
Tak lama berselang dokter hadir bersama perawat. Dokter itu segera laksanakan tugas sebagai dokter memeriksa kondisi Bara. Roy dan Rudi perhatikan setiap gerak gerik dokter untuk berjaga-jaga dari hal tak diinginkan. Roy jadi agak parno setelah tahu ada pergerakkan bawah tanah serang Bara. Mereka harus super waspada.
"Alhamdulillah...bapak ini sudah lewati masa kritis. Sekarang tinggal pulihkan diri dan jaga luka sangat sampai infeksi. Kurangi bergerak biar luka tak terbuka." Dokter wanita itu menyimpan stetoskop ke dalam kantong sambil beri senyum ramah. Dokter cewek itu tentu saja berharap pasien yang dia tangani cepat pulih kembali aktifitas. Tugas mereka adalah menyembuhkan.
"Terima kasih dok!" ujar Bara pelan.
"Ok...istirahat! Kalau ada keluhan hubungi kami."
"Iya..."
Dokter itu melangkah keluar diikuti perawat setia. Sebelum menutup pintu dokter itu melempar senyum manis pada Bara sebagai obat penyembuh. Dokter ramah kunci dari rasa nyaman pasien. Kalau dokter galak belum apa-apa pasien duluan jantungan.
"Hai bro..gimana? Sudah siap tempur?" olok Roy meninju lengan Bara pelan.
Bara tertawa sedih, "Akhirnya gue berakhir di rumah sakit."
"Aku minta maaf tak dapat lindungi kamu Bara! Arsy memang keterlaluan. Tak henti dia bikin ulah." Rudi berdiri di samping kanan Bara karena Roy sudah berada di sebelah kiri.
"Bukan salahmu! Arsy yang putus asa. Tak kusangka dia begitu nekat. Kalau aku bye-bye pada dunia gimana nasib anak bini gue? Janda muda yang menggiurkan."
"Kan ada kami siap tampung." gurau Roy mengedip genit pada Rudi.
"Kalau gue jadi hantu maka gue gentayangan sate burung perkutut ente sampai tak bisa berkicau. Cobalah berpikir ingin ganggu bini gue!" Bara ancam Roy dengan wajah masam.
Roy dan Rudi tertawa derai bahagia Bara sudah bisa marah. Artinya sudah sembuh walau belum total. Sudah ada cahaya kehidupan melingkari tubuh Bara.
"Untung ente panjang umur. Tak mati diserang orang gila. Ini artinya jodohmu dengan Sania belum usai. Sania akan segera tiba. Dia sudah berangkat dari Belanda bersama orang tuamu." cerita Roy tahu kalau Sania di Belanda bersama keluarga Bara.
"What? Artinya Fadil di sana liburan bersama bini gue? Ngak betul itu...Fadil itu pagar makan tanaman. Pantas papa dan mamaku tenang walau Sania hilang tanpa jejak. Ternyata mereka tahu di mana Sania. Pengkhianatan berantai" emosi Bara berkobar jengkel dibodohi keluarganya. Ada pula orang tua ikutan bohongi anak.
"Sabar bro...Sania sudah bagus kasih tahu keberadaannya. Ini bukti dia takkan lari darimu. Hanya syok terapi bagi laki tak punya pendirian. Mereka sudah berangkat pakai jet pribadi!" Roy menenangkan Bara yang tersulut amarah dibohongi orang tuanya. Tujuan orang tua itu tentu ingin melindungi cucu dan mantu mereka. Selama Bara masih terpaku pada masa lalu keluarga takkan mendukung. Bara sudah cukup berantakan karena asyik jaga teman cewek dari jaman dulu.
"Roy benar bro...kita harus maju ke depan. Lupakan masa lalu. Kita masih punya tanggung jawab terhadap generasi baru kita. Aku sudah bisa ambil sikap jauhi Arsy dan kau juga harus bisa. Buka lembaran baru." Rudi perkuat kata-kata Roy. Sudah saatnya Bara lupakan semua kesalahan masa lalu. Cahaya gemilang sedang menanti mereka bersama pasangan masing-masing.
