MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Menantu Idaman


__ADS_3

Sang mama menanti Bara di depan pintu kamar dengan muka masam. Wanita paro baya ini tak tahu hati Bara lebih asam dari asam cuka manapun. Sudah asam tambah kecut lagi.


Bara menyisir rambut pakai tangan karena tak sempat rapikan rambut akibat remasan Sania. Di dalam badai gairah Sania menarik rambut Bara tanpa disadari.


"Papamu sudah pulang. Temui beliau dulu. Beliau lagi pusing." kata Bu Jaya seraya menarik lengan Bara cepat turun ke lantai bawah temui papanya.


Bara bagai kerbau dicocok batang hidung tak mampu melawan keinginan sang mama. Keduanya turun ke lantai bawah temui Pak Jaya yang lagi pusing. Alat berat orderan dari Jerman di tahan di pelabuhan karena ada kesalahan dokumen.


Pak Jaya terduduk lesu di sofa. Di samping Pak Jaya duduk Fadil tak kalah kuyu. Seharian urus masalah kesalahan dokumen tapi tidak berhasil. Pihak yang menjadi perantara tak bisa selesaikan hari ini alasan sudah malam. Harus tunggu kabar dari Jerman.


"Pa..." panggil Bara sambil ambil tempat di samping Pak Jaya.


"Papa pusing. Kalau besok tak dibongkar maka pembeli akan retur alat beratnya. Dananya tak kecil." Pak Jaya mengeluh beri ekspresi sedih.


Bara tak tahu seluk beluk soal perusahaan papanya karena bidang mereka lain jalur. Sangat jauh berbeda. Bara tak bisa berbuat apapun untuk membantu karena memang buta soal ekspor impor.


"Kita nego sama pembelinya dulu. Siapa tahu kasih kelonggaran. Apa perlu Bara temui pembeli?" Bara menawarkan diri maju jadi penengah.


"Sudah papa minta tapi mereka tak kasih kelonggaran." makin lesu nada suara Pak Jaya.


"Ada apa? Kok pada lesu?" Sania tiba-tiba sudah berada dekat keluarga Jaya. Sania manis sekali berpakaian sederhana kaos oblong lengan panjang plus celana jeans warna biru tua.


"Ada dikit masalah di lapangan. Alat berat sudah tiba tapi tak bisa dibongkar karena salah dokumen." jelas Fadil tak lepas mata dari penampilan segar Sania.


"Dari mana? Salah dokumen fatal?" Sania mulai tertarik ikut campur. Hanya salah dokumen bikin heboh seisi rumah.


"Dari Jerman. Hanya salah tulis antara mobile crane dan tower crane. Yang kita order mobile crane dan yang datang memang mobile crane tapi di dokumen tower crane. Itu saja masalahnya." jelas Fadil panjang lebar.


"Apa alatnya urgen?"


"Urgen banget! Pembeli retur bila besok tak bongkar."


"Oh..mana kulihat dokumennya?" Sania minta semua file dari Fadil.


Fadil mengeluarkan semua dokumen dari tas hitam lalu serahkan pada Sania. Sania terima dokumen dari tangan Fadil langsung cek di mana kesalahan. Dokumen berbunyi dalam bahasa Jerman serta semua perjanjian kontrak pembelian. Sania meneliti satu persatu cari sela untuk bantu keluarga suaminya.


Yang lain diam harap Sania menemukan sesuatu bisa bantu bebaskan Alat berat orderan mereka. Sania baca dokumen seakan tahu bahasa Jerman. Sania sok gaya ngerti bahasa Jerman. Mau cari muka atau memang ngerti.


"Papa beli alat ini dari pihak ketiga? Pihak ketiga sudah cantumkan tak bertanggung jawab bila alat berat sudah berlayar. Biar Sania urus masalah ini. Besok pasti bongkar. Sania akan usahakan masalah ini selesai malam ini." kata Sania yakinkan keluarga barunya semua tak jadi masalah.


"Kau yakin?" tanya Pak Jaya ragu kemampuan gadis kecil itu. Dia yang Malang melintang di dunia ekspor impor tak mampu bebaskan alat berat satu itu. Gara satu alat semua alat berat kena imbas.


