
"Lalu kenapa muncul dosa ente? Minta jatah super cepat?"
"Aku lupa ngasih uang belanja dari awal nikah. Dulu dia cuek bebek tak pernah tanya. Lha sejak hamil dia sindir aku habisan. Manyun dua puluh empat jam." keluh Bara putus asa.
Giliran Roy merasa kupingnya digelitik bulu ayam. Gatal-gatal sedap. Roy kesal bukan main pada Bara yang tak paham kewajiban seorang suami. Bini mana sanggup bertahan tanpa dinafkahi. Masih untung wanita itu Sania. Kalau diganti wanita lain mungkin sudah minta ditalak.
"Nania juga tak kau nafkahi?"
"Nania? Dia selalu ingatkan aku soal itu. Tapi Sania kok kayak cuek, buntutnya hakimi gue pakai acara ngambek."
Kalau Bara bukan bosnya rasanya ingin Roy tinju wajah Bara sampai bonyok. Bini dulu dinafkahi tapi giliran dapat yang muda malah lupa. Gampang banget omong lupa. Bagi Bara mungkin persoalan sepele namun bagi seorang bini itu tanda Bara tak hargai Sania sebagai bini. Sania tak ada di mata Bara.
"Bara..kalau kau anggap Sania sebagai pembantu ataupun karyawan tetap harus ente beri gaji. Parahnya dia bini ente. Hatinya pasti hancur tak pernah kau nafkahi secara materi. Tubuhnya ente pake tapi hatinya ente remukkan."
Bara mencari kebenaran dari kata-kata Roy. Tak ada yang salah. Roy ungkapkan kebenaran dari salah satu tugas Bara selaku laki punya bini.
"Aku harus minta maaf lagi. Aku akan buat ATM biar dia bisa belanja semua kebutuhan. Gue memang jarang lihat dia belanja. Hari-hari kerja melulu." gumam Bara ntah pada siapa. Bara bertekad perbaiki kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Sania anak baik. Terlepas dia mantan Bobby. Kini dia tanggung jawabmu. Andai ente tak sanggup serahkan padaku! Aku siap jadi papa dari bayimu." ujar Roy santai.
Bara mendelik meluncurkan pulpen ke arah Roy. Roy mengelak sehingga pulpen jatuh kembali ke meja rapat. Tidak rugi Roy rajin olah tubuh jadi gesit. Serangan mendadak Bara terpatahkan.
"Buang ilusi semu dari otakmu. Sania adalah bini gue. Gue mundur dari juri interview. Ente dan Rudi yang urus. Gue ngak mau kembangkan bibit penyakit." Bara bangkit dari kursi langsung keluar.
"Ok...ini lebih bagus! Rayu tuh bini ente biar jatah malam ente tak disunat." seru Roy dibarengi tawa ngejek. Roy bahagia lihat Bara kelimpungan harus melancarkan misi perdamaian dengan Sania. Sania umumkan perang terbuka bukan salah wanita itu. Bara yang tolol lewatkan kesempatan jadi suami ideal. Makan tuh keangkuhanmu rutuk Roy dalam hati.
Bara kembali ke ruangnya di lantai sepuluh lewat tangga manual. Bara tak ingin lewati Arsy dan yang lain yang duduk berderetan di bangku tunggu dekat lift. Bara naik via lift artinya akan jumpa para pelamar kerja termasuk ada Arsy di situ. Menghindari masalah lebih bagus ketimbang kaku jumpa mantan dari masa lalu.
Bara masuk ke ruang kerja langsung duduk di kursi kebesaran big bos. Bara mengusap wajah menyesali beberapa hal yang terlewatkan dari hidupnya. Mengapa dia demikian kaku pada Sania. Tak ada pembuktian sedikitpun kalau Sania itu isteri sah Bara. Foto mereka tak terpajang di meja Bara, yang belanja tak sampai ke tangan yang berhak. Bara lupa yang lebih fatal yakni cincin nikah. Bara mungkin belum terpikir sampai ke situ.
