MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Amanda Meninggal


__ADS_3

"Alhamdulillah untuk sementara aman. Cuma aku tak tahu kapan muncul ulet bulu gatel di antara kami lagi. Penggemar Bara terlalu banyak." keluh Sania mengenang sosok Bara yang dulu dingin mirip kulkas lima pintu. Untunglah sekarang telah hangat dikit.


"Resiko punya laki ganteng." ujar Lisa mencolek pipi Sania yang mulai tembem.


"Mas Rangga juga ganteng. Putih bersih katak kulit cewek. Kau tak kuatir suatu saat mas Rangga diculik alien genit?"


"Amit-amit deh! Jangan sampai! Tapi gue percaya pada mas Rangga. Cewek-cewek mulus datang ke bengkel pakai setelan pakaian pamer aurat dia toh tak tertarik. Dulu malah kukira dia itu sejenis makhluk homogen."


Sania cubit pinggang Lisa tak suka abangnya dihina. Rangga lelaki sejati yang hormat pada wanita maka tak lecehkan harkat wanita. Nasib Lisa mujur dapat laki model Rangga. CEO, ganteng, dan pintar. Utamanya Rangga setia. Itu modal paling bernilai di mata cewek.


"Mau didoain mas Rangga lirik cewek lain?" sekak Sania kesal pada Lisa.


"Jangan dong! Kasihan gue! Hati menjanda walau belum jumpa penghulu."


"Itu kan mau lhu! Ngak bersyukur dapat Abang gue. Masih banyak cewek antri jadi sparing partner ranjang mas Rangga."


"Yang ngak syukur siapa non? Gue bersyukur banget diberi calon plus-plus. Doain kami langgeng ya!" Lisa merapatkan kedua tangan mohon Sania berbaik hati doakan hubungan dia dan Rangga sampai ke pelaminan.


"Amin..." Sania terpaksa iyakan tak tega lihat reaksi jelek Lisa.


"Trim's sayangku!" Lisa merangkul Sania dengan terharu. Mereka sudah bersahabat sebelum tahu Rangga Abang Sania. Persahabatan mereka tulus. Sekarang dapat bonus lebih keren yakni Sania adik kandung Rangga walau lain ibu.


Di kantor keamanan rumah sakit beberapa orang mengelilingi dua orang yang menyamar jadi perawat untuk culik Suhada. Ternyata si cowok berhasil dibekuk satpam rumah sakit sebelum sempat kabur dengan mobil.


Kini keduanya diborgol satpam untuk berjaga jangan kabur lagi. Kedua orang itu menunduk tak berani menatap orang-orang di sekeliling. Pandangan mata jatuh ke ubin seakan ada sesuatu yang menarik dari ubin itu.


Bara dan Rangga ikut menanti kedua orang itu buka mulut cerita siapa dalang penculikan. Tak mungkin inisiatif mereka karena kenal juga tidak. Ada dendam apa dengan Suhada.


"Siapa yang perintah kalian culik pasien?" bentak seorang petugas dengan kasar.


Masih bungkam. Kepala mereka makin menunduk seolah ingin masuk ke dalam tanah. Dalam hati Bara puji kesetiaan dua cecunguk bodoh ini.


"Kalau kalian ngaku hukuman kalian akan ringan karena kalian hanya jalankan perintah. Kalau kalian bungkam maka hukuman kalian tanggung sendiri. Bisa hukuman mati lho!" ucap Rangga menakuti kedua orang itu. Rangga sengaja tak kasar agar kedua orang itu tak merasa diancam. Kadang kelembutan bisa kalahkan kekerasan.


Lama bungkam akhirnya sang cewek angkat kepala menatap Rangga yang dia anggap lebih ramah. Mata sayu itu harap ada pertolongan Rangga bebaskan mereka dari tuntutan.


"Kami dibebaskan kalau jujur?"


"Semua kesalahan ada konsekuensinya. Cuma kalau kalian bukan dalang maka hukuman takkan berat. Paling dikurung beberapa hari. Kalau kalian lindungi penjahat maka hukuman jatuh pada kalian berdua. Pikirkan sendiri!" Rangga tetap tekan nada suara agar tak perlihatkan emosi.


