
Sania tak peduli Bara harus keluarkan banyak duit malam ini. Tugas seorang suami adalah penuhi semua kebutuhan isteri. Bara belum melaksanakan tugas sebagai suami beri nafkah rezeki. Malah Sania yang bantu Bara menambah pundi-pundi emas di brankas.
Keduanya mencari meja agak sudut agar tidak terganggu oleh pelanggan yang lalu lalang. Sania adalah orang pencinta ketenangan. Tak suka diusik dan tak mengusik.
Bara menarik kursi memberi Sania luang untuk duduk. Bara berbuat seakan dia laki gentle perhatian pada wanita. Sania tak menampik sikap gentle Bara cuma sayang banyak terbuang di badan orang tak tepat. Di badan orang pembawa bencana.
Kini Bara duduk berhadapan dengan Sania. Bara lebih bebas menatap wajah cantik di depannya. Sania makin cantik tanpa kerut halus di kening. Beban dendamnya tampak memang terhapus dari relung hati wanitanya.
"Lieve pesan ya!" Bara minta ijin pada Sania untuk pesan makanan.
Tak lama seorang pelayan datang membawa daftar menu. Gadis muda bertampang sederhana itu tersenyum ramah pada pasangan suami isteri itu. Sikap seorang pegawai menyenangkan langganan.
"Selamat malam...apa yang bisa kubantu?" pegawai muda itu menanti dengan sabar orderan Bara. Tangannya memegang buku memo kecil menanti catatan dari Bara.
"Stik tenderloin dua makan di sini! Dua lagi bungkus untuk bawa pulang."
"Ok... minumnya pak?"
"Cukup air mineral saja!" potong Sania tak suka basa basi. Bara mungkin berencana pesan jus buah untuk temani makan malam mereka.
"Sayang...kau harus banyak minum jus buah supaya cukup vitamin C."
"Kalau bistik dipadu minuman beraroma akan hilang cita rasa bistik. Tercampur oleh rasa asing jus. Nikmati saja!" Sania beri alasan mengapa tak pesan jus.
"Oh gitu...ya sudah! Ikuti pesanan isteriku! Terima kasih."
"Baik...mohon ditunggu." pegawai itu mencatat semua pesanan Bara dengan sikap profesional pelayan terlatih.
Sepergi pelayan itu Bara kembali fokus pada Sania. Mata Bara tak bosan menatap wajah cantik Sania. Allah berbaik hati karuniai dia seorang wanita muda multi talenta. Kini Bara akan puji Allah maha adil. Membayar kesedihannya dengan hadiah tak ternilai.
Sania sadar ditatap terusan oleh Bara jadi risih. Dia halal bagi Bara tapi tak gitu juga dipelototi takut Sania tiba-tiba raib dari retina mata.
"Nanti luntur baru tahu." omel Sania gusar digoda terusan.
Bara tertawa kecil, "Lieve takut kau hilang lagi. Kau seperti belut licin susah ditangkap."
Sania meruncingkan ujung bibir ejek kalimat Bara yang tak manis. Orang secantik gini diibaratkan belut penuh lumpur. Sungguh perumpamaan jelek.
"Belut lebih baik dari ular beracun." sungut Sania sinis.
Bara ngerti tujuan Sania omong gitu. Siapa lagi kalau bukan Arsy jadi topik terselubung.
"Tak ada ular di sekitarku lagi. Lieve sudah bosan hadapi ular licik. Cukup ada belut manis."
"Ciiisss.." Sania buang muka tak tertarik gombalan Bara. Gombalan Bara tak seindah gombalan Fadil. Setiap kalimat terlontar dari mulut Fadil selalu kena di hati. Sania suka dengar rayuan Fadil walau tak simpan di hati.
Keduanya berdiam diri menanti hidangan mereka. Sania gunakan kesempatan ini edarkan mata memantau setiap pengunjung restoran. Rata-rata pasangan, ada tua muda. Semua nikmati menu dengan wajah cerah.
