
Sania tertawa penuh kemenangan lihat Bara tak bela Arsy. Andai laki itu berani keluarkan kalimat menyakiti hati maka Sania akan babat Arsy sampai rata dengan tanah. Masih untung Bara sadar diri bertindak bijak.
"Kau bela wanita murahan ini?" seru Arsy mengepal tinju ke arah Sania. Arsy benar wanita tangguh tak mudah dikalahkan. Berani dan norak.
"Lagi lagi kata murahan. Kau tanya sama Baramu berapa gajiku di sini? Lumayan walau tak setinggi tempat kerjaku dulu. Paling tidak cukup beli kain sampai bermeteran. Makin dilihat kok mirip baju banci kalengan di perempatan. Nyari mangsa orang ngak bawa otak. Terjebak dalam cinta palsu."
Bara menahan nafas. Ingin sekali Bara menarik Arsy tinggalkan kantor namun segan karena Sania akan berpikir Bara sedang lindungi orang bersalah. Bara bukan tak tahu Arsy yang duluan mulai Serang Sania. Sania tak mungkin menyerang kalau tak diusik.
"Arsy...kumohon jangan bikin malu diri sendiri! Sania pegawai penting di kantor ini. Jangan bikin onar!" Bara hilang akal hadapi wanita wanita berdarah panas. Leher Bara terasa kaku dihadapkan dua singa ganas. Mau bela yang mana.
"Bara...kau bela dia?" tanya Arsy merangkul lengan tangan Bara dengan genitnya.
"Bukan bela tapi kamu salah datang sini bikin kacau. Sini tempat aku cari rejeki. Please pulang!"
Sania sudah hilang selera ladeni Arsy. Masalahnya bukan di Arsy namun Bara sendiri. Mengapa Bara tak berkutik ditodong Arsy? Sampai di mana hubungan kedua orang itu. Sania takkan maafkan Bara bila berani berbuat curang main gila sama Arsy.
Sania mengambil kertas HVS yang bertulisan Isteri Bara lalu meremasnya. Kertas itu berakhir di keranjang sampah dekat tempat duduk Dea. Bara menyaksikan perubahan wajah Sania dengan hati tak tenteram. Ini pasti salah paham lagi.
"Aku pulang ya Bara! Jangan lupa datang ke rumah! Ingat Anak kita Kintan." Arsy melambai manja pada Bara. Satu kecupan via tangan melayang ke arah Bara.
Bara mendesah sudah rasa bakal ada serangan fajar hancurkan bentengnya. Sekuat apa bentengnya digempur serangan mematikan dari lidah setajam silet nanti. Bara menyerah sebelum diserang babi buta oleh tentara tunggal full power.
Tatapan sadis bergantung di mata Sania. Ingin rasanya Sania ketok kepala Bara pakai godam raksasa biar sekali ketok langsung hancur berantakan. Di mana otak Bara? Kayaknya laki itu tak perlu otak lagi. Tak usah berpikir apapun selain pikir cara senangkan wanita lain selain dua bini yang setia menanti.
Kondisi lantai dua kantor Bara berubah mencekam sejak kepergian Arsy. Keadaan tak ubah seperti ada serangan ******* terkejam seantero dunia. Dea ikut merasakan hawa tak sedap di divisinya. Dea makin yakin ada sesuatu antara Bara dan Sania. Sayang Dea tak berani bertanya masalah pribadi Sania. Apalagi Sania sudah sangat baik pada mereka semua karyawan kantor. Baik buruknya sifat Sania akan muncul seiring waktu.
Bara meninggalkan ruang kerja Sania dan Dea tanpa omong apapun. Bara biarkan dulu Sania tenang baru akan jelaskan duduk masalah. Sania lagi panas tak mungkin diajak cerita. Malah nanti Bara kena serangan jantung direpeti gadis berotak cerdas itu.
Sania melempar pandangan bermusuhan pada Bara. Hati Sania masih tak puas Bara janjian sama wanita lain di depan hidungnya. Apakah Sania tak ada nilainya sebagai seorang isteri hingga harus jadi saksi sang suami janjian jumpa wanita yang bukan muhrim.
