MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Terungkap


__ADS_3

"Semua tergantung pada dirimu sendiri. Tegas pada diri sendiri. Siapa yang paling kau butuhkan kejarlah dia! Kalau kau berat tinggalkan Arsy maka tinggalkan Sania. Begitu juga sebaliknya. Semua berhak bahagia! Aku sudah lalui hari berat itu maka ngerti apa yang harus kamu lakukan. Tanya pada diri sendiri! Arsy atau Sania. Lebih baik sakit sekarang dari pada sakit kepanjangan." Rudi beri nasehat berdasarkan pengalaman hidupnya. Harus tegas tak bisa sepasang kaki hendak injak dua kapal sekaligus. Yang ada terbanting.


Logisnya Bara tetap pilih Sania. Sania ada di saat dia jatuh, Arsypun tak tinggalkan dia waktu dia di bawah. Tapi posisi kedua wanita itu beda di hati Bara. Bara mencintai Sania dan sayang pada Arsy sebagai teman. Bara tak mungkin kejam anggap Arsy tak pernah ada karena dulu dia dan Arsy tak ubah suami isteri sampai Arsy berkhianat.


"Aku mencintai Sania. Dia tulus dan murni. Aku lelaki pertama baginya." gumam Bara namun terdengar jelas di telinga Rudi.


"Kau sadar akan hal itu maka lupakan Arsy! Bina keluarga sesungguhnya dengan Sania. Masa lalu jadi pelajaran buat kita. Kita ambil hikmah baiknya saja. Jangan tamak!"


Bara menyandarkan punggung ke kursi cari sandaran untuk temukan jawaban. Hati Bara memilih Sania tapi jauh di kisi hati iba melihat nasib Arsy tak tentu. Siapa berani dekat wanita itu dengan reputasi penuh noda.


"Gimana nasib Arsy kelak?"


Rudi menggeram ingin lepaskan tinju ke wajah yang sudah memar itu. Bara seorang lelaki berkharisma tapi mengapa bisa jadi budak Arsy. Atau Bara memang sangat mencintai Arsy. Semua kesalahan Arsy telah dapat maaf dari laki ini.


"Lepaskan Sania! Dia adalah wanita baik tak pantas kau pecundangi. Hiduplah bersama Arsy!" seru Rudi naikkan oktaf nada suara.


"Tak mungkin aku lepaskan Sania? Aku suaminya." balas Bara tak kalah keras.


"Lalu mau kamu? Poligami? Punya dua bini? Sania takkan terima itu. Bara...Arsy itu hanya masa lalu. Dia takkan susah walau kau tinggalkan. Dia banyak link! Dia tak cocok untukmu." Rudi melunak sedikit lihat urat leher Bara menegang tahan amarah.


"Apa iya?"


Rudi menghela nafas panjang. Bara belum kenal Arsy seutuhnya. Wanita itu terlalu liar halalkan segala cara hidup mewah. Bara hanya lihat sisi baik Arsy.


"Baiklah! Sebenarnya aku bukan pengecut yang suka buka aib mantan tapi demi kamu dan Sania kuungkapkan keburukan Arsy. Kami bercerai karena Arsy selingkuh dengan bos tempat dia kerja. Aku lihat dengan mata kepala sendiri dia dan bosnya berada di tempat tidur kami. Aku pergi kerja dia kerja di rumah dengan bosnya. Aku langsung talak dia. Padahal aku sudah lakukan semua keinginannya termasuk korupsi di kantor Abangku. Makanya aku benci pada Arsy."


Bara menyimak cerita Rudi dengan seksama. Bara berusaha cari kebohongan di mata Rudi. Mata itu tenang tanpa riakan mencurigakan. Haruskah Bara percaya pada Rudi?


"Apa bukan karena finansial keuangan?"


