
Namun ini bisa jadi pelajaran bagi Bara bahwa semua yang tampak indah tak selamanya hadirkan kebahagiaan. Untuk selanjutnya Bara bisa petik kesadaran dari insiden yang dibuat Maya.
Sania berterima kasih pada Maya telah membantunya buka mata Bara bahwa dunia penuh kepalsuan.
Sania ikut bungkam kawani Bara mogok bicara. Dalam hati Bara pasti sakit dibodohi Maya. Air susu dibalas air tuba.
Keduanya tiba di rumah yang makin senyap. Waktu berjalan terus menyongsong fajar yang bakal merekah sebentar lagi. Bara dan Sania naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada. Bara masuk kamar mandi bersihkan diri sambil ganti pakaian tidur. Wajahnya muram banget. Sania tak berani bersuara takut bikin mood Bara makin nyungsep.
Sania ikutan bersihkan diri ganti piyama tidur. Bara duluan naik tempat tidur dengan tatapan mengarah ke langit-langit kamar. Sedang mikir apa laki itu.
Sania rebahan diri di samping Bara perlahan takut bikin gerakan buat Bara kaget. Biarkan Bara renungi semua kebodohan yang telah dia lakukan selama ini. Terlalu percaya pada teman lama.
Sania pejamkan mata coba tidur lagi.
"San..." panggil Bara.
"Hhhmmm.."
"Aku terlalu bodoh ya?"
"Menurutmu?"
"Aku gampang terperdaya. Kamu harus dampingi Aku selamanya agar tak jatuh pada tipuan para wanita." kata Bara sesali kebodohan yang tak dapat dimaafkan. Andai dia pilih pergi langsung ke rumah sakit tanpa sertakan Sania mungkin dia akan kehilangan segalanya. Untung masih waras minta ijin pada Sania.
"Lieve...aku tahu kamu orang baik. Ingat waktu kau jatuh siapa sudi datang padamu? Hanya Roy dan Arsy. Arsy jahat tapi dia tetap kejar kamu walau kau belum punya kekuatan. Aku salut pada Arsy tak peduli kamu miskin atau kaya. Andai disuruh memilih pacar untukmu aku pilih Arsy."
"Omong kosong apa kamu? Mana mungkin aku kembali pada pengkhianat. Aku punya kamu." Bara balik badan memeluk badan Sania merapatkan tubuh mereka dalam kesatuan.
Sania tersenyum senang Bara ambil sikap tegas. Hanya di mulut atau ketulusan hati seorang suami.
"Kita tidur. Aku bersyukur Lieve sudah lihat fakta sebenarnya. Maya terlalu liar untukmu. Sempat pula dia sewa gigolo temani dia."
"Dari mana kau duga hal ini?"
"Bukan dugaan tapi kenyataan. Ada rekaman cctv perlihatkan laki muda masuk kamarnya. Dua jam baru keluar dan sempat ciuman di depan pintu kamar hotel. Mau lihat biar jangan disangka fitnahan?"
"Siapa sebenarnya kamu sampai punya akses jebol cctv hotel? Jangan-jangan kamu Intel kepolisian!"
"Gitu ya? Hati-hati kutangkap kalau buat curang!" Sania tertawa kecil goda Bara.
Bara menjadi gemas digoda bini muda nan cantik tengah malam buta gini. Bara memaksa Sania putar badan menghadap ke wajahnya. Kini wajah keduanya saling berhadapan saling menatap satu sama lainnya.
"Jujurlah padaku siapa kamu? Kamu sangat misterius."
"Aku nyonya Bara. Itu saja. Kalau kau tak suka gelarku silahkan cabut. Biar aku kembali jadi Sania si jomblo akut." sahut Sania beri jawaban memusingkan otak Bara.
Bara hilang akal hadapi Sania. Wanita ini licin kayak belut. Susah di pegang mana kepala dan ekor. Bara janji akan korek siapa wanita yang telah masuk dalam hidup nya.
"Tidur Lieve...sudah terlalu larut. Besok terlambat bangun."
__ADS_1
"Ya tapi beri aku doping dulu!"
