
Kata orang berita buruk cepat tersebar memang begitu adanya. Berita Sania pingsan cepat menyebar di kantor Bara. Yang mengenal Sania tentu saja tahu mengapa Sania bisa drop dihadapkan dua kejadian beruntun. Pagi-pagi Maya datang bikin satu kantor sport jantung. Siang datang Ranti berusaha merusak image Sania. Hantaman bertubi-tubi membuat Sania tak sanggup menahan lagi. Akhirnya Sania tumbang.
Roy segera minta Sekar hubungi Lisa kabarkan Sania masuk rumah sakit. Berita penting ini harus segera disampaikan pada keluarga Sania terutama Rangga. Entah apa reaksi Rangga mendapat berita tak mengenakkan ini.
Roy pakat Rudi Sekar dan Putri untuk kunjungi Sania selepas kantor. Roy yakin Sania pasti ingin bertemu rekan-rekan suka dan duka. Tak gampang bisa bersatu, begitu bersama lagi datang musibah beruntun. Kayak tabrakan beruntun saja.
Bara kembali ke ruang rawat Sania setelah minta Roy urus kantor dan minta tolong cari tahu no hp Lisa. Bara tak ingin berpisah sedetikpun setelah tahu Sania sedang mengandung anaknya. Tak pernah terbayang Sania akan secepat ini hamil. Dia yang tokcer atau Sania yang terlalu subur. Tidak tanggung-tanggung sekali cetak dapat dua.
Waktu Bara balik ke ruang Sania sudah sadar. Wanita muda itu mengeluarkan air mata waktu Bara masuk. Baru kali ini Bara menyaksikan wanita tegar ini menangis. Air mata kesedihan atau air mata bahagia. Bara tak buang waktu memeluk tubuh mungil yang telah berjasa besar dalam hidupnya. Bagaimana cara Bara harus balas segala pengorbanan Sania yang sangat tulus. Membantunya bangkit dari kehancuran dan sekarang memberi kado terindah sebagai hadiah pindah gedung baru.
"Sayang...kau tak apa?" tanya Bara mengusap punggung Sania lembut. Rasanya Bara ingin menyatukan tubuhnya pada Sania agar bisa sama-sama berbagi beban.
"Maafkan aku bikin repot!"
"Huusss...aku yang minta maaf bikin kamu susah! Mulai detik ini tak ada yang akan berani ganggu kamu. Aku akan bertempur habisan." janji Bara gagah.
"Aku tak apa Lieve...apa iya aku hamil?"
"Iya...kamu tak boleh kerja berat sekarang. Di perutmu ada dua anak kita. Anak kita kembar." Bara menyentuh perut rata Sania.
"Apa iya?" Sania surprise sedang hamil anak kembar. Berita ini terlalu manis di kuping. Bisa-bisa kena diabetes saking manisnya.
"Itu kata dokter...kau istirahat ya! Jangan pikir kantor! Kita sudah punya armada kuat. Rudi dan Roy sudah cukup bantu kita. Ingat ada Tio dan Sugeng. Mereka adalah super Hero kita."
"Bara betul nak! Jaga kesehatan lebih penting! Sekarang kamu punya tanggung jawab terhadap dua sosok malaikat dalam perut. Tak boleh nakal lagi." timpal Pak Jaya.
Sania tersipu malu ditegur mertua laki. Tingkahnya yang sedikit sangar harus dibuang jauh-jauh. Kini dia harus menjaga janin dalam rahim sebaik mungkin.
"Tuhlah! Kata dokter kamu harus bed rest. Tak boleh seperti biasa."
"Iya pak Bara! Hamba siap patuh perintah."
"Bagus.." Bara menjauhkan badan dari isterinya untuk beri ruang pada Sania bernafas lega. Namun Bara tak melepaskan genggaman tangan Sania. Sania ibarat aset paling berharga tak boleh dilewatkan sedetikpun.
Pak Jaya dan isterinya tersenyum senang melihat pasangan muda yang sedang bahagia mendapat berkah dari Allah. Hari penuh duka menjadi penuh suka cita Sania hamil. Sebagai calon opa dan Oma kedua orang tua itu tentu saja bersyukur.