"Kalau Arsy bersedia hidup apa adanya mungkin Kintan takkan menderita. Arsy menuntut hidup mewah sampai aku tilep uang perusahaan demi penuhi egonya. Setelah aku jatuh dia mulai berpindah dari pelukan laki ke laki lain. Terakhir dia ketangkap main di rumah. Aku langsung talak dia. Aku cerita ini bukan karena benci pada Arsy tapi demi hubunganmu dengan Sania. Aku tak pernah buka bobrok Arsy pada siapapun demi Kintan. Hari ini aku jujur sejujurnya padamu. Terserah kamu mau nilai apa! Kebenaran sudah diungkap."


"Arsy..." desis Bara tak sangka Arsy demikian liar. Semula Bara salahkan Rudi membuat hidup Arsy dan Kintan sengsara. Ternyata tak demikian jalan ceritanya. Arsy yang bertanggung jawab atas semua kegagalan rumah tangga dengan Rudi.


"Lupakan Arsy Bara...kejarlah Sania! Dia wanita mulia." Rudi masih menaruh harapan Bara tetapkan pilihan tepat.


"Terima kasih Bro..."


Rudi angguk sambil beri senyum hambar pada Bara. Semoga otak Bara terbuka bisa berpikir jernih. Sania tetap yang terbaik.


"Jangan buka kisah Arsy pada orang lain! Kasihan Kintan kalau kelak dia tahu mamanya punya masa lalu kelam. Biarlah dia ingat Arsy sebagai ibu baik!"


"Akan kuingat itu! Hatiku lega sekarang. Arsy punya pilihan sendiri biarlah dia hidup semaunya!"


"Bagus...aku permisi mau balik kerja. Maafkan aku bila keras padamu! Aku tak mau kamu terpuruk dua kali. Aku ikut andil merusak hidupmu maka saatnya aku bayar. Sania tetap the best!"


Bara menangkap ketulusan Rudi. Mungkin Rudi benar-benar sadar akan kesalahan masa lalu dan berniat perbaiki. Menyatukan dua orang yang berhak bahagia adalah pahala.


"Aku yang harus terima kasih kau telah buka hatiku. Aku akan mantap melangkah."


"Mantap... permisi." Rudi balik badan meninggalkan ruang Bara dengan hati lega. Semoga Bara kembali ke jalan semestinya tak menoleh ke belakang.

__ADS_1


Langkah Rudi terasa ringan tinggalkan kantor Bara. Di luar ruang dapat bonus senyum manis Putri. Hari Rudi terasa indah. Tak perlu ingat kenangan pahit bersama Arsy. Cukup sekian masa suram. Besok mentari akan bersinar lebih cerah menerangi hati penuh harapan.


Bara merenungi semua perkataan Rudi. Seburuk itukah Arsy? Seharusnya Bara menyadari kelakuan Arsy yang murahkan diri. Menjadi pacarnya namun hamil dengan Rudi. Dari situ Bara sudah harus sadar siapa sosok Arsy sesungguhnya. Mengapa dia selalu letakkan rasa iba yang merusak keluarga sendiri.


Bara harus bangkit melawan Arsy yang terobsesi padanya. Kini Bara bertanya dalam hati. Arsy dekati dia karena cinta atau ingin hidup mewah seperti kata Rudi. Sayang Bara tak punya kesempatan untuk jawab. Kini dia harus mencari cintanya yang kabur karena cemburu.


Tak terasa waktu merangkak perlahan mendekati sore. Jam kerja usai. Para karyawan perusahaan Bara satu persatu tinggalkan kantor pulang untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing.


Bara enggan pulang karena di rumah tak ada sosok yang akhir-akhir ini bikin kepalanya pusing. Sejak hamil Sania berubah cerewet dan aneh. Tapi Bara nikmati perubahan hormon wanita hamil. Sania yang suka ngambek, Sania yang suka gado-gado, Sania yang..seratus kata yang untuk ungkap kesedihan Bara ditinggal Sania. Ini semua gara-gara Bara tak bisa move on dari masa lalu.


Pintu ruang kerja diketok dari luar menyadarkan Bara senja telah datang.


"Masuk.."


Dea menyembulkan badan dari balik pintu. Wanita Batak ini ingin pamit pulang tapi tak berani berhubung bos belum pulang.


"Pak..apa ada perintah lagi? Aku mau ijin pamit!"


