
Sania tersenyum kecil lihat Bara tak senang dituduh macam macam. Niat hanya kasih perhatian sedikit malah dibilang sogok. Bara lontarkan tatapan tajam pada gadis kecil yang mulai ganggu pikiran Bara. Semalaman Bara memikirkan Sania yang ntah tidur dengan siapa. Sebagai manusia normal wajar kalau Bara curiga bini mudanya punya gandengan lain. Sania cantik dan fresh. Tak mungkin tak punya doi tersembunyi.
"Rotinya masih berlaku?" Tanya Sania menunjuk kotak roti pakai bibir maju dua senti. Sania tak tahu gerakan kecil ini bikin jantung Bara berdegup kencang bayangin bibir monyong itu ada dalam lingkaran bibirnya. Rasanya manis atau kecut.
Bara cepat menepis bayangan mesum di otaknya. Mengapa Sania jadi sangat menarik akhir akhir ini. Apa karena Sania adalah bininya atau karena Bara sudah terlalu lama tak dapat jatah dari bininya si Nania.
"Ambillah! Aku mau ajak kamu ke dua tempat hari ini. Pertama ke lokasi bank dan kedua ke lahan kosong akan bangun rumah sakit. Kau bersiaplah!"
Sania meraih kotak roti lalu mengendusnya. Harum keju gelitik hidung Sania minta segera cicipi roti kesukaan.
"Ternyata rotinya tak gratis. Ada tugas segunung nih!" ejek Sania.
"Aku cuma takut bini mudaku lapar. Tanpa roti kau juga harus kerja. Kau digaji untuk merancang. Apa kau lupa janjimu dulu?"
"Janji apa? Akhir ini otakku sering macet." Sania sengaja menggosok kepala seolah kepala indah itu bermasalah.
"Waktu kau diwawancara. Janji akan beri yang terbaik untuk perusahaan. Ini waktunya kau tunjukkan bakti pada tempatmu cari rejeki."
"Oh itu...hampir lupa. Untung diingatkan. Maklumlah sering ngobrol sama orang tua suka ikut pikun." kata Sania sambil tahan tawa.
"Kau...kau ejek aku?"
"Masa sih? Ngak ach...Oya...sudah jumpa sama anak dan calon binimu yang setengah meter?"
"Aku tak mau bahas itu. Bersiaplah kita ke lokasi kerja!" Bara alihkan pembicaraan tak ingin ribut dengan Sania tentang anak Arsy. Gadis bersumbu kompor minyak ini pasti akan sekak dia habisan.
"Masuk daftar hitam pertama. Perselingkuhan perdana sejak berbini Sania. Akan dibalas ganda." Sania keluarkan ponsel catat di memo hp tanggal Bara berselingkuh menurut versi Sania. Bara tak mau jawab artinya memang sedang lindungi seseorang.
"Kau berani?" seru Bara keras. Dea yang di luar kaget dengar nada tinggi Bara. Mata Dea berjaga tak harap sesuatu terjadi pada Sania.
Sania santai saja dengar seruan Bara. Tak ada tanda Sania takut maupun mundur. Gadis cantik itu berdiri santai di depan Bara tak peduli wajah kesal Bara.
"Pak Bara sudah tua. Tak baik marah. Ntar hipertensi tinggi. Kalau stroke gimana?" Sania tetap santuy walau suaminya terpancing emosi. Gaya Sania makin bikin Bara naik darah. Urat di kepala Bara menonjol tegang isyaratkan sedang marah.
"Pancing amarahku?"
"Bapak bukan ikan ngapain dipancing? Toh ngak bermanfaat! Bapak introspeksi diri baru boleh ngatain orang. Sudah punya dua bini masih gatal." Sania keluar sambil bawa kotak roti pemberian Bara. Kesal pada Bara namun tak boleh mubazir makanan.
Bara melongo tak percaya betapa tegasnya Sania terhadap dirinya. Tak ada kata mundur walau status Bara itu suami sekaligus bos Sania. Bara menduga Sania cemburu dia pergi jumpa Arsy.
