
Dhenok besarkan mata pelototi gadis hitam manis dari timur itu. Dhenok hentakan kaki ke lantai timbulkan bunyi kelutukan. Dhenok tak terima diejek Mosa bermimpi kan hal mesum tentang bos mereka. Dhenok tak mau hanya bermimpi tapi kenyataan.
"Awas kalian! Kalau aku jadi bini Pak Bara kalian semua kupecat." seru Dhenok pergi dengan wajah ditekuk kayak kertas kusut.
Yang sisa di ruang tergelak-gelak merasa lucu. Dhenok mimpi terlalu tinggi. Saking tinggi takut jatuhnya sakit bukan main. Bara mana mungkin melirik Dhenok yang terkenal suka pamer body. Pakaiannya mencetak lekuk tubuh lumayan montok. Dada bak balon baru ditiup, bokong menungging kayak pantat bebek. Pokoknya aset Dhenok memang menggoda. Laki nakal suka jajan mata ke cewek beraset jumbo itu namun belum tentu berhasrat memiliki bila tak terjaga baik.
Sania sudah tak ada di ruang kantor waktu mereka turun. Meja Sania sudah kosong. Sania tepati janji jumpa klien di dua tempat.
Tak susah bagi Sania yakinkan dua klien besar untuk percayakan pembangunan pada perusahaan Bara. Sania diterima dengan baik oleh Pak Zainal dan Dr. Cipto. Mereka tak sabar menanti hasil rancangan Sania. Sania berjanji akan serahkan rancangan dalam tempo seminggu.
Sania bahagia bisa ringankan beban Bara menyelesaikan negosiasi soal proyek dengan klien. Untuk sementara biarlah Bara fokus urusan mendiang Nania. Langkah Bara akan ringan setelah lewati tujuh hari.
Sania meneleponi Bara sambil makan siang di restoran vegetarian kesukaan Sania. Sania yang tak terlalu suka daging cocok makan di restoran tanpa suguhan daging dan ikan. Semua serba sayuran dan daging palsu dari tepung roti. Tepung roti dibuat membentuk daging. Rasanya tak jauh beda dari daging asli. Malahan lebih enak tanpa lemak.
"Assalamualaikum Lieve.." Sania terhubung dengan suaminya.
"Waalaikumsalam...kamu di mana?"
"Lagi makan. Lieve sudah makan?"
"Belum..pikir kamu pulang makan siang. Mau kujemput?"
"Tak usah. Aku mau ke lokasi proyek Pak Wandi. Tapi aku mau lihat anak Rudi dulu."
Bara kaget Sania mau pergi ke tempat proyek Pak Wandi. Padahal di situ lagi ada masalah gara gara ada orang usil ganggu pembangunan proyek. Bara harus pikir cara hentikan niat Sania ke sana. Sania tak boleh ke sana sebelum Roy berhasil bereskan semua kendala.
"Kau pulang saja. Mama kurang sehat. Mukanya pucat."
"Kenapa mamamu?"
"Sebenarnya aku tak mau membuatmu resah tapi aku harus kasih tahu. Hipertensi mama kumat."
"Ya Allah...aku pulang sekarang." kata Sania panik. Walau belum terlalu kenal sama mertua tapi secara moral Sania harus ada perhatian pada keluarga suaminya. Apalagi orang tua Bara.
"Kamu sudah siap makan?" tanya Bara kuatir pula Sania tak selesaikan makan siang.
"Packing bawa pulang saja. Sudah order belum dihidangkan. Lieve tunggu aku ya! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Kini Bara pula kebingungan cari sang mama untuk diajak main sinetron tanpa dibayar. Apa mamanya bisa diajak berakting sakit untuk kelabui Sania. Kalau ketahuan ntah apa resiko yang bakal menimpa Bara.
Bara segera cari mamanya yang sedang menemani beberapa ibu-ibu di ruang tamu. Keakraban jelas terlihat di obrolan santai wanita wanita paro baya itu.
Bara jadi bingung harus bagaimana memanggil sang mama yang lupa daratan kalau sudah bergosip sesama ibu-ibu.