"Doping apa?" Sania bingung diminta sesuatu tak ada dalam kamus mereka. Obat jenis apa doping Bara.
"Tuh!" Bara menunjuk bibir Sania pakai jari tangan. Sania tertawa kecil dengar permintaan Bara. Sania tak perlu malu berikan hak Bara. Itu sudah jadi tugas isteri beri kepuasan pada lakinya.
Selanjutnya hanya mereka yang tahu apa yang jadi kebutuhan. Rahasia pribadi Bara dan Sania.
Matahari sudah capek menyingsing namun pasangan pengantin basi belum juga tampak batang hidung. Malas bangun pagi bukan gaya Sania. Wanita itu selalu bangun pagi tunaikan sholat subuh kecuali halangan datang bulan.
Bu Jaya mondar mandir di ruang makan kuatir mengapa Bara dan Sania belum muncul ikut sarapan pagi. Pak Jaya yang pusing lihat sang isteri bolak balik seperti setrikaan.
"Ma...mungkin mereka telat tidur. Biarin saja! Kayak tak pernah muda saja." ujar Pak Jaya minta isterinya tenang.
"Mama lebay deh! Sania itu bersama suaminya. Apa yang harus dikuatirkan? Andai Sania bersamaku itu baru cerita." sambut Fadil tambahi bumbu biar cerita makin menarik.
"Dasar anak sinting...itu kakak iparmu! Mana boleh omong gitu."
"Fadil suka Sania...tunggu saja mas Bara lengah! Akan kurebut Sania. Papa dan mama harus restui kami ya!" Fadil berkata dengan santai tapi bukan hanya sekedar guyonan. Dia memang sangat suka Sania. Fadil mau lihat sampai di mana Bara mampu pertahankan bini kecilnya. Fadil tahu jelas penyakit Bara gampang tergoda pada teman lama.
"Fadil..jangan kekanakan! Ayo kita berangkat ke kantor! Hari ini papa mau bereskan kantor untuk abangmu. Kamu bantu cari furniture baru untuk Sania dan Bara!"
"Soal furniture lebih baik kita tanya pendapat yang pakai. Sania senang model apa begitu juga mas Bara. Serahkan pada mereka! Meja karyawan mungkin sudah ok. Tinggal bereskan beberapa ruang bagian direktur dan manajer."
"Fadil benar pa! Serahkan pada Sania dan Bara! Kalau bisa ruang keduanya berdekatan biar Sania bisa pantau ular mana lagi usik anak kita." Bu Jaya ingatkan suaminya beri Bara dan Sania ruang berdekatan. Posisi Bara sudah bisa diperhitungkan di dunia bisnis. Penggoda pasti bermunculan. Bu Jaya tak rela Sania berpisah sama Bara gara orang ketiga.
"Papa ngerti...Mama tak usah cemas kedua orang itu. Pasti kelelahan kejar target dari mama." gurau Pak Jaya tak urung bahagia andai Sania persembahkan cucu buat mereka.
Di tempat lain di kantor PT Sunrise Rangga mulai laksanakan tugas sebagai pemimpin perusahaan. Rangga masih kaku menjabat sebagai seorang pembesar perusahaan. Untunglah ada Lisa yang lebih paham seluk beluk tangani perusahaan. Lisa cukup lama kerja sama Bobby sedikit banyak tahu cara berbisnis.
Rangga terpaksa mengundang beberapa petinggi di perusahaan minta penjelasan mekanisme roda perputaran perusahaan. Rangga tak ingin kecewakan Sania yang susah payah rebut kembali hak mamanya. Rangga wajib lindungi Sania sebagai seorang abang.
Rapat internal kantor banyak beri masukan pada Rangga apa yang jadi andalan perusahaan Sunrise. Ekspor meubel jati dan Jepara jadi komoditas perusahaan ini. Rangga mulai paham sedikit demi sedikit walau masih perlu waktu untuk dalami sistim kerja Sunrise.