Tak terbayangkan andai Bara teringat soal cincin untuk Sania. Berapa ton bertambah dosa Bara pada Sania.
Bara bangkit dari tempat duduknya buka pintu penghubung ke ruang Sania. Sania tak menyadari Bara sudah berada di pintu penghubung memandang Sania dengan tatapan mata penuh penyesalan. Dengan cara apa Bara harus menebus rasa salah di dada.
Bara berpikir sejenak tindakan apa yang harus dia lakukan untuk kembalikan keceriaan Sania. Sania orangnya simpel tidak neko-neko. Sedikit bujukan mungkin bisa tenangkan bininya itu.
Bara beranikan diri dekati Sania. Laki ini memeluk Sania dari belakang tanpa ijin wanita cantik itu. Sania menggeliat sebentar tanpa menoleh ke belakang. Wanita ini sudah tahu siapa yang berani memeluknya kalau bukan Bara si brengsek..
"Kita makan siang di mana?" tanya Bara meletakkan dagu di ubun kepala isterinya.
"Aku sudah janji sama Pak Elmo makan siang di restoran dekat sini. Ada yang mau kami bahas sebelum bertolak ke pulau B." Bara menangkap bongkahan es dingin dalam nada suara Sania. Hati Bara ikut membeku diperdengarkan suara sedingin udara Antartika.
"Lieve ikut ya! Kita belum pernah makan siang secara resmi dengan bos PT. SHINY."
"Pak Elmo bukan bos besar PT. SHINY. Ada bos lagi." cerita Sania tanpa diminta.
"Wow...kau kenal?"
"Kenal banget! Oya...aku sudah masukkan dua tender baru! Proyek medium namun menguntungkan. Seputaran sini."
Dada Bara mencelos dengar Sania berniat buat tender baru. Yang sudah ada belum selesai satupun tapi dia berani ambil resiko cari proyek baru. Wanita model apa bininya ini.
__ADS_1
"Sayang...kita tak boleh tamak. Yang sudah ada belum kelar bagaimana kita bagi perhatian pada proyek baru?"
"Lieve...proyek itu tak menunggu orang tak punya nyali. Kita bisa masukkan tender untuk jadikan stok pengerjaan beberapa bulan ke depan. Kulihat proyeknya ada satu pengerjaan tahun depan. Apa harus kita lewatkan?"
Bara tergugu kena sindiran Sania. Ke mana mental Bara sebagai kontraktor lihay? Masak harus kalah sama anak kemarin sore? Dasi di leher jatuh jadi syal cewek.
"Gimana bagus kamu saja? Sekarang kamu bos aku. Aku patuh saja padamu."
"Bukan gitu Lieve! Setiap proyek pasti ada finishnya. Kita tak boleh terpaku pada yang ada. Harus berani tangkap mangsa walau terasa sulit. Kalau tidak kita bisa kelaparan setelah proyek ini tuntas."
"Iya...dengar nasehatmu! Sayang...Lieve minta maaf tak jaga perasaanmu. Lieve minta maaf seribu sekalipun takkan mengubah yang sudah terjadi. Lieve tak peka sayang seorang isteri butuh kasih sayang dan kebutuhan hidup. Lieve akan berusaha adil padamu. Maukah sayang maafkan Lieve yang bodoh ini?"
Bara mendengar helaan nafas halus Sania. Wanita ini seakan menanggung beban batin cukup berat. Menjadi isteri kedua dari bos yang tak punya empati bukanlah hal gampang. Bara terlalu kaku menjadi seorang laki. Isteri sendiri di abaikan. Giliran para mantan dalam kesulitan Bara akan tampil sebagai pahlawan kesiangan menolong mereka. Ntah itu Maya ataupun Arsy.
"Tak usah bahas itu lagi. Lieve pelajari tenderku. Aku akan kirim ke kotak email Lieve." Sania enggan bicarakan masalah pribadi di kantor. Di kantor Bara dan Sania hanya atasan dan bawahan, yang dibawa ke dalam pembahasan tetap soal kerja. Sania tak suka digabungkan masalah rumah tangga dengan pekerjaan.