__ADS_1
Musik lembut mengantar para langganan menyuap makanan ke mulut. Makan bersama pasangan diiringi buaian musik melankolis serasa makan di surga. Syahdu memanjakan mood.
Tanpa sadar Sania tersenyum ikut bahagia melihat pasangan demi pasangan akur. Bahkan ada yang saling menyuapi. Betapa romantisnya makan disuap orang terkasih.
Bara ikuti gerak mata Sania. Bara tahu Sania sedang kagum pada pasangan yang akur. Dalam hati Bara berjanji akan jadi suami lebih baik lagi buat Sania. Hari ini dan seterusnya.
Pelayan datang mengantar pesanan hentikan netra Sania nonton tayangan live di restoran. Dua porsi stik daging terhidang menebar aroma sedap. Saos tomat dan saos barbeque jadi pilihan penikmat bistik. Kentang goreng, timun dan sayur segar ikut numpang di piring hot plate.
Sania mengendus menyerap bau aroma yang menggoda seleranya. Tanpa malu ibu hamil ini meraih garpu dan pisau untuk mulai ritual pengisi perut. Perut Sania sudah cukup lapar gara-gara jumpa Suhada. Biasa jam gini Sania sudah nikmati makan ronde kedua.
Bu Jaya selalu hidangkan buahan segar untuk jaga kesehatan Sania yang lagi hamil. Tak heran bobot Sania mulai bertambah. Tubuh yang biasa langsing berubah langsung.
"Enak?" Bara tersenyum senang lihat Sania demikian bernafsu makan makanan bergizi itu.
"Lumayan...nanti akan kuajak Lieve makan yang lebih enak di Belanda. Koki jempolan di rumahku."
"Sayang tinggal di mana di Belanda?"
"Amsterdam dan Leiden. Sania sering habiskan waktu di Leiden karena di sana banyak bunga. Sana banyak petani bunga tulip. Senja naik perahu telusuri sungai Rhine. Tinggal di sana nyaman. Belanda banyak peninggalan bangunan kuno. Sania tinggal di kastel peninggalan abad 14. Itu kastel keturunan nenek moyang kami. Lieve harus ke sana."
Bara melongo. Baru hari ini Sania bersedia buka sedikit privasinya. Bara makin yakin Sania bukanlah hanya sekedar perancang biasa. Banyak keunggulan ditampilkan Sania. Bara tak ingin mengorek bila Sania tak cerita. Bara mau semua mengalir tanpa paksaan.
"Ada hantunya? Biasa kastel kuno banyak hantu."
"Hantu? Ngak...ach...itu hanya imajinasi kita. Kalau adapun kita lebih mulia dari hantu. Untuk apa takut? Di Leiden aku tinggal bertiga doang. Dua maid setia dan Sania. Kamarnya ada dua belas. Luas bangunan delapan puluh kali seratus berdiri di atas tanah lima hektar. Untuk keliling kebun biasa kugunakan sepeda. Udara bersih dan sejuk. Kelak Sania mau habiskan masa tua di sana."
"Lebih baik kita tinggal di sini saja. Lebih ramai."
"Di sana enak Lieve...papa dan mama ingin hidup di sana bila pensiun nanti. Pasti kuijinkan. Kita semua pindah ke sana. Anak-anak akan tumbuh sehat di sana. Selesai proyek pulau B kita pindah ke sana. Akan kubawa Agra juga." Sania berkhayal hidup damai di tempat jauh dari hiruk pikuk kota. Di Leiden suasana adem tanpa manusia licik macam Bobby, Arsy, Amanda dan Ranti.
Sania yakin akan pulang Belanda setelah proyeknya kelar. Kehidupan di sini penuh intrik dan orang jahat. Sania tak sanggup hidup di bawah tekanan orang syirik. Keluarga Sania di Belanda hidup damai tanpa pandang harta. Masing-masing punya kehidupan sendiri mencari hidup nyata tanpa konflik.
"Kita lihat saja nanti. Kita besarkan dulu trio kwek-kwek milik kita."
