MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bara Nelangsa


__ADS_3

Sekar dan Putri kontan bernyanyi dalam hati. Bara punya saingan cukup berat. Joachim ganteng khas orang bule. Umur tua dikit dari Bara tapi kharisma bule itu tak bisa dipandang enteng. Mana lagi si bule memuja Sania bak intan paling langka sedunia. Macan kecil Bara bisa berpindah ke kandang orang lain.


Joachim rela tinggalkan tugas demi Sania. Ini pengorbanan luar biasa bagi seorang insinyur punya nama besar. Nama Joachim Hoffman cukup top di kalang pengembang. Sudah mendunia. Cuma herannya mengapa bisa jadi budak Sania.


Ketiga pegawai Bara tak habis pikir seberapa hebatnya Sania mampu gerakan orang jauh lebih terkenal darinya. Sania bukanlah Sania lugu nan lembut. Wanita itu punya kuku tajam mampu menghujam ke daging orang berbuat salah padanya.


Roy, Sekar dan Putri tak punya pilihan selain ikuti semua petunjuk Joachim yang wakili Sania. Proyek bernilai trilliunan tak mungkin dikerjakan asal-asalan. Pengembang sudah kucurkan dana segitu besar tak mungkin terima hasil amburadul.


Kita tinggalkan Roy yang sibuk memulai tahap awal pengerjaan proyek. Kita kembali ke Bara yang nelangsa ditinggal keluarga. Pak Jaya, Bu Jaya dan Fadil sudah bertolak ke Jerman untuk urusan bisnis. Tinggal Bara meratapi nasib ditinggal pergi orang-orang tercinta gara-gara terlalu banyak simpan rasa iba. Kalau jumpa Fadil pasti akan bilang makan tuh rasa iba.


Bara berusaha menekan rasa rindu pada Sania. Baru ditinggal seminggu dunia Bara menjadi suram. Semua pemandangan berubah jadi hitam putih tak berwarna. Pelangi cinta Bara telah kabur dibawa pujaan hati.


Bara bertekad menunaikan amanah Sania menjalankan perusahaan dengan baik. Hati boleh kosong tapi hidup harus berlanjut.


Tok tok..


Pintu ruang Bara diketok orang dari luar.


"Masuk..." sahut Bara yang empunya kantor.


Sosok wanita Batak muncul dari balik pintu dengan wajah takut-takut. Bara mengerut kening heran mengapa Dea ketakutan masuk ke ruangnya. Reaksi Dea tak seperti biasanya.


"Ada apa?" tanya Bara pelan tak ingin menambah rasa takut Dea.


"Ini...ini..." Dea gugup.


"Aku..." seseorang menerobos masuk berpakaian seragam satu jasa antar online. Gaya orang itu cerminkan kemenangan.


Bara kaget sampai bangkit dari tempat duduk. Bara tak terima orang yang telah buat hidupnya sengsara datang kacaukan hari sepinya. Emosi Bara langsung naik ke ubun-ubun menyadari sumber penyakit datang menyerang lagi.


"Mau apa kamu ke sini lagi?" bentak Bara garang tak kenal rasa iba lagi.


Arsy dengan santai maju dekati Bara seolah amarah Bara tak ditujukan padanya. Arsy berhasil kelabui satpam menyamar jadi food delivery antar pesanan Dea untuk makan siang Bara. Dea ketakutan Arsy berhasil masuk ke kantor padahal wanita ini jadi blacklist kantor.


"Aku??? Aku mau ke mana selama lelakiku di sini." Arsy senyam senyum penuh kemenangan.


Bara menghindar tak ingin melukai hati Sania lagi walau wanita itu tak nampak apa yang terjadi di sini. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun. Bara ingin budidayakan kejujuran itu.


"Jangan mendekat! Kau bukan siapa-siapa aku. Kau pergi atau aku lapor pada pihak keamanan." ujar Bara tegas menolak Arsy. Kali ini Bara tak mau tinggalkan kata iba lagi. Kata itu sudah hancurkan seluruh angan indah Bara bersama Sania.