Akhirnya Bara punya akal. Bara memanggil salah satu pembantu sang mama untuk kabarkan Bara kurang sehat.
Bu Jaya tentu saja cepat tanggap dengar anak kesayangan kurang sehat. Wajar Bara kurang sehat karena baru kehilangan bini tercinta.
Ibu-Ibu paro baya nan trendy mau tak mau harus bubarkan acara ngerumpi. Di antara mereka ada yang kesal tak bisa pamer kekayaan. Ada yang maklumi kondisi Bara. Apapun pola pikir mereka tak jadi soal bagi Bu Jaya. Anaknya lebih berharga dari apapun.
Bu Jaya segera menuju ke kamar Bara dengan langkah besar. Sebagai seorang ibu wajar cemas anak sendiri sakit.
Bu Jaya masuk kamar mendapatkan Bara terduduk lesu di atas tempat tidur. Dari bahasa tubuh Bara tampak ok. Tapi dari raut wajah sangat muram.
"Ada apa nak?" Bu Jaya menyentuh kening anaknya cari tahu kondisi Bara.
"Ma... sekarang mama masuk kamar dan katakan mama kurang sehat. Naik darah."
Bu Jaya menyentik kuping Bara monyongkan bibir tak senang dibilang sakit. Tubuhnya sehat walafiat kenapa harus pura-pura sakit.
"Dasar kamu...mama gini sehat kau doakan sakit."
__ADS_1
"Bukan itu gitu ma! Aku tak ijinkan Sania ke proyek sendirian. Dia mau pergi maka kubohongi mama kurang sehat. Dia sedang pulang." jelas Bara pecahkan salah paham.
Bu Jaya paham tujuan baik Bara. Ternyata Bara tak mau bini mudanya terlalu capek kejar proyek maka melarang wanitanya pergi jauh.
"Kelihatannya binimu itu bukan wanita yang hanya tahu shopping."
"Sania sangat sederhana. Tak pernah nuntut. Ayok mama ke kamar!" Bara mendorong mamanya segera pergi ke kamarnya di lantai bawah. Kedua orang tua Bara memang tidur di kamar lantai bawah mengingat usia mereka tak mungkin turun naik loteng.
"Teman mama gimana?" Bu Jaya teringat teman-teman yang masih bersantai di ruang tamu keluarganya. Bu Jaya tak enak harus usir teman satu geng tukang gosip.
"Biar kutangani. Sekarang mama masuk kamar. Ok? Pakai selimut sok sakit." pinta Bara memohon sang mama ikuti sandiwara arahannya.
"Dasar anak durhaka. Orang tua dipermainkan." Bu Jaya merepet tapi tetap bantu Bara jadi bintang film dadakan. Siapa tahu suatu saat betulan jadi pemain film. Anggap latihan menuju ke jenjang sukses calon bintang film.
Tak sampai satu jam Sania datang. Wajahnya dipenuhi aura gelap kecemasan. Untunglah para ibu-ibu sudah pergi berkat rayuan Bara. Kini rumah sepi tanpa tamu seakan memang ingin tunjukkan pemilik rumah sedang kurang sehat.
Bara sudah menanti Sania di depan pintu. Dalam hati Bara merasa berdosa telah bohongi bini sebaik Sania. Makan pun tak sempat gara dibohongi Bara agar pulang.
"Bagaimana kondisi mama?"
"Sudah agak mending setelah minum obat. Kau mau lihat?" Bara menggandeng Sania yang sedang lengah tak sadar digandeng Bara. Dalam kondisi waras Sania pasti menolak umbar kemesraan secara umum.
"Ayo!"
Sania mau saja ditarik masuk kamar mertuanya.
"Assalamualaikum.." sapa Sania tetap berada dalam koridor sopan.
"Waalaikumsalam...masuk!"
Perlahan pintu dibuka. Sania disuguhi pandangan menyedihkan. Bu Jaya terbaring lesu di atas tempat tidur. Wajah mertuanya sedih seolah memang tak nyaman.