Kening Sania berkerut dengar kata trio kwek-kwek. Sudah dua kali Bara pakai nama kiasan itu untuk sebut bayi-bayi mereka. Sania asing dengan julukan itu. Kwek-kwek itu biasa digambarkan bunyi itik. Masak anak mereka disamakan dengan itik.
"Sania tak suka anak Sania disamakan dengan itik. Kwek-kwek..." Sania manyun perlihatkan wajah jutek.
Bara meletakkan pisau dan garpu sambil tertawa. Lagi-lagi Sania salah pengertian. Bara hanya ingin melukiskan anak mereka seperti penyanyi cilik jaman dulu dalam group Trio Kwek-kwek. Jaman itu group nyanyi anak-anak sangat top digandrungi anak-anak. Termasuk Bara di jamannya.
"Sayang...itu bukan bunyi bebek atau itik. Dulu waktu kamu belum lahir ada group nyanyi anak-anak namanya Trio Kwek-kwek. Sangat top terdiri dua cewek imut dan satu cowok. Seiring waktu semua bubar. Masing-masing jalani hidup sendiri. Ada Leony, Dhea dan Alfandy." Bara jelaskan agar Sania tak merasa anak nya direndahkan.
Anak Sania ya anak Bara. Kecuali Sania dapat suntikan bibit dari laki lain tepatnya selingkuh. Bara percaya seratus persen pada Sania. Sania bukan wanita gampangan. Berpatok Sania pacaran dengan playboy cap ****** macam Bobby tak terpengaruh menyerahkan diri. Sania berhasil jaga diri sampai Bara hadir.
"Ooo...tentu mereka imut dan lucu. Semoga anak kita menjadi orang berhasil."
"Amin...Ayo habiskan bistikmu. Kasihan Mas Rangga kelaparan. Papamu juga akan segera masuk ruang operasi. Kita harus balik rumah sakit. Kau baik saja kan?" Bara meneliti rona wajah Sania takut wanita muda ini syok dengar kata operasi.
__ADS_1
"Baik Lieve! Sania sudah kenyang. Lieve sudah siap?" Sania lihat piring Bara nyaris bersih tinggal sisa saos. Selera makan badak.
Bagian Sania dagingnya masih ada setengah cuma sayuran dan kentang sudah ludes pindah ke perut berisi debay-debay mungil.
"Habiskan dagingnya. Biar dedek bayi sehat. Ingat lho! Ada tiga mulut kecil bantu sayang makan. Segini mana cukup bagi. Ntar mereka malah berantem rebut makanan." Bara melucu rangsang selera makan Sania.
"Ada aja Lieve ini. Sania sudah kenyang. Ayo bayar bill! Kita harus segera balik." Sania bersikeras tak ingin habiskan sisa daging. Dasarnya Sania kurang suka daging. Sekarang ini makan daging hanya ikuti suara hati. Bisa jadi permintaan anak dalam kandungan.
"Ok...ok...kita balik!" Bara memanggil pelayan untuk hitung jumlah pesanan mereka. Duduk lebih lama tak guna karena Bara kenal sifat Sania yang keras. Sekali bilang putih selamanya akan putih. Jarang berubah tanpa alasan jelas.
Pelayan ramah itu datang membayar bill sekalian pesanan Bara untuk dibawa pulang. Dua kotak terkemas rapi dalam tas kresek warna putih. Sania menerima jatah makan Lisa dan Rangga dengan suka cita. Abangnya takkan lapar lagi dapat bistik lumayan lezat.
Bara membayar gunakan kartu kredit yang sedang trend. Makan sekarang bayarnya bulan depan waktu penagihan kartu. Cara ini membantu konsumen permudah diri tak perlu bawa uang kontan ke mana. Aman lagi asal dipakai sesuai jalur.
Sekarang keduanya kembali berada di mobil menuju ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit lebih pendek karena bisa gunakan jalan pintas. Sania terkantuk-kantuk karena perut kenyang. Sejak hamil Sania berubah agak malas dan cepat lelah. Tak bisa diajak begadang lagi.
