
Tapi kalau dilihat dari sifat keras Sania tak mungkin dia ngalah ijinkan Bara tidur bersama.
Bara selesai juga mandinya. Laki ini keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk melingkar dari pinggang. Atasan telanjang perlihatkan otot otot tanpa lemak. Sania tak berani memandang ke arah Bara yang telanjang menurut versi Sania. Seumur hidup Sania belum pernah begitu dekat dengan lelaki tanpa busana.
Adapun di kolam renang. Itupun hanya lihat dari jauh tanpa interaksi dengan pengunjung kolam renang. Toh Sania tak kenal mereka.
Bersama Bara lain. Mereka sekamar cukup dekat walau ada wanita lain di situ. Sania masih gugup bila harus hadapi lelaki dewasa apalagi nyaris telanjang. Muka Sania berona merah saking malu.
Nania perhatikan reaksi Sania terhadap Bara. Gadis ini masih malu juga segan pada Bara. Apa mungkin Sania perawan ting-ting masih bersegel? Tapi Sania cukup lama pacaran sama playboy cap kampret macam Bobby. Apa Bobby akan lewatkan pualam seperti Sania?
Bara sengaja berlama lama pilih pakaian. Pria ini melirik Sania pakai ekor mata. Sania menunduk seakan cari semut lewat di lantai granit.
Bara bersorak dalam hati. Kena kau anak licik. Rasakan rasa grogi mu.
"Kita berwudhu mbak!" Sania membantu Nania bangun menuju ke kamar mandi hindari pemandangan yang menodai mata beningnya.
Nania patuh saja dipapah Sania menuju ke kamar mandi. Sania membantu Nania mengambil air sembahyang lalu Sania sendiri juga berwudhu.
Nania didudukkan di atas kloset duduk agar jangan jatuh sementara Sania ambil air wudhu. Nania hanya bisa memandang Sania penuh syukur. Sudah tepat langkahnya menikahkan Bara dengan Sania. Gadis baik penuh kasih sayang. Terpenting Sania tampak tak tertarik pada Bara. Sania takkan mampu geser posisi Nania dari hati Bara.
"Ayo mbak! Kita sholat. Pas azan magrib." Sania kembali memapah Nania kembali ke tempat tidur untuk laksanakan sholat secara duduk. Orang sakit boleh sholat duduk dalam hukum agama. Sholatnya sah bila memang tak mampu berdiri.
Bara sendiri sudah rapi memakai kain sarung dan peci. Dua sajadah terbentang di lantai menghadap kiblat. Dua pasang mukena tergeletak di tepi tempat tidur Nania. Sania yakin Bara yang sediakan kain sembahyang untuk dia dan Nania.
Sania beri nilai tambah pada suami idaman itu. Pengertian tahu kebutuhan pasangan hidup.
Sania mengambil salah satu mukena lalu pasangkan pada Nania barulah dia sendiri mengenakan mukena dan kainnya.
Bersiap sholat. Bara ambil posisi berada di depan Sania. Pertama Bara lafadz kan niat sholat magrib barulah takbirotul ihram disusul baca surat Al-fatihah. Tahap demi tahap tata cara sholat berjalan di imami Bara. Selesai tiga rakaat maka selesailah sholat pertama Sania di rumah Bara.
Bara balik badan ulurkan tangan agar dicium isteri mudanya. Sania menerima tangan Bara lalu mencium takzim tangan laki itu. Bara mengelus kepala Sania lembut.
"Terima kasih." bisik Bara pelan. Sania mendengar dengan jelas memilih tak jawab. Ntah dalam rangka apa Bara ucapkan terima kasih.
Bara bangkit hampiri Nania lalu ulurkan tangan juga pada bini tuanya. Nania mencium tangan Bara sambil terisak. Nania terharu diberi kesempatan mengenal agama di ujung hidupnya. Andai dari dulu dia kenal agama mungkin hidupnya takkan berakhir begini. Semua sudah terlanjur basah. Diulang pun tetap tinggalkan noda air.