Bara tak bisa tak jumpai anak Arsy yang menganggapnya sebagai papa. Anak itu punya riwayat penyakit jantung bawaan. Tak boleh ada beban yang akan memicu daya kerja jantungnya. Arsy selalu gunakan Kintan sang sebagai senjata ajak Bara ke rumahnya. Arsy yakin cepat atau lambat Bara akan kembali padanya.
Sania sendiri merasa tak nyaman Bara masih ada hubungan dengan Arsy walau laki itu sudah jelaskan siapa Arsy dan Kintan. Sania merasa Bara masih menyimpan rasa pada mantan pacarnya. Perselingkuhan Arsy tak padamkan api cinta di hati Bara.
Seharusnya Sania tak ambil peduli pada rahasia pribadi Bara. Tapi Sania takut akan sakiti hati Nania. Nania tentu sangat kenal pada Arsy. Dan lagi Arsy sifatnya arogan. Nania akan lebih cepat tinggalkan alam fana ini bila Arsy ikut ramaikan masalah cinta Bara.
__ADS_1
Dea merasakan perubahan Sania sejak keluar dari ruang Bara. Sania tampak gelisah tak fokus kerja. Kerja hanya bolak balik kertas sketsa tanpa tujuan pasti. Mau baca atau gambar? Duanya tak dilakukan.
"Sania...ada apa?" tanya Dea berbisik.
Sania menggeleng tanpa semangat. Separuh semangat Sania terkuras gara Bara tak bisa tinggalkan Arsy. Sania bukan cemburu tapi merasa pengorbanannya tak berarti. Tak ada penghargaan dari Bara sedikitpun. Laki itu tak menolak kehadiran orang ke empat di antara mereka. Sania yakin ke depan akan kacau.
Tak biarkan Sania makin gusar dalam emosi. Bara segera ajak bini mudanya bekerja. Makin dibiarkan melamun gadisnya akan makin tenggelam dalam amarah. Bara sudah janji tak ada wanita lain lagi dalam hidupnya selain Nania dan Sania. Ternyata Arsy masuk bursa wanita Bara.
"Berangkat kita?" Bara sudah berdiri di hadapan Sania.
Sania ingin menolak pergi dengan Bara sebagai tanda boikot suami plin plan nya. Namun Sania juga tak mungkin abaikan tugas. Dia digaji memang untuk kerja.
"Bapak pergi duluan. Aku akan nyusul. Tinggalkan alamat saja." ujar Sania dingin tak peduli tatapan aneh Dea. Sania tak mau duduk bersama orang yang baru bikin hatinya mendidih. Bisa bisa Sania bikin sate hati saking panasnya.
"Sania... untuk apa bawa dua mobil kalau hanya kita berdua. Bisa hemat waktu kalau kita bersama."
"Mobil bapak panas. Aku tak biasa duduk di mobil berbau sampah. Udara dalam mobil bapak penuh polusi." ujar Sania sedingin es balok. Dea bergidik rasanya kebekuan dari nada Sania. Ada apa lagi antara Sania dan bos. Tadi bos bersiaran gede kini Sania membeku dingin.
"Ikut atau kugendong ke mobil?" Bara tak mau ikutan gila macam Sania. Bara sudah melangkah maju hendak ulurkan tangan menggendong Sania yang tak bergeming diancam Bara.
"Bapak berani? Bapak akan dapat julukan Bos Mesum abad ini."
"Kau pikir aku takut? Gadis kecil macam kamu beratnya cuma sekilo. Tak susah diangkat." Bara majikan tangan angkat Sania dari bangku kerja nya. Sania terpekik tak sangka Bara demikian berani lakukan hal di luar dugaan.
Apa kata para pegawai lihat Sania digendong Bara? Mata Dea nyaris keluar lihat tingkah bos dan rekan kerjanya. Sungguh affair tak bisa dianggap hanya sensasi belaka. Sania benar benar di pelukan bos besar mereka.
