
Bara lagi-lagi kalah set sama ibu hamil. Kini semua perkataan Sania adalah benar sekalipun salah. Bara tak mau ambil resiko kehilangan Sania lagi. Cukup dua kali, tak perlu ada kejadian ketiga. Bara kapok kehilangan orang tercinta. Bukan karena Sania pengusaha kaya tapi karena Bara sangat mencintai Sania.
"Baiklah! Lieve kabari mama dulu. Tadi mama sudah senang banget kamu pulang. Beliau ingin bercerita panjang."
Sania besarkan mata indahnya takut Bu Jaya bakal ngomel dia pergi tanpa pamit. Memang tak sopan tinggalkan rumah tanpa ijin suami. Itu sudah cermin isteri durhaka. Tapi panggilan jiwa Sania menuntut dia harus segera cari tempat berteduh dari gejala trauma. Sania butuh dokter untuk hapus semua kenangan buruk.
"Mama marah padaku?" tanya Sania ragu.
"Tidak...cuma kangen. Tunggu sini biar kukasih tahu papa dan mama kita pulang duluan."
"Iya Lieve..."
Rangga masih setia temani Sania di bawah tenda. Yang lain masih larut dalam suasana pesta yang makin meriah. Penyanyi diundang mengajak para tamu berdendang ikuti irama musik. Yang makan berlanjut, yang ngobrol makin seru.
Sania lega acara berjalan lancar tanpa gangguan. Semua sudah diatur Pak Elmo dengan baik. Mungkin inilah kiprah Pak Elmo yang terakhir untuk SHINY. Di acara ulang tahun SHINY Pak Elmo umumkan pensiun dari dunia bisnis. Pak Elmo sudah lama ingin pensiun tapi dilarang Sania sebelum misinya selesai. Kini misinya hampir tuntas. Semua tanggung jawab Pak Elmo kembalikan pada Sania. Sania yang harus gerakan roda perekonomian SHINY. Mampukah Sania jalankan roda tanpa bantuan Pak Elmo?
Bara kembali bergabung setelah pamitan pada orang tuanya. Untunglah Bu Jaya maklumi kondisi Sania. Bagi Bu Jaya mungkin Sania dan Bara ingin privasi maka memilih tempat tanpa gangguan. Berpisah sekian lama tentu datangkan rasa rindu di hati. Wajar pasangan muda itu perlu tempat sepi untuk memadu kasih. Itu pikiran Bu Jaya.
Fakta sesungguhnya Sania tak mau repot bawa sana sini oleh-oleh untuk teman dekatnya. Semua karyawan Angkasa Jaya dapat oleh-oleh yang dibeli Sania di Australia tempat tinggal anak tunggal Pak Elmo. Anak Pak Elmo dokter jiwa yang tangani kejiwaan Sania. Sania selalu datang pada laki itu bila sedang terguncang batin. Kali ini Sania lebih cepat atasi trauma mengingat di tanah air masih ada orang membutuhkan dia. Bara, Agra dan Suhada.
Sania meminjam moments ulang tahun perusahaan untuk unjuk siapa sesungguhnya dia. Bukan Sania bodoh yang gampang dirayu. Sania wanita besi pemegang saham mayoritas SHINY.
Singkatnya Bara dan Sania kembali ke apartemen Sania yang dingin. Kesepian menyambut kehadiran Sania dan Bara. Seperti biasa rumah petak itu bersih tanpa noda. Ruangan di dominasi warna putih dingin membisu waktu Sania masuk.
Bara edarkan mata cari sesuatu yang berubah dari rumah itu. Tak ada yang berubah kecuali di dekat sofa putih ada dua koper warna silver tergeletak. Siapa hendak bepergian atau baru pulang.
Tak usah putar otak Bara tahu itu milik Sania yang baru tiba. Menurut pikiran Bara bininya itu baru tiba di tanah air hari ini. Bahkan koper belum sempat dibongkar.
"Sayang..." panggil Bara sambil duduk di sofa.
