
"Wah...aku juga mau jadi bininya. Yang kedua juga ok. Bininya muda menawan apa mau sama kita yang kalah umur?" desis teman Arsy masih menancapkan tatapan ke arah pasangan itu.
Hati Arsy hancur lebur Bara tak ingat padanya lagi. Nama Arsy seakan punah dari ingatan Bara. Semua kenangan indah bersama Bara raib bersama munculnya Sania. Sania penyebab Bara lupakan dia. Sania buang kerok luka di hati Arsy.
Arsy bersumpah akan ambil apa yang menjadi haknya. Bara adalah takdirnya. Kesalahan di masa lalu tak bisa dijadikan alasan Bara melupakan kisah cinta mereka.
Arsy mengepal tinju menggeram benci setengah mati pada Sania. Tanpa Sania mungkin sekarang dia berkibar menyandang nyonya Bara Jaya.
"Awas kau rubah licik! Kau takkan menang dari Arsy. Jangan panggil aku Arsy bila tak jadi nyonya Bara!" Arsy lontarkan kebencian mendalam pada Sania.
Sayang Arsy tak mau flashback mengapa Bara tinggalkan dia. Dulu mereka pasangan serasi dari segi manapun. Arsy lupa diri hamil anak teman Bara. Mungkinkah ada kata maaf dari Bara atas pengkhianatan dahsyat Arsy? Bara bukan malaikat berhati suci, Bara hanya manusia biasa yang terbuat dari daging. Kalau terluka mengeluarkan darah.
Arsy melupakan kesalahan sendiri malah limpahkan semua itu pada Sania yang dianggap rival hidup. Ntah rencana apa terbersit di otak Arsy bertujuan hancurkan Sania. Kita tunggu kiprah jahat Arsy.
Sania dan Bara kembali ke kantor. Untuk sejenak Sania melupakan amarah pada sang abang. Sania disibukkan dengan konsep-konsep pengembangan rancangan proyek. Roy maupun Bara tak bisa sembunyikan rasa kagum pada wanita muda itu. Sania terlahir menjadi pakar konstruksi jempolan. Umur tak bisa jadi patokan keberhasilan orang menjadi orang sukses. Sania telah buktikan dia salah satu insan pilihan Tuhan dikaruniakan otak jenius.
Sania tidak rewel berapa hari ini karena Bara sudah tahu cara menyenangi ibu hamil muda itu. Beri dia tugas merancang bangunan. Bara sengaja beri beberapa rancangan proyek baru agar Sania melupakan amarah pada Rangga dan tak bertingkah aneh. Sania kembali normal asal duduk di meja kerja. Sania lupa sedang hamil lupa dengan sikap abnormal ibu hamil.
Bara merasa aman sentosa tak usah bingung dirong-rong Sania yang kadang berbuat ganjil. Sania sibuk menyiapkan nazar hendak berbagi sama anak panti asuhan tempat Agra dibesarkan. Sania ingin memberi sesuatu pada anak panti agar mereka hidup layak. Sania akan kucurkan dana untuk beli segala sesuatu yang mulai usang di panti.
Sania telah ucapkan janji waktu pertama datang ke panti asuhan Agra dirawat. Mungkin ini saat tepat wujudkan niat baik yang telah tersimpan lama di hati. Sania punya segalanya di bidang materi. Kini punya suami baik dan calon anak mereka. Apa lagi yang harus dikejar Sania? Masalah dengan Amanda hampir capai titik temu. Amanda dan Ranti harus membayar semua yang telah mereka lakukan. Terutama Amanda yang telah banyak berbuat dosa.
Hari Minggu kantor Bara disulap jadi tempat perjamuan para anak yatim piatu. Tak ada acara resmi undang kolega, semua murni untuk jamu para anak-anak yang tak beruntung. Karyawan PT. ANGKASA JAYA semua hadir. Keluarga Pak Bur juga tak ketinggalan. Agra dan Rangga tampak semangat layani para anak yatim piatu karena mereka lebih kenal penghuni panti itu.
