobby memilih tak jawab untuk hindari pertengkaran yang bisa merusak mood keduanya. Bobby harus mengalah demi anak dalam kandungan Ranti.
Ranti mendengus tak acuh pada nasehat Bobby. Ranti jengkel tak dapat belanja sesuka hati lagi bila Bobby tak dapat proyek raksasa PT. SHINY.
Bobby segera dinginkan kepala di kamar mandi. Mungkin dengan mandi otak Bobby akan berpikir lebih jernih hadapi cobaan yang mulai hampiri hidupnya. Bobby lama terlena dalam buaian kerja keras Sania hingga tak tahu akibat berbuat curang. Inilah karma manusia berhati busuk. Satu persatu karma datang hampiri hidup Bobby. Karma itu ada cuma tak tahu cepat lambat datangnya. Pupuklah pahala agar kau akan petik hasil baik. Jaga hati dari sifat jahat supaya hidup kita dapat ridho Allah SWT.
Langkah Bobby terhenti karena dengar Ranti sedang ngobrol dengan seseorang dengan nada sengit. Bobby berdiam diri cari tahu dengan siapa Ranti bicara dengan nada tak sopan.
"Dengar ya! Kalau aku datang ke rumahmu katakan anak dalam perutku itu anakmu apa kata isterimu? Aku mau kamu kirim uang 500 milyar. Kalau kau tolak akan kubongkar semua perselingkuhan kita." ancam Ranti pada orang di seberang sana.
Bobby merasa kakinya membeku saking kaget tak percaya orang yang paling dia cintai tega khianati cinta sucinya. Dia bela-belain lepaskan sebutir berlian demi kejar cinta Ranti sang bintang. Nyatanya Ranti tak lebih seonggok plastik yang bersinar kena pantulan cahaya dari materi lain.
"Bobby? Budak cintaku. Dia takkan tahu kalau kau transfer uang untukku. Aku butuh duit itu hari ini juga. Aku tak mau tahu."
Darah Bobby kontan mendidih tak terima Ranti yang dia puja tak lebih sampah masyarakat tepatnya pelacur kelas kakap. Menjerat orang kaya demi kesenangan pribadi. Mengapa Bobby demikian buta tak sadar dicundangi bintang berotak porno itu.
"Ok..aku tunggu kabarmu sayang. Kapan-kapan kamu jenguk anakmu. Dia pasti rindu pada papinya yang botak. Kita jumpa di tempat biasa. Ok?" Ranti tertawa senang tak sadar bencana besar sedang mengancamnya. Bobby sudah mendengar semua percakapan Ranti dengan si sayang yang misterius.
Bobby mengatur nafas agar jangan terpancing emosi menghajar wanita murahan sekelas Ranti. Dalam setiap omongan Ranti selalu bilang Sania murahan. Kini terbukti siapa yang murahan. Sudah murahan penipu lagi.
"Sudah obrolannya?" Bobby muncul di hadapan Ranti dengan tatapan mata dingin. Rasa cinta yang biasa sangkut di mata Bobby berubah jadi rasa benci mendalam.
__ADS_1
Ranti cukup kaget Bobby tiba-tiba muncul bak hantu di siang bolong. Tanpa suara sedikitpun. Namun dasar bintang film. Dengan gaya manja dia langsung nempel pada Bobby minta disayang.
Bobby mendorong tubuh wanita ini dengan jijik. Ntah mengapa Bobby merasa sedang melihat sampah di rumahnya. Bau busuk lagi.
"Ternyata kau tak lebih dari pelacur murahan. Kau selalu sebut Sania pelacur ternyata itu kamu sendiri. Masih mau ngelak?" tanya Bobby dingin.
"Dengar sayang...itu hanya dialog dalam sinetron terbaruku! Aku akan peran sebagai wanita nakal hamil anak orang. Masa segitu saja marah? Cemburu ya?" Ranti masih pede mengira Bobby tak dengar semua. Ranti memegang lengan Bobby keluarkan jurus ampuh merengek manja. Kalau sudah gini Bobby pasti akan luluh.
"Siapa laki itu?" tanya Bobby tak terpengaruh gaya imut Ranti. Amarah Bobby capai tingkat dewa. Bobby merasa terlalu bodoh nikahi siluman ular. Membelit orang lalu menelan mentah-mentah sampai mati. Ini cocok gambarkan posisi Bobby kekinian.
"Laki mana? Laki aku hanya kamu. Ini anak kita!"
"Ayok kita test DNA..Kau pikir kau bisa lolos begitu saja?" Bobby menepis tangan Ranti secara kasar. Hati Bobby terlalu sakit ditipu Ranti mentah-mentah. Semua pengorbanan hanya untuk Ranti terasa sia-sia.