Sania masuk kamar tanpa menjawab. Sania sudah tak tahan gerah memakai gaun berbahan berudu yang panas. Ibu hamil memang suka panas sendiri walau udara dingin. Keringat juga lebih sering mengucur lewat pori-pori kulit.
Lama Bara termenung di ruang tamu Sania. Ntah kenapa Bara menjadi segan pada Sania sejak terungkap Sania lah pemilik asli PT. SHINY yang tangannya menggurita seluruh dunia. Pantas Sania gampang meraup proyek. Ternyata itu proyeknya sendiri.
Kalau boleh memilih Bara ingin isterinya Sania yang dia kenal. Bukan CEO kaya raya. Bara merasa kerdil sekali berada di sisi Sania. Rasanya posisi mereka bagai langit dan bumi. Status Sania mendunia sedang dirinya hanya seorang pemilik perusahaan kelas teri. Itupun berkat campur tangan Sania.
Harga diri Bara sedang dipertaruhkan di ajang kekuasaan Sania. Siapa sangka seorang konglomerat muda bersembunyi di balik wajah lugu demi mencari cintanya. Bara beruntung lulus dari test Sania yang cukup berat. Berbagai cobaan menerpa hubungan mereka. Di detik terakhir masih muncul penggoda kelas teri.
Pertanyaannya kini sanggupkah Bara berdiri sejajar dengan wanita besi sekelas Sania. Belum apa-apa Bara sudah kalah mental. Mental layu sebelum berkembang.
Harum lembut yang cukup familiar membelai hidung tinggi Bara. Tanpa lihat Bara tahu isterinya sudah berada di dekatnya. Sania sudah wangi memakai piyama warna biru muda bermotif bunga kecil-kecil aneka warna. Sekilas dilihat seperti totol kecil padahal itu bunga.
"Lieve.." panggil Sania manja mengalungkan tangan di leher Bara. Pantat Sania yang mulai berkembang duduk di atas paha Bara berusaha goda kelakian suaminya.
Bara tersenyum senang Sania tak berubah angkuh malahan makin menggemaskan. Gayanya makin genit berani goda Bara. Ini bukan gaya Sania keseharian.
"Wangi...mandi?"
__ADS_1
"Ngak...sudah malam tak baik mandi buat ibu hamil. Lieve tak kangen?"
Bara bukannya jawab tapi mengecup bibir ranum yang dari tadi ganggu mata Bara. Sudah cukup lama Bara tak cium bibir itu. Rasa rindu tak bisa dilukis dengan kata-kata. Terlalu banyak untuk masuk ukuran.
"Lieve hampir gila kau pergi. Jangan sekali-kali tinggalkan Lieve lagi! Lieve pasti hancur kalau kau pergi."
"Jaminan tidak selama Lieve tak mau gila lagi! Sudah tutup jalan kabur!" Sania terkekeh sendiri ingat tingkah konyolnya suka hindari masalah. Bukan selesaikan di tempat tapi hindari sampai dia mampu berpikir. Kini Sania sudah mampu atasi trauma berkat bantuan keluarganya.
"Lieve sudah lelah sayang. Yang Lieve mau hidup tenang bersama anak-anak. Maukah sayang cerita mengapa sampai sembunyi di kebohongan?" Bara menuntut Sania bercerita.
"Emang Sania bohong apa?" Sania dekatkan bibir ke pipi Bara gesekan bibir ke pipi kasar laki itu. Bibir Sania sedikit perih kena bulu halus sekitar dagu.
"Kau begitu hebat tapi menyamar jadi karyawan kecil. Badan sekecil kacang tapi otak segede langit. Apa sih maumu?" Bara melingkarkan tangan ke perut Sania yang mulai buncit.
"Mauku ya pingin berkarya dari nol. Sania mau kalian melihatku dari kemampuan. Bukan karena aku siapa. Lieve marah?"
"Kok marah? Cuma tak sangka dapat anugerah begitu besar. Dapat isteri cantik, pintar, subur dan kaya." Bara sendiri tak yakin itu keluar dari bibirnya. Bara sejujurnya tak rela Sania terlalu menjulang mengalahkan dirinya. Ego lakinya terusik.