"Sania ingin makan apa?" tanya Bu Jaya ingat orang hamil selalu ngidam ini itu. Dulu dia juga ngidam aneh-aneh waktu hamil Bara. Minta rendang bekicot. Padahal mana ada menu kayak gitu. Untunglah waktu itu Pak Jaya punya teman orang Padang berhasil penuhi makanan aneh permintaan Bu Jaya.
"Tak ada ma...Sania tak lapar."
"Kamu tak boleh diet-diet. Kasihan dedek bayi dalam perut. Mama masak bubur ya!" bujuk Bu Jaya harap selera makan Sania bertambah. Wanita hamil perlu asupan gizi lebih banyak. Ini demi kesehatan janin agar tumbuh sehat.
"Sania mau gado-gado.." ujar Sania malu-malu kucing.
Semua tertawa dengar Sania ngidam makanan sederhana. Ternyata tak susah ladeni ibu hamil muda perkasa macam Sania. Selera makan juga sederhana.
"Nanti mama bawakan. Sekalian bubur. Sayuran saja tak cukup gizi. Harus ada daging agar bayimu tumbuh sehat."
"Iya ma.." Sania tak membantah.
Sania sendiri masih tak percaya hamil anak Bara. Selama ini tak ada perubahan berarti pada tubuhnya selain cepat lelah. Sania sendiri lupa kapan terakhir dia datang bulan. Pikiran Sania fokus pada proyek hingga lupa tamu bulanan yang tak muncul.
"Kalau gitu papa dan mama pulang bikin gado-gado untuk mantu mama. Istirahat ya! Nanti kami balik lagi." Bu Jaya tak sabar ingin jadi Oma terbaik sedunia penuhi selera ngidam sang mantu.
__ADS_1
"Tak usah buru-buru ma! Besok juga boleh." Sania tak enak hati merepotkan orang tua. Hanya demi seleranya mertua harus berjuang bikin gado-gado secara mendadak.
"Itu buat cucu mama. Bara...jaga binimu baik-baik!" Bu Jaya mengelus bahu Sania. Ingin menyentuh tangan Sania tapi sudah duluan dikuasai Bara. Laki itu enggan melepaskan tangan Sania takut Sania tiba-tiba kabur dari pandangan mata.
"Pasti...pasti...kini aku harus bekerja lebih rajin karena ada tiga orang harus kunafkahi." ikrar Bara sungguh hati.
"Kami pegang janjimu. Yang vital jangan menoleh ke belakang! Itu adalah jebakan agar kau hancur." nasehat Pak Jaya wanti-wanti Bara tak boleh mengulang kesalahan sama. Masa lalu biar berlalu.
"Bara janji..."
"Ok..anggap kali ini kami percaya padamu. Assalamualaikum..." Pak Jaya mengajak isterinya berlalu dari ruang rawat inap Sania untuk membuat gado-gado permintaan sang menantu.
"Waalaikumsalam..." sahut Sania dan Bara barengan.
Dalam sekejap mata sepasang suami isteri itu menghilang di balik pintu. Tinggal Sania dan Bara saling berpandangan penuh arti. Siapapun tak sangka Allah demikian sayang pada mereka memberi kado terindah bagi mereka berdua. Sepasang anak kembar.
"Enakan sayang?" Bara masih tak bisa lepas dari Sania. Inginnya lengket terus bak perangko melekat di amplop.
"Aku tak apa cuma sedikit lelah."
"Tidurlah! Aku akan menjaga kalian sekuat tenagaku. Lupakan semua masalah! Soal Ranti akan kutangani baik."
Sania termenung ingat Ranti. Sebenarnya Sania kasihan pada Ranti dalam keadaan hamil harus berurusan sama hukum. Tapi penyakit dia cari sendiri. Tiada badai tiada angin datang karang cerita tak masuk akal. Sania tak bikin perhitungan seharusnya Bobby dan Ranti sudah harus ucap syukur. Namun mengapa Ranti bersikeras mau jadi lawan Sania.