"Iya...ntah bagaimana keadaan Sania? Apa dia baik-baik tinggal di Belanda?"
Dalam hati Roy menjawab Sania baik saja. Bahkan tampak bahagia berfoto dengan Fadil. Bagaimanakah Bara kalau tahu Sania mesra banget dengan adiknya. Bisa terjadi rencana pembunuhan jilid dua. Bara ingin habisin Fadil karena cemburu.
"Sania baik kata Pak Elmo." Roy memilih tak buka cerita soal foto Sania dan Fadil. Bara belum pulih seratus persen maka tak mungkin Roy siram bensin nyalakan api cemburu. Bisa berpengaruh pada kesehatan Bara.
__ADS_1
"Eh...ente jadi keren lho!" Rudi alihkan pembicaraan agar Bara tak fokus ingat Sania melulu. Ganti topik agar Bara tak nelangsa dimakan rasa rindu.
"Mau mati ente bilang keren? Sudah masuk liang lahat lebih keren lagi kan? Jadi luar biasa."
"Isshhh sensi amat! Tuh di luar ada dua Gorila kawal kamu! Demi jaga keselamatan ente." ujar Rudi iri pada nasib Bara. Laki ini dapat segala bernilai plus. Bini pintar dan cantik, perusahaan sedang naik daun dan sepasang anak kembar. Pahala apa sudah ditanam Bara hingga memetik hasil melimpah ruah.
Bara malah bingung dengar cerita Rudi. Dari mana muncul pengawal lindungi dia. Memang seberapa gawat kasus Arsy sampai harus keluar pengawalan segala. Intinya siapa yang undang para pengawal itu?
Bara menatap Roy minta penjelasan. Otak Bara penuh unek-unek asing yang belum dia pahami.
"Itu dari Pak Elmo. Beliau yang tempatkan bodyguard untukmu. Pak Elmo dapat kabar keluarga Arsy turun tangan dan Bobby juga intervensi. Arsy sudah ngaku semua ide Bobby." Roy berkata pelan supaya Bara tidak syok.
Kasus Bara mulai melebar ke arah lain. Dari kasus pembunuh an berencana jadi kasus bisnis. Keluarga Arsy terkenal keras dalam berbisnis. Segala jalan ditempuh untuk muluskan urusan bisnis. Ntah apa rencana orang itu. Belum jelas tujuan mereka masuk ke ranah hukum. Sekedar bantu Arsy atau ada niat terselubung.
"Apa lagi? Arsy...kapan dia akan selesai? Gue jadi capek dan bosan."
"Pak Elmo akan bantu kamu. Kekuatan PT SHINY mampu gerakkan dunia. Kau tak usah kuatir. Gue duga Sania dan Pak Elmo bukan hanya rekan bisnis. Lebih dari itu. Coba ente bayangkan! Pengusaha sekelas Pak Elmo datang jenguk ente dan kirim pengawal. Betapa mujur nasib ente."
"Pak Elmo datang sini?" Bara surprise pengusaha sukses itu ringankan langkah menjenguknya. Laki itu jarang tampil di umum. Kadang berbisnis hanya diwakili pegawaiku.
"Iya..datang bersama bininya. Rangga juga hadir bersama Lisa. Bara...semua orang sayang padamu! Kamu harus lebih menyayangi diri sendiri. Tutup masa lalu kelam. Sania menunggumu."
"Empati boleh tapi lihat tempat. Arsy itu takkan mati walau kau tak peduli. Justru ente yang mati kena radiasi jahat wanita itu. Aku mantan suaminya, baik buruk Arsy aku lebih ngerti. Sudahlah! Tak baik buka aib orang. Kita sendiri belum tentu lebih baik. Mulai detik ini fokus pada proyek dan bini ente. Lupakan semua wanita lain! Aku juga akan move on lamar wanita lain." Rudi menepuk dada dengan gagah siap menjadi suami orang lain. Tentu bukan Arsy. Masih banyak wanita bersedia dampingi Rudi. Wajah lumayan ganteng walau tak seganteng Bara. Punya penghasilan bagus di perusahaan Bara. Tak jauh dari kata lelaki idaman deh!