"Mana tak enak ma? Kita ke rumah sakit?" Sania hampiri mertuanya bertanya dengan lembut.
"Sudah panggil dokter?"
"Sudah. Kata dokter tak apa. Penting banyak istirahat." Bara yang nyahut. Akting Bu Jaya terlalu berlebihan. Bara takut Sania menangkap kejanggalan akting mamanya.
"Syukurlah! Mama sudah makan?" Sania masih positif thinking Bu Jaya memang kurang sehat.
"Sudah...sudah.." sahut Bara cepat.
Bu Jaya ingin sumpal mulut lancang Bara. Kapan dia makan? Padahal rencana tadi mau ajak para konco makan siang bersama. Jawaban beracun Bara sukses bikin Bu Jaya menahan lapar selama Sania berada dalam kamarnya.
"Sania ada bawa vegetarian food. Kalau mama mau biar Sania hidangkan." tawar Sania masih tetap lembut. Bu Jaya suka pada nada Sania yang sopan hargai Bu Jaya sebagai orang tua.
"Boleh...mama tak pernah coba makanan vegetarian."
"Oh..mama tunggu ya! Sania minta bibik hidangkan!" Sania keluar dari kamar setelah beri tanda pada Bara dia keluar.
Mata ikuti langkah Sania sampai hilang di makan pintu kayu jati. Bara bangga dapat bini demikian pengertian. Nania yang jauh lebih tua tak setia macam Sania.
"Kamu ini ya! Mau mamamu betulan sakit?" bentak Bu Jaya gemas merasa dikerjain anaknya.
"Ssssttt...jangan besar suara! Nanti didengar biniku. Kabur baru mama nyaho." Bara beri kode agar Bu Jaya anteng pakai jari disisipkan ke bibir.
"Kamu nakal sekali. Bohongi bini lalu siksa mama. Kau cari mati ya?" Bu Jaya kecilin volume suara agar Sania takut Sania dengar.
"Ini caranya jaga Sania agar jangan capek! Anak itu sudah ditaklukkan." bisik Bara suarakan isi hati belum mampu laksanakan tugas sebagai suami tulen.
"Jangan kau bilang belum kau bikin peta di tubuh Sania!"
Bara tertawa kecil dengar bahasa halus mamanya. Geli rasanya sang mama bisa bikin kata kiasan sangat tak lazim. Biasa orang akan bilang belah duren atau nikmati malam melelahkan sebagai pengantin baru. Ini malah bikin peta. Apa yang mau dilukis di sana.
__ADS_1
"Sania itu landak susah di dekati." bisik Bara takut tiba-tiba bini kecilnya muncul.
"Ya ampun kamu ini. Bini semulus gitu cuma kau pandangi. Rugi banget!"
Kali ini Bara tertawa pahit bayangkan betapa sulit jadikan Sania sebagai isteri lahir batin.
"Aku tak mau memaksanya. Baru di dekati dia sudah keluar keringat dingin. Bagaimana aku tega berbuat lebih jauh." kata Bara pahit. Mungkin lebih pahit dari kopi pahit manapun.
"Gitu ya! Apa perlu bantuan mama?"
"Tidak...perlahan saja! Aku yakin bisa taklukkan Sania. Mama doa saja cepat dapat cucu."
"Ok...mama pesan kembar tiga." gurau Bu Jaya semangati Bara untuk taklukkan Sania di ranjang.
"Satu saja belum tentu kapan brojol. Minta tiga pula. Doa saja ma!"
"Pasti..." kata pasti Bu Jaya dibarengi kemunculan Sania. Gadis ini membawa nampan di tangan penuh makanan.
Air liur Bu Jaya nyaris meleleh pingin rasakan makanan bawaan Sania. Bagaimana rasanya makan makanan tak bernyawa. Apa senikmat ayam, daging sapi ataupun ikan laut. Bu Jaya akan coba buat pertama kali.
Sania mendekatkan nampan ke depan Bu Jaya harap Bu Jaya suka makanan pilihannya. Ada semur daging palsu, seafood asam manis dan tumis baby kailan. Sekilas mirip daging betulan, begitu juga udang asam manis. Padahal itu hanya tepung roti dibentuk aneka model.