"Betul gitu?" cewek itu tampak mulai termakan kata-kata Rangga. Imannya mulai goyah diberi wejangan Rangga. Yang laki masih menunduk.


"Silahkan tanya petugas keamanan bila tak percaya. Jangan bodoh mau tanggung kesalahan orang jahat! Kalian juga korban." Rangga terus merayu kedua orang itu untuk buka kartu siapa dalang sesungguhnya.


Si cewek menatap petugas satpam cari tahu kebenaran omongan Rangga. Saat genting gini cari aman lindungi nyawa sendiri lebih penting dari pada lindungi oknum jahat.


Satpam angguk benarkan kata Rangga. Tujuan satpam sama dengan Rangga yakni bujuk kedua penjahat kelas teri itu ungkap dalang sesungguhnya.


"Baiklah! Kami di bayar seratus juta untuk culik pasien bernama Suhada. Rencananya akan dibawa ke rumah kosong dan dibiarkan mati sebelum dioperasi." mulut cewek itu mulus keluarkan cerita.

__ADS_1


Rangga dan Bara geram ingin sekali hajar mulut perempuan itu. Sungguh jahat ingin celakai Suhada yang sudah sekarat.


"Siapa yang bayar kalian?" tanya Rangga berusaha tenang.


"Pak Yudi...Dia ingin kuasai harta Suhada. Dia mau semua harta dialihkan ke Ranti. Bu Amanda sudah meninggal karena dikeroyok sesama tahanan. Pak Yudi kuatir Suhada takkan bagi harta buat Ranti maka berniat habisin pak tua itu."


Rangga mengepal tinju geram dengar cerita cewek itu. Pak Yudi bapak biologis Ranti yang bekerja di perusahaannya. Ternyata ada yang lebih jahat dari Amanda lagi. Amanda sudah tewas sebelum senja. Rangga sudah duluan dapat kabar ini tapi belum buka cerita takut ganggu jalan operasi Suhada.


Pihak kepolisian sudah kabari Rangga tentang tewasnya Amanda maka Rangga galau. Mau cerita takut perburuk suasana. Tak disangka dalam tempo singkat ada orang berusaha ambil keuntungan ingin lenyapkan Suhada. Tak jauh dari materi juga.


"Terima kasih atas info kalian. Aku janji akan ringankan hukuman kalian. Sekarang kalian tunggu dijemput pihak kepolisian. Cerita yang jujur agar lolos dari hukuman berat." Rangga menasehati kedua orang itu disambut anggukan pasrah.


"Amanda meninggal mas?" tanya Bara penasaran. Berita ini datang terlalu mendadak. Baru dibilang Amanda sudah hampir gila kini dapat kabar sudah meninggal.


"Iya...aku dapat berita dari kantor polisi. Amanda mengusik tahanan lain dengan sikap bos. Dihajar sampai pingsan. Dalam perjalanan ke klinik dia meninggal." kata Rangga dengan wajah muram.


"Innalilahi...gimana kasih tahu Sania? Dia pasti tak terima orang yang paling dia benci pergi gitu saja."


"Maka itu aku belum cerita! Kita tak bisa berbuat apapun. Ini akhir kisah orang jahat. Kematian Amanda sangat tragis. Dihajar sampai babak belur. Dia sudah terima hukuman atas perbuatannya."


"Ranti sudah tahu?"


"Ntahlah! Lebih baik kita balik ke ruang operasi. Biar bapak-bapak ini urus keduanya ke pihak kepolisian. Setelah papa siap operasi aku akan ke sana."


"Salah mas! Ikut saja mereka untuk bikin laporan agar Yudi tak kabur. Aku akan jaga Sania dan Lisa. Kami akan tunggu papa kamu. Cepat balik!"


Rangga menimbang usul Bara yang mengandung kebenaran. Bisa saja Yudi kabur bila tahu kedua orang suruhannya telah diciduk aparat. Mereka harus bergerak cepat.


"Iya mas! Aku balik dulu!" Bara tinggalkan kantor keamanan rumah sakit. Biarlah Rangga yang tuntaskan ekor masalah ini. Bara harus bisa jaga mood Sania.