Arsy perlihatkan senyum sinis tak open penolakan Bara. Arsy yakin Bara tak bisa move on dari cinta mereka. Emosi Bara pada saat itu hanya sesaat. Seiring waktu amarah itu akan lenyap. Arsy harus selalu ada di sisinya Bara untuk ingatkan laki itu kalau Arsy masih ada. Selamanya ada.


"Kau rela aku di penjara?" tanya Arsy dengan manja.


Dea mau muntah lihat sikap murahan Arsy. Kok ada manusia tak tahu malu gitu. Mungkin waktu Arsy dilahirkan orang tuanya lupa minta anaknya diberi ********. Kalau bukan posisinya hanya sekretaris ingin rasanya Dea jambak rambut wanita yang bertopi seragam food delivery.


Arsy menyodorkan kotak makanan kepada Bara tanpa tinggalkan senyum genit goda iman. Bara yang terlanjur jijik pada Arsy bergidik bukannya tertarik.


"Dea...panggil satpam! Usir orang gila ini! Bawa sekalian makanannya. Mungkin sudah diberi racun." ujar Bara menatap Arsy tanpa penghargaan. Bara tak peduli niat Arsy antar makanan untuknya. Bisa jadi itu trik baru wanita culas ini.


"Siap pak! Bu Arsy..mau pergi sendiri atau kuseret ke bawah." Dea tak ragu lagi berbuat kasar pada Arsy karena dapat restu dari big bos. Hati Dea puas sekali berhasil kalahkan wanita arogan yang selama ini sok nyonya besar.


"Aku tak mau pergi. Bara...kau lihat si Batak ini! Orang kanibal." rengek Arsy masih manja.

__ADS_1


Dea menarik tangan Arsy tak open wanita itu melawan. Arsy bukan lawan Dea yang badannya kasar khas orang pulau Sumatera. Sekali diseret Arsy sudah berada dekat pintu.


Tenaga mantan petani buah di daratan tinggi Karo mana sanggup dilawan Arsy. Tenaga Dea setara dengan tenaga laki dewasa. Arsy tak ubah semut bagi Dea.


"Ayo keluar! Di sini tak terima pelakor." seru Dea di atas angin. Sudah lama Dea menahan diri untuk hajar wanita ini. Akhirnya niat itu terlaksana walau tanpa kekerasan.


"Bara...kau akan menyesal. Aku akan kembali." teriak Arsy berusaha melawan Dea. Tapi Arsy tak berdaya diseret Dea bagai seret kambing siap disembelih.


Suara Arsy akhirnya menghilang. Bara terduduk menarik nafas lega. Ntah kenapa hati Bara plong walau telah jahat pada Arsy. Tak ada kata kasihan sedikitpun terbit di hati. Rasanya Arsy pantas dapat perlakuan tak pantas atas ulah sendiri.


Sepergi Arsy, Bara meneleponi pihak satpam untuk perketat penjagaan keamanan. Bara tak mau kecolongan oleh ulah Arsy lagi. Selanjutnya adalah hubungi pengacara Sania yang selalu backup Sania dan Bara dalam kasus apapun.


"Halo...ini Bara!"


"Ya pak Bara...ada perlu apa?"


"Kenapa kasus Bobby dan Arsy lamban prosesnya? Tadi wanita itu bikin kacau lagi di sini. Usahakan percepat masukkan laporan ke pihak berwajib."


"Rencana dalam dua hari ini. Kami sedang negosiasi dengan pemilik pub untuk jadi saksi atas kejadian malam itu. Pegawai pub yang telepon bapak sudah menghilang maka kami kesulitan dapat saksi utama."


"Apa tak ada saksi lain?"


"Yang namanya bermasalah sama hukum orang pada takut. Tapi kami yakin bisa kumpul semua bukti yang beratkan Arsy dan Bobby. Kami juga sedang urus rumah Sania yang diakui sebagai rumah Ranti. Kasusnya berlapis-lapis."


"Usahakan secepatnya pak! Arsy itu orang nekat. Aku tak mau di ada di sekelilingku lagi. Sudah cukup sakit hati Sania."


