
"Mas Rangga...baru datang ya.!" seru Sania keras.
Pintu kamar Lisa terbuka seperti ada kunci otomatis. Sania cekikan lihat temannya bangun dengar nama Rangga. Ternyata cara kuno ini sangat ampuh bangunkan orang malas.
"Sialan ente" omel Lisa sadar dikerjain Sania. Wajah yang penuh semangat kuyu lagi bak bohlam soak. Padam tak bersinar.
"Bangun non! Abangku ilfil sama calon bini pemalas."
Lisa tak peduli ujaran Sania. Gadis itu hempas kembali tubuh ke tempat tidur lanjutkan tidur.
Sania menghela nafas tak percaya ada orang semalas ini. Anak gadis pula. Kalau ada jodoh sudah duluan dipatok ayam.
"Lis...ada yang mau kubincangkan."
"Soal malam pengantin mu?"
Sania menjewer kuping Lisa tak sabaran sikap cuek bebek Lisa. Sania serius mau bahas soal Bu Susi. Sania tak ingin keluarga Lisa hancur berantakan. Beruntung cepat terbongkar niat busuk Bu Susi. Malapetaka dapat dihindari.
"Kamu mabuk jus tomat ya?"
"Mabuk cinta mas Rangga. Kenapa dia bisa seganteng gitu? Cuma sayang di matanya hanya ada kamu." kata Lisa putus asa.
Sania kasihan pada Lisa tergila pada Rangga namun Rangga hanya mau fokus bahagiakan adik adiknya. Belum ada niat Rangga bagi perhatian pada orang lain selain pada Sania dan Agra.
"Dia abangku."
"Aku tahu...Abang ketemu cinta."
"Dia Abang kandungku." Sania jujur pada Lisa supaya gadis itu tidak buruk sangka padanya.
Lisa terlompat bangun bak disengat seribu tawon. Lisa mencekal bahu Sania kurang percaya info Sania. Lisa mengguncang bahu Sania kuat garap itu bukan omong kosong hibur dia.
"Bohong.."
"Ceritanya panjang. Rangga, Ranti, aku dan Agra saudara satu bapak beda ibu. Aku janji akan jujur padamu tapi kumohon jangan bahas hal ini di depan siapapun termasuk Rangga. Kami semua terluka karena kelakuan bapak kami. Sekarang itu bukan topiknya. Kau dengar rekaman ku dulu." Sania buka hp perdengarkan percakapan Bu Susi dengan anaknya.
Lisa langsung naik darah. Untung tidak stroke saking tinggi semburan darah ke otak.
"Dasar ibu ibu ******. Tak tahu diri. Diberi payung berteduh minta rumah. Biar kuhajar dia." seru Lisa emosi
Sania mendudukkan Lisa di tempat tidur tenangkan gadis bak kompor meledak itu.
"Tak ada guna tengkar sama orang gitu. Level kita lebih tinggi. Hanya jatuhkan nilai kita cari perkara sana orang tak punya rasa malu. Lebih baik diskusi sama papamu. Batalkan rencana ijinkan dia buka kantin di bengkel. Mama tak perlu tahu soal ini. Wanita semulia mama takkan bisa terima niat bersihnya dikotori niat busuk."
"Apa ini jalan terbaik?"
"Kita jangan tampak tak punya akal sehat labrak orang tak kenal kata malu. Kita omong baik sama papa. Cari orang lain kelola kantin. Ibu Susi akan malu sendiri."
"Kau sangat kuat San...cara ini kau terapkan pada Bobby?"
"Aku memiliki harkat lebih tinggi dari pecundang. Untuk apa cari onar untuk sampah. Ayo sarapan! Aku mau ke kantor."
"Kau pergi dulu. Aku mau mandi. Oya jangan lupa cerita soal keluargamu!"
"Pasti...aku pergi dulu. Nanti telat."
"Bye..."
"Bye sayangku. Jaga Agra untukku ya!"
"Untuk calon adik ipar apa yang tidak."