"Ya pulanglah! Aku juga akan pulang!" Bara ijinkan Dea pulang duluan. Senyum manis merekah di wajah khas orang Batak. Sedikit keras namun tetap manis.


Bara memencet ujung hidung lantas menggosok hidung mancungnya. Kok terasa gatal. Tanda apa ini? Sania merindukannya? Atau nyamuk tak sengaja beristirahat di ujung hidung mancungnya.


Bara menggeleng buang pikiran konyolnya. Sekarang pulang cari Fadil untuk minta nomor kontak Sania. Bara yakin adiknya itu tahu banyak tentang keberadaan Sania. Laki itu santai walau Sania raib.


Fadil takkan maafkan Bara bila Sania memang hilang tak tahu rimba. Fadil menyayangi Sania melebihi nyawa sendiri. Fadil takkan sesantai ini bila Sania tak ada kabar.


Mengingat itu Bara segera bersiap untuk bikin perhitungan dengan Fadil. Beraninya Fadil sembunyikan Sania.


Kenangan manis ini membuat ukiran senyum di wajah Bara. Andai Sania pulang Bara akan berusaha menjadi suami terbaik Sania. Tak ada lagi kenangan masa lalu. Hati Bara harus menyatu untuk merebut kembali hati Sania.


Bara turun ke lantai dasar menuju ke lahan parkir. Lahan parkir mulai sepi dari kenderaan para pegawai. Hanya tinggal satu dua motor parkir menanti sang pemilik menunggangi punggung mereka. Bara ayunkan langkah menuju ke mobilnya yang nganggur menanti pemilik.


Bara masukkan kunci mobil ke lubang kunci mobil. Suara ceklik berbunyi sekali tanda pintu mobil terbuka. Sebelum pintu mobil terbuka dari belakang terdengar panggilan berirama sedih.


"Bara..."


Bara menahan uluran tangan buka pintu mobil. Panggilan itu cukup familiar di kuping Bara. Panggilan yang bikin Bara terjebak dalam kesulitan.


Bara menoleh. Arsy berdiri tak jauh dari Bara dengan tampang sedih. Wajah cantik yang biasa bersinar glowing kini kuyu tak berseri.


Ntah dari mana wanita ini muncul. Waktu Bara turun tak tampak bayangan wanita itu. Tiba-tiba saja Arsy nongol dengan tampang sejuta duka.


Arsy berlari kecil menubruk Bara memeluk laki itu erat-erat seakan tak ingin pisah. Bara tertegun sejenak namun cepat sadar bahwa ini salah.


Bara mendorong Arsy menjauhi dirinya agar tak terjadi salah paham jilid dua. Arsy bersikeras tak ingin lepaskan Bara walau Bara sudah terangan menolak Arsy.


Keduanya tak sadar dari tempat tersembunyi ada satu sosok manusia merekam kejadian Arsy dan Bara pelukan di lahan parkir. Wajah orang itu puas sambil keluarkan tawa licik.


"Ternyata kau!"


Orang yang berwajah licik itu kaget ditegur dari belakang. Roy merebut ponsel orang itu dengan tampang bengis. Tanpa ampun Roy menyeret orang yang merekam Bara dan Arsy masuk ke dalam gedung kantor.

__ADS_1


Orang yang merekam tadi wajahnya berubah pucat pasi tak berdarah. Badannya meringsut mengecil dilanda rasa takut seluas langit. Tak tahu mana kepala, mana ujung.


Roy meminta satpam amankan orang itu lalu memeriksa ponsel orang itu cari tahu sampai di mana orang ini terlibat kasus yang melilit Bara. Tak disangka pengkhianat berada di kantor sendiri.


Tepat dugaan Roy. Orang ini punya andil sebar foto Bara dan Arsy di pub. Ternyata di galerinya masih tersimpan bukti foto Arsy dan Bara di pub.


Roy menggeleng tak percaya orang ini tega menjual Bara. Demi uang atau ada motif lain. Roy tak bisa tinggal diam biarkan orang licik berada di lingkungan orang berhati tulus mengais rezeki.