"Cie..cie...Yang lagi kasmaran!" ejek Roy tahu siapa yang dimaksud Rudi. Tangan kanan Sania dari dulu sampai sekarang. Si Putri cantik jelita.
"Omongin orang. Emang ente tak jadi bucin Sekar?" balas Rudi tak mau kalah.
"Sudah kutembak langsung ke jantung! Sekar terima. Gue ngak jomblo lagi. Akan segera kunikahi biar ngak kesepian berada di pulau B. Ente peluk tuh guling bisu. Pingin main solo karier saja." canda Roy dibalas delikan mata Rudi. Keduanya saling menantang tampilkan ego masing-masing lupa sedang jaga orang yang lolos dari maut.
"Sekar lagi naas jumpa playboy cap bandot kayak ente! Hancur hidupnya."
"Sesama playboy jangan saling hujat! Kalian harus sadar yang kalian incar bukan gadis bisa dicolek kayak sabun colek. Mereka kental dalam agama terutama Sekar. Pikir dulu sebelum tembak. Jangan kirim peluru kosong! Kalian bisa dihajar Sania sampai hidup ogah mati segan?" celetuk Bara tengahi kedua laki yang sedang pamer incaran masing-masing.
"Aku sudah mantap! Yang utama bisa belah duren masih orisinil. Bosan belah duren bau busuk." Roy tampil mantap tak goyah ancaman Bara.
Roy dan Bara balik mata mengarah pada Rudi yang tampak ragu untuk menjawab. Kendala apa ditemui Rudi soal percintaan. Semua tahu Rudi incar Putri. Putri tak terima Rudi karena Rudi duda beranak satu atau reputasi Rudi kurang menguntungkan.
"Ngapain tatap gue? Gue emang suka Putri tapi gue tak punya nyali dekati dia. Status gue kurang mendukung."
__ADS_1
Roy memutar langkah dekati Rudi lalu lingkarkan tangan ke pundak sahabatnya itu. Sebagai seorang sahabat Roy dan Bara siap dukung Rudi selama itu berada di jalan yang diridhoi Allah SWT. Sikap pesimis Rudi terbit karena masa lalu tak manis. Seorang manusia pernah bersalah tak mungkin salah selamanya. Justru akan belajar dari kesalahan menjadi lebih baik.
"Bro...kami dukung selama ku tulus pada Putri. Cuma ingat kalau Putri dan Sekar beda dengan wanita kenal. Mereka orang tulus dan menjunjung tinggi kesetiaan. Kurasa Putri takkan peduli pada kekuranganmu. Justru wanita itu akan lengkapi semua nilai min kamu. Ayo semangat! Tembak dia! Jika perlu luka parah."
"Roy betul...Kuingatkan jangan permainkan Putri maupun Sekar. Mereka gadis baik. Contoh Sania, punya pacar playboy cap badak tapi bisa jaga diri jadikan aku yang pertama sebagai lakinya. Aku tak malu akui Sania masih suci waktu rudalku menembak peluru basah. Sekali tembak dapat dua target. Bazoka tokcer." Bara berbangga diri jadi pemilik sah Sania.
"Rasanya pasti lebih legit ya! Tidak plong kayak jalan tol bebas hambatan." timpal Roy disambut tawa derai Rudi.
Mereka lelaki dewasa bercanda sedikit vulgar tak jadi soal. Menyerempet bau-bau mesum bisa semarakkan suasana kaku. Bara tampak lebih cerah setelah ngobrol dengan teman setia. Di saat duka teman baik di sisi itulah teman sejati. Teman dalam suka duka.
"Betapa terharunya aku bertugas sebagai suami lahir batin. Aku yang penuh noda dapat isteri putih bersih. Cobalah kalian rasakan bila tiba saatnya! Gue berdoa kalian menyusul tanggalkan jubah jomblo."
"Amin..."
Suasana hening sejenak. Ketiga cowok sahabat dari masa sekolah hingga kuliah tenggelam dalam alam pemikiran masing-masing. Terutama Bara yang mengenang saat indah bersama Sania. Antara mereka jarang ada acara romantis karena sama-sama gila kerja. Sania tak pernah protes bahkan tak dapat uang belanja juga tak masalah.