"Baiklah! Kabari Lieve kalau jadi makan dengan Pak Elmo." Bara menyerah merayu Sania di kantor. Di kantor Sania normal tanpa meminta hal aneh-aneh. Di sini Sania bertingkah seolah tidak hamil. Proyek bisa cuci otak Sania kembali jadi Sania tanpa embel-embel ibu hamil.
Bara balik ke ruangnya dengan hati hampa. Ternyata tak gampang dapatkan sepatah kata maaf dari Sania. Mungkin Sania terlalu sedih diabaikan berbulan-bulan hingga tak mampu sisakan tempat kosong isi kata maaf.
Bara sengaja tak tutup pintu penghubung untuk pantau gerak gerik Sania. Sebentar-sebentar Bara lemparkan pandangan ke arah wanita muda itu. Wanita itu hanya bergerak di tempat tanpa bangkit dari kursi empuknya. Mata dan tangan yang bergerak memantau layar komputer dan tangan menggambar.
Ponsel Sania berbunyi. Sania langsung mengangkat ponsel dibarengi senyum tipis di bibir. Bara menduga siapa yang telepon bisa ciptakan senyum manis di bibir mungil Sania.
"Assalamualaikum pa..."
Bara tajamkan kuping intai siapa yang telepon. Jangan-jangan Bobby balik menggoda Sania setelah Ranti masuk penjara.
"Sudah..semua aman. Papa tak usah kuatir. Cucu-cucu papa sehat kok."
"Syukurlah! Oya papa ada kabar baik buatmu. Tadi ada kabar dari Jerman mau kerja sama soal alat berat. Mereka akan kirim alat-alat berat komersial untuk kita. Setelah laku baru bayar. Kita cuma disuruh sediakan gudang untuk stok alat dari mereka. Apa pendapatmu?"
"Kejar target?"
"Tidak dibilang. Mereka cuma menawarkan kerjasama."
"Sania akan coba hubungi mereka. Andai tak kejar target kita boleh coba. Di sini kita juga masukkan modal tak kecil. Membangun gudang cukup besar biaya. Sania sarankan sewa gudang dulu. Jangan bangun! Kita tunggu prospek perkembangan penjualan. Kalau lancar baru bangun gudang sendiri."
"Saran bagus...otakmu memang encer! Papa dan Fadil akan ke Jerman untuk lihat langsung pabrik mereka."
"Itu lebih bagus...Nanti Sania sediakan guide untuk bantu papa dan Fadil. Ada saudara jauh di Jerman. Gadis blasteran Belanda Sunda."
"Papa bersyukur kamu punya banyak koneksi. Kita bincangkan di rumah nanti."
"Iya pa...besok kami akan berangkat ke pulau B."
"Bara sudah bilang. Kamu harus hati-hati jaga cucu papa ya!"
"Dengan segenap jiwa!" sahut Sania diplomasi.
Pak Jaya terkekeh dengar sahutan Sania gagah berani. Pak Jaya bersyukur dapat menantu yang plus dalam segala hal. Cepat tanggap semua masalah.
__ADS_1
"Ya sudah.. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Sania meletakkan ponsel di atas meja fokuskan kembali pandangan ke layar komputer.
Bara dengar sekilas percakapan Sania dengan seseorang. Bara menduga itu papanya. Sania bertutur kata sopan hormati posisi Pak Jaya selaku mertua. Sania makin dapat ponten tinggi dari keluarga suaminya.
Bincang sama mertua nada suara riang, bicara dengan suami dinginnya minta ampun. Siapa sih lebih penting dalam hidup Sania? Suami atau mertua?
Bara tak fokus kerja imbas sikap jutek Sania. Ternyata begini rasanya diabaikan. Sedih sesak di dada. Bara sudah dapat jatah nikmati kursi tersisih. Terbuang jauh di pinggir hati. Apa Sania juga demikian sedih diabaikan Bara?
Bara kaget waktu lihat Sania bangun dari kursi berjalan keluar ruang kerja menenteng paper bag. Ke mana Sania akan pergi? Kok tidak pamitan?