"Baiklah! Akan kami urus secepatnya. Pak Bara tunggu saja kabar kami. Jangan buat gerakan yang mencurigakan agar Bobby tak kabur. Dia itu sudah hancur. Perusahaanya sudah morat marit."


"Iya pak! Kalau Sania ada kasih kabar tolong hubungi aku. Aku mau minta maaf." Bara yakin Sania dan pengacaranya sering kontak. Sania mana mungkin lepaskan tugas tanpa intai setiap gerak gerik Bara. Mata Sania itu di mana-mana.


"Dia di Belanda?"


"Di Eropa...lagi liburan bersama keluarga. Dia akan balik tepat pada waktunya. Pak Bara tak usah kuatir tentang Sania. Kami akan menjaganya."


Mata Bara terbelalak kaget dengar jawaban santai sang pengacara. Mereka yang jaga Sania. Lalu apa guna suami segede Bara. Tak ada nilaikah Bara selalu suami? Isteri harus dijaga orang lain. Sungguh kelewatan Sania ini. Bara tak dianggap suami.


"Tolong kasih tahu di mana isteriku! Aku akan jemput dia! Biar aku yang jaga dia."


"Sania sudah pesan tak ingin diganggu. Dia butuh waktu untuk kaji ulang rencana ke depan. Aku akan selesaikan semua beban tugas darinya. Dari soal Pak Suhada, Amanda, Ranti dan sekarang Arsy Bobby. Kami janji akan tuntaskan semua ini agar Sania bisa hidup normal tanpa beban dendam lagi."


"Terima kasih...aku harap Sania cepat kembali! Aku menyesal telah menyakiti hatinya."


"Itu bapak sampaikan langsung pada Sania. Tunggu dia balik. Kami janji dia pasti balik."


"Amin..."


"Ok pak Bara tunggu kabar dari kami. Secepatnya kita kirim orang nakal itu ke penjara."


"Terima kasih."


Hubungan ponsel terputus. Hati Bara lega dengar janji pengacara Sania. Bara percaya pengacara itu tak bohong. Semua masalah Sania ditangani pengacara yang sangat tertutup itu. Mereka hanya melayani semua kasus menyangkut Sania.


Bara mulai berpikir siapa adanya Sania. Mengapa wanita semungil itu mampu menggerakkan roda besar sesuai hasrat hatinya. Siapa di belakang isterinya itu. Pak Elmo yang terkenal kaya raya tak berkutik di tangan Sania.

__ADS_1


Tiba-tiba perut Bara terasa lapar. Sejak Sania pergi Bara jarang makan. Selera makan Bara lenyap bersama perginya Sania. Mendengar kata-kata pengacara kalau Sania akan balik bangkitkan selera makan Bara. Dia harus sehat agar bisa rawat anak isterinya kelak.


Bara memanggil Dea cari makan siang. Makanan yang dibawa Arsy tak undang selera Bara sedikitpun. Bara malah jijik menyentuhnya. Segala yang berkaitan dengan Arsy terasa datangkan bencana. Bara harus bulatkan tekad tak boleh terjerumus dalam ilusi masa lalu. Waktunya maju ke depan.


Bara memanggil Dea cari makan siang. Kali ini Bara mau langsung beli di tempat tanpa melalui food delivery. Bara tak mau terulang kejadian konyol tadi. Yang aman adalah terjun tangan sendiri.


Dea yang paham maksud Bara segera laksanakan perintah bos. Terlihat semangat Dea penuhi tuntutan perut Bara. Dea tentu saja bela Sania yang telah menyelamatkan keluarganya dari kelaparan. Kini suami Dea bekerja dengan baik di bengkel Pak Bur. Posisi nya juga membaik seiring pertambahan skill suami Dea.


Bara duduk santai menanti menu makan siang. Laki ini longgarkan dasi memilih seloyoran di sofa. Sania juga yang bermain di benak Bara. Seluruh otak Bara dipenuhi bayangan Sania. Seluruh kenangan bersama Sania terekam jelas di benak bak nonton film di bioskop tanpa layar. Ginikah rasanya jatuh cinta secara tulus?