Sania sediakan bingkisan buat setiap anak sebagai penghargaan atas semangat juang mereka. Tanpa kasih sayang orang tua mereka juga hidup layak. Masih ada tangan malaikat siap merangkul mereka menuju ke kedewasaan.
Sania tersenyum puas menyaksikan betapa gembira anak-anak itu menyantap hidangan. Wajah mereka berseri-seri melupakan lara dalam hidup. Sania sadar kebahagiaan ini hanya sesaat. Acara selesai mereka akan kembali jalani kehidupan tanpa rangkulan ayah ibu.
Sania berdoa semoga anak-anak itu tabah melanjutkan perjuangan capai cita-cita masing-masing.
Sania duduk agak menyendiri memisah dari keramaian agar bisa lebih santai pantau semua kegembiraan anak-anak.
"San..."
Panggilan lemah Lisa membuat Sania putar kepala menatap sahabatnya. Lisa cantik dalam balutan busana tertutup walau belum terpanggil berhijab. Lisa tampak sopan. Bibir Lisa mengukir senyum namun terlihat ada genangan embun di matanya.
"Ada apa Lis?" Sania heran datang-datang Lisa mewek.
Lisa perlahan duduk di samping Sania tanpa bersuara. Tingkah Lisa aneh tak gambarkan sosok Lisa yang bocor. Aneh Lisa bertingkah melankolis hari ini.
"Siapa ganggu kamu? Biar kuhajar." ulang Sania ikutan kesal sahabat tercinta dijahati orang. Sania dan Lisa sahabat sejati dalam suka duka. Sania tak ijinkan siapapun sakiti hati sahabatnya.
__ADS_1
"Rangga..."
"Mas Rangga? Dia selingkuh?"
Lisa menggeleng. Kepala Sania langsung berbentuk tanda tanya. Rangga tak main gila kenapa Lisa muram durja kayak Rangga sudah minta pisah. Pacaran belum sudah minta pisah. Pasangan model apa ini?
"Mas Rangga sedih kamu marah padanya. Dia tak enak makan tak enak tidur." lapor Lisa mewek.
Sania melayangkan mata ke arah abangnya yang tampak sehat bercanda dengan para anak panti. Laki itu masih gagah tak kurang apapun. Rambut masih utuh tak botak, bahkan bulu hidung mungkin masih utuh.
"Dia sehat...kamu saja norak! Dia itu lagi senang bisa bantu adik kesayangannya keluar penjara." sinis Sania masih menatap Rangga jengkel.
"Kau salah San...niat mas Rangga baik. Dia tak mau kamu berbuat salah dalam keadaan hamil. Ibu hamil tak baik punya niat jahat sama orang. Mas Rangga memikirkan akibat kamu penjarakan Ranti. Hatimu pasti juga tak terima lihat Ranti mendekam di penjara dalam kondisi hamil tua."
"Ok...akan kubiarkan dia melahirkan di luar penjara tapi setelah anaknya lahir akan Kucincang dia jadi perkedel. Kalian pilih mana? Dia melahirkan di penjara atau jadi perkedel goreng?"
Lisa meraih tangan Sania menggenggam tangan wanita besi ini erat-erat. Lisa kenal sifat Sania yang selalu tak tega pada orang lain. Mengapa Sania berubah sadis tak mau dengar nasehat orang.
"San..itu bukan kamu! Jangan biarkan dendam menang atas dirimu! Ranti akan dapat ganjaran atas semua dosa-dosanya. Kini semua orang menghujatnya. Namanya hancur karena perbuatannya sendiri. Dia depresi di tahanan. Kondisinya memprihatinkan."
Sania membuang pandangan ke langit-langit gedung yang bersih. Rasa dendam dan benci masih merajai hati Sania. Tak gampang jadi malaikat beri maaf pada Ranti setelah dia lalui hari-hari buruk. Perbuatan Ranti terusan serang dia pakai fitnahan makin menyuburkan rasa benci di hati.