Berbagai dugaan buruk bermain di benak Sania. Apa Bara dan Arsy sudah menikah siri hingga punya anak kecil. Kalau mereka sudah nikah mengapa Bara masih mau nikahi dia. Bara bangga jadi kolektor wanita wanita cantik?
"San..kau ok?" Dea beranikan diri bertanya setelah lihat wajah Sania tidak secerah waktu masuk kantor.
"Oh...aku tak apa. Cuma aku terganggu konsentrasi kerja. Apa wanita itu sering datang ke kantor?"
"Sering juga. Gayanya selalu bikin mual perut. Selalu gunakan anak sebagai senjata ancam Pak Bara." cerita Dea kesal juga tingkah Arsy yang kelewatan. Bikin ulah Di tempat orang mencari rejeki.
"Anak Pak Bara?" pancing Sania ingin tahu lebih lanjut.
Dea mengedik bahu tak tahu. Memang Dea tak tahu sosok anak yang bernama Kintan. Sering muncul namanya dalam bahasan Arsy dan Bara tapi sosok kecil itu tak pernah datang.
"Itu aku tak tahu. Cuma kurasa Arsy bukan hanya sekedar teman buat Pak Bara. Dia berani proklamasi diri sendiri calon bini Pak Bara tentu posisinya cukup vital di hati Pak Bara. Tapi kamu keren berani tantang wanita itu. Aku suka." Dea memuji keberanian Sania tantang Arsy.
"Wanita seharga gopek gitu banyak di tempat sampah. Jangan terpengaruh oleh ocehan tak jelas orang itu. Tugas kita adalah majukan perusahaan tanpa dikacaukan orang bermental kerupuk macam gitu." Sania tegaskan tak suka pada Arsy.
Selanjutnya keduanya kembali kerja tak bahas soal kekacauan yang ditimbulkan Arsy.
Di tempat lain jauh dari tempat Sania letakkan konsentrasi kerja. PT Sunrise lagi heboh tiba tiba saham mereka anjlok sejak tersiar berita ada penipuan besaran perusahaan itu terhadap investor asing. Perusahaan luar negeri minta ganti rugi trilliunan karena PT Sunrise menyalahi kontrak kerja. Barang yang diterima tak sesuai standard yang telah ditetapkan.
Suhada dan isterinya selaku direktur utama bagai dicelupkan dalam bara api mencapai ribuan derajat celsius. Sebentar lagi lumer tak tinggalkan jejak.
__ADS_1
Amanda isteri Suhada mondar mandir di ruang kantornya seperti setrika rusak tak terkontrol. Suhada duduk lemas di bangku kerja yang harganya mencapai jutaan. Usaha bertahun tahun amblas dalam tempo singkat.
Amanda wanita berumur lima puluhan namun tak ubah seperti wanita muda karena punya dana untuk oplas biar tetap awet muda. Pakaian Amanda juga tunjukkan kelas atas ditambah make up glowing tampilkan wajah sempurna tanpa cacat. Pantas Suhada tak berkutik di setir wanita ini karena pesona Amanda memang dahsyat.
"Pa..bagaimana ini? Saham kita anjlok. Para investor jual saham murah murah. Belum lagi tuntutan dari PT Jatiwood." seru Amanda memenuhi ruang kerja mereka berdua.
Suhada mengusap wajah tak bisa langsung jawab. Persoalan ini tak kecil. Kalau mereka tak bayar kerugian Pt besar yang bermarkas di Jerman itu penjara sedang menanti mereka. Unsur penipuan bisa dituduhkan pada mereka.
Wajah yang biasa pongah kini berkerut kerut menahan beban derita. Suhada sudah terbiasa hidup mewah kini ada masalah tak sanggup pikir.
"Coba telepon Bobby! Siapa tahu dia bisa bantu kita? Dia punya koneksi luas dan dana cukup." Suhada beri solusi pertama di saat genting gini.
