MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Suhada Dioperasi


__ADS_3

Rata-rata mereka datang ditemani suami. Betapa bahagianya wanita cek up ditemani suami siaga. Hanya wanita beruntung dapat perhatian sepenuhnya dari suami. Tak jarang suami hanya mau enaknya saja. Giliran susah isteri ditinggal dengan sejuta alasan. Sibuk di kantor, tak bisa tinggalkan tugas bagi PNS. Berbagai dalih dikemukakan.


Sania termasuk salah satu wanita beruntung disayangi suami. Sania tak tahu itu sayang abadi atau sayang nempel doang. Semua berpulang pada Bara sendiri. Sania sudah persiapkan mental jika suatu saat Bara berpaling seperti Bobby. Sakit hati itu pasti namun Sania telah memiliki harta Karun tak terhingga nilainya yakni anak-anak dalam perut. Tanpa Bara Sania sanggup besarkan ketiga anaknya.


Bara tak perhatikan Sania yang terbawa lamunan. Laki ini sibuk cari tempat duduk nyaman bersama Sania. Bara ingin seperti bapak-bapak umum bangga bisa jadi pengawal pribadi isteri sendiri. Mengantar bini cek up adalah tugas utama suami. Siapapun tak bisa ganti.


"Sayang...kita duduk di sana!" Bara menggandeng Sania ke tempat yang kosong dekat pintu ruang praktek dokter. Bara yakin mereka akan cepat dipanggil karena Dr. Frans sudah bantu dia ambil nomor antrian. Mereka tak perlu menunggu lama untuk masuk ruang praktek dokter.


"Iya Lieve.." Sania dan Bara ayunkan langkah ke tempat kosong yang diincar Bara.


Keduanya sama dengan pasangan lain tak sabar ingin lihat perkembangan bayi mereka. Mata Sania liar memandangi para ibu-ibu yang hamil dengan aneka tingkah pola. Ada yang meringis, ada yang cerah dan ada yang masam.


"Kamu tak apa sayang?" bisik Bara di telinga Sania takut orang lain dengar mengira Bara suami posesif.


"Tak apa. Semua ok...Lieve senang di sini?"


"Pasti dong! Lieve tak sabar mau lihat para kurcaci dalam perutmu. Sudah segede apa mereka!"


"Semoga mereka sehat."


"Amin..."


Bara ulurkan tangan mengelus perut Sania yang mulai tampak ibu hamil sejati. Telah keluar tonjolan ibu hamil umumnya. Sekilas mata semua akan tahu Sania sedang hamil. Wanita muda cantik dan suami ganteng walau tua dikit. Dibilang pasangan serasi tidak juga karena ada gap jarak usia lumayan jauh. Mungkin inilah yang namanya jodoh. Jodoh tak pandang usia, tampang dan harta. Yang penting sama-sama saling mencintai.


"Nyonya Bara Jaya." suster berkoar memanggil nama seseorang. Sania belum ngeh masih asyik menatap ibu-ibu hamil satu persatu. Tak lama lagi Sania akan seperti mereka. Perut buncit mirip gajah kecil kekenyangan makanan.


"Sayang...giliran kita!" Bara ingatkan Sania kalau mereka sudah dipanggil. Gelar sendiri sebagai nyonya Bara Sania lupa. Tak ikhlas sandang nama nyonya Bara apa?


"Oh maaf!" Sania seperti tersadar dari mimpi. Bara menggeleng lihat sikap teledor Sania.


Bara menggandeng Sania bangkit secara lembut diiringi tatapan iri beberapa wanita. Mungkin suami mereka tak selembut Bara. Maka muncul rasa iri hati.


Sania singkirkan semua prasangka. Tujuan mereka adalah memantau perkembangan janin di perut Sania. Maka itu Sania bergegas ikut Bara masuk ruang periksa dokter kandungan. Perawat ramah persilahkan Bara dan Sania masuk langsung bertemu dokter yang mengurus kandungan Sania.


