
Sania tak bisa ikuti permainan Fadil yang kurang kerjaan. Dia harus selesaikan tugasnya secepat mungkin karena sore ini dia ada janji sama Agra untuk bawa anak itu jalan jalan selepas kantor.
Fadil memantau cara kerja Sania dengan kagum. Ternyata Sania bukan insinyur abal abal. Sania sangat serius kerjakan tugasnya sampai kehadiran Dea luput dari pandangan mata.
Dea terkejut melihat pagi pagi adik bos sudah ada di kantor temani Sania mengerjakan tugas. Tampaknya anak muda ini tertarik pada Sania. Mana ada laki muda rela bangun pagi hanya datang temani seorang wanita tanpa tujuan tertentu. Semua terjadi pasti ada sebab musabab.
Fadil hanya duduk manis sambil main ponsel tanpa ganggu Sania yang fokus bekerja. Fadil sadar Sania bukan hanya sekedar wanita obral tampang. Dia punya jam terbang lumayan bagus di bidangnya.
Keheningan melanda seluruh ruang kerja Sania dan Dea. Masing masing kerjakan tugas yang diberi Bara. Dea sebagai sekretaris Bara menyusun segala jadwal kerja Bara. Jadwal Bara mulai padat karena ada proyek Pak Wandi. Bara harus sering ke lokasi pantau hasil kerja. Bara tak mau lengah percaya begitu saja sama pekerja lapangan yang kadang suka asalan. Asal kerja tanpa beri hasil maksimal.
Fadil mulai tak sabar menanti Sania beri reaksi atas kehadirannya. Gadis yang diincarnya fokus banget dalam tugas tak open Fadil yang sudah buang waktu datang temani dia. Ponsel di tangan sudah tak menarik lagi. Rasa bosan hadir bikin laki muda ini gelisah.
"San..apa tak ada waktu luang keluarkan dikit bunyi. Aku bosan." keluh Fadil tak tahan lagi dicueki Sania.
"Fadil...ini kantor bukan ajang kongkow. Aku bisa dipecat kalau asyik ngobrol. Kau tahu sifat abangmu yang tak suka canda." sahut Sania tanpa tinggalkan kerjanya.
"Beri aku dikit perhatian kenapa? Aku kan perlu kasih sayang dari seorang gadis cantik." gombal Fadil usaha cari perhatian.
Dea merasa lehernya tersedak dengar gombalan jaman kakeknya. Sungguh tukang gombal kacangan. Sania tak open apa kata Fadil. Berapa hari mengenal Fadil yang ada hanya sifat kan kekanakan Sania dapatkan dari Fadil. Tak ada yang serius dari anak itu. Maka itu Sania tak pusing oleh kelakuan Fadil.
"Fadil..pulanglah! Kita bukan anak kecil yang main di playgroup. Kita harus tanggung jawab terhadap kerja kita. Begitu juga kamu. Bantu papamu di kantor. Jadilah tulang punggung untuk papamu yang mulai senja! Kau tak perlu banting tulang cukup jadi sandaran orang tuamu!"
Fadil mengerjit alis merasa aneh dengar nasehat Sania. Biasa orang akan berkata jadi anak berbakti buat orang tua ataupun teruskan usaha orang tua. Ini lain cuma minta jadi tulang punggung. Apa Fadil punya tulang lebih harus dibagi sama orang tua.
"Kamu aneh San..tulang punggungku hanya sebatang. Emang harus dipotong potong jadi berapa bagian?"
"Otakmu cuma segede upil ya! Maksudku kamu jadi tempat orang tuamu letakkan harapan. Sungguh buruk bahasa Indonesiamu. Aku jadi curiga jangan jangan kamu lulus karena gurunya masih ngantuk kasih nilai salah."
"Wait...nilaiku di atas rata rata. Jangan main hakim sendiri!"
"Rata rata merah kan?" todong Sania mulai goda Fadil.
