MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Burung Piaraan Pak Slamet


__ADS_3

"Lieve sudah dengar kata mama? Tak boleh pindah." Ujar Sania pada Bara sambil tersenyum. Sania tak tahu akal bulus Bara ingin dia pergi jauh dari Pak Slamet. Rival rahasia Bara.


Kasihan Pak Slamet. Tak tahu apa-apa jadi musuh Bara. Pak tua itu belum tentu ijinkan Sania mengelus burungnya.


"Terserah sayang saja. Kalau sayang mau tinggal atau pulang ke rumah lama Lieve ikut saja." Bara mengalah tak mau berdebat dengan orang yang telah melahirkannya. Tujuan Bu Jaya memang mulia. Merawat menantu kesayangan.


"Sania tak jadi soal. Asal bersama Lieve di mana saja sama. Sebelumnya Sania ingin elus dulu burung Pak Slamet." Sania masih ingat ngidamnya.


Bu Jaya besarkan mata dengar permintaan Sania dibarengi mulut menganga lebar. Bara melirik mamanya yang terpesona oleh ngidam aneh Sania. Dalam hati Bara bersyukur mamanya ikutan bengong. Semoga Bu Jaya ngeh mengapa Bara hendak pindah.


"Burung? Burung siapa?" tanya Bu Jaya masih belum percaya permintaan Sania.


"Pak Slamet kan piara banyak burung. Tiap pagi berkicau merdu bangunkan Sania. Jadi Sania mau lihat bentuk burung bersuara merdu itu!" Sania cerita niat hati sesungguhnya.


Bara dan mamanya menghembus nafas lega. Ternyata burung yang dimaksud Sania bukan burung keramat Pak Slamet melainkan burung piaraan bapak duda itu.


Bara mengucap dalam hati terbebas dari tekanan mental berat. Kalau sekedar burung piaraan Pak Slamet setiap saat Bara berani ke rumah bapak itu minta ijin. Takutnya Sania minta burung dalam tanda kutip Pak Slamet. Ternyata cuma salah paham. Sania cerita juga tidak jelas buat Bara uringan.


"Oh itu...tak masalah. Mama kawani ke rumah Pak Slamet! Beliau memang piara banyak burung. Aneka jenis. Sorean mama kawani." Bu Jaya bersemangat setelah ngerti ngidam Sania. Sport jantung tak berlangsung lama. Cukup sedikit syok terapi.


"Terima kasih. Sania bantu cuci piring ya! Belajar jadi ibu rumah tangga."


"Kau bisa?"


"Belum dicoba mana tahu. Oya..Lieve mau balik kamar atau duduk di ruang keluarga?"


"Kalian pergi sibuk sana. Lieve bisa sendiri. Dimanja terusan jadi jompo nanti." Bara suruh Sania cari kesibukan tak usah peduli dia.


Bara tersenyum sendiri membayangkan betapa konyolnya dia pikir Sania ingin mengelus burung keramat Pak Slamet. Nyatanya Sania hanya ingin lihat burung piaraan Pak Slamet yang berkicau tiap pagi.


Tak dipungkiri Bara lega isterinya tak perlu berbuat mesum menyentuh alat vital laki lain walau sudah tua. Pak Slamet tetap lelaki yang punya hawa nafsu.


Bara gunakan kesempatan ini kabari Roy kalau ngidam Sania tidak sadis seperti bayangan mereka. Hanya ngidam wajar ibu hamil. Otak Bara yang melenceng ke mana-mana berpikir terlalu jauh.


Bara mengeluarkan ponsel dari saku celana. Bara tak sabar ingin kasih tahu Roy bahwa rasa kuatir mereka hanya lelucon belaka.


Bara scroll layar cari nama Roy. Dalam sekejap mata nama Roy muncul di layar ponsel. Tanpa ragu Bara klik tanda nama Roy.


"Halo...masih sibuk?"


"Dikit...sudah lihat burung ajaib Pak Slamet?"


Bara tertawa renyah tanggapi ejekan Roy. Laki itu pasti mengira Bara sedang bergulat dengan sengsara.