Seorang dokter muda bertampang ganteng menyambut Bara dan Sania. Sania terpesona oleh dokter kandungan rekomendasi Dr. Frans. Seorang cowok berkulit putih bersih dengan bibir merah segar. Rambut dipotong trendy masa kini. Pokoknya dokter terganteng yang Sania temui.


Bara mendengus cemburu pada dokter yang bakal memegang perut Sania. Sumpah mati Bara takkan ijinkan dokter itu membantu Sania melahirkan. Api cemburu berkobar besar siap membakar semua rintangan di depan mata.


"Selamat datang! Ibu Sania Jaya. Silahkan duduk!" Dokter itu tersenyum manis bikin Sania makin meleleh. Kalau dokternya segini ganteng hamil tiap tahun juga mau. Artinya bisa jumpa dokter ini terusan.


"Terima kasih dok!" Sania tak pindah mata dari raut wajah cantik itu. Dokter tak bisa disebut tampan karena lebih mirip cewek. Tepatnya cantik. Dokter cowok yang cantik.


"Anak pertama?" tanya dokter cantik itu ramah.


"Iya dok! Anak pertama kami."


Bara berdiri di samping Sania tak berniat duduk. Mata elang Bara meneliti semua gerak gerik dokter itu cari sela mesum.


"Ada keluhan? Morning sick akut atau sering kram?"


"Tak ada cuma kadang malas doang! Semua berjalan normal. Kuat makan dan kuat tidur." kata Sania semangat dapat tonic dari dokter cantik.

__ADS_1


Dokter itu tertawa pamer gigi putih rapi. Ini menambah nilai plus lagi. Sania makin tergila berharap anaknya kelak seganteng dokter muda ini.


"Bagus...ayok berbaring biar kita lihat gimana bayi ibu. Silahkan!" Dokter itu bangkit dari kursi menuju ke brankar putih untuk pemeriksaan.


Seorang perawat berpakaian putih dengan sigap membantu Sania naik ke tempat pemeriksaan. Sania berbaring menanti tindakan selanjutnya.


Perawat itu menaikkan baju Sania untuk olesi sejenis gel dingin ke perut Sania. Tahap seterusnya dilanjutkan dokter itu. Bara perhatikan dokter itu memakai sarung tangan sebelum gunakan alat detektor usg. Api cemburu kembali bakar dada.


Dalam hati Bara ngomel seenak dengkul dokter sentuh perut bini kesayangan. Itu daerah terlarang bagi laki lain. Termasuk dokter karena dia cowok. Cowok tak cocok jadi kandungan karena harus menyentuh daerah vital para wanita. Menurut agama haram atau tidak?


Di layar monitor terpapang tiga gumpalan daging nyaris mirip manusia. Mereka mulai bergerak walau hanya denyutan.


"Wah... triple! Hebat bapak ini! Anaknya kembar tiga. Syukur mereka tumbuh sehat. Ayo papa! Lihat ini kami!" Dokter itu beri senyum takjub pada Bara. Kembar tiga lumayan langka walau ada kejadian. Kebanyak kembar dua.


Mata Bara berembun menyaksikan keajaiban yang diberi Yang Maha Kuasa. Tiga sosok janin bakal tumbuh membesar di perut kecil Sania. Sanggupkah Sania yang mungil menahan beban segitu berat? Bara tersenyum walau dalam hati terharu.


"Terima kasih dok! Apa mereka sehat?"


"Untuk sementara sehat dan berkembang bagus. Nyonya kecil tak boleh stress dan perbanyak istirahat. Kalau kasus ibu hamil lain aku sarankan banyak gerak tapi ibu muda ini kusaran jangan banyak aktifitas. Takut rahimnya tak kuat menampung tiga janin. Nah! Nyonya mungil harus patuh! Rajin kontrol. Kalau ada keluhan atau nyeri cepat hubungi dokter! Ok?" Dokter itu beri kode pada perawat untuk bersihkan perut Sania dari gel licin.


Sekali putar dokter itu duduk kembali ke mejanya. Kini api cemburu Bara agak reda. Ternyata dokter cantik itu profesional sebagai dokter. Tak tampak profil dokter mesum.