"Papa benar. Ambil hp mama! Cepat!" seru Amanda bak dapat dewa penolong. Bobby menantunya punya nama besar di kalangan pengusaha top. Mungkin laki itu bisa bantu selesaikan persoalan pelik yang belit mereka.
"Halo Bob..ini mama. Kau sudah dengar kondisi perusahaan mama?" Amanda langsung nyerocos tanpa basa basi. Harapan Amanda menantunya sanggup beri jalan keluar terutama tutupi tuntutan perusahaan asing yang merasa tertipu.
"Sudah..mengapa kalian sangat ceroboh? Perusahaan luar tak gampang dikibuli. Kayu cantumkan meubel kayu jati tapi yang datang hanya kayu biasa celup wewangian jati. Kalian pikir mereka lakukan test?"
"Iya kami salah. Tapi pengiriman terdahulu diterima dengan baik tak ada komplain. Ntah kenapa kali ini apes bisa ketahuan."
"Ma...sepandai pandai tupai melompat suatu waktu pasti akan jatuh. Kalian memikirkan keuntungan ganda tanpa pikir resiko. Sekarang mau gimana lagi?"
"Mama cari kamu untuk cari jalan keluar nak! Kau bantu mama bayar dulu. Setelah perusahaan lancar akan kami kembalikan danamu."
"Maaf ma! Perusahaanku juga sedang terbelit masalah. Beberapa proyekku tak tembus tender. Dana yang keluar cukup besar sementara tak pemasukkan."
"Apa maksudmu? Kau tak mau talangi dana tuntutan PT Jatiwood?"
"Bukankah perusahaan kalian paling lihay lobi proyek? Mengapa tiba tiba lesu?"
"Salah satu pegawai andalanku sudah resign. Dia yang lobi proyek bukan aku."
"Aduh nak! Ajak kerja lagi. Kasih gaji lebih tinggi dari tempat lain."
"Kalau bisa aku juga mau tapi sayang dia benci padaku. Dia takkan kembali kerja lagi." nada Bobby memelas dari seberang sana.
"Mengapa?"
"Dia Sania yang telah aku bodohi demi Ranti. Apa ada wanita bodoh mau bantu orang yang telah coreng wajahnya dengan noda hitam?"
"Wanita murahan itu? Mana ada nilai dibanding sama Ranti kita. Dia apa? Status tak jelas mau jadi isterimu. Cari pegawai yang lebih lihay. Mama tak percaya penduduk negara kita demikian banyak tak ada yang bisa lebihi wanita murahan itu."
"Sania tak murahan. Justru dia sangat berharga. Di mana dia berdiri cahaya akan keluar dari tempat itu. Dia berhasil bawa satu perusahaan kecil lobi proyek Pak Wandi. Mereka berhasil. Dan sekarang proyek PT SHINY. Semua rancangan ada di tangan Sania. Kayaknya aku bakal tersingkir dari tender ini."
"Tender mega proyek itu? Kau tak mampu? Ya Tuhan..kau bodoh amat tak bisa raih tender yang sudah lama dibilang akan jatuh ke tangan kalian."
"Aku sudah usaha bawa anak buah lain ke pulau B. Namun hasilnya belum maksimal. Aku cukup terpuruk. Ratusan karyawan tunggu gaji dariku namun sekarang agak macet."
"Intinya kau tolak bantu mama?"
"Bukan tolak tapi tak mampu. Maafkan aku! Hidupku hancur sejak menikah. Ranti boros sekali pakai uang. Sehari bisa capai ratusan juta. Aku tak bisa menegurnya karena dia sedang hamil."
__ADS_1
"Ranti seorang artis wajar jaga image. Kau harus bangga punya isteri bintang top. Bukan wanita murahan tak punya status."
"Ma..Sania bukan gadis murahan. Dia taat beragama dan sopan. Tak pernah minta lebih selain gajinya. Aku yang tolol tak lihat bongkahan berlian."
"Kau masih bela dia?" semprot Amanda mulai tak senang Bobby memuji gadis yang batal menikah dengan Bobby karena ditikung Ranti.