"Ngak jadi. Burung Pak Slamet sudah kadaluarsa. Tak sedap dipandang. Mending pelototi burung suami sendiri."


"Sania berdamai?"


"Bukan berdamai. Gue yang tolol berpikir aneh. Sia-sia gue kesal. Ternyata Sania hanya ingin mengelus burung piaraan Pak Slamet. Soalnya Sania tiap pagi dengar kicauan burung Pak Slamet."


"Ooo...burung hidup toh! Gue pikir burung letoy Pak Slamet." Tak urung Roy tertawa cekikan. Salah paham yang Bara ciptakan sendiri. Bara yang salah artikan permintaan Sania. Kesal hasil karya sendiri. Bara pantas terima rasa kesal mendalam.


"Gue lega coy! Mata bini gue tak dikotori pemandangan ajaib. Cukup punya gue!"

__ADS_1


"Mau ente...sudah ach! Gue masih harus kerja. Ntar malam ngobrol lagi. Rudi pasti ngakak kalau gue cerita. Boleh dong gue bagi lelucon ini buat Rudi."


"Kalau ini sih boleh! Tak merusak moral."


"Okay bro! Salam untuk Sania. Bilang kalau kurang burung masih ada punya gue dan Rudi."


"Sialan..." Bara menutup hpnya dengan jengkel. Ada saja tingkah Roy bikin Bara sewot.


Rasa sewot Bara tak sebanding dengan kelegaan dalam dada. Tragedi burung memburung tuntas sudah. Kini tinggal ajak Sania ke rumah Pak Slamet elus burung mana yang dia mau. Semua burung boleh Sania kecuali burung keramat Pak Slamet.


Jelang sore Roy teleponi Sania hendak lapor soal perkembangan kasus Arsy. Tak disangka Pak Elmo sudah duluan bergerak menekan keluarga Arsy. PT. SHINY mau dilawan. Keluarga Arsy tak berkutik diserang Pak Elmo. Pak Elmo sewa pengacara kondang lawan keluarga itu. Ditambah Arsy buat pernyataan secara resmi di kantor polisi bahwa Kintan anaknya dengan Rudi. Tak ada sangkut paut dengan Bara. Tamatlah kisah fitnah dari keluarga Arsy. Kini tinggal keluarga itu minta maaf secara terbuka atau berhadapan dengan hukum.


Sania menghindari Bara setelah dapat telepon dari Roy. Untuk saat ini Sania belum beri tahu Bara soal kejadian Arsy dan keluarganya. Bara butuh ketenangan agar cepat sembuh.


"Assalamualaikum..." Sania sengaja bicara di halaman bawah sedangkan Bara sudah masuk kamar.


"Waalaikumsalam...semua berjalan lancar. Pak Elmo ancam mereka akan tuntut balik. Ternyata aktor besarnya Bobby. Kini Bobby cuci tangan seakan dia tak terlibat. Licik sekali orang itu."


"Minta keluarga Arsy buat pernyataan secara terbuka minta maaf pada Bara. Minta mereka katakan siapa dalangnya biar semua orang tahu siapa sesungguhnya Bobby itu. Kita buat tak bisa berdiri di bumi ini." ujar Sania dengan hati gemas. Tak Sania sangka Bobby selicik itu. Dia tahun bersamanya tak tampak sifat buruknya sampai dia berkhianat bodohi Sania.


"Cuma segitu? Tak beri sanksi hukum?"


"Sanksi hukum? Kubuat kapal Build karam. Lihat saja skandal besar yang dilakukan build! Aku punya catatan kinerja kerja mereka. Tunggu saja dia mengemis minta ampun padaku."


"Wow... nyonya Bara sudah ngamuk mengerikan. Kau sedang hamil. Jangan buang tenaga dan pikiran untuk manusia sampah! Kau beruntung lepas dari laki licik itu. Kalau kau sempat menikahi laki itu hidupmu makin kacau. Itu artinya Allah sayang padamu tak ijinkan kau menikah dengan laki jahat."


"Iya aku ngerti! Mulai besok fokus kerja. Tak usah pikir skandal murahan yang ingin membuat kita jatuh. Dari pertama mutar-mutar jatuhnya ke proyek. Aku sudah paham asal mula kasus ini. Percayalah! Kita kasih obat buat mereka yang nakal."