Wah makin ngelunjak wanita ini berani main kabur tanpa ijin suami omel Bara sukses makan hati.
Dari jauh terdengar azan berkumandang. Panggilan rutin untuk umat muslim melapor pada Allah SWT. Peringatan dini bagi suami suka suudzon pada bini. Bara terhempas oleh rasa malu berpikiran buruk pada bini mungil. Sania pasti pergi sholat di mushola mini di lantai sepuluh ini.
Bara cepat-cepat bangkit menyusul Sania untuk jadi imam bagi bininya. Menjadi imam bagi bini adalah pahala. Lebih pahala bisa menjadi suami dunia akhirat bagi isteri sah.
Benar dugaan Bara. Sania bersiap-siap laksanakan sholat bersama Putri. Dea beragama Kristen tentu dibebaskan dari jam sholat Zuhur. Di lantai sepuluh hanya ada empat penghuni yakni Bara, Sania, Dea dan Putri. Yang lain rata-rata berada di lantai bawah.
Bara ambil air wudhu sebelum masuk ke mushola mini di lantai sepuluh. Putri tahu diri segan barengan sholat dengan Sania. Suami Sania memimpin sholat maka tak seharusnya Putri yang bukan muhrim Bara ikutan sholat bersama.
"Kalian duluan San...aku nyusul saja!" Putri meringsut hendak pergi.
"Tak apa...anggap saja Pak Bara imam seluruh karyawan. Aku tak keberatan Pak Bara imami kamu kok. Tapi cuma sholat, tak boleh keluar dari garis batas."
Putri mencibir ngejek temannya mulai bucin pada suami.
"Aku sudah punya mainan tak kalah menarik dari suamimu. Lebih lucu dan gokil. Cuma punya masa lalu dikit suram."
"Tunggu...maksudmu Rudi?"
"Ya...dia cerita semuanya padaku."
"Dasarnya dia baik cuma terjebak seperti Pak Bara. Kalau ada cewek pecicilan yang namanya Arsy ente sikat habis. Kalau perlu sikat pakai sikat WC biar wangi dia."
"Siippp...bantu ente juga segarkan otakku."
"Maumu saja! Cemburu ya pada Arsy! Nanti kuberi kode kalau dia datang. Seperti kuntilanak tak mempan diusir pakai cara sopan. Harus kita undang dukun beranak usir Kunti songong itu."
Bara datang dari belakang usai ambil air wudhu. Rambut depan Bara berkilauan dihiasi butiran sisa air wudhu. Wajah laki itu bercahaya pancarkan aura memikat Sukma cewek. Sania selaku bini terpesona oleh kharisma Bara. Putri tak luput dari pesona suami sahabatnya.
Putri cepat tersadar tak boleh punya angan indah pada milik sahabat sendiri. Putri harus tahu diri sebagai sahabat, bukannya menikung sahabat sendiri. Justru Putri harus jadi pendukung cinta dua pasangan beda generasi itu.
Bara ambil posisi di depan menjadi imam bagi dua wanita di belakang. Satu isteri dan satunya pegawai. bara hanya memimpin sholat bukan merekrut kedua wanita itu jadi isteri. Satu isteri cukup memusingkan. Bagaimana harus menimbang dua bini. Kepala Bara bakal lebih cepat licin dicukur oleh tanggung jawab moral dan beban batin.
Putri cepat-cepat tinggalkan mushola mini lantai sepuluh seusai sholat. Putri tak punya hak Salami Bara karena Putri bukan muhrim Bara. Sania satu-satunya wanita paling berhak dapat pahala dari suami.
Bara mengelus kepala Sania yang tertunduk ciumi punggung tangan Bara. Rasa adem mengalir dari jantung mengaliri seluruh nadi. Nyaman datangkan ketenteraman.
"Apa doamu sayang?" tanya Bara lembut berusaha rebut kasih sayang Sania.
__ADS_1
"Doa tak boleh diungkapkan. Cukup simpan di hati. Lieve tak perlu kuatir. Aku tidak jahat doa yang bukan-bukan."