
Sania sendiri akui Rangga cukup tampan. Punya nilai jual cukup tinggi. Cuma selama ini Rangga bersembunyi menutupi diri siakan karunia Tuhan. Secara tak langsung Sania berandil menutupi ketampanan Rangga. Laki itu jadi begini karena kehilangan adik tercinta.
"Ssssttt...air liur mu sudah banjiri lantai. Nanti semua tenggelam." olok Sania sadarkan Lisa agar jangan norak lihat cowok ganteng. Walau cowok itu Abang Sania.
"Sialan lhu! Rusak mood gue!" Lisa mencubit pinggang Sania dengan kuat. Lisa malu kepergok kagumi Rangga.
Sania mengaduh kesakitan sambil mengelus bekas cubitan Lisa. Rangga bergegas dekati Sania begitu dengar adiknya menjerit kesakitan. Wajah kuatir Rangga buat Lisa cemburu. Kenapa Rangga kelihatan sangat kuatir pada Sania. Apa cowok incarannya sudah jatuh hati pada Sania?
"Ada apa dek?" buru Rangga perhatian.
"Oh tak ada mas...digigit semut nakal! Tuh mau kumatiin!" Sania lancarkan tatapan membunuh pada Lisa. Lisa melengos lihat langit walau mata agak silau. Lebih baik silau daripada malu ketangkap basah berbuat sadis pada Sania.
"Syukurlah! Kirain ada apa. Lisa mau ikut belanja?" tanya Rangga mulai ramah.
Lisa ingin sekali menjerit dengar suara empuk empuk basah Rangga. Baru hari ini Rangga bicara normal layak manusia. Biasa cuma ya, tidak, oh kadang ehm.
"Dia ikut mas...nanti nangis kalau ditinggal. Biasa balita galau." Sania sengaja ejek Lisa di hadapan laki pencuri hati.
Sania tertawa geli lihat cara Lisa menarik perhatian Rangga. Harus diakui ada sedikit norak. Tapi masih ok tak menjurus lebay.
Kalau bukan jaga image ingin rasanya Lisa cabe mulut Sania dengan cabe rawit. Biar gadis nakal ini jerit minta ampun. Lisa tahu Sania paling tak bisa makan pedas.
Lisa meringis diejek habisan oleh Sania. Mana mungkin Lisa nolak pergi jalan sama Rangga sang pujaan. Kumal saja Lisa suka apalagi sekarang rapi. Rasa suka naik level.
" Ya sudah..kita pergi bareng. Mas yang nyetir ya!"
" Ok...yok! Lisa pasti mau ganti baju. Dia mau mejeng pancing om mata keranjang. Kali aja jadi bini ke dua belas." Sania makin dapat angin ejek Lisa. Kesempatan bagus lumatkan gadis iseng ini.
Lisa ngeloyor pergi tak open pada Rangga dan Sania yang memandangnya heran. Kok tiba tiba pergi tanpa ucap salam. Keduanya tak tahu Lisa lagi kesal dikerjain Sania di depan Rangga.
Setelah Lisa pergi, Sania mengeluarkan kartu dikasih ke Rangga. Rangga menatap heran pada kartu itu.
"Apa ini?"
"Ini kartu tanpa limit. Mas belanja pakai ini. Sekalian beliin Lisa sesuatu kalau dia mau. Mas cowok harus punya gaya cowok "
Rangga tersenyum setelah tahu niat Sania mau naikkan pamornya di depan Lisa.
"Simpan saja kartumu. Mas punya uang kok sekedar bayarin kalian. Mas kan bergaji. Mas yang harus nafkahi kamu dek! Bukan sebaliknya. Mas mu tak kere amat!"
Sania mangut tak memaksa. Mungkin Rangga jaga harga diri jangan sempat jatuh di hadapan Sania. Baru ngaku sebagai Abang sudah peras adik sendiri. Itu bukan sosok cowok sejati.
"Baiklah mas! Yok susul Lisa! Sudah ijin sama Pak Bur?"