"Insyaallah...Sania ambil tas dulu. Sania akan pergi sekarang. Di Jerman masih siang. Masih gampang urusan."


"Perlu kutemani?" tawar Bara ikut Sania naik ke atas.


"Tidak..Lieve belum mandi. Mandi dan sholat dulu ya! Aku janji akan pulang secepatnya. Tunggu aku di rumah. Jadi anak baik ya!" Sania mengambil tas selempang kesayangan lalu segera pamitan urus masalah mertua lakinya.


Bara hanya bisa bengong ditinggal bini yang nyaris jadi santapan lezat jelang sore. Gara panggilan sang Ibu Suri angan indahnya melayang.


Sania melesat pergi dengan mobil mungilnya. Pak Jaya ragu pada kemampuan Sania tangani masalah ini. Fadil malah punya harapan pada Sania. Sekali lihat Fadil tahu Sania memang tahu seluk beluk alat berat. Andai Sania tak ngerti bahasa Jerman mengapa dia tahu mereka beli alat berat dari pihak ketiga.


"Kau yakin Bara?" tanya Pak Jaya masih kurang yakin.


Bara mengangkat bahu tak bisa kasih pandangan. Sania masih ingusan apa mampu hadapi orang-orang kelas mafia?


"Aku yakin. Sania paham semua sekali baca dokumen. Dia pasti punya cara baru berani tindak. Apa kalian tak pikir betapa malu Sania kalau tak mampu selesaikan masalah ini? Dia orang cerdas. IQ nya luar biasa." puji Fadil menatap plafon rumah bayangkan wajah Sania tercetak di atas plafon.


"Aku kuatir dia pergi sendiri. Takut hal buruk menimpanya. Maunya Fadil ikut dia tadi." ucap Bara dibayangi rasa takut.


"Dia binimu. Kenapa tak ikut?" sekak Fadil tak mau disalahkan. Fadil juga tak sangka Sania nekat pergi sendiri.


"Aku...aku..." Bara tentu malu ngaku belum mandi wajib setelah bermesraan dengan Sania walau belum sempat lakukan hal lebih intim.

__ADS_1


"Ach... pengecut! Telepon dia sekarang! Tanya di mana dia? Biar kususul."


"Fadil betul Bara! Seorang wanita muda pergi ke bea cukai sendiri bukan cerita bagus. Ayok telepon!" desak Bu Jaya mulai dihinggapi rasa cemas.


Bara terpaksa angkat ponsel teleponi Sania. Lama Sania tak angkat telepon. Hati Bara kontan di terpa hawa dingin serasa ingin beku. Baru saja kehilangan Nania bikin trauma kini Sania cari susah bikin urusan tanpa pendamping.


"Assalamualaikum...ya Lieve?" akhirnya Sania menjawab panggilan Bara.


"Waalaikumsalam...kamu di mana? Fadil akan susul kamu."


"Tak usah. Hal sekecil gini bikin heboh. Ini cuma salah paham. Tak masalah. Aku jamin semua akan beres. Lieve kawal pengajian saja."


"Tapi aku kuatir."


"Tenang...aku akan pulang bawa kabar baik. Tunggu saja!"


"Kau yakin sayang?"


"Idihhh pake sayang segala. Rayuan tahun berapa tuh? Sudah tak laku. Lieve tenang di rumah. Aku akan pulang secepatnya."


"Kau ok?"


"Very ok...no problem! Wait for me!"


"Hati-Hatilah! Kabari aku begitu selesai."


"Siippp... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Bara menutup ponsel tak berdaya hadapi sifat keras Sania.


"Gimana?" buru Bu Jaya cemas.


"Dia tak mau didatangi. Dia yakin akan selesai. Kita berdoa saja."


"Kita tunggu saja kabar Sania. Sekarang bersiap sholat." Bara menenangkan keluarganya yakini Sania bukan orang lemah tak bisa berbuat lebih untuk keluarga.


"Iya..."