"Mbak... Ssssttt jangan nangis! Masih banyak sholat lain menanti mbak. Sebentar lagi kita sholat isya. Sekarang mbak makan dan minum obat. Ok?"
"Ok...Oya Sania...ijinkan mas Bara tidur sini. Dia tak biasa tidur sendiri."
Sania menatap Bara yang pura pura tak dengar permintaan Nania. Andai Bara diijinkan tidur di kamar ini berarti dia akan keloni dua isteri sekaligus. Rezeki nomplok dari mana? Hongkong? Bara bersorak ria dalam hati.
"Baik mbak! Pak Bara akan temani mbak seperti biasa. Sania akan tidur di kamar atas." Sania iyakan permintaan orang sakit itu.
Angan Bara yang terlanjur indah kontan buyar tak sisakan bentuk. Bayangan akan peluk dua isteri dalam satu ranjang ambyar ditolak Sania. Sudah Bara duga tak gampang jinakkan macan kecil tapi taringnya tumbuh double dari macan lain.
Terima nasib tidur bersama Nania tanpa kehangatan. Nania mana mampu tuntaskan ***** lelaki Bara. Untuk berdiri saja sudah tak sanggup mana bisa ditimpa badan Bara yang segede kingkong.
Bara dan Sania memang janji tak ada kontak fisik. Tapi cuma janji mulut. Bara sudah tetapkan Sania isteri seumur hidup setelah Nania. Tak ada kata cerai walau Nania diberi kesempatan sembuh. Terdengar egois ingin kuasai dua wanita sekaligus tapi semua ini kedua wanitanya yang mulai. Mereka yang usulkan Bara dan Sania nikah. Bara tak menolak mengingat kesehatan Nania tak mungkin beri dia keturunan ditambah desakan keluarga minta cucu dari Bara. Kehadiran Sania mampu menambal segala kekurangan Nania.
"Sania ambilkan nasi mbak ya! Biar Sania suap. Jamin lebih enak karena ada bumbu cinta." Sania sok melankolis merayu Nania.
"Idihhh nanti dipikir kita lesbian. Pakai cinta segala."
"Terserah orang mau bilang apa. Yang penting kita happy. Tunggu bentar." Sania keluar dari kamar Nania menuju ke dapur.
Bara menghembus nafas hilangkan sesak dalam dada. Jujur Bara ingin coba memeluk Sania di malam pertama nikah. Tapi palang penolakan sudah terpasang. Bara tak bisa lewati batas rambu perjanjian. Hendak minta tolong pada Nania takut pula Nania merasa tak dibutuhkan. Nasib apes.
"Mas...pingin tidur sama Sania?" Nania bisa baca arah kegundahan Bara.
"Ngak...kenapa? Jangan pikir aneh deh! Kamu makan dulu. Aku ke ruang kerja sebentar. Siap sholat Isya kami baru makan. Makan yang banyak biar cepat sehat." Bara menghindar dari pertanyaan Nania.
Nania melihat hasrat di mata Bara. Tapi Nania tak mungkin paksa Sania tidur seranjang dengan Bara tanpa keikhlasan. Biarlah Sania tentukan ke mana arah hubungan mereka.
__ADS_1
Sania melayani Nania sampai selesai makan. Setelahnya sholat jemaah lagi bersama imam keluarga mereka yakni Bara.
Nania langsung tidur setelah minum obat dari dokter. Sania menduga obat Sania mengandung obat tidur. Minum obat tak lama langsung tertidur nyenyak.
Sania menyelimuti Nania baik baik lalu ke ruang makan. Bara sudah menanti di meja makan untuk santap makan malam mereka.
"Maaf lama dikit..bapak sudah lapar ya?" Sania menarik kursi seberangan dengan Bara.
"Mbakmu sudah tidur?"
"Sudah...dia kelihatan sangat lelah. Sebenarnya mbak sakit di mana?" tanya Sania sambil menyendok nasi buat Bara.
"Kanker rahim dan kanker darah leukemia." sahut Bara apatis.
"Astaga...segitu berat. Sudah berobat ke mana saja?"