Lisa iba lihat kesedihan Sania. Lisa juga benci Ranti yang telah merengut semua milik Sania. Tapi kalau Ranti tak berbuat curang dengan Bobby maka Sania takkan ketemu Bara. Bara jauh lebih baik dari Bobby walau sedikit tua. Sania lupa hikmah dari pengkhianatan Ranti.
"San...tujuan mas Rangga bukan itu! Dia memikirkan kamu. Mas Rangga tak mau kamu menyesali sesuatu kemudian hari. Andai Ranti terjadi sesuatu di penjara maka seumur hidupmu akan terbebani oleh rasa bersalah. Mas Rangga akan hukum Ranti sesuai kesalahannya. Mas Rangga minta Ranti cerita dari awal semua kesalahan padamu pada media. Itu merupakan pukulan telak bagi seorang publik figur. Siapa mau kenal manusia licik macam dia? Itu hukuman lebih tragis dari penjara." Lisa berusaha sabar menerangkan pada Sania agar jangan membalas kejahatan Ranti dengan kejahatan.
Sania tertawa kecil meremehkan semua ulasan Lisa. Sania bukan anak kecil bisa dirayu pakai permen. Dapat permen langsung diam tak bersuara. Sania berjuang dari kecil untuk menanti datangnya keadilan. Perjuangan puluhan tahun haruskah berakhir hanya karena rasa kasihan melihat penderitaan Ranti?
"Ranti hanya menderita beberapa hari kalian sudah kebakaran jenggot. Sedang aku menunggu hari ini lebih dari selusin tahun. Orang jahat tempatnya memang di penjara. Apa ada tempat lebih layak untuk pendosa?"
"San...kau mau apa? Kau mau lihat Ranti meringkuk di penjara? Kamu puas?"
"Ya...Amanda, Suhada dan Ranti pantas hidup nyaman di penjara." Dingin suara Sania.
Lisa hilang akal untuk bujuk Sania menyerah. Rangga sudah buat rencana minta Ranti minta maaf pada Sania dan beberkan fakta Ranti yang salah telah menikung saudara sendiri. Sayang Sania tak tertarik usulan Rangga. Wanita ini tetap berpendirian jebloskan Ranti ke penjara.
"Sania...kau berubah! Apa kau tak kasihan pada mas Rangga bingung pikirkan kalian?"
Sania mendongak menatap Lisa dengan tatapan tajam. Sinar mata Sania memancarkan hawa tak sedap hendak menekan Lisa mentah-mentah. Lisa sadar telah salah omong. Makna dari omongan Lisa Rangga sedih memikirkan nasib Ranti dan Sania.
"Sori San...bukan itu maksudku! Mas Rangga tak ingin kalian kakak beradik saling menyakiti."
__ADS_1
"Aku boleh sakit tapi Ranti tidak...itu kan maksud kalian? Percayalah! Ranti dan kroninya akan rasakan kehebatan wanita hamil." Sania bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Lisa yang menyesal salah omong. Secara tak langsung Lisa ikut menoreh luka di hati Sania.
Sania pasti mengira Lisa berpihak pada Ranti. Padahal bukan itu maksud Lisa.isa dan Rangga hanya tak ingin Sania merusak kesehatan berpikiran buruk pada Ranti. Ranti harus dapat ganjaran tapi bukan dipenjarakan. Sania salah artinya tujuan mulia Rangga.
Acara yang seharusnya menggembirakan malah jadi runyam Sania makin kesal. Lisa menatap nanar Sania pergi ke arah lain masuk ke ruangan yang tak Lisa ketahui fungsinya. Lisa bukan karyawan gedung maka wajar tak tahu seluk beluk kantor ini.
Lisa tak punya waktu memikirkan denah kantor. Otak Lisa lebih mementingkan keselamatan Sania. Pikiran Sania lagi kacau bisa saja terjadi sesuatu di luar dugaan.
Lisa hampiri Rangga berbisik Sania marah meninggalkan Lokasi acara. Rangga kaget tak buang waktu menyusul Sania sesuai petunjuk Lisa ke mana arah langkah Sania.