Bara harap-harap cemas Sania belum kasih kabar padahal waktu berjalan makin larut malam. Tak terasa waktu mendekati pukul sepuluh malam. Acara pengajian sudah selesai Sania belum ada kabar. Hp Sania juga sibuk terus seperti sedang dipakai untuk berhubungan dengan orang lain.


Bara jadi tak sabaran menanti kehadiran Sania. Pak Jaya juga tak kalah kuatir menantu kecilnya belum ada kabar. Keempat orang itu duduk termenung di ruang tamu yang sudah ditata rapi kembali seperti semula seusai pengajian. Asisten rumah tangga di rumah Pak Jaya patut diberi jempolan pol. Cekatan dan siaga.


Bu Jaya hidangkan kopi untuk meredakan ketegangan menanti kepulangan Sania. Sebenarnya jam gini tak boleh minum kopi karena akan berjaga semalaman. Siapa bisa tidur bila telah minum secangkir kopi hangat. Namun saking tegang efek minum kopi tak terlintas di benak.


Setiap detik berlalu terasa mencekam. Terutama Bara yang tak ingin kehilangan untuk kedua kali. Fadil mondar mandir bak setrika gosokan bolak balik sana sini. Bu Jaya makin pusing lihat tingkah Fadil tak bisa anteng.


"Fadil...kepala mama makin pusing lihat kamu kayak bebek cari makan." ujar Bu Jaya memegang kepala saking puyeng.


"Aduh ma! Fadil panik. Gimana kalau terjadi sesuatu pada pujaan hati?"


"Ngawur banget kalimatmu? Sania isteri Bara. Ingat itu bocah cilik!" semprot Bara tak senang Fadil mengharap bininya. Bara lempar tatapan setajam mata pisau silet ke arah Fadil sebagai ultimatum keras.


"Belum tentu...kita lihat siapa pemenang terakhir!"


"Edan...kakak ipar sendiri mau diembat."


"Aku tak main belakang. Kukejar cintaku secara kesatria." Fadil masih pertahankan benang cinta pada Sania. Kalau perlu pakai rantai besi biar tak gampang putus.


Bara buang muka tak mau berdebat di saat hati sedang dilanda badai kecemasan. Semoga badai itu tak porak porandakan hati Bara.


Di tengah rasa galau ponsel Bara berbunyi. Laki itu cepat-cepat sambut setelah layar tertera nama Sania.


Yang lain kontak melirik ponsel Bara penasaran apa berita dari Sania.

__ADS_1


"Assalamualaikum...gimana sayang?" buru Bara tak sabaran.


"Waalaikumsalam...semua aman. Besok bisa bongkar. Aku sedang pulang. Mungkin satu jam lagi baru sampai. Lieve bilang ke papa semua sudah aman. Pergilah tidur!"


"Syukurlah! Aku akan tunggu kamu pulang. Hati-hati bawa mobil. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Berita singkat dari Sania bagai siraman air surgawi. Adem bikin tenteram. Bara umbar senyum bahagia masalah selesai dan Sania selamat tak kurang satu apapun.


"Apa kata Sania?" tanya Pak Jaya tak sabaran.


"Besok bisa bongkar. Dia berhasil urus semuanya. Dia suruh papa istirahat."


"Alhamdulillah...selesai juga. Badan boleh kecil tapi power segede langit. Siapa sebenarnya binimu itu?" Pak Jaya mulai cari tahu asal usul menantunya. Mereka memang tak kenal Sania seutuhnya. Hanya tahu Sania keluarga Pak Bur.


"Kelak papa akan tahu dia. Sekarang kalian istirahat. Aku di sini tunggu dia pulang." Bara menyuruh papa dan mamanya istirahat. Malam sudah merangkak jauh menuju dini hari. Orang tua tak baik begadang. Bisa merusak kesehatan.


"Kita tunggu bersama. Papa tak bisa tidur setelah minum kopi." Tolak Pak Jaya merasa belum ngantuk. Bagaimana mau ngantuk bila secangkir kopi kental masuk lambung.


"Fadil juga. Mama tidur saja." timpal Fadil ngusir sang mama ke kamar.