"Muka tembok."
__ADS_1
Lisa tertawa senang setelah tahu Sania bukan ancaman cari perhatian Rangga. Di samping itu Lisa juga kesal dengar rekaman Bu Susi ingin naik pangkat jadi Bu Bur seri dua.
Kalau turuti emosi bisa bisa Lisa hajar wanita tak tahu diri itu. Mamanya cukup bantu keluarga itu namun dibalas niat busuk. Air susu dibalas air tuba.
Rangga datang menjemput Agra pergi sekolah. Lelaki itu tampak senang melihat Sania sudah datang pagi hari. Laki ini bersyukur adiknya kelihatan sehat tak kurang satu apapun.
Rasa tak rela adiknya jadi bini muda Bara sedikit terobati. Rangga takut Sania dapat tekanan dari bini tua Bara soalnya semalam Sania nginap di rumah Bara. Rangga tak tahu Sania pulang apartemen pada malam hari.
"Mas ini sarapan untuk mas dan kawan kawan." Sania berikan kantong kresek pada Rangga berisi nasi uduk Bu Susi.
"Untuk apa repot? Agra mana? Nanti telat. Senin biasa macet."
"Lagi makan. Oya mas...beri uang belanja sama Bu Bur untuk biaya Agra. Malu makan gratis terusan."
"Nanti mas jumpa Bu Bur. Panggil Agra dong!" Rangga tak sabaran menanti di luar pagar Pak Bur.
Sinar matahari belum menyengat karena masih pagi. Sinar matahari pagi malah bagus untuk kesehatan asal dalam takaran pas. Berjemur cahaya pagi bisa membantu kuatkan tulang.
Sania masuk ke dalam rumah bawa Agra sekaligus pamitan pergi kerja. Udara pagi masih segar bikin otak dikit ayem. Tadi kepala Sania sempat kena syok terapi gara Bu Susi berangan ganti posisi Bu Bur di hati Pak Bur.
Semua ini juga tergantung kesetiaan Pak Bur terhadap keluarga. Andai Bu Susi niat buruk tapi tak diladeni semua juga takkan berubah. Tak beri peluang buat orang jahat. Kejahatan itu takkan bisa jadi kenyataan.
Agra pergi bersama Rangga pakai mobil baru warna putih sesuai pilihan Sania. Rangga tampak gagah nangkring di belakang stiur mobil berbadan gempal itu. Nilai jual Rangga langsung naik di bursa cewek cewek pencinta cogan.
Agra melambai pada Sania sambil lempar senyum bahagia. Pemandangan inilah harapan Sania. Semua bahagia di awal aktifitas. Kerja pasti akan lebih semangat.
Sania masuk ke mobil mungilnya untuk berangkat menuju ke kantor Bara. Tantangan baru sedang menanti Sania. Hidup sebagai isteri baru sang bos.
Sania baca basmalah awali langkah pertama Sania arahkan mobil ke kantor. Sania sadar setiap gerakan hanya bisa memohon pada Yang Maha Kuasa untuk dapat perlindungan. Sania merasa lebih pede bila telah niatkan hati ke arah jalan benar.
Kantor Bara tak berubah tetap sepi tanpa banyak kegiatan. Saat ini proyek hanya tinggal satu yakni proyek Pak Wandi. Proyek lain hanya tinggal tahap finishing.
Sania tak ikut andil proyek terdahulu karena memang tak terlibat dalam pengerjaan dulu. Kini Sania lebih fokus proyek raksasa PT SHINY. Andai mereka bisa menang tender pekerjaan takkan putus sampai dua tahun mendatang. Proyek itu akan berlangsung jangka panjang. Dana investasi bisa capai puluhan triliun.
Di lantai atas Sania disambut Dea yang sedang bahagia. Suaminya sudah mulai kerja di bengkel Pak Bur. Suami Dea betah di bengkel karena montir lain baik tak sombong. Mereka tak segan ajar Toha suami Dea. Toha sedang menimba ilmu dari senior senior di bengkel. Makin rajin tentu akan cepat penuh embernya. Tergantung ketekunan Toha ingin maju atau tidak.