"Jaga nona ini! Jangan biarkan dia kabur! Ini orang berbahaya!" perintah Roy pada satpam.


Orang itu menunduk tak berani angkat kepala. Dia duduk lesu di bawah pengawasan dua satpam yang siap mengawal.


Roy segera bergerak menuju ke lahan parkir di mana Arsy dan Bara masih mengulang masa lalu. Ingin sekali Roy beri hadiah bogem masak pada Bara setelah dapat bogem mentah dari Rangga. Arsy masih berusaha mencari perhatian Bara tanpa beri kesempatan pada laki itu pergi meninggalkan dirinya.


"Bara...ajak Arsy masuk!" seru Roy keras tak peduli Bara itu bos. Sikap Roy tak hargai posisi Bara sebagai atasan. Ini bukan soal siapa atasan dan bawahan tapi kelakuan memuakkan Bara dan Arsy.


"Jangan ngawur Roy! Aku tak bisa tenggelam dalam kebodohan sampai berulang. Aku mau pulang. Lepaskan tanganmu Arsy!" Bara berusaha membuka jalinan tangan Arsy yang erat memeluk pinggangnya.


"Aku akan lepas asal kau janji tak tinggalkan aku!"


"Arsy..aku sudah punya isteri. Jangan ganggu aku lagi! Carilah laki yang lebih baik dariku!" ujar Bara parau.


Roy tak sabaran langsung menghentak Arsy dari pelukan Bara. Arsy sudah kelewatan melangkahi hak Sania. Masih adakah rasa malu di hati wanita itu? Bara sudah ngaku punya isteri masih juga tak menyerah.


Arsy nyaris jatuh disentak Roy secara kasar. Untunglah Arsy dapat bersandar di pintu mobil Bara hingga tak terpelanting ke lantai kasar. Roy tak tunjukkan rasa iba malah ingin menghajar wanita culas itu.


"Rencanamu berantakan Arsy! Ayok masuk ke dalam menjernihkan masalah dengan kronimu!" ujar Roy masih terdengar geram.


"Apa maksudmu Roy? Aku datang untuk Bara. Bukan untukmu! Tak usah sok hebat merasa jadi bos." koar Arsy tak terima diperlakukan kasar oleh Roy.


"Ayok masuk kau akan tahu jawabannya!" Roy menarik tangan Arsy dengan kasar.


Bara ingin melarang Roy berbuat kasar namun laki ini menahan diri tak perburuk kondisi. Roy marah tentu ada sebab musabab. Roy orangnya rasional tak mudah dibengkokkan. Roy selalu tulus bela Bara walau tahun berganti tahun.


Bara terpaksa ikut dari belakang biarkan Roy menyeret Arsy secara kasar. Sia-sia Arsy berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Roy yang sedang dibalur emosi.


Bara menutup mata melihat Arsy dihempas Roy di hadapan seseorang. Bara masih bingung melihat salah satu karyawan seniornya menunduk malu dikawal dua satpam.


"Dhenok? Ada apa ini?" tanya Bara masih belum ngeh.


"Tanyalah dua iblis ini apa yang mereka lakukan untuk memisahkan kamu dan Sania!" Roy menunjuk Dhenok dan Arsy bergantian.


"Dhenok...apa yang telah kau lakukan hingga Roy semarah ini?" tanya Bara masih pelan.


Dhenok melirik Arsy sekejab sebelum menjawab. Bibir Dhenok terasa berat untuk menjawab padahal nasibnya sedang berada di ujung tanduk.


"Jawab atau aku lapor polisi!" bentak Roy tak sabaran. Dhenok meringsut takut dengar bentakan menggelegar Roy.


"Aku..aku disuruh Arsy merekam untuk kirim ke Sania. Kata Arsy pisahkan Sania dari Pak Bara baru aku punya kesempatan dekati Pak Bara. Arsy siap membantuku usir Sania."


Roy dan Bara kaget dengar cerita Dhenok. Tak disangka Dhenok punya tujuan sangat jelek pada Sania. Darah Bara kontan mendidih temukan fakta orang-orang di dekatnya berusaha hancurkan rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2