
Sania membuka lemari pakaian cari pakaian yang lebih pantas. Satu persatu pakaian diperiksa Sania untuk dicocokkan dengan kondisi tubuhnya. Akhirnya Sania menjatuhkan pilihan pada pakaian warna gading model baby doll. Gaun terusan membuat tubuh Sania bisa bernafas lega.
Setelah yakin pada diri sendiri Sania keluar dari kamar mencari sosok suaminya. Suasana di bawah sepi tanpa penghuni. Sania melirik jam di layar ponsel cari tahu sudah jam berapa. Mengapa sepagi gini sudah pada hilang.
"Astaga..." seru Sania tak percaya jam digital di ponsel tunjukkan pukul sepuluh menjelang siang.
Sania meringis malu tidur kebablasan. Saking nyenyak sampai lupa waktu. Apa kata mertua punya menantu pemalas. Sudah tak bisa masak malas bangun pagi pula. Menantu tak punya nilai.
Sania ayunkan langkah ke meja makan cari sesuatu untuk ganjal isi perut yang minta jatah ransum. Sania angkat tudung tampak ada roti dan nasi lontong lengkap dengan sayuran dan telur. Lagi-lagi sarapan berat untuk perut.
"Eh Sania...sudah bangun nak!"
Sania menoleh malu kenal pemilik suara yang menyapanya.
"Mama...maafkan Sania telat bangun."
Bu Jaya bukannya marah malah tertawa lebar. Sungguh mertua idaman. Menantu malas malah dimanja.
"Sudah...ayok sarapan! Mama tahu kalian pulang sudah pagi. Maunya tidur sebentar lagi."
Sania makin malu dibaikin mertua. Mertua lain pasti keluar segala sindiran pada mantu tak punya skill di rumah tangga. Sania hanya tahu bisnis mana ngerti soal dapur. Semua makanan Sania dipersiapkan orang ataupun beli siap.
"Lieve sudah berangkat ke kantor?" tanya Sania tak melihat Bara.
"Sudah...semua laki pada ngantor. Mau sarapan apa nak? Hari ini kau tak perlu ke kantor. Itu pesan Bara." Bu Jaya membuka tudung menanti Sania jatuhkan pilihan sarapan apa.
"Tapi Sania harus ke rumah sakit jenguk papa."
"Ok...kita pergi bersama. Mama kawani kamu. Sekarang makan dulu. Kasihan cucu mama kelaparan." Bu Jaya bergurau menarik Sania duduk di kursi meja makan. Sikap Bu Jaya supel tak ingin bikin Sania terbebani oleh rasa bersalah.
"Iya ma...biar Sania buat sendiri."
"Mama buat susu dulu ya! Kamu harus banyak makan biar bayinya sehat." Bu Jaya menepuk bahu Sania penuh kasih sayang. Kelembutan sejati seorang ibu.
Sania terhibur punya mertua sebaik Bu Jaya. Semoga wanita itu tulus bukan karena Sania sedang hamil cucunya. Setelah melahirkan sikapnya berubah. Itu yang ditakuti Sania. Baik hanya saat diperlukan.
Bu Jaya masuk dapur seduh susu ibu hamil untuk Sania. Mertua telaten urus menantu hamil bayi kembar tiga. Sania sedang mengandung aset paling berharga keluarga Jaya. Wajar Bu Jaya sangat protek Sania.
Sania mengambil roti tawar sebagai pilihan dari pada makan lontong sayur yang pedas. Pagi-pagi makan menu merangsang kerja lambung bukan pilihan tepat. Roti tawar Sania olesi selai coklat berbau harum. Selera makan pagi ini cukup buruk mengingat Suhada masih belum jelas nasibnya.
Rangga sama sekali tak kasih kabar bagaimana perkembangan kesehatan Suhada. Bertambah sehat atau bertambah buruk. Sania hanya bikin pertanyaan dalam otak tanpa ada jawaban.
Untuk lebih jelas Sania harus ringankan langkah ke rumah sakit. Bertanya tanpa jawaban malah bikin dada sesak.