"Lieve...Ranti sedang hamil. Jangan lewat batas!"
"Aku tahu...aku akan buat dia minta maaf secara terbuka untuk akui semua fitnah terhadapmu. Aku akan cabut semua tuntutan kalau dia mau minta maaf! Boleh gitu kan?"
"Terima kasih...kapan aku bisa pulang? Aku sudah tak sabar balik kantor."
"Aku akan tangani. Kamu cukup beri pengarahan. Kau di rumah sampai anak kita lahir."
Jawaban Bara membuat Sania langsung besarkan mata. Sania mana mau dikurung dalam rumah tanpa aktifitas. Itu sama saja membunuh Sania secara perlahan.
"Aku belum sempat melakukan sesuatu di kantor baru langsung kau pecat. Tempat duduk saja masih belum mengenal pantatku. Belum sempat kenalan. Tidak...besok aku harus ke kantor." ucap Sania melengos ngambek.
Bara merasa kepalanya diserang jutaan kutu rambut. Gatal sana sini secara mendadak. Tangan Bara bergerak menggaruk kepala yang tadinya tak kenapa-kenapa.
"Sayang...kau tak percaya padaku?"
"Tidak...puluhan ulet bulu pasti datang menggerayangi Lieve. Mau bebas selingkuh ya." mata Sania berembun hendak keluarkan cairan bening. Sania kok jadi cengeng. Hari ini Bara sudah dua kali melihat wonder womannya menangis. Ke mana Sania si wanita baja?
"Ya Allah sayangku! Kamu satu saja tak habis buatku. Perlu waktu puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk habisin kamu. Tak ada ular atau ulat bulu lain. Cukup kamu dan anak kita." Bara merapatkan tubuh Sania ke badannya. Sania butuh perasaan nyaman agar tak berpikir aneh-aneh yang bisa merusak kesehatan.
"Gombal...nanti muncul Arsy, Maya, Dhenok atau siapa lagi. Aku tidak agresif kayak mereka."
"Tidak penting. Asal kau agresif di tempat tidurku sudah ok. Tidurlah! Aku di sini jaga kamu." Bara melepaskan Sania agar wanita itu bisa berbaring di tempat tidur. Bara membantu Sania berbaring dengan
lembut. Bara ingin kasih tahu Sania bahwa dia berharga.
"Ya Lieve..." Sania patuh memejamkan mata.
Tak lama dokter datang kontrol Sania yang sudah siuman bersama perawat. Tak ada yang perlu dicemaskan selain jangan ada tekanan dan istirahat total. Bara lega setelah dapat kepastian Sania dalam kondisi stabil. Tak ada kabar lebih baik dari ini. Bahkan jauh lebih berharga dari dapat puluhan proyek.
__ADS_1
Bara duduk di sofa tamu biarkan Sania tidur segarkan badan dan pikiran. Kesehatan Sania jadi prioritas utama Bara sekarang ini. Sania tak boleh dapat tekanan dari manapun agar janin dalam perut tumbuh sehat.
Sesungguhnya Bara bingung juga tangani proyek besar PT. SHINY. Seumur hidup belum pernah handle proyek sebesar ini. Bara berani maju karena dukungan Sania. Kini Sania hamil harus istirahat total cukup menyita perhatian Bara. Sanggupkah dia melangkah solo mengurus proyek tersebut. Ini jadi tantangan baru bagi Bara.
Belum sempat Bara menjawab pertanyaan dari alam batin ponselnya berbunyi. Nomor baru yang belum Bara ketahui. Di saat begini bisa jadi teman atau saudara Sania yang telepon maka tanpa ragu Bara langsung angkat.
"Assalamualaikum...Bara ya! Ini Rangga...bagaimana adikku?"
"Waalaikumsalam...Sania tak apa hanya kelelahan. Dia sudah tidur."
"Tapi katanya Ranti datang mengganggu."