Bara tertawa kecil, "Lapor polisi saja! Aku dengan senang hati di penjara karena gendong bini aku."
Dea mendekap mulut saking kaget dengar Bara akui Sania sebagai bini. Apa kupingnya penuh tai kuping salah dengar kalimat Bara? Kalau benar pantas Sania berani tulis statusnya sebagai isteri Bara waktu Arsy datang buat ulah.
Sania melihat reaksi Dea tak kalah panik. Wanita Batak itu pasti akan berpikiran buruk padanya. Siapapun akan beri julukan manis pada Sania yaitu pelakor. Sania hadir di antara rumah tangga Nania dan Bara.
"Turunkan aku pak Bara! Ini kantor." seru Sania berang. Bara telah lewat batas jalan yang telah mereka janjikan. Ini sangat berpengaruh pada nama baik Sania.
"Baik asal kau patuh!"
"Ok...aku patuh!"
Bara turunkan Sania berkat janji meluncur dari bibir mungil yang kini jadi incaran Bara. Laki ini tak sadar kalau dia telah membuat jarak makin jauh dari Sania. Sikap Bara yang tak bisa lepaskan Arsy akan jadi bumerang pada pernikahan dengan Sania. Begitu juga pada Nania. Nania bisa terima Sania tapi tak bisa terima Arsy yang licik.
"Ayo berangkat! Dea...jaga kantor sampai kami kembali. Semua baik baik saja dan tak seperti yang kau bayangkan." kata Bara pada Dea agar wanita itu tak berpikir negatif terhadap Sania.
"Aku akan cerita nanti. Tapi berjanjilah tutup mulut tak sebar tingkah bodoh bos kalian." Sania merangkap tangan memohon pada Dea untuk tak sebar kejadian tadi.
Dea tentu saja hanya bisa angguk dengan tampang tolol. Lain mau bilang apa? Buat gosip teranyar di kantor biar semua tahu Sania ada hubungan dengan Bara? Bangku Dea pasti akan segera jadi milik orang lain. Dengan senang hati orang lain siap ganti posisi Dea di kantor.
__ADS_1
Di jaman ini cari kerja sangat susah apalagi yang nyaman macam kantor Bara. Memang kantor kecil tapi suasana tenang ditambah bos yang baik. Kantor akan ramai bila dikunjungi kucing kucing bergincu. Ntah berapa banyak wanita tergila pada Bara tapi cuma satu yang dapat perhatian yakni Arsy. Yang lain bagai karbondioksida di udara. Bawa polusi besar.
Sania tak berdaya di intimidasi Bara. Laki ini siap berbuat konyol andai Sania tak patuh pada perintahnya.
Sania tak mau malu dua kali memilih duduk manis di samping bos alias suami tak tercinta. Bara tersenyum penuh kemenangan. Ternyata sangat mudah buat Sania patuh. Hanya tebal kan dikit kulit muka maka Sania akan patuh.
Sania pasang wajah jutek tak mau ladeni Bara. Makin diladeni makin konyol kulkas lima pintu itu. Sania tak habis pikir bagaimana bos besar sanggup bertingkah seperti kanak kanak. Di mana wibawa yang biasa bergantung di muka tampan itu?
"Masih marah?" tanya Bara melirik Sania pakai ekor mata.
Sania tak jawab hanya mendengus kesal. Amarah Sania masih nyangkut di leher belum turun. Rasa kesal pada kasus Arsy belum reda kini laki itu tambah berbuat konyol di depan rekan kerja. Sungguh keterlaluan.
"Cepat atau lambat semua akan tahu. Kasih tahu duluan kurasa lebih baik. Aku bisa lebih leluasa dekatan denganmu."
"Idihhh...pede amat! Siapa mau dekat dekat dengan pak tua. Ingat umur pak! Jangan sok ABG!" kilah Sania masih sewot. Sania tak mau menatap Bara walau sedang ngobrol. Sania jatuhkan pandangan keluar jendela mobil perhatian mobil lain membelah jalan raya.