Bu Jaya mengantar satu gelas penuh susu ibu hamil rasa coklat. Minuman itu timbulkan bau harum menggoda hidung Sania. Minuman ini mungkin akan perbaiki bad mood Sania. Kata orang makan makanan manis bisa datangkan ketenangan.
"Minum nak! Mumpung masih hangat. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit. Ibu kawani kamu." Bu Jaya berkata sambil angsurkan gelas pada Sania.
Sepasang tangan Sania terulur menerima dengan malu kucing. Sania malu diperlakukan layak ratu di rumah. Padahal Sania hanya menantu bukan anak.
__ADS_1
"Terima kasih ma!"
"Kau makan dan minum susu. Mama pergi tukar baju ya! Kita pergi sekalian belanja."
Sania memilih ikuti permintaan sang mertua. Mertua sebaik Bu Jaya tak pantas dibantah. Di mana Sania akan temukan mertua sebaik Bu Jaya. Di cari pakai kompas ajaib juga tak bakal ada duanya.
Sania melanjutkan makan roti sementara Bu Jaya masuk kamar ganti pakaian. Sepotong roti dan segelas susu coklat hangatkan perut Sania yang semula kosong. Perasaan Sania jauh lebih baik dari tadi. Sania mantap menjenguk Suhada akan terima apapun terlihat di lapangan.
Tak butuh waktu lama Bu Jaya siap diajak ke rumah sakit. Raut wajah ibu tua itu tetap segar ceria seolah dunia ini indah tanpa masalah. Benar orang menikmati hidup. Melihat dunia pakai jendela hati tanpa beban. Terbuka plong.
Kedua berangkat dikawani supir keluarga. Bu Jaya tak ijinkan Sania bawa mobil takut mengganggu janin di perut. Dokter wanti-wanti Sania harus jaga diri karena mengandung anak kembar tiga sangat berbahaya. Mengandung resiko tinggi. Bagusnya bed rest. Tapi orang model Sania apa bisa diajak istirahat tanpa kegiatan?
Disuruh duduk bengong sama saja rengut nyawa Sania. Bekerja adalah dunia Sania. Menghasilkan sesuatu yang baru akan menjadi tantangan bagi Sania.
Bu Jaya berhenti di toko buah sebelum ke rumah sakit. Bu Jaya tahu adat jumpa besan harus bawa buah tangan sebagai tanda hormat. Datang dengan tangan kosong pertama jumpa akan bawa kesan tak ada etiket baik dari keluarga pihak Bara.
Buah terbungkus rapi beralas keranjang jadi pilihan Bu Jaya. Ini mantapkan langkah menjenguk besan. Beriringan dua wanita beda generasi masuk rumah sakit mencari ruang rawat inap Suhada.
Sepanjang jalan menuju ke ruang rawat Suhada dalam hati Sania tak putus berdoa semoga Suhada sehat bisa pulih seperti biasa. Bersemangat berjuang lawan maut. Semangat Suhada melawan Rangga dulu harusnya terpakai saat ini.
Dulu bagaimana gigih dia dan Amanda berjuang merebut Sunrise dari tangan Rangga. Sania salut pada semangat papanya walau caranya salah.
Akhirnya kedua wanita itu tiba di depan ruang rawat Suhada. Suasana sekitar ruang rawat VIP sepi tanpa ada hiruk pikuk pasien maupun orang datang menjenguk. Tak rugi bayar lebih mahal untuk dapatkan privasi lebih bagus.
Sania ulurkan tangan mengetok pintu. Pelan tapi masih bisa ditangkap kuping orang awam. Tak lama pintu terbuka. Seorang laki bertubuh atletis buka pintu langsung umbar senyum manis pada Sania.
"Masuk dek!" Rangga beri jalan pada Sania dan Bu Jaya pindah badan ke dalam ruangan.
"Papa gimana?" bisik Sania takut ganggu tidur Suhada.
"Alhamdulillah sudah lewati fase kritis. Dia sempat sadar tanya kamu dan Agra. Kubilang sudah pulang istirahat dia tampak lega. Oya Bu Jaya silahkan duduk!" Rangga persilahkan mertua Sania duduk di sofa tamu.