"Sudah. Beliau senang aku mau main. Katanya bagus buat anak muda."
"Bapak pengertian. Yok mas cepat! Panas banget!"
"Kalian cewek panas dikit ngeluh. Kelewat putih juga tak bagus. Pucat. Kita orang timur kulitnya kuning Langsat. Itu sehat." kata Rangga segera susul adiknya yang sudah kabur duluan.
__ADS_1
Rangga jarang keluar dari bengkel kecuali penting sekali. Paling beli nasi di warung terdekat. Itupun jaraknya tak sampai seratus meter. Sekarang Rangga akan keluar dari sangkar hirup udara bebas. Rangga bisa saja keluar sangkar karena pintunya tak dikunci, Rangga yang keberatan tapakkan kaki keluar dari bengkel sebelum ketemu orang yang dicari.
Sania sudah di depan mata walau Sania belum ngaku secara resmi dia adalah Santi. Hati kecil Rangga yakin itu adik kandungnya.
Adiknya mau nikah maka Rangga wajib posisikan diri sebagai Abang bertanggung jawab. Mereka masih punya bapak tapi bapak tak bisa ditampilkan. Bapak setali tiga uang dengan setan. Jahat berhati iblis.
Lisa berdandan secantik mungkin biar bisa pamer pada Rangga pujaan hati. Lisa mau tikung Sania merebut hati Rangga. Lisa tak tahu apa yang terjadi antara dua manusia itu. Di mata Lisa cowok pujaannya jatuh cinta pada Sania.
Lisa tak mau kalah set. Dia harus berjuang jadi pemenang. Victoria buat Lisa. Begitulah kira kira anggapan Lisa. Sania sudah banyak yang suka jadi kali ini Rangga harus pindah hati suka padanya.
Rangga betul betul merasa bahagia bisa ketemu Sania yang dia anggap adiknya sendiri. Sania boleh tak akui Rangga tapi darah tetap lebih kental dari air. Rasa persaudaraan tak mungkin berbohong. Rangga merasakan ada ikatan dengan Sania.
Sania membawa Rangga ke toko pakaian khusus untuk cowok. Pakaian di toko itu lumayan mahal walau bukan branded ternama. Bagi Sania bukan utamakan branded tapi kualitas pakaian dan rasa lega memakai pakaian tersebut.
Sania yang turun tangan beli pakaian Rangga takut selera laki itu buruk. Sania juga minta pendapat Lisa soal pakaian Rangga. Gadis itu bantu pilih yang tak resmi karena tahu Rangga hanya montir bengkel tak perlu pakaian ribet.
Rangga diam tak berkutik dijadikan model dadakan oleh dua cewek reseh. Berkali kali Rangga ganti baju untuk penuhi selera Sania plus selera Lisa.
Puluhan pasang pakaian pilihan dua cewek itu berakhir di kantong karton. Sania tak ijinkan Rangga bayar. Sania gunakan kartunya bayar semua belanjaan pakaian Rangga.
Lisa tak berdaya tak bisa unjuk gigi di depan Rangga. Dananya memang tak cukup bayar pakaian Rangga. Mungkin capai puluhan juta. Lisa lihat semua kelas atas.
"Kau mau beli apa Lis?" tanya Sania setelah mereka keluar dari toko pakaian lelaki.
"Ngak ada...kita makan es cream saja! Udara sepanas gini cocok makan yang segar." usul Lisa melirik Rangga yang hanya ngekor tanpa saran.
Mata Rangga berbinar Sania masih ingat kalau dia tak suka es cream. Kalau orang tua mereka beli es cream jatah Rangga selalu diberi pada Sania. Tak diragukan lagi Sania memang adiknya.
"Hei..sejak kapan ente tahu selera mas Rangga. Jumpa juga baru dua kali." semprot Lisa makin tak senang.
"Tebak...laki biasa tak suka manis." Sania mengelak ketahuan ingat sifat Rangga.