"Sembarangan...aku lulus dari SMA predikat murid terbaik. Guru saja memuji kepintaranku. Tak kusangka bagian dari tulang rusukku meragukan kepintaranku." keluh Fadil meratap sedih. Drama haru biru mulai dilakonkan Fadil.
Dea tertawa geli pagi pagi sudah ditontonkan sinetron tanpa sutradara. Dea heran mengapa sifat Bara dan Fadil bisa seperti langit dan bumi. Satu dingin seperti bongkahan es di kutub utara, satunya lagi hangat bikin orang ingin tertawa terusan.
"Iya..kamu anak TK kesayangan guru. Sekarang anak kecil pulang minum susu. Lalu bobok siang." Sania menepuk bahu Fadil dengan pelan seolah Fadil memang anak balita butuh perhatian. Fadil senang bukan main ditanggapi Sania walau dalam suasana bercanda.
"Mimik susu sini aja!" kata Fadil dengan ganjen.
Sania belalakkan mata kesal kena jebakan Fadil. Ingin rasanya Sania gampar mulut tak sekolah itu. Orang akan berpikiran buruk tentang dirinya. Dipikir Sania ada main dengan Fadil baru laki ini berani keluarkan canda sangat tak sopan.
"Tuh! Minum susu kucing di luar. Ada kucing betina sedang susui anak. Mungkin kamu mau bergabung." ucap Sania mengkal hati.
"Sadis...anak seganteng aku dikira anak kucing. Ehm..boleh juga jadi anak kucing asal induknya kamu!" balas Fadil masih konyol.
"Siapa lagi mau anak macam ente? Tuh di luar banyak kucing garong mungkin berniat adopsi kucing liar macam kamu."
"Kamu saja..aku akan jadi anak baik kok! Patuh sama mama kucing cantik! Mau ya?" Fadil keluarkan jurus manja persis anak balita merengek minta permen.
Suara deheman keras hentikan gaya manja Fadil. Semua tersentak lihat sosok besar datang pasang wajah dingin.
Bara menatap Fadil dengan pandangan tak bersahabat. Laki ini kontan tunjukkan tak suka kehadiran Fadil di kantornya.
__ADS_1
"Kurang kerjaan ya?" tembak Bara tanpa senjata.
"Ada..lagi ngerayu cewek pujaan hati." balas Fadil tak gentar walau tahu Sania adalah kakak iparnya.
"Enyah dari sini sebelum aku naik darah! Jangan ganggu kerja orang!" kata Bara dingin.
Dea dan Sania rasakan hawa dingin mencekam di lantai dua ini. Bara sangat tak toleransi kehadiran Fadil ganggu kerja anak buahnya.
"Kalau yang kuincar bukan Sania kau pasti tak open. Kau juga incar Sania bukan?" todong Fadil
"Incar sesuatu yang sudah dalam genggaman tangan? Kau bodoh atau tolol?" bentak Bara meninggi nada suara.
Dea terkesima menyimak kalimat Bara. Bara ingin katakan Sania berada dalam tangannya. Apa hubungan dua orang ini? Kedua orang ini selingkuh itulah gambaran di benak Dea.
"Aku tak bodoh mas Baraku. Aku tahu harus ke mana melangkah. Aku takkan kalah darimu. Ok sayang aku pergi dulu! Pak Flinstone kacaukan acara romantis kita. Aku pasti balik." Fadil mengalah memilih pergi. Fadil pergi bukan takut pada Bara tapi Fadil tak mau menyusahkan Sania. Bara pasti tak segan limpahkan amarah pada gadisnya.
Sania bersyukur Fadil tahu diri tak kacaukan waktu kerjanya. Fadil bukan anak muda gampang diancam. Makin Bara intimidasi makin bangkitkan semangat Fadil melawan abang tiraninya.
Bara mendengus tak senang cara Sania ladeni kekonyolan adiknya. Sania mungkin lupa statusnya sebagai nyonya Bara. Kelihatannya Sania harus diberi peringatan keras agar tak beri kesempatan pada Fadil berbuat seenak perut sama kakak ipar.