Lisa tak henti beri semangat pada Rangga untuk belajar pahami perusahaan Sania. Rangga harus memajukan perusahaan dengan cara apapun. Di tangannya Sunrise harus tumbuh lebih besar.
Rangga sedang tekuni semua gambaran dari para dewan manager dari masing-masing bagian. Cukup rumit dibanding jadi montir. Kening Rangga berkerut-kerut seakan memikirkan beban berat.
"Mas Rangga....istirahat sebentar!" Lisa kuatir lihat Rangga masih berkutat pelajari yang belum paham.
"Bentar lagi...Oya..Sania tak kasih kabar?"
Lisa menggeleng. Rangga menghela nafas panjang ingat betapa Sania kerja keras untuk capai hari ini. Rangga mana tega kecewakan sang adik.
"Mau minum teh?" tawar Lisa bangkit dari kursi berjalan hampiri Rangga.
Meja Lisa sengaja diletakkan satu ruang dengan Rangga agar Rangga tak hilang kontrol bila sewaktu-waktu muncul orang tuanya. Rangga paling cepat iba hati. Bisa saja Rangga jatuh kasihan pada Suhada balikkan perusahaan. Lisa harus pastikan Rangga tak berbuat bodoh.
"Boleh juga. Kamu capek?" Rangga bertanya pada gadis di depannya. Rangga cemas Lisa kelelahan ikut belajar bidang baru mereka.
__ADS_1
"Tentu tidak. Mas Rangga harus pertahankan hak Sania sampai perusahaan makin jaya."
"Kita berdoa saja."
"Mas tunggu ya! Aku ke pantry bikin teh!" Lisa melangkah keluar dari ruang Rangga dengan langkah tegap. Lisa yakin pada diri sendiri akan dampingi Rangga dalam suka duka.
Rangga tersenyum senang dapat sekretaris jempolan pemikat Sukma. Lama bersama Lisa ada rasa aneh menjalar di hati. Merambat pelan tapi nyata. Akankah tumbuh taman bunga bermekaran bunga cinta di hati Rangga? Rangga bukan tak tahu Lisa suka padanya. Tatapan mata adalah jendela hati. Tak usah di buka Rangga sudah bisa menebak isi hati Lisa.
"Erlangga anakku..." suara nyaring Amanda memecah di ruangan Rangga. Amanda muncul lagi bersama Suhada bawa kotak makanan.
"Kalian..aku belum sempat atur posisi untuk Pak Suhada. Nanti kukabari bila ada keputusan." Rangga to the point takut melemah pendirian.
"Mama datang bawa makan siang. Ya kan pa? Kamu tentu capek belajar dari awal. Papa dan mama datang bantu kamu. Kamu duduk manis saja. Serahkan pada kami! Kami sudah paham seluk beluk perusahaan ini." ujar Amanda seraya letakkan makanan di meja Rangga. Rangga tak tertarik pada bawaan Amanda yang mencurigakan.
Selama ini kedua orang ini tak pernah cari keberadaannya. Sekarang datang menjilat minta mengatur perusahaan lagi. Mimpi apa dua orang ini.
"Terimakasih...aku masih mampu. Semua hak kalian sudah dihapus. Kalian tak punya akses kontrol mekanisme perusahaan. Tanda tangan kalian juga sudah tak laku." Rangga langsung beri peringatan agar Suhada sadar bahwa masa jayanya sudah berakhir.
Suhada berjalan ke arah Rangga mau lihat seberapa kuat anaknya melawan orang tua. Dia yang besarkan Rangga bahkan kasih kuliah sampai jadi sarjana. Cuma segini balasan anak kandungnya.
"Mau jadi anak durhaka?" geram Suhada sambil bunyikan suara dalam mulut.
"Omong apa pa? Aku akan balas jasa papa dengan beri uang belanja tiap bulan. Papa tak usah kerja lagi. Duduk manis di rumah saja!" sahut Rangga tak kalah gertak.
"Dari mana kami uang untuk bayar pinalti importir meubel kita? Berpuluh milyar." seru Suhada berang Rangga tak mau patuh perintah. Suhada lupa kalau Rangga sudah dewasa hidup di luar rumah. Tanpa support keluarga berhasil tumbuh besar walau Sania di belakang.