"Tidak menyesal punya bini kejam? Pernahkah dengar sepak terjang Sania Mulder yang jarang kasih ampun bagi orang bermasalah?"
"Sejuta orang bilang kamu ini itu tak masuk kuping Lieve. Lieve kenal siapa kamu. Bini kecil Lieve yang judes. Sekarang maukah sayang cerita mengapa terdampar di sini? Ada tahta emas tak mau tempati. Malah cari kursi reyot di kantor Lieve."
Sania melepaskan tangan dari leher Bara. Wajah Sania berubah serius diberi pertanyaan ini. Sudah saatnya Bara tahu segalanya tentang dia. Bara cuma tahu sekilas kisahnya dengan Suhada. Masih banyak kisah tertutupi karena Sania ingin Bara unjuk perasaan sesungguhnya.
"Kita cerita di kamar?" tawar Sania ingin betul-betul nyaman berkeluh kesah pada Bara. Bara sebagai suami berhak tahu semua tentang Sania sedetailnya.
"Ayok!" Sania berdiri siap digendong Bara masuk kamar. Di sana akan lebih nyaman bercerita sambil tiduran di pelukan Bara. Sania juga rindu pada Bara.
Bara berusaha angkat Sania ala bridal. Bara meringis dalam hati merasakan bobot tubuh Sania bertambah berat. Namun Bara pilih bungkam ketimbang merusak suasana. Sania pasti akan ngamuk bila dibilang tambah gemuk. Bara paling ngerti sifat Sania alergi lemak.
Di mana-mana ibu hamil akan bertambah subur seiring bertambah usia kandungan. Wanita memang aneh, suka melawan kodrat. Sudah diberi wajah sempurna lima panca kadang masih tak puas. Banyak habiskan dana untuk tampil lebih sempurna melawan pemberian Tuhan. Mereka operasi plastik untuk lebih cantik.
Susah payah Bara berhasil juga gendong Sania masuk ke kamar. Laki ini segera letakkan isterinya di atas kasur untuk kurangi beban. Walau lelah Bara mencoba ceria tutupi capek gendong kentong nasi. Berat Sania bertambah dua kali lipat. Tapi siapa berani protes.
Bara bisa tidur di luar apartemen jadi umpan vampir nyamuk. Jalan terbaik tutup mulut hindari masalah.
Sania sandarkan bantal ke kepala bed agar nyaman bersandar di sana. Bara yang masih pakai baju resmi agak risih tak bawa baju ganti. Di apartemen Sania tak ada barang pribadi Bara. Semua ada di rumah lamanya dan rumah orang tuanya. Ke mana dia akan cari baju tidur di tempat ini.
Sania kurang tanggap tak sadar Bara kurang bahagia menetap di apartemennya. Jiwa Sania yang biasa peka terhapus tanpa jejak. Sania seenak dengkul menepuk kasur empuk di sampingnya minta Bara ikut duduk.
"Sayang...Lieve ke kamar mandi dulu!" Bara gunakan alasan ke kamar mandi lihat Sania bisa ingat ngak dia tak punya baju ganti.
"Ok...ngak pake lama." order Sania santai. Wanita ini meraih ponselnya tak menoleh pada Bara lagi. Sania asyik lihat postingan para sahabat yang kegirangan berfoto dengan Sania Mulder. Wanita kaya masuk jajaran dunia.
Berbagai komentar tertera di medsos sahabatnya. Banyak yang minta dikenalkan secara langsung. Pokoknya Sania jadi trending topik malam ini. Sania berkelas itu muncul setelah sekian lama jadi misteri.
Sania tak ambil pusing. Kini Sania ingin fokus selesaikan proyek impiannya dan jadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak lahir.
__ADS_1
"Sayang..." seru Bara dari kamar mandi.
"Ya..." sahut Sania tanpa jauhkan mata dari layar ponsel.