"Terserah kamu! Akan kulaksanakan perintahmu! Oya...sudah dapat burung Pak Slamet?"


"Kok beritanya nyasar ke kuping ente?"


"Iya dong! Bara takut kamu kepincut burung Pak Slamet. Bahaya itu!!!"


"Dasar otak kotor! Aku tak mesum macam kalian. Otak bukannya dipakai berpikir sehat. Dibawa berkelana di dunia hitam. Kotor deh!"


Roy tertawa lepas dengar nada sewot Sania. Otak brilian Sania cepat tangkap ke mana arah pembicaraan Roy. Roy mengejek Sania kejar burung Pak Slamet dalam tanda kutip.


Sania belum gila harap sesuatu tak masuk akal. Sania hanya suka pada kicauan burung yang setia membangunkannya setiap pagi. Maka itu Sania ingin melihat langsung bentuk burung bersuara merdu itu.


Otak-otak kotor melenceng jauh dari niat Sania. Mereka tentu pikir Sania kegatelan ngidam burung laki orang. Amit-amit deh!


"Minta Sekar beli soda api cuci otak kotormu! Assalamualaikum.." Sania matikan ponsel dengan geram.


Di seberang sana Roy tertawa terpingkal-pingkal merasa lucu Sania ngamuk. Roy yakin Bara takkan luput dari amukan Sania. Roy bisa bayangkan lidah tajam Sania menyerang Bara sampai tak berkutik. Nasib Bara lagi apes dah!


Dugaan Roy tak meleset. Sania kesal dianggap genit oleh Bara dan Roy. Permintaan sederhana malah jadi lelucon para cowok. Sania mana puas hati dituduh yang bukan-bukan.


Dengan langkah besar Sania mencari Bara bikin perhitungan. Masa hanya harapan kecil melibatkan orang lain. Mulut cowok bau terasi.


Sania masuk kamar dengan kasar menutup pintu pakai kekerasan. Andai pintu punya mulut untuk bicara sudah pasti akan protes diperlakukan kasar. Tanpa prikepintuan. Badan pintu rontok kena hempasan kasar Sania. Mau protes tapi bisa maka berdiam diri lihat babak pertengkaran pasangan muda itu. Pintu jadi saksi bisu amarah Sania.


Bara melongo melihat bini mungilnya datang-datang umbar amarah. Wajah Sania memerah seperti kepiting rebus baru diangkat dari kuali. Panas membara.

__ADS_1


Bara berdoa dalam hati agar dihindari mara bahaya yang sedang berada di pelupuk mata. Bara ngeri membayangkan amarah ibu hamil. Bara sebisanya jaga emosi Sania stabil kini kok malah meledak bak bom atom jatuh ke sasaran.


"Lieve...." seru Sania berkacak pinggang menantang lakinya yang sedang duduk di sofa.


Nyali Bara menyusut satu meter hingga kandas tak tersisa. Apa yang menyebabkan Sania marah besar.


"Iya sayang? Ada apa?"


"Ada apa? Apa ada suami jual isteri sendiri?" bentak Sania dengan mata nanar.


Bara bangkit dari sofa hampiri Sania untuk redakan emosi ketinggian itu. Belum sempat Bara mendekat Sania sudah buat tanda kali di dada.


Dilarang mendekat. Gitulah maksud Sania menolak kedekatan Bara.


"Katakan pada Lieve kenapa marah sekali?" bujuk Bara dengan nada rendah supaya Sania tak makin marah.


"Kenapa cerita soal burung pada Roy? Dia kira aku mesum pingin burung sontoloyo Pak Slamet. Punya suami bukannya menyenangi bini. Ini malah bikin kesal Sania."


"Ini salah paham sayang. Bisa Lieve jelaskan!" Bara berusaha merengkuh tubuh mungil itu ke pelukan. Sania mendorong Bara sejauh mungkin dari badannya. Mood yang bagus harus berantakan gara-gara suami punya mulut lancang.


Sedikit-sedikit ngadu pada kawan. Sepertinya Bara tak punya pendirian sebagai laki. Badan doang yang gede tapi otak seupil.