"Mama juga belum ngantuk. Kita tunggu beramai. Mama belum lega kalau Sania belum sampai rumah."


Tak ada yang mau beranjak dari ruang tamu. Semua ingin menyambut pahlawan keluarga yang begitu gampang selesaikan masalah pelik di perusahaan sang papa. Bara mulai berpikir seberapa hebat Sania bisa urus hal lumayan pelik. Soal proyek juga terasa enteng baginya. Proyek datang sejak Sania berada di kantornya. Mungkinkah Sania pembawa hoki bagi Bara?


Bara sebentar-bentar melirik pintu rumah cari tahu apa gadisnya sudah sampai? Satu jam terasa seperti setahun. Waktu berjalan seperti siput dari satu tempat ke tempat lain. Lama sekali.


Deru suara mobil akhiri kecemasan Bara. Itu suara mobil Unyil Sania. Mobil bersuara halus. Bara berlari kecil buka pintu rumah menyongsong gadis pemberani itu.


Sania santai saja turun dari mobil sambil tenteng dokumen impor alat berat. Gaya Sania rilex seolah tak terjadi apapun padahal seisi rumah sport jantung menanti Sania pulang.


"Alhamdulillah kau selamat pulang!" ujar Bara tak dapat tahan diri untuk tidak memeluk gadisnya.


"Isshhh malu tuh! Ayok masuk! Aku lapar!" Sania segera masuk, "Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..kau tak apa kan nak?" Bu Jaya buru ke arah menantunya memegang tangan Sania menyakinkan diri menantunya tak apa.


Sania tersenyum, "Sehat ma! Kenapa masih di sini? Sudah tengah malam. Pergilah tidur!"


"Mana bisa tidur kalau kau masih di luar. Sekarang baru ngantuk." gurau Fadil ikut senang Sania pulang sehat.


"Cerita bagaimana kau selesaikan masalah ini! Padahal papa sudah urus dari kemarin." tanya Pak Jaya takjub kepiawaian Sania melobi orang bea cukai.


"Telepon ke Jerman minta kejelasan di mana kesalahan dokumen ini. Ini kesalahan orang pengurus maka kusuruh kirim balik dokumen asli via email. Untuk selanjutnya papa bisa pesan langsung sama perusahaan Jerman. Jangan lalui calo! Mereka sudah cari keuntungan lebih. Aku sudah punya link mereka." Sania jelaskan secara jelas.


"Benarkah? Kau kenal perusahaan itu?" tanya Pak Jaya semangat. Bangga punya mantu multi guna.


"Pernah kerja sama beli alat berat. Untuk ke depan papa pesan melalui Sania. Dijamin tak korupsi."


Semua tertawa dihadiahkan gurauan sehat tengah malam. Suasana suram berubah ceria walau malam makin tua. Di dalam rumah Pak Jaya dilingkupi rasa hangat keluarga utuh.


Bara bangga punya bini muda yang mumpuni. Tak banyak tingkah tapi menghasilkan karya berbobot. Mungkin ini jawaban atas kesabarannya terhadap Nania. Nania membalas Bara dengan anugerahkan gadis bernilai plus.


"Ma...ada makanan? Sania belum makan tuh!" ujar Bara ingat Sania bilang lapar.


"Ya Allah...anak mama belum makan? Mama masakin mie ya!" seru Bu Jaya kaget Sania belum makan jam gini. Mungkin Bu Jaya akan lebih kaget kalau tahu Sania ada riwayat sakit lambung. Gadis ini tak boleh lapar. Lapar dikit bisa akibat fatal.


"Tak usah...cukup roti saja. Malam gini tak baik makan mie."


"Roti? Oh ada...tadi ada beli roti tawar. Tunggu mama bikin untukmu!"


"Jangan ma! Biar Sania saja! Mama duduk saja." Sania tak enak hati merepotkan mertua di malam buta gini.

__ADS_1


"Huuusss...memang kau tahu letak dapur mama? Duduk manis saja. Mama akan bawakan makanan untukmu." Bu Jaya bangkit menuju ke dapur.


__ADS_2