"Ada piyama untuk Lieve?" Bara keluar hanya melilit handuk di pinggang. Atas telanjang perlihatkan tubuh kekar tanpa lemak lebih. Itu bagian yang paling disukai Sania. Dada bidang kokoh tak bergelambir.
Sania cekikan lihat suaminya nyaris telanjang. Sementara itu Bara kedinginan karena AC di kamar Sania lumayan dingin. Setelan pasti paling cool.
"Tarzan kesasar. Ayok masuk dalam selimut biar hangat!"
"Tak ada baju laki?" tanya Bara sambil meraba dada bidangnya seolah ingin menggoda Sania untuk tatap dada kekarnya.
"Senang bini simpan baju laki? Wah...secara resmi ijinkan bini berselingkuh." gurau Sania mendapat pelototan mata segede biji jengkol.
"Cuci otak kotormu! Jangan pernah berpikir selingkuh! Akan kubabat semua burung nakal sampai tak berkicau." ancam Bara merasa tak ada guna bertanya soal pakaian lebih lanjut. Dijamin barang yang diharap Bara tak ada di lokasi.
"Sadis amat! Sini...telanjang juga tetap suamiku! Telanjang di sini tak ditangkap Kamtibmas. Coba kalau di luar. Diarak ke rumah sakit jiwa!"
"Nakal kamu!" Bara naik ke kasur sambil lempar handuk ke meja kecil samping lampu tidur. Bara tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam gulungan selimut cari kehangatan..
Sania tak dapat tahan tawa berhasil buat Bara tak berdaya. Sebenarnya Bara tak masalah harus telanjang bersama Sania. Toh mereka adalah pasangan halal yang diridhoi.
Bara menarik selimut tutupi tubuhnya dari dinginnya hembusan angin AC. Kehangatan menyeruak apalagi di samping ibu muda yang tubuhnya jauh lebih hangat. Inilah surga Bara.
"Senang?" tanya Sania meletakkan ponsel di meja nakas.
Bara mangut meringsut merapatkan tubuh rasakan kulit hangat bininya.
"Bersama sayang selalu happy."
"Wow...penghargaan besar! Sania mau tanya saat ini apa harapan terbesar Lieve? Yang jujur lho!"
"Yang keluar dari hati kecil?"
Sania mengangguk mengharap Bara keluarkan unek-unek di hati agar kelak jangan salah paham. Lebih baik terbuka ketimbang memendam masalah dalam dada. Terpendam bisa busuk kemudian hari.
"Sejujurnya Lieve takut ketimpa nama besar mu! Kalau boleh pilih Lieve mau kamu yang dulu. Bukan Sania Mulder yang mendunia. Cukup Sania pujaan hati Lieve."
Sania terdiam dengar Bara ungkap isi hati. Sania hargai kejujuran Bara. Kini Sania ngerti Bara takut nama besarnya akan menutup nilai Bara sebagai suami. Bara pasti merasa tak berguna bila berdiri di samping Sania.
"Terima kasih mau jujur Lieve! Sudah kuduga dari awal hari ini akan datang. Selama Sania menjadi isteri orang hal ini tetap berlanjut. Cuma kebetulan hidup Sania mentok pada Lieve. Lieve tak usah takut Sania akan bergerak naik tinggalkan Lieve. Kita jajaki tangga bersama. Cukup Lieve gandeng Sania dari atas. Sania tetap di bawah menanti uluran tangan Lieve." janji Sania seraya rebahkan kepala di dada lakinya.
Bara mengelus rambut Sania yang hitam terurai. Bara ragu mampu gandeng Sania berjalan menuju ke puncak. Sania sudah terbiasa di puncak dunia. Masih maukah menanti Bara yang terseok-seok meniti tangga ke atas?
"Lieve tak ragu pada cinta kasihmu. Lieve percaya cintamu tulus. Tapi pandangan mata orang tetap tertuju padamu. Kau bagai primadona berkilauan usik retina mata. Lieve takut tak mampu ikuti kilaumu."
"Lieve tak perlu berkilau. Cukup terangi hidupku. Kita gandengan hadapi tantangan hidup. Ok?"
__ADS_1