"Aku tak percaya papa tak punya simpanan. Keuangan perusahaan juga lagi kritis. Mana bisa ditarik untuk bayar pinalti kalian. Jual apa yang ada. Mobil mewah kan banyak. Tanah, rumah masih bisa kalian lelang."
"Tak mungkin jual semua itu. Itu milik pribadi. Tak ada urusan dengan perusahaan." koar Amanda tak rela hartanya tersentuh.
"Aset pribadi? Dari mana uang beli semua kemewahan kalau bukan dari perusahaan? Aku tak mau ikut campur urusan kalian. Aku harus bangun perusahaan agar lebih kuat. Kalian cari jalan bayar pinalti."
"Erlangga... kenapa kamu jadi kurang ajar? Aku papamu, pemimpinmu. Besok pulihkan posisi papa dan mamamu! Papa tak mau berdebat. Ingat kau anakku! Akulah pemimpin!" Suhada malas berdebat panjang beri ultimatum pada Rangga agar semua kembali seperti semula.
Rangga mau muntah darah dengan sikap arogan Suhada. Sudah terbiasa memerintah maka sudah jatuh pun masih sok kuat. Sania bisa bunuh Rangga kalau sampai kekuasaan balik ke Suhada maupun Amanda.
"Maaf...aku tak bisa. Perusahaan ini bukan hasil rampasan. Tapi murni hasil kerja keras. Kalian sudah terbiasa merampas maka pikir gampang lakukan padaku?" bentak Rangga terpancing emosi karena Suhada tak sadar telah jatuh.
"Hei anak durhaka...kamu ada hari ini karena kami! Seenak bilang kami merampas. Apa kau lupa siapa yang kasih makan kami dari kecil? Tanpa kami kau bukan siapa-siapa. Kalau kau mati semua warisan juga buat kami. Memang kau punya keluarga lain selain kami?" kata Amanda perlihatkan gaya mafia kelas kakap. Amanda yakin Rangga tak berkutik bila diancam soal kematian.
Darah Rangga makin mendidih diancam begitu. Semua perkataan Sania benar. Amanda adalah pembunuh berdarah dingin. Sekarang sempat dia berpikir Rangga cepat mati untuk raih keuntungan sebagai pewaris dari laki itu.
"Kalian tak usah panik. Andai aku mati semuanya akan kuwariskan pada satu yayasan. Semua sudah kubuat surat di notaris. Jadi kalian tak perlu repot memikirkan pewaris perusahaan ini. Kalian tak pantas disebut orang tua. Tapi aku tak lupa jasa kalian. Tiap bulan akan kutransfer uang belanja untuk papa. Nikmati apa adanya. Silahkan tinggalkan kantor ini! Aku sibuk."
Suhada dan Amanda kaget dengar Rangga sudah mengatur semua rencana untuk jaga nyawa diri sendiri. Kalau Rangga mati mereka juga tak dapat apapun karena laki muda ini sudah duluan bikin rencana.
"Kau..." Amanda menunjuk Rangga dengan geram. Rencana awal hendak kuasai harta Rangga ikut plan lama ancam dan habisin Rangga tak berjalan sempurna. Rangga lebih cerdik perhitungkan akal busuk kedua manusia iblis itu.
"Rangga...kami keluargamu. Tega kamu lihat papa dikucilkan teman bisnis?" Suhada kembali pura-pura lemah cari simpatik.
__ADS_1
"Siapa kucilkan papa? Bilang saja mau pensiun meneruskan perusahaan padaku. Bukankah lebih bonafide? Sudahlah! Terima apa adanya. Papa sudah tua. Perbanyak berbuat baik untuk hapus dosa. Ingat ganjaran buat orang jahat! Tak ada akhir baik." ujar Rangga tetap tak mau mengalah demi Sania.
Sania sudah perhitungkan semua langkah kedua orang ini maka telah bikin rencana jangka panjang. Kelicikan kedua manusia harus segera diakhiri. Jangan ada korban baru mati sia-sia.