"Malaysia, Singapore dan RRC. Semua angkat tangan karena kankernya menyebar terlalu cepat. Pertama rahim diangkat lalu di diagnosa lagi nyatanya muncul pula leukemia." Bara tak semangat bahas sakit bininya.
Sania termenung bayangkan penderitaan Nania. Pantas Nania hanya tinggal rangka ternyata dua jenis kanker gerogoti tubuhnya. Nania termasuk kuat mampu melewati hari demi hari.
"Sudah coba di State?"
Bara menggeleng, "Dokter di RRC bilang bawa ke mana saja tak ada guna lagi. Sel kanker sudah merebak di seluruh tubuh."
"Kita coba ke state."
"Apa kau lihat kondisi Nania masih sanggup tempuh perjalanan jauh? Kita buat dia bahagia agar umurnya diperpanjang."
"Aku tak mau menyerah. Aku akan pikir cara mbak dapat dokter tepat." kata Sania yakin.
"Makanlah! Nasi dingin tak enak lagi." Bara iring Sania keluar dari topik sakit Nania. Bara sudah tak cukup dana biayai Nania ke luar negeri. Hampir seluruh hartanya dikuras ke pengobatan Nania. Kalau masih dilanjutkan perusahaan Bara pasti ditutup.
Bara sudah berusaha semampunya namun tak buahkan hasil. Dokter di tiga Negera angkat tangan terhadap sakit Nania.
"Mungkin kau lupa statusmu saat ini. Kau juga isteriku. Berhak tinggal di rumah ini."
"Maaf pak...aku tak bawa pakaian. Besok harus ke kantor pula."
"Baiklah! Kuantar kamu."
"Tak usah...naik taksi saja."
"Cuma segini tanggung jawabku terhadapmu?" sindir Bara buat Sania menunduk.
"Iya...suka lupa punya suami."
"Ngawur..."
Selanjutnya kedua orang itu makan tanpa suara. Hanya bunyi denting piring bergema di ruang makan itu. Masing masing tenggelam dalam alam pikiran. Ntah apa topik dalam benak keduanya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Sania seusai makan. Sania juga capek ingin cepat rebahkan badan di kasur.
"Tunggu kuambil jaket."
"Ya..." Sania juga mengambil tas selempang kesayangan. Tas itu selalu bersama Sania ke manapun pergi. Tasnya tak mahal di pasaran namun nilainya tak dapat diganti dari tas Hermes sekalipun.
Bara bawa jaket kulit warna hitam langsung dipasangkan ke badan Sania tanpa permisi. Sania ingin menolak tak suka dipaksa memakai pakaian berlapis.
"Pak...ngapain?"
"Mau pamer bodynya? Kaos mu terlalu tipis. Isi dalam tercetak jelas."
Sania baru sadar dia tak pakai bra di balik kaos. Sania sudah terbiasa gitu di rumah jadi dari tadi tak risih. Di rumah Sania tinggal sendirian maka bisa seenak perut. Sania lupa kalau sekarang dia punya status berbeda. Gaya slebor tak bisa dibawa ke hidup Bara.
__ADS_1
"Sori...aku lupa punya tanggung jawab baru!"
"Lupa atau pura pura lupa. Kamu harus pandai jaga diri karena kamu adalah isteri orang. Jaga harkat suami!"
"Sama...bapak juga harus jaga perasaan isteri. Segala nona noni harus jaga jarak dari tuan Bara. Jangan salahkan aku kalau ekstrem terhadap para wanita wanita berakhlak tipis."
"Deal...kamu juga tak boleh dekat laki terutama pada mantanmu yang tak tahu malu."
"Orang tak punya ******** bapak urus. Urus tuh nona yang iseng!"
"Capek debat sama kamu! Kita pesan sama Bik Sur dulu jaga Nania."
"Silahkan!"
"Dasar.." Bara melangkah ke belakang rumah di mana Bik Sur istirahat.
Sania tersenyum sendiri bayangkan hidup bersama Bara. Ntah siapa lebih cepat kena stroke. Dia atau Bara.