Bu Jaya tersenyum sambil angsur keranjang buah kepada Rangga. Sania mau bawa tapi dilarang mertua pengertian itu. Bu Jaya tak ijinkan Sania angkat barang berat takut pengaruhi janin di perut. Beban Sania jaga tiga janin sudah cukup berat. Di tambah sekeranjang buah bisa-bisa pengaruhi perkembangan janin. Paling aman Bu Jaya bawa sendiri.
"Ini sedikit buah. Semoga papamu cepat pulih. Kita doa bersama." ujar Bu Jaya bijak.
"Terima kasih Bu! Papa lebih bersemangat setelah jumpa Sania dan Agra. Semangat hidupnya makin berkobar."
"Bagus itu. Aura positif. Gimana kabar Amanda dan Ranti? Mereka diijinkan datang ke rumah sakit?" tanya Bu Jaya lugu tak tahu perkembangan keluarga Suhada makin kacau.
Perut Rangga menegang ditanya soal Amanda. Rangga tak tahu harus bagaimana cerita kalau dia baru saja pulang dari pemakaman Amanda. Amanda dikebumikan layak umat Islam di pemakaman umum. Walau Rangga benci namun sebagai anak Rangga wajib lakukan yang terbaik untuk almarhumah. Rangga beri penghormatan terakhir pada anda terlepas dari segala dosa wanita itu. Wanita jahat itu telah pergi dalam kondisi tragis. Rangga sudah lepaskan semua dendam.
"Ranti akan segera bebas. Mungkin sore ini dia sudah bebas. Amanda..." Rangga ragu melanjutkan kalimat meneliti air muka Sania yang tegang menanti kalimat dari bibir Rangga.
"Apa mas? Dia ikut bebas?" sekak Sania kurang ramah.
"Bukan dek! Kau janji tak boleh kesal atau terkejut bila mas cerita."
"Ciiisss...untuk apa kaget untuk orang berhati penuh ulat gitu. Busuk!" omel Sania
__ADS_1
"Sania...ibu hamil tak boleh kasar! Nanti anak-anak ikut kasar lho!" Bu Jaya koreksi sikap tak terpuji Sania.
"Ma...mama tak tahu betapa licik wanita itu. Jahat minta ampun. Di otaknya terisi akal busuk semua."
"Dek ..mamamu betul! Kita tak baik menyimpan dendam pada orang yang sudah tiada." timpal Rangga mulai ungkit sedikit dari sisi paling halus.
"Tiada? Maksud mas Amanda sudah mati?" Sania ralat ucapan Rangga.
Rangga angguk. Sania terdiam tak keluarkan suara tak tahu harus komentar apa. Berita dari Rangga cukup mengguncang batin Sania. Amanda belum bertanggung jawab atas semua dosa-dosanya sudah pergi tinggalkan dunia.
Sania tak percaya Amanda pergi mendadak atau ini hanya akalan Rangga agar Sania tak tuntut Amanda sampai ke lubang semut.
"Mas masih ingin lindungi mafia kejahatan itu?" Sania lontarkan tatapan tajam ke arah Rangga. Ruang rawat Suhada yang awalnya sejuk kini berubah panas karena emosi Sania menyala siap bakar semua benda di depan mata.
Bu Jaya menyentuh lengan Sania seraya menggeleng melarang Sania umbar amarah. Rangga tak tinggal diam meredakan amarah adiknya yang meletup-letup.
"Dek...Amanda sudah terima karmanya. Menjelang magrib kemarin dia meninggal dikeroyok sesama napi. Amanda sok arogan di penjara maka digebuk ramai-ramai sampai tewas. Dia meninggal dalam perjalanan ke klinik terdekat. Mas tak bohong. Mas baru saja pulang urus pemakaman dia!" Rangga bercerita sesabar mungkin agar diterima otak Sania.
Sania kontan lemas ingat dendamnya belum tuntas. Ternyata Amanda ambil jalan pintas hindari hukuman duniawi darinya. Sania tak puas tapi juga tak mungkin lawan kodrat takdir. Amanda terima Adzab secara nyata meninggal dengan tragis. Haruskah Sania bersyukur atau ikut kasihan.