Ting...ponsel Bara masuk pesan chat. Bara terpaksa bangkit dari sofa ambil ponsel yang tertinggal di atas meja kerja. Dengan ogahan Bara buka layar ponsel.


Ternyata foto Bu Jaya dan Fadil berada di Jerman. Ada masuk beberapa gambar berisi foto Fadil berpose dengan wajah berseri. Adiknya kelihatan bahagia berada di Jerman. Bu Jaya tak mau kalah bergaya bak anak muda. Herannya tak ada foto Pak Jaya. Ke mana papanya itu? Apa Pak Jaya tak suka diabadikan?


Bara membalas kiriman foto dengan tanda like tanpa komentar. Bara tahu maksud Fadil kirim foto. Anak itu mau tunjukkan bahwa dia bahagia kontras dengan Bara yang nelangsa. Kiriman penuh sindiran.


Siapa tega berbuat gitu kalau bukan Fadil. Adik nakal berotak kancil. Licik namun menggemaskan.


Berapa lama Bara harus menanggung beban derita ditinggal kabur isteri. Bertanyalah pada rumput bergoyang. Sania tega banget terlantarkan suami hanya untuk sebuah kisah karangan palsu Arsy.


Sania mana tahu Bara dan Arsy sedang sandiwara atau memang Bara terjebak. Pada dasarnya Sania kehilangan rasa percaya pada lelaki karena Suhada dan Bobby. Kini muncul pula foto Bara dan Arsy pelukan mesra di pub. Isteri sah mana mampu tahan emosi melihat fakta suami bermesraan dengan wanita lain.


Selera makan Bara yang baru terbit. Kayak matahari saja main terbit. Setelah melihat foto kiriman Fadil rasa lapar berganti rasa iri. Fadil demikian bahagia nikmati liburan sambil bisnis dengan orang tua.


Ruang yang tertata rapi seperti gudang kosong bagi Bara. Tak ada denyut kehidupan walau ada yang masih bernafas. Udara dalam ruang ber-AC terasa pengap mencekik leher.


Bara meletakkan ponsel kembali duduk di bangku kebesaran bos Angkasa. Mata Bara terasa panas mengenang Sania. Rindu redam menyangkut di kerongkongan ogah masuk ke jantung. Rindu yang tergantung.


Pintu ruang Bara kembali diketok dari luar. Bara menduga pasti Dea membawa makan siang. Tak ada selera juga harus makan demi Sania. Bara harus berjuang tunaikan janji selesaikan Mega proyek Sania. Bara harus selalu dalam kondisi fit.


"Masuk.."


Dugaan Bar tak meleset. Dea masuk membawa beberapa kotak makanan dalam Styrofoam. Dengan sopan Dea meletakkan makanan di meja Bara.


Bara menatapi makanan tersebut dengan hati nelangsa. Andai ada Sania acara makan pasti lebih semarak. Celoteh tajam Sania serta kemanjaan tak dibuat-buat selalu temani Bara sejak Sania jadi isterinya. Kini semua sirna.


Dea menangkap kesedihan di wajah Bara. Tak usah ditebak Dea ngerti bosnya sedang melayangkan pikiran pada wanita mungil bertangan besi itu.


"Silahkan makan!" Dea persilahkan Bara cicipi makanan dari restoran terdekat.


"Kau sudah makan?"


"Sudah pak!" sahut Dea sopan.


"Sania ada hubungi kamu?" tanya Bara tiba-tiba teringat Sania cukup akrab dengan Dea. Siapa tahu bisa dapat informasi tentang keberadaan Sania.


"Bapak janji tak tanya pada Sania ya!" Dea ragu-ragu jawab.


"Tanya apa,?" Bara balik tanya.


"Sania pesan tak boleh bilang ke bapak dia ada telepon."


Bara meloncat bangun tak percaya Sania hubungi Dea tapi tak hubungi dia. Dea ikut kaget gerakan reflek Bara menggoncang meja kerja.

__ADS_1


"Ya Tuhan...kenapa tak telepon aku? Sedemikian marahkah dia?"


__ADS_2