
Sania menatap Bara dengan tatapan mata sayu. Sania sudah terlalu lelah hari ini. Hari yang seharusnya jadi berkah malah jadi hari terburuk bagi Sania. Kesedihan Sania terbayar sedikit Bara tak terpengaruh ocehan tak jelas Ranti. Hati Sania terobati walau masih terasa perih.
"Kita pulang Lieve...kita pulang ke apartemen ya! Aku mau tenangkan diri!"
"Ya sudah kita pulang! Kita kasih pesan pada Roy untuk handle semua masalah kantor. Ayo!"
Bara membimbing Sania naik lift naik ke lantai paling akhir. Sania tak menolak walau ada rasa segan pada kerlingan mata para pegawai. Masih belum banyak yang tahu siapa Sania sebenarnya. Di mata para pegawai Sania sama saja dengan mereka sebagai bawahan Bara.
Akhirnya pasangan muda ini sampai di lantai paling atas. Sania segera masuk ke ruang kerjanya diiringi tatapan mata nanar dua wanita lain yakni Dea dan Putri. Mereka kasihan pada Sania yang selalu jadi bulan-bulanan Ranti. Kini Sania telah mendapatkan sedikit keadilan untuk menambal rasa sakit di hati.
Putri ikut masuk ruang Sania berniat hibur rekan sekaligus bos wanitanya. Putri hadir sebagai teman pelipur duka di hati Sania.
"Sania...are you ok?" tanya Putri hati-hati takut Sania tersinggung. Wajah Sania agak pucat menambah kesedihan Putri. Putri tak rela Sania asyik disakiti Ranti.
"Buruk...aku pulang dulu tenangkan diri! Kalian lanjutkan kerja. Kepalaku nyut-nyutan." Sania membereskan isi tas selempang yang masih jadi teman setia.
"Tak apa...hari ini kita juga tak banyak kerja." Putri membantu Sania bangkit dari bangku karena Sania kelihatan makin pucat. Dahi Sania tampak keluar keringat dingin perburuk kondisi wanita ini.
"Iya...kita masih atur posisi. Kau pelajari file rumah sakit yang akan dibangun. Bikin berita acara tahapan setiap pembangunan. Kau sudah tahu cara kerjaku kan? Jangan ada yang loncat-loncat proses pembangunan!" Sania bangkit dari bangku sedikit goyah. Sania merasa kepalanya dihantam Godam besar bikin puyeng. Sania berdiri bertumpu pada meja tak mampu lanjutkan langkah.
"Sania...kau kenapa?" seru Putri kuatir Sania mendadak drop. Putri menjadi panik melihat kondisi Sania makin buruk. Putri segera merangkul Sania membawanya ke sofa.
Sania tak dapat buka mata saking pusingnya. Dunia ini serasa berputar-putar ikut poros bumi. Perut Sania ikut diaduk bak di kocok mixer gede.
Putri segera lari keluar memanggil Dea untuk lihat kondisi Sania yang makin memburuk. Putri ingin ikut pingsan rasakan penderitaan Sania. Putri tak tahu harus bagaimana selain berteriak panggil Dea.
"Kak Dea...tolong Sania! Dia hampir pingsan!" seru Putri dibarengi suara Isak tangis.
Dea bagai disengat kalajengking meloncat dari bangku berlari ke ruang Bara. Otak Dea lebih cas bisa terpikir minta bantuan orang yang lebih berhak atas Sania.
"Pak Bara..." Dea nyelonong masuk tanpa ketok pintu lagi. Bara yang sedang telepon tersentak kaget karena suara sember Dea menggelegar penuhi ruang kerjanya." Sania sakit pak!"
Bara bergegas bangkit berlari kecil menuju ke ruang isterinya. Berita ini sangat menggoncang batin Bara. Barusan tadi Sania terlihat baik-baik saja mengapa tiba-tiba bisa drop.
Putri masih sibuk menyadarkan Sania yang hampir hilang kesadaran. Putri menangis takut terjadi sesuatu pada temannya itu.