"Sayang...anak kita belum lahir. Bagaimana mau test DNA? Tunggu lahir dong! Aku tak takut karena ini anakmu. Ayoklah! Jangan bodoh! Aku hanya bercanda sama Vikar tadi."
"Maaf Ranti...kau mau bagaimana terserah kamu! Aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Kita tunggu sampai anak ini lahir baru kita bicara lagi."
"Tak masalah! Aku akan beli rumah ini. Peduli amat anak siapa? Toh kamu sudah gagal dapat proyek triliunan. Kamu tak berhak bicara apapun." ujar Ranti mulai perlihatkan belang asli. Tanpa Bobby dia toh bisa hidup mewah. Dia telah berhasil peras produser yang katanya ayah biologis anak dalam kandungannya.
Bobby tak sangka belang Ranti cepat terkuak. Nyatanya cinta Ranti yang diagungkan hanyalah sebatas transaksi uang. Bobby tak berhasil penuhi target Ranti langsung keluar borok wanita berbau nanah. Bobby tak bisa berkata-kata saking stress dapatkan kenyataan tak seindah harapan. Angan indah hidup penuh kebahagiaan bersama sang bintang hanyalah mimpi kosong di siang bolong.
Hati Bobby hancur berkeping-keping dihempas oleh pengkhianatan Ranti. Dulu dia berkhianat demi Ranti dan balasannya Ranti beri pengkhianatan lebih sadis. Hamil anak orang lain minta tanggung jawab pada Bobby. Bobby bodoh pikir itu memang anaknya maka memuja Ranti bak Dewi dari kayangan. Ternyata tak lebih dari penipu kelas Wahid.
"Baiklah! Urus dirimu sendiri. Aku akan pindah dari rumah ini. Aku akan jatuhkan talak padamu. Aku tak mau buang energi hadapi perempuan culas macam kamu." Bobby segera menyusun pakaian untuk pindah dari rumah yang seharusnya milik Sania.
Ranti tertawa renyah ejek kebodohan Bobby jadi budak cintanya. Manusia model Ranti mana ada cinta sejati. Motto Ranti di mana ada bau dolar di situ cinta bisa berlabuh. Persetan cinta sejati.
Bobby kini bisa rasakan bagaimana sakitnya dikhianati. Karma buruk telah datang mengganti rasa sakit yang pernah dirasakan Sania. Untunglah Sania gadis tegar tak terpuruk oleh janji palsu Bobby. Sania bangkit dapat yang lebih baik dari Bobby. Waktunya Bobby nikmati buah busuk yang dia tanam sendiri.
Ranti tertawa terbahak-bahak merasa telah menang atas semua lelaki tolol. Bobby berlalu kini berganti Vikar sang produser. Masa jaya Bobby telah berlalu maka waktunya cari mangsa baru. Ranti harus menyusun rencana jatuhkan Bobby agar tak ada yang menyalahkan dia bila bercerai kelak. Tetap harus ada kambing hitam.
Rencana licik cepat muncul di otak Ranti. Dasar otak jahat tetap jahat. Dicuci sama soda api juga tak bakalan bersih.
Di sudut lain Bara dan Sania sedang bahagia menata kantor baru. Sania senang karena tak lama lagi bisa kumpul dengan teman-teman lama dari kantor Build. Sania merasa bisa bangun chemistry lebih mendalam bersama rekan kerja lama di tempat baru. Pak Jaya ikut bantu menata ulang kantor lama punyaan dia dulu. Perusahaannya berkembang pesat maka beliau bangun gedung baru. Otomatis gedung lama terduduk kosong.
Keluarga Jaya pulang kantor barengan setelah merasa puas hasil kerja sama menata kantor Bara. Semua pulang dengan hati puas. Tinggal beberapa hari lagi sudah bisa tempati gedung baru itu. Nama Angkasa Jaya pasti akan naik daun bila muncul pemenang tender PT. SHINY. Nama Bara otomatis akan disejajarkan dengan pengembang lain.
__ADS_1
Bu Jaya dengan setia menanti kehadiran seluruh anggota keluarganya. Tak ada yang lebih menyenangkan bisa berkumpul dengan seluruh keluarga inti.
Wajah Bu Jaya berseri menyambut suami dan anak-anaknya. Rasa lelah seharian beraktifitas terbayar sudah disambut penuh cinta oleh sang isteri. Pak Jaya tak segan perlihatkan kemesraan di hadapan anak menantu. Pak Jaya memeluk Bu Jaya sebagai balasan sambutan mesra.