Sania duduk kembali di kursi yang tersedia di depan dokter. Sania tak puas lekatkan tatapan ke wajah cantik sang dokter. Bukan dokter yang genit, justru Sania yang kesengsem sama dokter.


"Ok...aku kasih resep agar kandungan kuat! Rajin minum vitamin dan kurangi makan pedas. Jangan makanan bisa merangsang reaksi perut! Ini berbahaya bagi janin-janin kalian. Untuk saat ini semua ok. Selamat Pak Jaya dan ibu! Doakan mereka lahir sehat." Dokter itu menulis resep lalu menyalami Sania dan Bara. Baru kali ini dokter muda ini dapat kasus anak kembar tiga. Jam terbang dokter ini belum banyak maka belum jumpa kasus langka ini.


"Terima kasih...semua nasehat dokter akan kami ingat dengan baik." Bara ikut menyalami dokter dengan hati malu. Bara cemburu buta pada dokter yang hanya berniat membantu ibu hamil. Terlahir dengan segala kelebihan juga bukan kehendak sang dokter. Allah sudah beri karunia itulah berkah penerima.


"Iya dok!"


Sania bangkit dari kursi dengan hati tak rela. Rasanya belum puas memandang wajah dokter cantik itu. Sania bisa ngidam jumpa dokter cantik. Ibu hamil memang ada saja tingkah aneh. Suka melihat wajah dokter bukan berarti Sania jatuh cinta. Cuma suka saja.


Bara menggamit lengan isterinya untuk segera keluar dari ruang praktek. Bara tak ijin Sania tergila pada wajah dokter itu. Bisa jadi bibit penyakit yang menyusahkannya.


Bara bayar semua biaya lantas ajak Sania ke apotek di sebelah tempat praktek. Bara menduga apotek tersebut pasti ada hubungan dengan sang dokter. Mungkin milik dokter cantik itu atau punyaan kerabat. Buka praktek sekaligus jual obat. Kolaborasi sempurna. Saling menguntungkan.


Mendapat obat diinginkan Bara mengajak Sania ke rumah sakit untuk menjenguk Suhada. Bara harus membantu Sania melepaskan dendam agar hidupnya tak terusan sakit hati pada bapak sendiri. Melepas beban dendam sama saja melepaskan batu himpitan di hati. Sejahat apapun Suhada tak mungkin menyakiti anak sendiri.


Tangan Sania dingin sekali dalam genggaman Bara. Sania gugup harus jumpa orang yang telah menoreh luka di hati selama bertahun-tahun. Sanggupkah Sania membuang semua tragedi masa lalu membangun hari depan penuh warna dengan Bara?


Sania ragu masuk ke dalam mobil untuk bergerak ke rumah sakit. Perasaan Sania makin galau harus jumpa manusia yang paling ingin dia hindari. Namun di sisi lain Sania tak bisa abaikan perikemanusiaan. Nasib Suhada bagai telor di ujung tanduk. Kapan saja bisa pecah.


Bara menepuk bahu Sania untuk tenang. Belum mulai Sania sudah duluan kalah. Gimana kalau Sania sempat jejakkan kaki di rumah sakit. Bisakah Sania kontrol emosi tidak ngamuk waktu lihat Suhada.


"Kita pulang saja ya!" Bara bijak tahu isterinya belum siap berperang dengan batin sendiri.


Sania menggeleng memaksa ingin melihat Suhada walau dari jauh. Sania berusaha tegar lalui masa paling sulit ini. Memaafkan orang adalah perbuatan paling mulia tapi bila bertentang dengan jeritan batin malah datangkan bala. Sania sedang hamil kembar tiga. Rangsangan emosi bisa bahayakan pertumbuhan bayi.


Bara tak mau terjadi sesuatu pada Sania maka memilih ajak Sania pulang. Sania masih perlu menata diri untuk lebih berani hadapi orang dari masa lalu kelam.


"Jangan dipaksa sayang! Ingat kata dokter bahwa kesehatanmu harus dijaga. Besok ke sana kalau kau sudah tenang. Kita datang bersama mas Rangga. Kita bawa Agra sekalian untuk beri doa agar pak Suhada berhasil di operasi." ujar Bara lembut sambil usap pipi mulus bininya.