"Tak perlu jelaskan. Aku tak mau dengar apapun. Aku mau kabur ke Afrika."


Bara meringis dengar kata Afrika. Berapa jauh dari pantauannya. Makin jauh pula bininya hendak melangkah. Bara cemas Sania akan lakukan ancamannya. Tak ada yang mustahil bagi Sania. Apa yang diharap jadi kenyataan.


"Dengar sayang. Lieve putus asa waktu kamu bilang mau burung Pak Slamet. Bayangan Lieve sayang minta anunya Pak Slamet. Saking sayang sama kamu terpaksa Lieve iyakan padahal dalam hati sesak. Maka itu Lieve minta pendapat Roy. Bukan hendak ngejek sayangku." Bara berkata jujur demi menahan Sania tak main kabur-kaburan.


"Di mana sih otak Lieve? Apa aku orang aneh doyan burung dalam celana orang? Aku masih waras. Yang gila Lieve dan Roy. Pokoknya kita musuhan lagi." Sania buang muka ke atas langit-langit kamar sambil mendengus kasar.


"Ya Allah...kau tak tahu Lieve hampir cemburu pada tetangga kita. Kalau bisa ingin Lieve babat burungnya biar kau tak tertarik lagi. Nyatanya Lieve salah prediksi, burung yang kau maksud burung piaraan. Ayoklah sayang! Lieve minta maaf lagi." Bara meringsek dekati Sania. Kali ini Sania tidak menolak.


Gara salah paham Bara harus menahan perasaan cemburu. Mana ada laki rela ijinkan bini elus burung laki lain. Tapi saking sayang pada Sania tercinta Bara bersedia tahan perasaan. Bukan hal gampang bagi laki itu.


Tapi Bara lulus dari cobaan karena cinta. Semestinya Sania bangga punya suami penuh cinta dan pengertian. Memberi kasih sayang sepenuh hati. Tak peduli seberapa sakit di dada tetap jalani.


"Sayang...besok kita ke rumah Pak Slamet! Lieve janji temani kamu. Jangan marah lagi!" Bara tak menyerah mendapat maaf kedua dari Sania. Persoalan Arsy baru jumpa titik temu sekarang soal burung lagi. Ribet minta ampun.


"Lieve selalu bikin aku kesal. Nanti tak diakui sama anak sebagai daddy baru tahu rasa." Sania melontarkan tatapan sinis menyudutkan Bara. Gunakan anak sebagai senjata ancam Bara sungguh jitu. Laki itu kontan menciut takut kehilangan buah cinta mereka.


"Janji tak nakal lagi! Jamin jadi daddy setia dan manis. Malam ini kita jalan-jalan ke mal yok!"


"Ogah...luka Lieve masih merah. Lebih baik istirahat di rumah."


"Tapi Lieve bosan di rumah terusan. Sekali-kali refreshing sama anak bini. Mungkin kita belanja pakaian anak-anak?"


Sania merasa perutnya yang mulai buncit. Perutnya tak seramping dulu karena telah berisi tiga sosok janin. Tugas Sania menjaga janin-janin itu tumbuh sehat sampai waktunya.


"Masih lama Lieve. Tak usah dulu. Kalau Lieve pingin main kita ajak papa dan mama. Sekalian Fadil."


"Kok rame banget? Lieve cuma mau kita berdua jalan-jalan. Selama ini kita hanya tahu kerja. Jarang gunakan waktu bersama berdua. Hari ini Lieve ingin jadi suami siaga temani isteri belanja. Sayang mau beli apa? Pasti Lieve penuhi."


"Yakin?" goda Sania mengedipkan mata.

__ADS_1


Bara angkat tangan tanda akan tepat janji. Sania tersenyum licik berjalan jauhi Bara sekedar berjaga laki itu meledak. Bara masih mematung menanti permintaan Sania. Bara berharap Sania minta perhiasan agar dia punya kesempatan beli cincin untuk Sania.


"Tepat janji?" ulang Sania sudah berdiri dekat pintu kamar. Sebelah tangan Sania berada di handel pintu ancang kabur bila kondisi tak kondusif.


__ADS_2