"Gue berencana beli cincin untuk Sekar. Setelah ente sehat gue ajak Sekar pilih cincin untuk ikat dia." ucap Roy berangan indah pasang cincin bermata berlian di jari manis Sekar. Di situlah kisah cinta sesungguhnya berawal. Roy siap melamar Sekar.
"Cincin??? Apa harus?" gumam Bara teringat tak pernah kasih Sania cincin tanda tunangan. Apa lagi cincin nikah. Ke mana otaknya sampai lupa hal penting ini. Bara merengut rambut sendiri menyesal melupakan perihal penting bagi seorang wanita. Mendapat pengakuan dari suami sebagai tanda ikatan.
"Woi...jangan ente bilang tak pernah beli cincin untuk bini ente?" serang Roy merasa janggal reaksi Bara tatkala di ungkit soal cincin.
Bara tak bisa jawab hanya memilin bibir merasa bersalah.
Roy ingin layangkan tinju remukkan wajah Bara bila terbukti Bara abaikan moments penting ini. Bara tak pantas disebut suami bila tak beli tanda ikatan itu untuk Sania.
Tak usah dijawab Rudi dan Roy sudah tahu jawaban Bara. Rudi yang konyol buang muka gemas tak tahu harus apakan teman songong ini. Sungguh laki tak peka. Punya bini dengan segala nilai plus masih belum tampak puas.
"Bara...kalau bukan ente baru sadar rasanya kau akan kubuang ke comberan. Kau tahu kesedihan Sania tak dianggap sebagai isteri? Bisa-bisanya ente abaikan Sania. Jangan-jangan ente emang anggap Sania sebagai duplikat Nania!" seru Rudi dengan nada tinggi. Rudi amat hormat pada Sania. Sania tak pantas diperlakukan tak adil. Nania memiliki segalanya waktu jadi isteri Bara. Arsy yang bukan isteri ikut nikmati uang Bara. Giliran isteri baik dicueki.
"Ssssttt...ini rumah sakit bro! Tenang..." Roy mencoba tenangkan Rudi yang dilanda badai emosi.
"Aku benaran tak ingat! Pantas Sania pernah bilang dia bini di atas kertas doang! Nyatanya secara tak langsung protes aku. Kok otakku tak jalan ya!" Bara gusar pada diri sendiri begitu tolol tak ngerti signal dari Sania.
"Otak ente penuh tai Arsy. Giliran Arsy ente ingat." Rudi masih kesal walau nadanya surut dikit. Ntah kenapa Rudi sangat sayang pada Sania. Sayang sebagai Abang ingin lindungi adik dari segala ancaman. Kalau orang tak tahu akan mengira Rudi jatuh cinta pada Sania. Perhatian Rudi terlalu berlebihan pada bini Bara.
"Kalau Sania pulang ajak dia beli cincin. Ikat dia dengan hati tulus. Dia pergi mungkin bisa merasakan ente tak tulus padanya. Cinta ente sebatas proyek. Wanita adalah makhluk paling ajaib. Banyak yang bisa mereka lakukan sedang kita tak bisa. Contoh hamil dan melahirkan. Mereka bisa dan kita tak mungkin bisa." Roy menggambarkan sisi pahlawan wanita.
"Tanpa kita setrum apa bisa hamil?" bantah Rudi.
__ADS_1
"Ente ketinggalan kereta. Jaman kini wanita bisa hamil tanpa kita setrum! Mereka bisa dapatkan donor ****** dari bank ******. Negara kita mungkin belum bisa lakukan tindakan ini karena menyangkut moral dan agama. Tapi di luar negeri sudah biasa. Banyak wanita tak ingin ikatan nikah memilih punya anak dari pendonor ******. Iya sih tak bisa pilih siapa ayah dari sang anak. Ini buktikan wanita tak butuh kita untuk punya keturunan. Sedang kita bisa apa? Pinjam perut unta untuk hamil anak kita?"