Masa hamil muda gini rawan keguguran bila mood Sania terusik parah. Bara tak ingin kehilangan apapun atas nama Sania. Cahaya terang sedang menyinari hubungan mereka. Bara tak ingin asyik bercanda dengan udara mendung lagi. Sudah cukup berbagai cobaan hadir di antara mereka.


Bara pergi tinggalkan Rangga menuju ke tempat Sania dan Lisa tungguin Suhada bertarung di meja operasi. Kalau dipikir-pikir kasihan juga nasib Suhada. Demi hidup glamor harus ditipu nenek lampir berhati jahat. Walau buntutnya nenek lampir kena adzab.


Bara petik hikmah dari perjalanan hidup Suhada. Bangga punya banyak wanita terakhir kosong. Akhir kisah semua hilang malah dapat cobaan hidup dalam maut. Semoga Bara dijauhkan dari cobaan itu.


Bara kembali telusuri lorong rumah sakit dengan hati hampa. Manusia berencana Allah yang mengatur. Semua rencana Amanda ambyar saking tamaknya. Suhada sekarat, Ranti di penjara, dan nyawa Amanda melayang. Akhir tragis.


Dari jauh Bara melihat Sania dan Lisa saling berdiam diri. Mata keduanya terpejam tidur-tidur ayam. Sania bukan orang bisa diajak begadang. Asal jam sepuluh menjelang dia sudah ancang berlayar ke pulau kapuk. Wanita hamil itu pasti ngantuk berat. Bara yakin itu.


Selangkah demi selangkah tiba juga Bara di depan dua wanita muda itu. Lisa memeluk tangan sandarkan kepala pada tembok dinding dengan posisi agak tengadah, Sania bersandar pada bahu Lisa walau cuma menempel dikit. Bara yakin keduanya sudah hanyut dalam mimpi.


Bara tersenyum melihat wajah lugu Sania. Bininya lebih manis dalam posisi tidur. Mata beningnya tak berkilat-kilat senter orang selidiki isi hati orang. Bara lebih suka Sania yang tidur. Damai dan lugu.


"Siapa kau sebenarnya sayang? Kau penuh misteri." bisik Bara dalam hati.


Perlahan Bara meraih Sania ke pelukannya agar bisa tidur lebih nyaman. Dada Bara yang tegap tentu lebih nyaman dari bahu kecil Lisa. Sania goyang kepala cari posisi nyaman tanpa buka mata. Dipikir dada Bara bantal empuk kali. Beberapa kepala Sania bergerak akhirnya diam. Tampaknya Sania telah temukan posisi nyaman untuk lanjutkan mimpi.


Bara melingkar tangan di pundak Sania memeluknya erat-erat. Hati Bara terasa damai bersama wanita tepat. Sania jauh lebih muda tapi itu tak halangi keduanya bangun istana diisi tawa bahagia. Istana Bahagia anti galau.

__ADS_1


Bara mencoba pejamkan mata ikut Sania bergelut dengan mimpi. Siapa tahu jumpa dalam mimpi bangun istana mimpi di dunia nyata dan dunia mimpi.


Ntah berapa lama mereka bertiga tertidur. Rangga sudah balik mereka tak sadar. Kelihatannya laporan Rangga sudah ditanggapi oleh pihak kepolisian. Tinggal bagaimana aparat menangkap Yudi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap perbuatan ada ganjarannya.


Rangga menggeleng melihat acara tidur berjemaah. Disuruh tungguin orang operasi malah tidur barengan. Sungguh tak bisa diandalkan. Rangga meneliti wajah ketiga orang itu terakhir mentok ke wajah Lisa yang agak terangkat. Bibir Lisa terbuka sedikit keluarkan dengkuran halus. Baru kali ini Rangga berani menatap lama wajah Lisa. Lisa lumayan manis walau tak secantik Sania. Sania masih ada bau-bau bule mana bisa dibanding Lisa yang asli produk lokal. Satu dua jerawat di bawah dagu menambah kemanisan Lisa.


Inilah wanita yang akan jadi ibu dari anak-anaknya. Rangga mantap akan jadikan Lisa sebagai ratu di hati. Cukup seorang wanita karena Rangga takut tercipta tragedi baru setelah tragedi menyedihkan papa mereka.