Kini Sania paham mengapa Rangga dari semalam kelihatan gelisah. Ternyata abangnya sudah terima kabar kematian Amanda. Rangga masih berusaha menyembunyikan kematian wanita culas itu.
"Sania...dia sudah terima hukuman setimpal! Lepaskan beban di hati! Lupakan semua dendam dalam dada. Kau lebih beruntung dapat keluarga utuh setelah lelah mencari. Kau sudah menang dari siapapun. Orang yang melakukan kejahatan dapat jatah tersendiri. Lupakan!" Bu Jaya menepuk bahu menantunya selembut sutera India. Halus lembut.
"Benarkah dia mati digebukin?" tanya Sania belum yakin.
"Iya...organ tubuh hancur. Wajahnya nyaris tak bisa dikenali. Mereka yang menyiksa Amanda juga kena hukum sanksi. Kita di sini tak bisa membantunya. Sekarang hanya doa bisa kita panjatkan semoga jalan Amanda dibuka. Semua perbuatan jadi tanggung jawabnya sendiri."
Sania bergidik bayangkan penderitaan Amanda dihajar ramai-ramai. Itu hanya siksa dunia, siksa kubur masih menanti wanita jahat itu. Allah itu tidak tidur bukan hanya kata kiasan di bibir. Allah telah tunjukkan yang batil kembali pada yang batil.
"Mas...jangan dilanjutkan! Cukup untuk hari ini. Mas tolong urus Ranti! Aku tak mau jumpa wanita itu. Dia bukan kakakku. Tempatkan dia sejauh mungkin dariku."
"Kita lihat nanti! Sore ini dia keluar penjara. Mas sudah suruh orang bawa dia pulang ke rumah papa. Dia tak mungkin pulang ke rumah Bobby karena Bobby sudah kabur. Rumah Bobby kosong."
Sania tertawa sinis dengar cerita Rangga. Bobby sudah pasti harus keluar dari rumah itu karena Sania telah perintahkan pengacara usir laki laknat itu. Kaki Bobby sudah patah. Ke mana dia melangkah tetap terseok-seok. Tak ada tempat bagi orang berhati busuk macam laki itu. Manfaatkan orang cari ketenaran. Ranti jatuh langsung ditendang kayak usir seekor anjing kurap. Nasib Ranti yang jelek salah pasang mata.
Sania justru diselamatkan dari laki busuk itu. Kalau tidak Sania seumur hidup terkurung dalam kehidupan penuh kepalsuan. Sania yang menang. Betul kata Bu Jaya, Sania keluar jadi pemenang. Tak perlu ada sisa kesedihan mengendap di dada.
"Terserah mas! Untuk selanjutnya papa gimana? Siapa yang rawat papa? Ranti tak bisa diharapkan. Urus hidup sendiri tak becus bagaimana mau urus orang tua?"
"Di rumah masih ada pembantu setia. Mereka akan urus papa. Kau tak perlu kuatir soal itu. Cuma gimana cerita soal kematian Amanda?"
"Tunda dulu sampai kesehatannya fit seratus persen. Perlahan Mas buka cerita."
Rangga setuju dengan ide Sania tunggu Suhada sembuh betul baru kasih kabar kematian tragis Amanda. Gimanapun Amanda adalah isteri Suhada walau jahat. Sedikit banyak pasti sudah terjalin kasih sayang karena hidup bersama bertahun-tahun.
"Baiklah dek! Sore nanti Agra akan datang dibawa Lisa. Pulang kantor nanti. Kau mau di sini sampai sore atau pulang?"
"Kami mau belanja dulu mas! Sore nanti Sania balik dengan Bara. Mas mau makan apa biar Sania belikan?"
__ADS_1
"Tak usah...mas akan pulang mandi setelah Lisa datang. Mas juga harus jemput Ranti. Mas harap kau bersabar soal status Ranti. Ranti pasti sedih ditinggal Amanda. Kita jangan menambah asam di atas lukanya. Kau bersedia?"