"Sania sayang kau kenapa?" Bara membawa Sania dalam gendongan. Tanpa menunda waktu Bara membopong Sania turun ke bawah menuju rumah sakit. Pertolongan pertama adalah menuju ke tempat tepat di mana Sania akan mendapatkan perawatan medis.
Bara mengutuk tindakan Ranti memancing emosi Sania sampai wanitanya drop menahan emosi. Bara berjanji takkan maafkan orang yang sakiti Sania.
Bara baringkan Sania di jok belakang lantas larikan mobil bagai kesetanan ke arah rumah sakit. Keringat Bara meleleh bagai air pancuran baru dibuka. Di otak Bara tak terpikir lain selain keselamatan Sania. Sania tak boleh terjadi apapun di saat ini. Bara masih memerlukan Sania sebagai penyemangat hidup. Sania telah membawa Bara buka lembaran baru penuh cahaya gemilang.
Bara berhasil membawa Sania dengan selamat ke rumah sakit. Kehadiran Bara langsung disambut para medis yang siap siaga menyambut kehadiran pasien. Tanpa buang waktu Sania didorong ke ruang IGD untuk ditindak lanjutin.
Bara teringat pada Dr. Frans yang menangani Nania dulu. Bara segera hubungi dokter yang sudah bertahun jadi temannya saking banyaknya pertemuan. Nania bolak balik rumah sakit otomatis Bara kenal baik dokter Nania.
"Halo..dokter Frans? Ini Bara...tolong biniku!" Bara memelas sedih.
"Bini mudamu? Kenapa dia?"
"Dia di IGD sekarang. Datang ya!"
__ADS_1
"Ok..ok..jangan panik bro! Tunggu aku!"
Bara melirik Sania yang sudah ditangani dokter umum. Hati Bara kebat kebit ingat Nania yang telah pergi. Semoga Sania sehat selalu tak ikutan penyakitan macam Nania. Bara sudah trauma melihat isteri terdahulu sakit bertahun.
Bara gugup bukan kepalang sampai sampai bingung tak tahu harus berbuat apa. Untunglah Dr. Frans segera tiba ikut observasi penyakit Sania. Bara menanti dengan cemas hasil analisa penyakit Sania.
"Bro..bini mudamu tak apa. Mungkin stress ataupun kelelahan kerja. Istirahat betapa hari juga pulih. Aku sudah hubungi dokter Obgyn untuk periksa binimu. Sepertinya ada Bara junior dalam rahimnya. Itu masih perasaanku. Kita periksa lebih lanjut biar tahu apa benar kau akan jadi papa." Frans keluar dari ruang IGD sambil tersenyum simpatik.
Mata Bara bersinar terang diberi angin baik oleh Frans walau masih sebatas dugaan. Berita yang dinantikan Bara bertahun-tahun akhirnya tersiar juga.
"Isteriku hamil?" Bara masih ragu takut telinganya salah dengar.
"Sabar...sedang diperiksa. Kau tenang saja. Bini mudamu kuat cuma kelelahan. Kau ajak main kuda-kudaan terusan sih!" olok Frans berusaha mengembalikan roh Bara yang sempat terpencar saking syok bininya jatuh pingsan secara mendadak.
"Dia terlalu capek bekerja. Hari ini juga terjadi insiden di kantor. Serba kacau." Bara menjambak rambut menyesal tak dapat melindungi Sania dari kejahilan Ranti.
"Jangan bebani dia terlalu banyak kerja! Apalagi kalau ada Bara junior. Dia harus bed rest."
"Aku takut terjadi sesuatu padanya. Semoga kasus Nania tak terulang pada Sania."
"Huusss...ngaco! Binimu baik-baik saja. Mungkin sedang hamil muda. Doakan yang terbaik! Coba hubungi keluarganya juga keluargamu. Apa orang tuamu terima yang ini?" Frans menunjuk Sania yang masih ditangani dokter lain.
"Orang tuaku sayang banget padanya. Aku hubungi orang tuaku dulu. Permisi sebentar!" Bara nyaris lupa kabari keluarganya soal Sania. Kedua orangnya pasti akan bacok dia sampai ***** bila tak segera beri kabar Sania drop. Kedua orang tuanya sangat menyayangi Sania melebihi rasa sayang pada Bara.