Asal ngobrol selalu muncul niat Sania lawan Bara. Mungkin aura mereka dilukis bayangan kucing dan tikus. Takkan pernah akur. Sania jadi ingat film kartun kesayangan di jaman dia masih kecil. Film kartun Tom and Jerry berkisah kucing Tom dan tikus Jerry. Selalu berantem kalau jumpa. Film lucu kenangan masa lalu.
"Malam melamun. Diculik gendorowo baru nyaho." Tiba tiba Bara sudah di belakang Sania.
"Gendorowo genit macam bapak kan?"
"Kamu tak perlu kuculik lagi. Kau toh milikku!" bisik Bara mesra di kuping Sania. Bulu kuduk Sania merinding kena hembusan nafas kasar Bara. Jantung gadis ini berdetak kencang seakan diajak lari maraton. Tak urung pipi Sania berona merah.
"Mesum...gimana? Sudah jumpa Bik Sur?"
"Sudah...yok berangkat!" Bara mengambil kunci kontak mobil di meja buffet. Sania ikut dari belakang tak bersuara lagi.
Energi Sania mulai pudar karena terlalu lelah. Diajak berdebat Sania akan memilih mengalah. Sania harus kumpulkan energi lebih banyak untuk lawan setiap ocehan Bara yang suka kick jantung. Sania mana mau mengalah gitu saja.
Kalau selama ini Sania berperan sebagai Puteri salju lemah lembut di hadapan Bobby dengan harapan Bobby bersedia melindunginya. Tak tahu justru Bobby manfaatkan kelemahan Sania main gila di belakang gadis ini. Ini akan jadi pengalaman pahit buat Sania. Pelajaran berharga ini akan membawa Sania berubah lebih tegar.
Mereka sampai di depan gedung apartemen Sania. Sania langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Bara keluarkan suara.
"Terima kasih pak. Pulanglah! Mbak Nania memerlukan bapak." kata Sania sebelum tutup pintu mobil Bara.
"Tak undang suami masuk rumah?"
"Sudah malam pak. Kita semua lelah. Pulang istirahat!"
"Kau takut aku masuk rumahmu menemukan sesuatu yang tak pantas?"
Mata Sania menyipit mendengar pertanyaan Bara menjurus tuduhan tak berdasar. Rasa curiga Bara terlalu besar padanya. Sania bukan tak ingin Bara masuk ke kamarnya tapi dia memang lelah. Kehadiran Bara pasti akan bawa kisah panjang.
"Naiklah!" Sania ijinkan Bara ikut ke apartemen untuk hapus bayangan buruk di otak laki itu. Mungkin laki itu akan puas lihat dengan mata kepala sendiri isi apartemen Sania.
Sania janji akan Bara sengsara bila berani cundangi dia dan Nania. Apa tak cukup dua wanita hadir dalam hidupnya. Masihkah harus cari sampingan untuk bikin hari penuh warna?
Apartemen Sania berada di lantai sembilan. Keduanya naik lift ke lantai yang dituju. Bara edarkan pandangan ke sekeliling apartemen cari tahu kondisi gedung itu. Tak terlalu ramai. Lingkungan cukup bersih dan bagus.
Kelihatannya penghuni gedung ini orang kantoran semua. Jarang tampak anak kecil hilir mudik sekitar gedung. Kalau penghuninya pada berkeluarga anak anak pasti akan muncul meriahkan suasana.
"Melamun terusan. Ini kamarku! Sudah puas? Sekarang pulanglah!" Sania hentikan langkah di depan pintu apartemennya.
Tak ada gelagat Sania akan undang Bara masuk ke ruang apartemen. Sania malah harap Bara cepat pulang kawani Nania.
"Tak boleh masuk?" Bara selidiki reaksi Sania ditegur begini.
"Ini sudah malam pak! Tak baik berduaan. Apa kata orang kita berduaan dalam satu kamar."
Bara melipat tangan menimbang apa yang harus dia katakan pada gadis di hadapannya. Sania lupa kalau statusnya saat ini adalah isteri Bara.
__ADS_1