"Tua? Seorang cowok berumur di atas tiga puluh baru disebut cowok matang. Anak muda macam Fadil belum tahu arti hidup. Masih plin plan tentukan arah masa depan."
Sania nyengir dengar kalimat Bara yang seperti sedang omongin diri sendiri. Justru Bara yang plin plan tentukan masa depan. Tak berkomitmen pilih calon isteri untuk hari depan. Sania dinikahi, Arsy dikasih angin surga sampai hidup tenteram di atas derita orang.
"Bapak terlalu matang sampai gosong. Bagusnya nanti kita beli kaca segede lapangan sepak bola biar bercermin sampai puas. Lihat siapa plin plan?" sindir Sania mulai jengkel sikap Bara yang tak punya pendirian.
"Kau masih muda tak tahu arti berkeluarga? Berkeluarga bukan hanya sekedar perhatian dan sayang tapi yang terutama adalah tanggung jawab."
"Aku tak tahu? Ciiisss...ngurus keluarga orang dan jadi duri di keluarga orang. Bapak tahu ngak? Bapak sudah salah rebut pamor papa Kintan. Perhatian bapak pada Kintan sudut kan nilai papa Kintan. Siapa namanya? Ehm...Oya..Si Rudi." ujar Sania tak mau disudutkan Bara sebagai anak kecil tak ngerti arti keluarga.
Bara seperti dihantam Godam raksasa diberi wejangan oleh Sania. Kata kata Sania ada benarnya. Kehadiran Bara mengecilkan nilai Rudi di mata Kintan. Rudi jadi tak berarti karena nama Bara lebih dominan di hati gadis kecil itu. Mengapa tak terlintas di otak Bara akan hal ini. Rudi tersingkir karena sok perhatian dari Bara.
"Aku tak pikir ke situ." Bara mendesah tanpa sadar.
"Bapak harus tahu kalau si setengah meter manfaatkan anaknya untuk dekati bapak. Dia berani ngaku calon bini tentu karena bapak kasih harapan. Aku boleh muda tapi aku bijaksana. Bapak sudah uzur tapi akal anak balita." hina Sania tak peduli Bara mau tersinggung atau tidak. Bodoh amat.
"Aku dan Arsy tak ada hubungan apapun selain untuk Kintan. Aku berani sumpah. Aku tak pernah main gila di belakang kalian." kata Bara sungguh hati.
Sania buang muka tak mau tahu kebenaran sumpah Bara. Sangat tak masuk akal tak ada apa apa antara mereka kalau dilihat dari sikap Arsy. Wanita itu tak malu malu umbar perasaan walau di tempat umum. Andai tak ada apa apa tak mungkin seorang wanita berani nekat.
"Aku belum mau mati. Jangan sembarangan sumpah bila bersamaku! Nanti kena azab!"
"Kau tak percaya padaku?"
"Dasar apa aku harus percaya pada laki yang janjian sama janda orang. Janji Sumpah Pemuda atau Sumpah Palapa Patih Gajahmada? Pilih saja!"
Bara mati kutu. Kata kata Sania seakan ingatkan Bara bahwa caranya salah walaupun niatnya baik. Bara hanya ingin ringankan beban Arsy demi kesembuhan Kintan. Bara tak berpikir jauh kalau caranya telah menyakiti orang lain yaitu Rudi.
Rudi pasti membencinya telah merebut perhatian anaknya. Bara mendesah penuh sesal tak pikir panjang akibat rasa simpatik berlebihan pada mantan pacar.
__ADS_1
Sania perhatikan Bara yang sedang merenungi rasa salah. Sania bersorak dalam hati bisa kikis bayangan Arsy dari otak Bara walau tipis. Sania harus kerja lebih keras singkirkan penggoda kelas teri yang jelas tak tahu malu. Saniapun harus tebal kan muka hadapi wanita wanita itu.