"Assalamualaikum...pa!"
"Waalaikumsalam...ada apa? Belum cukup wanita sinting itu bikin malu kamu?" Pak Jaya merepet soal Maya bunuh diri di kantor Bara. Pak Jaya langsung pergi lihat keonaran yang dibuat Maya.
"Apa? Sudah ada hasil?"
"Kata dokter kelelahan dan mungkin sedang hamil."
"Hamil??? Cucu? Aku jadi opa?" Pak Jaya tertawa lebar lupa kalau Sania masih belum sadar diri. "Papa dan Mama segera datang. Jaga mantu kami! Kalau wanita rongsokan mu berani datang buat kacau lagi papa tak segan main kasar. Ingat itu!"
"Iya.." sahut Bara lemas. Bara tak tahu sampai kapan hidupnya bebas dari godaan para mantan. Berkali-kali para mantan merongrong hidupnya. Masih untung mental Sania terbuat dari baja tulen.
Bara bergegas balik ke ruang IGD menanti hasil observasi penyakit Sania. Frans masih setia menanti di ruang IGD tunggu Bara kabari orang tua Bara.
"Gimana dok? Sudah ada hasil?" buru Bara tak sabar mendengar hasil analisa penyakit Sania.
Frans tersenyum menunjuk dokter wanita yang baru selesai memeriksa Sania. Jantung Bara berdegup kencang baru lari estafet jarak jauh. Capek full rasa cemas.
"Pak..selamat. Isteri Bapak hamil delapan Minggu." dokter kandungan itu menyalami Bara.
"Maksudnya?" tanya Bara linglung.
"Isterimu hamil hampir dua bulan pak! Fisiknya sedang lelah maka dia pingsan. Kita rawat dua hari dia akan sehat lagi. Jangan kerja berat dulu! Paling penting jangan stress! Aku akan buka resep agar isterimu cepat pulih. Ditambah harus lebih sering kontrol agar janin-janin dalam rahim bisa tumbuh sehat." dokter kandungan cewek itu beri penjelasan pada Bara.
"Maaf dokter Maria. Katamu janin-janin apa anak bapak ini kembar?" tanya Frans
"Begitulah adanya! Maka itu harus ekstra hati-hati. Orang yang hamil anak kembar rawan keguguran. Tugas bapak adalah jaga emosi isteri bapak. Jangan sampai dia stress berat! Kita antar ibu muda ini ke ruang perawatan. Tak ada yang perlu dicemaskan."
__ADS_1
"Terima kasih dok!" Bara membungkuk beri hormat pada dokter kandungan itu.
"Sama-sama. Itu tugas kami. Tinggal dulu. Permisi." dokter kandungan itu pergi untuk memeriksa pasien lain.
"Selamat bro!!" Frans menjabat tangan Bara beri selamat. Anak impian Bara akhirnya datang juga. Dr Frans ikut bahagia melihat Bara menemukan tambatan hati bernilai plus.
"Thanks dok. Akhirnya datang juga Bara kecil. Allah sayang padaku beri sepasang sekaligus." ujar Bara tak dapat sembunyikan rasa haru dan bangga. Tak disangka bibitnya bagus. Sekali tanam tumbuh dua dedek bayi dalam rahim Sania.
"Itu berkah untuk orang sabar. Ok...aku pergi dulu! Binimu akan ditempatkan di ruang terbaik. Jaga dia baik-baik!" Frans menepuk bahu Bara sebelum pergi. Frans cukup lega Bara mendapat pengganti Nania yang jauh lebih sempurna. Semua akan indah pada waktunya.
Sania didorong ke ruang perawatan oleh perawat untuk dipulihkan. Sania hanya kelewat stress ditambah sedang hamil anak Bara maka dia jatuh pingsan. Bara berada di persimpangan antara rasa cemas juga terselip rasa bahagia.
Semua seperti mimpi. Dia akan menjadi seorang ayah. Anak yang jauh dari angan Bara. Tak pernah terpikir Sania akan cepat hamil anaknya. Hari penuh kericuhan membawa berkah.