"Jaga sikap di kantor!" ujar Bara sebelum masuk ruang kerjanya.
Dea dan Sania saling beri kode diam diri. Jangan sampai pagi ini diwarnai omelan panjang sang bos yang suasana gampang berubah.
Bara sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Sania kembali fokus ke PC komputer lanjutkan bikin sketsa gambar bank yang bakal dibangun. Sania gunakan USB papan sketsa pen design untuk permudah gambar sketsa permintaan Bara. Di jaman ini semua serba canggih. Tidak perlu sibuk gambar pakai pensil lagi untuk sekedar wujudkan satu rencana design.
Suasana tenang kembali pecah oleh suara manja penuhi ruang kerja Sania. Dea dan Sania menatap orang yang baru datang bikin sport jantung setiap pria.
Sania menahan nafas kurang setuju cara Arsy berpakaian. Menggoda iman laki.
"Aku mau jumpa Bara." Arsy langsung berdiri di depan Dea selaku sekretaris.
"Pak Bara sedang sibuk." tukas Sania menyahuti Arsy.
Arsy mengalihkan pandangan ke arah Sania yang berani keluarkan kalimat tak setuju Bara diganggu.
"Kau cuma anak buah. Kau tahu siapa aku?"
"Ngak..kalau ada kepentingan kerja silahkan tinggalkan pesan. Ibu datang begini akan ganggu pekerjaan kantor." Sania menantang Arsy yang menurutnya datang hanya menggoda Bara.
"Kau berani menantangku? Aku ini calon isteri Bara. Kau akan kupecat kalau aku sudah menikah dengan Bara."
"Oh..." Sania tak terkejut dibentak Arsy. Wanita macam Arsy sudah terlalu banyak keliaran di masyarakat. Diberi dikit perhatian kontan klaim itu miliknya.
Sania ambil kertas HVS lalu lipat segitiga bentuk limas. Sania kerjakan dengan santai tak terprovokasi kata kata Arsy. Mental Sania makin tebal sejak alami dicurangi Bobby. Hadapi wanita wanita berakhlak kerupuk macam Ranti dan Arsy tak perlu teriak teriak cukup beri pukulan telak.
Sania menulis sesuatu di kertas yang dilipatnya lalu letakkan persis di depan mejanya. Kertas itu wakili posisi Sania di kantor Bara.
Mata Arsy nyaris keluar lihat tulisan berhuruf kapital di meja Sania.
"Isteri Bara? Kau mimpi ya?" seru Arsy menggelegar bak petir menyambar di ruang itu.
Dea merasa geli juga sedikit kaget Sania berani keluarkan candaan demikian beresiko. Apa kata Bara bila tahu Sania berani ngaku bini bos besar mereka.
__ADS_1
"Sudah nona Arsy? Kamu hanya calon dan aku isterinya. Jangan ganggu kami ya! Kau mau disebut pelakor murahan? Sudah pakai pakaian murahan akhlak jangan murah." kata Sania santai.
Arsy mendengus marah. Bara yang menyaksikan kericuhan dari ruang kerjanya segera keluar cari tahu apa yang terjadi.
Arsy segera dekati Bara minta perlindungan laki itu dikerjain Sania. Gaya ganjen Arsy bikin perut Sania mules. Sania yang lagi halangan merasa perutnya makin tak nyaman melihat Bara bersama penggoda genit.
"Ada apa ribut ribut?"
"Kau lihat pegawaimu ini! Beraninya bikin status dia binimu." Arsy menunjuk kertas HVS berbentuk segitiga di meja Sania. Tertulis Isteri Bara dalam huruf besar. Arsy tentu tak terima Sania klaim dirinya isteri bos besar di kantor ini.
"Sudahlah Ar! Ini kantor. Kau datang untuk apa?" Bara tak membantah. Dea bisa lihat ada senyum tipis hiasi bibir bosnya. Bara tak marah atau mengatakan sesuatu atas klaim Sania yang lumayan ekstrem.