"Bukan bela tapi cerita fakta."
"Fakta apa? Mana ada gadis baik baik goda bos perusahaan. Jual diri padamu kan?"
"Sania tak pernah ijinkan aku berbuat senonoh sebelum nikah. Malahan Ranti yang berani sodorkan diri sebelum nikah. Aku dan Sania pacaran dalam batas sopan. Tak ada hubungan badan seperti khayalan kalian. Sudah ya ma! Aku mau jumpa klien sebentar." Bobby tutup telepon tanpa tunggu jawaban Amanda.
Amanda mencak mencak marah tak dapat bantuan dari Bobby malah anak mantunya memuji mantan kekasih setinggi langit.
Suhada sudah tahu jawaban Bobby ikut loyo. Kehilangan perusahaan dan jerat hukum sedang menanti mereka. Siapa sanggup beri pinjaman cukup besar pada saat sulit ini.
Masalah yang belit mereka sangat besar. Penipuan dalam berbisnis paling pantang dilakukan apalagi dengan perusahaan asing. Bisa kena hukum berlapis lapis.
Suhada dan Amanda kini hanya bisa meratapi nasib. Menantu yang dianggap orang kaya juga tak mampu selesaikan masalah mereka. Sama siapa lagi harus minta tolong.
"Coba teleponi Ranti! Siapa tahu dia ada kenalan bos besar bisa bantu kita." ujar Suhada di sela putus asa.
Amanda tak punya pilihan lain selain ikuti saran suaminya. Ranti adalah bintang top. Jaringan di kalangan bos berduit pasti banyak. Mungkin Ranti bisa beri jalan keluar.
"Halo nak. Di mana kamu?"
"Aku lagi di Bandung bersama teman artis. Ada apa?"
"Kau sedang hamil nak! Jangan lasak!"
Terdengar tawa renyah dari seberang telepon. Amanda mengerut kening dengar tawa lepas Ranti seakan tak ada beban sedikitpun walau sedang berbadan dua.
"Hamil kenapa ma? Apa orang hamil tak boleh bersenang senang? Oya ma! Minta duit dong! Bobby pelit sekarang. Masa liburan gini cuma dikasih sepuluh juta."
Amanda menghela nafas. Betul kata Bobby kalau Ranti tak bisa berhemat. Boros minta ampun. Lama lama Bobby bisa ilfil pada Ranti.
"Ranti..perusahaan kita sedang dalam masalah. Ada tuntutan dari luar negeri. Apa kau bisa bantu papa dan mama cari dana segar untuk bayar kerugian?"
"What??? Kenapa bisa sekacau ini? Sudah bilang ke Bobby?"
"Sudah nak! Bobby juga sedang sulit. Kau hemat dikit kenapa? Kasihan Bobby."
"Aduh ma! Bobby itu drama. Tujuannya omong gitu karena mau nikahi wanita sampah itu. Alasan demi proyek. Mana ada hubungan proyek sama wanita itu? Mama tak usah dengar lagu lama para laki. Akan kucoba minta tolong sama produserku! Semoga berhasil. Siapa bisa nolak wanita seperti anakmu ini?"
"Iya cobalah! Mama dan papa tunggu kabarmu."
Amanda berharap Ranti bisa bantu cari jalan keluar. Perusahaan bisa selamat dan jeratan hukum bisa dihindari.
"Dari dulu papa sudah bilang jangan curang! Mama sok yakin tak ketahuan. Sekarang apa yang ada?" omel Suhada sambil pejamkan mata resapi kekesalan mendalam.
"Papa salahkan mama? Bukankah papa juga setuju waktu kita eksport meubel itu? Kok mama disalahkan?"
__ADS_1
Suhada merasa otaknya makin mumet dilawan sang isteri yang keras kepala. Mau untung banyak akhirnya buntung. Segalanya hilang dalam sekejap. Rekanan kerja ramai ramai jual saham mereka bikin nama perusahaan mereka makin tak ada nilai. Sudah jatuh tertimpa tangga.