"Pagi Kak Dea...segar sekali? Dapat jatah pelukan ya?" goda Sania.
Dea tergelak gemakan suara khas dari tanah Batak. Serak kasar. Dea tampak kasar tapi sebenarnya orang itu paling lembut hati. Kata orang jangan menilai orang dari tampang luar adalah fakta.
Dea tak memiliki tampang ayu Puteri keraton, kulit mulus bening macam finalis Puteri Indonesia namun isi dalam Dea bersinar terang bikin orang ikut bercahaya.
"Aku lagi senang. Suamiku betah di bengkel Pak Bur. Hari ini aku traktir kamu. Salad dan roti keju bonus teh susu."
"Diterima. Tahu aja menu kesukaanku." Sania meletakkan tas selempang di laci meja kerja. Tas yang tak ada harga di mata orang namun paling bernilai di hati Sania.
"Tahu dong! Apa jadwal kalian hari ini?"
"Tunggu bos saja."
"Ok.."
Sania tak ajak Dea berbincang lagi. Gadis ini membuka PC di depan mata cari berita tentang tender proyek baru. Duduk tanpa berbuat sesuatu hanya membuat jurang kematian bagi perusahaan. Sania heran mengapa Bara tak aktif buru proyek. Padahal potensi Bara cukup mumpuni. Berapa bahas kerja sama dia hasilkan ide cemerlang baru.
Mungkin penyakit Nania ikut gerogoti semangat kerja Bara. Sania makin tahu betapa besar cinta Bara pada Nania. Nania beruntung mendapat suami ideal macam Bara. Sudah ganteng setia lagi.
Suami Nania? Sania balik berpikir. Bukankah dia juga ikut beruntung karena statusnya juga bini Bara. Cuma sayang cinta Bara hanya pada Nania. Sania tak boleh berangan rebut cinta Bara.
Sania sadar diri bagaimana sakitnya diselingkuhi orang yang kita cintai. Sakit buat luka menganga tapi tak berdarah. Sania belum terpikir jadi belati menusuk Nania.
"Permisi..." sapa seseorang membuat Sania angkat kepala.
Seorang cs ngepel seputar meja kerjanya. Seorang cowok berbadan tinggi kurus mainkan tongkat ngepel dengan arah tak tentu. Cowok itu mengenakan masker topi pet. Yang terlihat hanyalah sepasang mata bersinar jenaka.
__ADS_1
"Orang baru mas?" tanya Dea penasaran karena tak pernah lihat orang ini sebelumnya.
"Iya bu...cs sebelumnya cuti hamil." kata cowok itu sopan.
"Cuti hamil? Woi..cs kita dulu laki. Dari mana cuti hamil. Cuti hamilin anak orang kali." kata Dea tertawa renyah merasa lucu ada cowok cuti hamil.
Cs baru itu tampak kaget dapat info baru tak sesuai info yang dia dapatkan.
"Maksudku pacarnya hamil. Mungkin mau melahirkan."
Sania dan Dea makin terbahak dapat jawaban lucu. Sungguh konyol argumentasi cs baru ini. Baru pacar sudah hamil, mau melahirkan pula. Dunia macam apa ini? Pada terkena virus apa ini?
"Cs sebelumnya teman ente?" tanya Sania mulai tertarik pada cowok jangkung itu. Kulitnya bersih mulus tak kalah dengan kulitnya. Kelihatan kulit cs baru ini terawat bagus. Mungkin tiap hari gunakan sebotol hand body baru dapat hasil maksimal.
"Termasuk teman tapi lumayan jauh. Dia itu teman dari sepupu pakciknya satpam gedung kantor pengolahan limbah patah hati milik kakek dari keponakan teman sebangku saudara tukang sapu jalanan dekat kantor ini." cowok itu jelaskan siapa yang hamili cewek. Penjelasan yang bikin Dea dan Sania nyaris muntah darah. Berbelit tak tahu mana arah benar.