__ADS_1


"Sania takut tak bisa jumpa lagi." desis Sania punya feeling tak enak.


"Huusss...jangan berpikir buruk! Mas Rangga tahu yang terbaik."


"Kita telepon mas Rangga ajak jenguk bareng? Bersama mas Rangga hati ini agak tenang."


"Baiklah! Naik dulu ke mobil!" Bara membuka pintu mobil untuk Sania. Sania masuk tanpa ragu. Kini Sania makin yakin untuk jumpa Suhada walau dari jauh. Sania pasti bisa.


Bara memutar ke pintu sebelah lagi untuk menjalankan mobil ke rumah sakit. Sebelum berangkat Bara keluarkan ponsel untuk beri kabar pada Rangga agar ke rumah sakit.


"Assalamualaikum...mas Rangga. Ini Bara."


"O iya Bara...ada apa dengan Sania?" cemas nada suara Rangga.


"Sania baik saja. Kami baru cek kandungan Sania. Keponakan mas tambah satu lagi jadi tiga."


"What? Kembar tiga? Jangan bercanda Bara! Kayak anak kucing saja gitu banyak."


"Hehehe...itulah fakta! Mas masih di kantor?"


"Di rumah sakit. Papaku makin drop. Harus segera ambil tindakan. Doakan ya!"


"Kapan rencana operasi?"


"Malam ini jam sepuluh. Sedang dipersiapkan kebutuhan operasi. Kasih tahu Sania bantu doa! Sejelek apapun dia tetap papa kami."


"Ada Sania bersamaku. Kami berencana ke rumah sakit. Cuma kami tak tahu akan dioperasi malam ini. Kami segera datang. Tunggu kami di situ." Bara melirik Sania yang perlahan wajahnya berubah warna.


Memucat seketika dengar kondisi Suhada harus segera ambil tindakan. Ibarat bercanda dengan maut gitulah nasib Suhada yang dulu terkenal ganteng playboy cap buaya. Masa jaya Suhada berlalu. Kini laki tua itu baring tak berdaya menanti kemurahan hati Tuhan.


"Sania mau datang?"


"Dari tadi kami berencana datang setelah cek up. Sania sudah yakin menjenguk orang tuamu. Sania pasti bisa. Kututup dulu! Kami segera berangkat."


"Yup.. hati-hati jaga keponakanku! Kamu hebat Bara!" Rangga memuji kehebatan Bara dalam hal mencetak generasi baru. Sekali kerja berbuah banyak.


"Itu berkat doa mas Rangga. Kami ke sana!"


"Ok..."


Bara dan Sania sama-sama diam tak bisa katakan sesuatu. Berita ini terlalu mendadak datang ke telinga Sania. Tarik ukur jumpa Suhada akhirnya dapat keputusan akhir. Sania harus ke sana suka atau tidak. Sanggup tak sanggup harus hadir.


"Lieve.." akhirnya Sania bersuara. Bara cepat-cepat meraih tangan Sania yang sedingin es batu. Bara tahu hati Sania sedang gelisah. Berperang melawan batin untuk mampu keluar dari bayangan dendam masa lalu.


"Sayang...kau bisa! Itu kakek anak kita! Anak-anak kita berhak jumpa kakeknya walau dari jauh. Kau kuat?"


Sania mengangguk walau ragu. Sania harus maju walau terasa pahit. Bisa jadi ini perjumpaan terakhir mereka. Tak ada yang bisa prediksi nyawa seseorang. Itu semua rahasia Ilahi.


"Yok kita come on!" Bara mengecup punggung tangan Sania sekilas sambil hadiahkan senyum hangat. Itu yang dibutuhkan Sania saat ini.


Support dari orang tercinta untuk lalui jembatan penuh kerikil dan paku dendam. Genggaman Bara akan jadi kekuatan Sania melangkah lebih jauh capai titik akhir. Capai Finish dengan gemilang.

__ADS_1


"Lieve...terima kasih sudah ada untukku."


__ADS_2