"Ya sudah kita makan es cream!" Rangga tengahi dua gadis muda itu biar jangan adu mulut lagi. Kedua gadis ini memang akrab tapi kalau sudah bertemu tak ubah seperti tom dan jerry. Kucing dan tikus dalam seri kartun anak anak. Berteman tapi berantem tiap hari.
Ketiganya segera masuk salah satu gerai khusus jual es cream aneka rasa. Kehadiran mereka disambut alunan musik lembut buat orang betah. Terutama pasangan muda yang sedang memadu kasih. Nikmati es cream lembut lumer di mulut bersama orang tercinta mungkin rasa es cream akan meresap jauh ke jantung. Lembut meleleh membalut hati.
Lisa memesan es cream sesuai keinginan masing masing. Lisa memesan rasa cappucino untuk Rangga karena sadar laki itu tak terlalu suka es cream. Dia mau ikut selera mereka hanya untuk menyenangkan gadis gadis muda yang baru akrab.
"Kalian makan dulu es creamnya. Aku ke toilet sebentar." Sania bangkit dari tempat duduk langsung pergi tanpa menanti jawaban.
Lisa dan Rangga tak bisa menahan Sania karena gadis itu pergi menunaikan panggilan alam. Tinggallah dua anak muda dalam suasana kaku. Tanpa adanya Sania sang adik sifat dingin Rangga mencuat lagi. Kini Rangga hanya diam tak ajak Lisa ngobrol. Mereka dua malu malu tak tahu harus bagaimana. Sekali kali Rangga melirik gadis di depannya lantas menunduk lagi.
Lisa tak kalah grogi. Mulutnya yang biasa bocor seolah tersumbat tak bisa keluarkan suara. Yang ada hanya alunan musik membantu dikit halau kekakuan makin lebar.
Sania sengaja beri kesempatan Rangga dan Lisa berduaan. Ke toilet hanya alasan Sania hindari dua manusia itu. Semoga Lisa pandai ambil hati Rangga di saat ini.
Sania pergi ke toko jual jam tangan pria. Sania hendak membeli jam tangan untuk Rangga. Rangga kelihatannya memang tak punya apapun. Dia keluar dari rumah hanya bawa badan tanpa bawa fasilitas apapun. Sania tak mau abangnya dipandang rendah oleh keluarga Bara. Di mulut Sania boleh tak mengakui Rangga sebagai abang tapi dalam hati Sania seratus persen akui Rangga adalah abangnya.
Kalau dia menikah nanti dengan Bara maka yang harus jadi wali adalah Rangga. Pernikahan Sania lebih afdol bila walinya abang kandung sendiri.
__ADS_1
Sania memilih satu persatu jam tangan mewah yang harganya selangit. Finalnya Sania memilih merek Rolex warna metal seharga hampir dua ratus juta. Jam tangan elegan cocok untuk laki berbadan tegap macam Rangga. Abangnya lumayan ganteng. Sania ingat papanya adalah laki ganteng blasteran Indonesia Jerman. Banyak cewek jatuh cinta pada papanya termasuk mamanya yang sudah meninggal.
Sania kembali membeli kacamata hitam untuk abangnya. Sania mau Rangga tampil keren untuk hari selanjutnya. Sania punya segalanya jadi wajar berbagi pada orang yang sangat sayang padanya sampai korbankan masa depan demi cari adik yang raib selama bertahun tahun.
Pilihan Sania jatuh pada Bvlgari warna hitam. Harganya tak terlalu mahal namun mewah. Kacamatanya sederhana namun macho. Sania tersenyum bayangkan abangnya bakal makin tampan bila mengenakan kacamata tersebut. Cewek pasti pada histeris.
Sania berniat beli sepatu tapi tak tahu ukuran kaki Rangga. Salah salah malah tak muat. Niat ini Sania urungkan agar jangan salah beli. Sania memilih balik ke cafe es cream di mana Lisa dan Rangga sedang tapa bisu.