Bu Jaya tak sabar mau coba hidangan dari menantu. Tak sia-sia dia berakting sakit. Bayarannya dilayani penuh kasih sayang oleh menantu.
"Sania suapi ya!"
"Tak usah! Mama bisa kok!" Bu Jaya ambil alih sendok dari tangan Sania yang sudah siap menyuapi mertua. Bu Jaya makan udang asam manis langsung terbelalak kaget. Rasanya mirip udang tulen. Rasanya cukup nikmat.
Satu persatu makanan pindah ke perut Bu Jaya hampiri ludes. Bu Jaya hampir lupa dia sedang berakting sakit. Beliau makan sampai lupa diri. Bara kuatir sandiwara mamanya bisa terbongkar bila rakusnya dipelihara.
Sania menemani Bu Jaya makan tanpa komentar. Bagi Sania mertuanya mau makan sudah syukur. Makin banyak asupan gizi makin cepat pulih. Dan lagi makanan vegetarian tidak berbahaya bagi orang usia lanjut karena tak mengandung banyak kolesterol.
"Enak?" tanya Sania lembut.
"Enak...terima kasih nak! Mama kekenyangan ingin keluar jalan sebentar."
" Jangan! Mama jangan banyak gerak selagi kurang sehat. Sania akan temani mama di sini."
Bu Jaya ingin mencakar wajah Bara menyusahkan dia. Gara anaknya minta dia jadi bintang film dadakan Bu Jaya jadi tak bebas. Di bawah pantauan menantu setia pula. Bu Jaya mana tega sakiti hati Sania yang berniat baik.
"Mama istirahat saja. Kalian boleh pergi makan siang. Ini sudah telat."
"Mama yakin bisa ditinggal?" Sania masih kuatir takut terjadi sesuatu tak diinginkan.
"Mama sudah kuat. Mama istirahat sebentar. Nanti malam masih ada acara tahlilan."
"Tak usah mama pikir itu. Akan Sania urus semuanya. Yang penting mama sehat dulu." Sania membereskan sisa makan mertuanya bermaksud pindahkan ke dapur.
Bu Jaya senang dapat menantu pengertian juga rajin. Mengapa Bara tak jumpa Sania dari dulu. Mengapa harus jumpa wanita wanita yang menggilas Bara hingga hancur remuk.
Di balik semua itu ada hikmahnya. Bara sudah rasakan asam manis bergaul sama wanita-wanita tak berakhlak bagus. Mungkin ini bisa jadi pelajaran bagi Bara untuk tak masuk lobang sama. Cukup jatuh sekali. Jangan terulang dua kali.
Bara menatap punggung Sania hilang di balik pintu. Bara merangkap tangan minta terima kasih pada mamanya telah berakting walau tak bisa dibawa ikut raih piala Citra.
"Thank you ma! I love you." bisik Bara pelan menyusul Sania keluar kamar.
Bara mencari bayangan Sania di dapur. Bara hendak ajak Sania makan siang. Fadil dan Pak Jaya tak tampak batang hidung. Bisa jadi papanya pergi ke kantor karena banyak urusan di sana. Kantor papanya tak bisa sesantai kantor Bara karena jangkauan perusahaan papanya sangat luas.
Di sana benar benar sibuk tak ada waktu leha-leha. Fadil yang bantu papanya sering kebagian lembur bila sedang eksport bahan baku ke luar negeri. Begitu juga bila stok barang masuk dari luar negeri. Untunglah Fadil tanggap walau konyolnya minta ampun.
Fadil tak recoki Sania berapa hari ini memang sedang sibuk. Lajang itu tak punya waktu ganggu kakak ipar yang dia incar. Fadil berjanji akan rebut Sania dari tangan Bara bila abangnya lengah. Sania pantas diperjuangkan. Sania bukan cewek manja hanya tahu cara hambur uang.
Fadil suka karakter Sania tak menyusahkan orang. Sania memberi kesan wanita kuat.
__ADS_1