Mungkin demikian cara Allah menguji kesabaran Bara dan Sania. Setelah melalui hari berat langsung dijawab dengan kabar baik. Ini merupakan anugerah terindah dalam hidup Bara.
Habis gelap terbitlah terang itu pepatah yang cocok disematkan dalam hidup Bara.
Sania terbaring di atas kasur ruang VIP rumah sakit dengan wajah mulai memerah. Pertama di bawa masuk rumah sakit wajah Sania pucat pasi. Kini berangsur merah berona kembali. Bara duduk di samping isterinya menanti Sania sadar. Bara tak rela kehilangan moments menanti sang bini siuman.
Bara menggenggam tangan Sania tak ingin melepaskan tautan yang terjalin makin erat sejak hadirnya Bara junior di rahim Sania. Bara harus makin kuat menolak pesona wanita-wanita perusuh ganggu pernikahan mereka.
Pintu ruang rawat Sania diketok dari luar. Bara bangkit membuka pintu dengan tak sabar. Bara sudah tak sabaran ingin berbagi kegembiraan pada keluarganya. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang bapak. Bocah-bocah mungil akan teriak memanggilnya papa.
Pak Jaya dan Bu Jaya masuk dengan tak sabaran. Berita Sania sakit bikin jantung kedua tua itu nyaris berhenti. Bara tak tahu betapa berharganya Sania bagi kedua orang tua itu.
"Gimana Sania?" tanya Pak Jaya sambil berbisik takut ganggu istirahat Sania. Bu Jaya dekati menantunya untuk yakin anak itu tak apa. Hati Bu Jaya miris melihat wanita setegar Sania akhirnya runtuh diterjang berbagai cobaan.
"Dia hanya kecapekan. Dia sedang hamil delapan Minggu. Itu kata dokter." sahut Bara cengar-cengir bangga.
"Positif?"
"Itu kata dokter. Malah dibilang bayiku dua."
"Apa? Kembar? Wah... keturunan dari sebelah papa. Papa ini juga punya saudara kembar tapi meninggal karena terlalu lama dalam perut Oma mu. Bibit unggul. Laki perempuan?" seru Pak Jaya semangat. Suaranya agak besar mengundang Bara bikin tanda diam pakai jari di bibir.
"Ssssttt...belum dibilang dokter. Cuma bilang anak kembar."
"Dasar papa ini..janin seumur gitu belum berbentuk. Dari mana tahu jenis kelamin. Tunggu beberapa bulan lagi. Cewek atau cowok tak jadi soal. Yang penting ibu dan bayinya sehat." Bu Jaya mengurai kalau hamil muda belum bisa diketahui jenis kelamin dari sang bayi. Butuh proses untuk membentuk bayi sempurna dalam perut sang ibu.
"Papa lupa...papa terlalu bahagia. Oya..sudah kau beri kabar pada keluarga Pak Bur? Mereka keluarga Sania terutama si Rangga. Ayo kasih kabar Sania sakit!" Pak Jaya mendorong Bara untuk beri kabar pada keluarga Sania. Mereka juga berhak tahu kondisi Sania.
"Iya pa...Bara hampir lupa soal ini! Bara akan teleponi Rangga. Bara telepon di luar. Tolong jaga Sania!"
"Itu tak perlu kau ingatkan! Kau yang harus jaga binimu dari serangan ulat bulu." Bu Jaya besarkan mata menyalahkan Bara atas penderitaan Sania.
"Iya...iya..." Bara ambil langkah keluar dari ruang rawat Sania. Bara berniat teleponi Rangga sebagai Abang kandung Sania. Rangga paling berhak tahu keadaan Sania saat ini.
Bara mencari nomor ponsel Rangga di daftar list kontak. Sialnya Bara tak menyimpan nomor ponsel Rangga. Bara juga tak punya nomor kontak Lisa orang terdekat Sania.
Bara tak hilang akal meneleponi Roy untuk minta no hp Lisa pada Sekar ataupun Putri. Bara yakin kedua teman Sania punya nomor ponsel Lisa. Mereka berempat kan teman sehati..
__ADS_1