Mata Sania sayu nyaris tertidur. Bara biarkan Sania istirahat sebentar sebelum dilanda rasa cemas Suhada didorong ke meja operasi. Sania memang punya masalah dengan Suhada namun hubungan darah memaksa Sania harus ikut rasakan kecemasan sebagai anak.
Udara dalam mobil adem berkat angin AC. Bara setel lagu lembut untuk bantu Sania lebih rilex menyongsong mimpi indah. Merem sejenak akan bantu Sania pulihkan stamina yang mulai surut. Hari ini Sania mengalami banyak kejadian. Sebentar bahagia, sebentar galau harus jumpa Suhada. Untunglah semua berakhir baik.
Sebenarnya Bara memutar mobil di jalan raya untuk beri kesempatan pada Sania tidur lebih lama. Namun ada yang lebih urgen dari itu. Rangga kelaparan dan Suhada akan masuk ruang operasi. Kedua hal ini tak mungkin menanti Sania tidur lebih lama.
Bara harus tega usik mimpi Sania karena mobil telah berada di pelataran parkiran rumah sakit. Bara matikan mesin mobil baru mengecup bibir Sania untuk bangunkan macan cantik pujaan hati.
Bibir kasar Bara mengulum bibir ranum Sania lembut memaksa Sania buka mata. Aksi mesum Bara sangat jitu bangunkan Sania tukang tidur.
Sania menatap mata elang Bara lewat lampu bercahaya remang di pelataran parkir. Seharusnya jadi suasana romantis ciuman dalam mobil di ruang terbuka. Namun rawan digrebek satpam penjaga parkiran. Malah ntar dikira pasangan ilegal beraksi tanpa peduli tempat.
"Kita turun sebelum kumakan kamu! Lieve sudah rindu pelukanmu." desah Bara menahan gelora nafsu. Untung Bara masih sadar berada di tempat terbuka. Kalau di kamar habislah Sania jadi santapan Bara.
Sania majukan bibir menyentuh bibir Bara sekilas lalu mendorong lakinya agar menjauh. Sania merasa lebih segar setelah tidur sebentar. Baterainya telah diisi ulang walau belum full.
Bara tahu diri segera perbaiki pakaian yang sedikit berantakan karena insiden gairah. Pria dewasa ini turun dahului Sania. Bara bawa kotak makanan Rangga di tangan melangkah maju ke pintu masuk rumah sakit. Sania terseok-seok ikut dari belakang memegang erat tas selempang ajaibnya.
Bara sengaja jalan perlahan agar isterinya tak tertinggal jauh. Langkah Bara besar dan panjang. Satu langkah Bara tiga langkah Sania yang mungil. Langkah demi langkah terlewati akhirnya tiba di ruang rawat Suhada.
Bara melirik jam tangan melingkar di pergelangan tangan. Jam mewahnya menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Artinya mereka belum terlambat. Masih ada waktu lima belas menit menuju jam operasi.
Lisa menyambut Sania dengan muka jutek. Gadis ini sudah sangat kelaparan. Dekat jam sepuluh belum kena makan malam. Perut nyaris lengket ke punggung belakang.
"Lama amat! Gue lapar banget!" bisik Lisa malu didengar Rangga. Sania nyengir kuda disudutkan Lisa.
"Besok gue beli makan malam lhu pakai pesawat jet tempur. Cepat dan tepat! Lieve...beri kotak makanan pada Lisa. Dia kelaparan. Maklumlah pengungsi liar yang selalu lapar!" olok Sania dapat delikan mata Lisa.
"Oh maaf! Ayo cepat makan! Nanti dingin tak enak lagi." Bara menganggur kotak makanan pada Lisa. Rangga diam saja tak begitu tertarik pada makanan bawaan Bara.
Sania menangkap ada yang tak beres dengan abangnya. Jangan-jangan ada kendala dengan proses operasi Suhada.
__ADS_1