"Iya...dia sebar fitnah. Aku serahkan masalah ini ke pihak berwajib. Sudah dua kali Ranti ganggu Sania. Pertama datang bersama ibunya. Hari ini bawa wartawan karang cerita palsu."
"Ranti...kenapa tak habis-habisnya bikin onar? Ya Tuhan..kapan kami bisa hidup damai? Bara...biar kutangani masalah ini. Ini masalah keluarga kami walau mereka belum tahu siapa sebenarnya Sania. Kalau tahu latar belakang Sania kurasa Amanda akan makin brutal. Rahasiakan Sania dari mereka!"
"Aku takkan menekan Ranti asal dia mau minta maaf secara terbuka. Kalau kau ikut campur maka status Sania akan terbongkar. Biar tetap kutangani. Doakan kami saja!"
"Aku akan datang. Ini lagi dalam perjalanan. Kuharap kau jaga adikku. Dia adalah orang yang paling kusayangi. Aku harap jangan kau lukai dia sehelai rambut pun."
"Aku janji..kita ngobrol setelah di sini. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Rangga pasti sedang dilema. Ranti dan Sania sama-sama adik Rangga. Yang mana harus dibela. Rangga pasti bak makan buah simalakama. Kiri kanan tetap salah. Bara tak tahu kalau Ranti bukan adik sedarah Rangga. Sania belum cerita lebih detail siapa Ranti itu. Bahkan Suhada sendiri belum tahu Ranti bukan darah dagingnya. Inilah kehebatan Amanda bisa menutupi semua kebusukan sampai bertahun-tahun.
Rangga datang bersama Lisa calon ratu hati Rangga. Bara sudah pernah bertemu Lisa tak heran gadis itu ikut menjenguk Sania. Lisa dan Sania adalah teman satu celana. Teman sehati.
Rangga dan Lisa tak berani besar suara melihat Sania tertidur pulas. Wajah Sania damai bagai anak tanpa dosa. Lugu tanpa kerlingan tajam yang mampu merontokkan mental lawan bicara.
Lisa rindu sekali pada Sania. Sudah cukup lama mereka tak ngobrol dari hati ke hati seperti dulu. Ini semua gara-gara kerja yang tak pernah putus.
"Apa kata dokter?" tanya Lisa pelan sekali.
"Kelelahan..Sania sedang hamil." ujar Bara kalem sekaligus bangga jadi ayah.
"What????" seru Lisa kaget
"Ssttt...hamil dua bulan." Bara beri tanda silent.
"Wow...aku jadi aunty..." Lisa mendekap mulut tak bisa sembunyikan rasa senang. Akhirnya Sania menemukan kebahagiaan setelah menderita karena Bobby. Sania cepat move on dari laki bajingan itu.
"Kau yakin anak ini bisa punya bayi?" Rangga masih tak percaya adik yang dia sayangi akhirnya jadi ibu. Sania jauh dari profil sosok calon ibu. Dia terlalu mandiri seakan tak butuh pendamping.
Lisa memukul lengan Rangga dengar pertanyaan konyol keluar dari bibir laki yang dia cintai.
"Huusss...dia punya suami wajar hamil. Mas akan jadi uncle..senang kan?"
"Oh iya...dia punya laki." sahut Rangga linglung.
Bara tersenyum mengarahkan mata ke arah Sania yang masih tertidur pulas. Semua orang akan ragu kalau Sania mampu jaga bayi. Sosok Sania terlalu tegar buat orang tak percaya dia mau terkurung dalam dunia anak-anak. Mampukah Sania merawat bayi-bayinya?
"Anak kami kembar."
__ADS_1
"Woowww...sekali cangkul tumbuh dua. Wah...surprise manis! Aku lagi bayangkan gimana cara Sania tangani dua bayi? Bisa mati berdiri tuh anak! Sania kan orangnya tak suka dikekang. Punya bayi artinya dia harus duduk manis di rumah."
Bara setuju kata-kata Lisa. Mungkinkah Sania bersedia lepaskan semua predikat perancang handal demi anak-anak yang bakal lahir dari rahimnya?