Sania membayar harga kacamata Rangga tanpa beban. Sania ikhlas membeli untuk Rangga. Tak rugi bagi rezeki pada abang sendiri. Orang lain saja Sania bantu dengan senang hati apalagi abang sendiri. Sania mau Rangga bangkit tanpa bantuan orang tua yang jahat minta ampun. Sania berjanji akan kuliti semua yang telah berjasa mengantar ibunya ke surga.
"Sania..."
Sania membeku mendengar namanya dipanggil seseorang. Suara yaang harus dihindari setelah kejadian menyakiti hati. Sania tak mau menahan langkah. Gadis ini tak menoleh menjauhkan diri dari asal suara yang bisa bangkitkan kenangan buruk.
Sania berlari kecil hindari pemilik suara yang seperti momok bagi Sania. Mimpi buruknya nyaris berlalu. Haruskah mimpi itu terulang lagi di saat Sania telah move on.
"Sania tunggu...ini aku!" seru suara itu bergema makin keras. Sania percepat langkah berlari kecil tak mau jumpa dengan pemilik suara macam monster itu.
Sania bersembunyi di salah satu toko pakaian wanita. Sania belum siap jumpa Bobby pada saat ini. Bobby bisa ganggu kesenangan Sania bersama Lisa dan abangnya.
Bobby menggeram marah kehilangan jejak Sania. Bobby senang bukan main melihat Sania berada di toko kacamata. Bobby sendiri memang berniat beli kacamata rayban untuk perjalanan ke pulau B. Tak disangka jumpa wanita yang dicarinya. Tinggal rayu Sania berikan rancangan pulau B maka kerjakan akan lebih gampang.
Sania gadis sederhana mudah dikibuli. Dirayu dikit pasti akan kembali padanya. Bobby pikir akan jadikan Sania bini muda biar semua proyeknya bisa lancar lagi.
"Cewek sialan..." rutuk Bobby jengkel. Mata Bobby mengitari seluruh mall cari bayangan Sania. Namun Sania bagai ditelan bumi. Jangankan bayangan Sania, jejakpun tak tampak sama sekali.
"Mas Bob..." suara manja Ranti menutup tatapan Bobby terhadap seluruh lantai mall.
Ranti yang sedang hamil hampiri Bobby dengan wajah berseri. Tangannya menenteng beberapa kantong merek ternama. Ranti habis borong beberapa pakaian untuk ibu hamil. Penampilan tak boleh kendor walau hamil. Ranti adalah publik figur maka penampilan harus tetap nomor satu.
"Sudah selesai?" tegur Bobby datar. Berapa puluh juta melayang lagi desah Bobby dalam hati. Kenapa dia bisa nikahi wanita matre macam Ranti? Wanita tak punya akal sehat gerogoti uang suami tanpa pikir akibat dari sifat borosnya.
"Sebenarnya masih ada beberapa sandal harus kubeli tapi aku sudah lelah. Dedek bayi pingin istirahat! Kita ngemil dulu yok!"
"Kau mau makan apa?"
"Es cream rasa coklat. Bukan aku yang mau tapi anakmu lho!" Ranti merengek manja.
Sania kaget setengah mati dengar Ranti minta makan es cream. Mereka bisa jumpa nanti. Sania segera kirim wa pada Lisa agar pergi dari cafe es cream. Sania minta jumpa di tempat parkir.
Untunglah Bobby dan Ranti pergi dari toko tempat Sania bersembunyi. Sania segera keluar dari toko diiringi tatapan heran penjaga toko. Mengapa tiba tiba muncul wanita dari balik tumpukkan pakaian wanita.
"Terima kasih mbak! Maaf aku sembunyi di sini karena dikejar setan." Sania ucapkan terima kasih pada gadis penjaga toko.
"Setan? Emang ada setan di sini?"
"Lebih menyeramkan dari setan asli. Aku minta maaf sudah berlindung di sini!" Sania tak segan bungkukkan setengah badan tanda minta maaf sebesarnya.
"Tak apa mbak...yang penting mbak selamat dari incaran setan jahat." kata penjaga toko ramah.
__ADS_1