Rangga akhiri meneliti wajah Lisa. Di mata Rangga wanita ini sudah lulus jadi kandidat tunggal calon bini. Rangga tak berniat mengusik mimpi Lisa maupun Sania. Biarlah mereka istirahat sambil menanti hasil operasi Suhada.


Rangga ikutan berehat di salah satu bangku yang tersedia. Laki ini coba pejamkan mata menyusul sang kekasih menggalang mimpi. Apa mereka akan bertemu dalam mimpi?


Satu jam berlalu sejak kepulangan Rangga dari kantor polisi. Lampu ruang operasi berubah hijau tanda operasi telah selesai. Orang tungguin jalan operasi pada tertidur. Suasana sepi sampai para medis keluar dari kamar operasi. Dokter yang tangani Suhada menggeleng melihat empat sosok manusia tertidur tak ubah mayat. Mayat yang bernafas. Bahkan ada yang mendengkur halus.


Dokter itu cuma mengenal Rangga maka dekati anak muda itu. Tangan bebas kuman itu mencolek Rangga dengan sopan. Secara halus bahasanya.


Rangga tersentak menatap sang dokter lekat-lekat kumpulkan roh yang melayang ntah ke mana. Sekian detik Rangga kontan bangkit dengan senyum malu-malu.


"Dok...gimana papaku?"


"Alhamdulillah operasi sukses. Mulai detik ini kalian harus ekstra jaga papa kalian! Dia wajib obat tiap hari. Jantungnya sudah pasang beberapa ring. Kalau tersumbat lagi harus by pass. Itu lebih berbahaya. Untuk sementara cukup sekian." Dokter itu menepuk bahu Rangga selaku orang tua nasehati anak.


"Pasti dok! Terima kasih sudah selamatkan nyawa papa kami."


"Itu tugas kami! Istirahat seminggu di sini sampai semua kendala selesai beliau boleh pulang. Ok?"


"Ok dok!"


"Sebentar lagi papa kalian akan didorong ke ruang rawat. Kalian tunggu di sana saja. Kalau saudaramu mau pulang istirahat silahkan! Terutama yang sedang hamil itu. Biarkan dia istirahat cukup!"


Rangga tertawa dokter itu tahu Sania sedang mengandung. Mata seorang dokter tak dapat dikelabui. Terutama dokter berpengalaman.


"Itu adikku! Dia sedang hamil kembar tiga. Orangnya keras dan tegas. Susah diatur!"


"Woowww hebat! Kembar tiga lumayan langka. Bawa dia pulang karena rumah sakit bukan tempat yang baik untuk ibu hamil! Itu suaminya?" dokter mengarah ke Bara.


"Ya...itu suaminya!"


"Pasangan sempurna. Cantik dan ganteng. Anak-anak mereka pasti rupawan. Kawal adikmu jangan sampai lahir bayi prematur! Hamil kembar tiga rawan lahir prematur."


"Terima kasih nasehatnya! Aku akan semaksimal mungkin kawal adikku. Ini tanggung jawabku sebagai Abang."


"Bagus...aku permisi! Hari ini cukup lelah. Jaga diri!" dokter itu pamitan.


Rangga tersenyum bahagia iringi kepergian sang dokter. Hati Rangga lega dengar operasi berjalan sukses. Cuma mulai saat ini hidup Suhada banyak berubah. Bisa kumpul sama anak-anak kandung tapi harus kehilangan isteri culas.


Rangga harus bijak jelaskan satu persatu pada Suhada agar bisa terima kenyataan Amanda itu jahat. Wanita jahat itu telah terima karma meninggal secara tragis. Itu hukuman dari Allah buat orang jahat. Siapa menanam dia yang akan menuai. Amanda telah panen karma buruk.


Hidup mewah sepanjang masa telah tamat. Berganti hidup dalam kegelapan. Ranti hasil didikan Amanda tak luput dari karma buruk. Ditinggal Bobby dan ditinggal Amanda. Bagaimana reaksi Ranti kalau tahu dia bukan anak kandung Suhada. Mau dibawa ke mana langkahnya ke depan.

__ADS_1


Siapa mau tampung ibu hamil tanpa suami. Siapa anak dalam kandungan Ranti juga belum jelas. Bobby sudah tak peduli pada Ranti. Laki itu menghilang kayak di telan bumi.


__ADS_2