"Kintan cari kamu! Dia rindu papanya." ujar Arsy melirik Sania yang tetap tenang.
Dalam hati Sania cukup kaget dengar Aset bilang ada orang rindu papanya. Apa itu anak Bara dengan Arsy? Namun sebagai orang intelek Sania tetap perlihatkan raut wajah tenang.
Bara yang salah tingkah Arsy ucapakan kalimat tak seharusnya di depan bini sahnya. Sania pasti akan salah sangka buat jarak antara mereka makin menjauh. Sania bukan wanita gampang ditaklukkan. Kini Arsy karang kisah baru yang hanya akan membuat Sania berpikir ulang masuk lebih dalam di ruang hati Bara.
"Arsy...aku sibuk. Tak mungkin ajak Kintan main. Coba kau cari Rudi! Dia kan bisa ajak anakmu jalan jalan." Bara menolak secara halus.
"Kintan cuma mau kamu. Dia tak suka Rudi. Ayoklah Bara! Kau kan sayang pada Kintan. Kasihan dia sampai demam rindu padamu!" Arsy merengek cari perhatian.
Bara melirik Sania yang di membisu tak mau ikutan di ajang rayu merayu kelas teri. Reaksi dingin Sania membuat Bara ingin memancing reaksi Sania terhadap kisah ini.
"Baiklah! Kapan kapan aku ada waktu akan temui Kintan. Sekarang kau pergi dulu. Ini jam kerjaku!"
"Aku akan duduk manis temani kamu kerja. Di sini banyak kucing garong cari kesempatan rayu kamu." sinis Arsy lemparkan tatapan mata ke arah Sania.
"Arsy...ini kantor. Bukan tempatmu ngerumpi. Jangan ganggu aku!" Bara berusaha sabar hadapi wanita bertekad baja seperti Arsy.
"Di sini tempat kucing garong. Bukan tempat kucing kelaparan mencuri makanan orang lain. Ya kan Dea?" Sania bicara pada Dea tak peduli kan Arsy.
Dea tak jawab takut salah omong. Ini pertarungan anggota elite. Karyawan kecil macam dia akan cepat tersingkir bila coba masuk arena tak tepat.
"Sudahlah! Arsy...aku akan datang sore nanti. Kau pulanglah!" Bara tahu Sania mulai dirundung rasa gemas. Arsy bukan apa apa kalau lawan bicaranya Sania. Bara tak mau Arsy dipermalukan Sania.
"Ok...tapi kamu harus pecat perempuan penggoda ini. Dia susah berani ngaku binimu." Arsy masih belum puas pada keisengan Sania rebut pamornya.
"Pecat saja. Syukur dapat pesangon dan pembagian harta. Kau akan iri hati lihat aku kuasai setengah kantor ini." Sania menyahut tanpa beri muka pada Arsy.
"Kau...wanita murahan?" tuding Arsy marah.
"Aku murahan? Coba kau berkaca! Nilai diri sendiri berapa hargamu? Baju saja tak sanggup beli kain. Beli kain jangan tanggung. Masa beli kain cuma setengah meter. Miskin amat calon bini Bara! Atau perlu bini Bara dan karyawan kantor ini sumbang dana untukmu?" sinis Sania
Bara menghela nafas. Inilah yang ditakuti Bara dari ketajaman lidah Sania. Arsy tak mungkin bisa melawan kata kata Sania. Sania tak perlu berteriak kayak orang kesurupan. Cukup pakai kalimat matikan gaya Arsy.
"Dasar wanita tak tahu malu. Ngaku bini Bara. Kau murahan!"
Sania tertawa kecil dibilang murahan terusan oleh Arsy. Tak ada gelagat Sania mau marah. Justru gaya santai Sania bikin Arsy gregetan.
"Apa bukan?" tanya Sania melirik Bara. Bara mati kutu ikutan kena serangan Sania.
"Sudah...sudah...ini kantor. Bukan pasar malam. Arsy.. kuminta kau pulang dulu! Jangan bikin kacau di sini.!"
__ADS_1