Rangga percepat ayunan langkah mencari adik tercinta. Jantung Rangga terasa diremas-remas ngilu dihadapkan masalah keluarga cukup pelik. Rangga tahu Sania punya kuku tajam bisa menghujam ke daging saingan. Sepak terjang Sania selama ini tak luput dari pantauan Rangga. Sania punya power cukup besar. Sania cukup main mulut semua berjalan sesuai permintaan Sania. Siapa di belakang Sania masih jadi tanda tanya Rangga.
Rangga pura-pura bodoh sambil cari tahu bagaimana kehidupan Sania selama ini. Siapa yang telah memberi kekuatan segitu besar pada adiknya. Sejauh ini Rangga belum temukan jawaban jati diri Sania. Sania pintar membungkus diri serapat mungkin tanpa ada sela orang melongok ke dalam hidupnya.
Rangga bergerak ke tempat yang dimaksud Lisa namun tak menemukan Sania. Tanpa putus asa Rangga bergerak ke seluruh ruangan lantai dasar gedung Bara. Sania tak tampak batang hidungnya. Jangan Sania bayangan Sania juga tak tampak.
Rangga panik tak menemukan orang yang paling dia kasihi. Tak ada niat secuwilpun hendak samakan Sania dengan Ranti. Sania tetap adik tersayang. Rangga berbuat gitu supaya Sania lega tak tenggelam dalam dendam kepanjangan. Tak kira Sania salah artikan niatnya.
Berkali berputar Rangga tak temukan Sania. Pusing kepala Rangga diterpa masalah dua adiknya. Satu berakal busuk satunya berotak keras. Rangga berdiri di antara mereka mengharap solusi terbaik tanpa ada yang terluka.
Rangga putus asa terpaksa telepon Bara minta bala bantuan cari Sania. Bara sosok tepat diminta bantuan. Laki lebih kenal lokasi gedung serta tahu ke mana Sania bisa bersembunyi. Yang penting jangan lari masuk lubang tikus. Susah dilacak.
"Assalamualaikum Bara...bisa ke sini?"
"Waalaikumsalam..mas Rangga di mana?"
"Dekat toilet lantai bawah. Macanmu kabur ngambek diberi masukkan." Rangga berkata lunglai tak mampu berdiri tegak.
"What? Kabur lagi? Kok bisa?"
"Lisa nasehati dia bebaskan Ranti. Dia salah sangka kira kami bela Ranti. Dia marah dan pergi. Sudah kucari di lantai bawah tapi tak ketemu. Biasa di mana dia bersembunyi?"
"Ya Allah...seharusnya jangan hari ini kalian bicara dengannya! Dia sedang bahagia kalian rusak moodnya. Biar kucari dia!" nada bicara Bara terdengar kesal salahkan Rangga bahas hal sensitif di saat Sania bahagia bersama anak yatim.
Acara yang seharusnya menyenangkan bagi semua menjadi bencana bagi Bara. Sania ngambek imbasnya tentu pada Bara. Tidak mudah pulihkan bad mood Sania. Bara berkorban tenaga dan pikiran untuk bikin ibu muda itu selalu senang. Kini Rangga kacaukan usahanya.
Untuk sementara Bara tak punya banyak waktu pikirkan Rangga. Sania harus segera ditemukan. Berbahaya andai Sania makin stress dirundung masalah Ranti dan Amanda. Bara ngerti perasan Sania dizholimi terusan oleh dua musuh bebuyutan Sania. Tak habis-habisnya Ranti cari masalah dengan Sania.
Kini Sania berdiri tegak hendak injak kedua orang itu sampai menyatu dengan bumi. Tak gampang buat Sania mencapai langkah sampai tujuan detik ini. Mana mungkin Sania murah hati lepaskan kesempatan Ranti segampang makan Snack lezat. Tinggal kunyah rasakan nikmat renyah cemilan murah meriah.
Bara tutup ponsel tanpa ucap salam. Bara jengkel pada Lisa dan Rangga tak pandai baca situasi. Menasehati Sania di saat wanita itu sedang nikmati ketenangan bersama anak-anak yatim piatu mutlak salah besar.
__ADS_1