Sania ingin sekali gampar moncong di balik masker itu sampai berdarah darah saking gemas dikerjain cs gila.
"Ente baru keluar dari rumah sakit jiwa?" tanya Sania kesal merasa dipermainkan.
"Sakit jiwa? Kalau aku sakit mungkin kamulah obatku." sahut cowok itu tak tahu malu. Badak benar kulit cowok ini. Pagi pagi berani merayu karyawan tercantik di kantor ini.
"Masih mau kerja?"
"Aku siap dipecat dari sini tapi terimalah aku di hatimu." cowok ganjen itu makin berani goda Sania.
Dea merasa mulutnya digelitik kemoceng terasa geli mau ketawa terpingkal. Laki muda itu menjengkelkan tapi lucu. Tadi pagi sarapan empedu beruang maka punya nyali gede berani merayu karyawan cewek di kantor. Mungkin anak itu belum tahu kalau Sania adalah karyawan paling top di kantor. Bara saja segan beradu pendapat sama gadis ini.
Muncul cowok songong bikin sensasi di kantor. Cowok ini tak cocok jadi cs. Pantasnya naik panggung jadi pelawak.
"Nyalimu gede juga ya boy! Kau tahu di sini dilarang kurang ajar. Merayu orang di kantor bisa dituntut pelecehan." semprot Sania dengan wajah memerah. Pagi pagi dirayu cs gila.
Siapa kurang hati hati pekerjakan orang gila di kantor. Siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini.
"Pelecehan? Emang aku ada berbuat tak sopan? Mengharap kan tak dilarang. Syukur cintaku mendarat mulus di hatimu." cowok itu masih kekeh goda Sania.
"Dasar sinting.." desah Sania tak mau ladeni orang tak waras. Nanti malah ikutan sinting.
Suara deheman kuat bubarkan acara rayuan maut sang cs. Cowok konyol itu langsung ngacir setelah lihat siapa yaang masuk kantor dengan langkah panjang.
Sania dan Dea menarik nafas lega anak itu sinting akhirnya menyerah pilih pergi dari ruang kerja Sania. Kalau dilanjutkan bisa kena gampar anak songong itu. Sania dan Dea tentu tak ingin ada keributan di pagi ini. Bisa merusak rezeki dan mood kerja.
"Sania masuk ruangku!" kata Bara sambil lalu.
Sania tak punya pilihan lain selain ikut masuk ruang Bara. Sania berpikir positif saja mungkin Bara akan ajak dia diskusi soal kerja.
Bara sudah duduk di bangku kerja warna hitam dengan gaya bossy. Elegan penuh gaya laki macho. Gantengnya suamiku puji Sania dalam hati.
"Ya pak!"
"Coba kau rancang kantor bank di pusat kota. Bangunan berlantai enam. Aku akan kirim data di emailmu. Kutunggu tiga hari. Sketsa kasar dulu."
"Tiga hari pak? Apa waktunya tak sempit? Aku lagi fokus di proyek PT SHINY."
Bara menggeleng apatis terhadap mega proyek itu. Bara yakin tak mampu tangani mega proyek PT SHINY karena fasilitas mereka tak memadai. Bara sudah pelajari proyek itu sekilas namun memilih mundur. Peralatan mereka tak cukup untuk handel proyek cukup besar itu.
"Lupakan proyek itu! Kita mulai dari yang kecil saja."
Sania kecewa pada Bara yang gampang patah arang. Seorang laki seharusnya harus mampu menjawab tantangan global yang makin maju. Jangan puas dengan proyek kecil yang hanya berjalan di tempat.
Kemampuan begitu besar milik Bara akan sia sia bila puas berjalan tanpa ada rencana maju.
"Bapak ragu pada kemampuan sendiri atau takut tak mampu sediakan sarana alat berat?"
__ADS_1
"Alat berat kita ada batasnya. Tak bisa menjawab medan yang sangat luas."