MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Maya


__ADS_3

"Jadi kamu sudah cerai sama profesor kaya raya itu?" Roy kaget dengar Maya sudah cerai dari suaminya yang terkenal kaya.


"Iya..dia protes aku operasi plastik. Aku kan pingin tampil modis."


"Dasar gila..." desis Sania monolog. Punya keluarga baik hancur gara ingin jadi wanita super aneh.


"Lalu apa hubungan dengan aku?" Bara mulai gerah Maya bidik dia jadi tumbal dari perceraian.


"Aku tak punya suami. Dan kau duren maka aku datang padamu." kata Maya goyangkan badan kayak anak kecil minta boneka panda.


"Tuh sama Roy saja! Jomblo akut! Aku sudah punya bini yang cantik." Bara dorong Maya ke Roy yang belalakkan mata tak terima cara Bara dorong dia ke jurang mematikan.


"Aku juga punya calon. Namanya Sekar. Aku sudah mau lamar dia." ralat Roy tak mau terlibat dalam usaha tak sehat Maya.


Sania tak percaya Roy berani bawa nama Sekar dalam kancah percintaan tak wajar ini. Kenal juga belum. Sekar anak salihah belum tentu mau terima Roy yang urakan.


"Ach kalian ini...susah payah aku ke sini tapi kalian tolak. Aku sengaja operasi untukmu Bara. Kau lihat body sexy ini! Semua untukmu."


Sania ingin tertawa berguling-guling lihat wajah Bara pucat di hadiahkan body sintal ukuran jumbo. Bara bukannya bernafsu malah merasa jijik lihat Maya goncang dada dengan lincah. Bukit kembar ikut joget ria ikuti irama goyangan Maya.


Sania bukannya sakit hati malah terhibur lihat adegan kocak yang dipertontonkan Maya. Sungguh wanita kurang waras. Cerai dari suami cari mantan pacar minta balikkan.


"Maaf pak! Aku balik kerja. Silahkan lanjutkan dagelan konyol kalian! Aku tak tertarik nonton." Sania melangkah keluar biarkan Bara dan kedua figuran lain lanjutkan komedi tak laku itu.


"Sania...ada yang mau kubicarakan. Katanya besok kamu mau ke SHINY."


"Iya..seratus persen maju."


"Kau yakin?"


"Yakin...mau taruhan? Kalau aku berhasil bapak harus patuh padaku termasuk bapak tukang kebun ini. Semua harus ikuti arahan ku."


"Ya Allah...aku si tukang kebun." Roy menunjuk hidung sendiri dapat julukan baru jadi tukang kebun. Julukan tak manis banget.


"Kalau kalah kau harus jadi kelinci manis di rumah. Tak boleh melawan. Ok?"


"Ok..cuma bapak jangan nyesal bertaruh denganku! Aku Sania belum ada kamus kalah dalam tender." Sania mendongak dengan gaya angkuh. Bara mendesah gemas ingin kecup bibir ceri milik Sania. Pasti segar dapat cicipi bibir ranum yang baru berapa kali dia rasakan.


"Woi...aku ini dianggap manekin ya!" koar Maya menarik perhatian Bara dan Roy. Sementara itu Sania sudah kembali ke meja kerjanya.


Sania kirim kabar ke Sekar dan Putri kalau posisi mereka sudah aman di kantor Bara. Kedua konco Sania waktu di Build tentu bahagia cepat dapat pekerjaan baru. Mereka juga sadar kalau gaji di Angkasa tak setinggi di Build. Paling tidak mereka nyaman apalagi ada Sania yang mereka kenal sebagai perancang jempolan.


Ponsel Sania berbunyi. Sania menatap layar melihat siapa yang telepon.


"Assalamualaikum..papa ngajak makan siang bersama. Siap-siap pergi."


"Waalaikumsalam..iya Lieve!" sahut Sania menyerupai bisikkan.


Sania melirik jam di ponsel. Masih ada waktu setengah jam lagi menuju jam makan siang. Sania tak sia kan cek ulang semua file yang sudah difoto kopi oleh Dea. Ini bukan proyek main-main. Sania harus yakin semua ok untuk dibawa presentase di PT. SHINY.

__ADS_1


Wanita kurang waras yang sibuk goda Bara masih betah cari perhatian suaminya. Sania tak merasa terancam oleh kehadiran Maya. Justru Sania kasihan pada wanita yang telah hilang akal sehat ingin kuasai suami orang.


Sudah dandanan kayak ondel-ondel warna warni. Wajah dipermak kayak orang kena bogem mentah. Memar sana sini. Di mana sih akal Maya sampai hancur gitu. Sania merasa Maya termakan trending merubah diri cari perhatian orang. Bisa jadi Maya punya kelainan jiwa maka suaminya minta cerai.


Akhirnya Bara keluar dari ruang kantornya menuju ke arah Sania. Pak Jaya undang Bara dan Sania makan siang bersama untuk mengenal menantu spektakuler lebih dalam. Pak Jaya sadar kalau gadis yang tampak lemah itu punya kekuatan maha dahsyat yang tak terlihat. Sania bukan gadis sederhana seperti tampak dari retina mata.


Sania segera ikuti Bara tanpa tanya ini itu lagi. Sebelumnya Sania beri kode pada Dea minta ijin keluar sama Bara. Sania tetap junjung tinggi rekan sejawat walau statusnya lebih tinggi dari Dea. Sania adalah nyonya bos. Sifat rendah hati Sania bikin Dea makin salut pada gadis itu.


Bara dan Sania berjalan iringan menuju ke parkiran. Bara harap Sania tak konyol minta bawa dua mobil. Sania itu kadang menjengkelkan Bara. Namun Bara yang lebih tua harus maklumi sifat kekanakan gadis itu.


"Naik..." Bara buka pintu mobil buat Sania layak pasangan bahagia umumnya.


Sania tak membantah ikuti perintah suami. Saat ini Bara adalah suami lahir batin. Bara sah pemilik Sania. Tak ada yang berubah sejak meninggalnya Nania. Sania tak bisa ingkar janji pergi dari Bara. Sania terlanjur janji pada Nania waktu sedang menunggu ajal terakhir.


"Mengapa diam? Masih kesal sama Maya?" tanya Bara sambil melajukan mobil ke arah jalan raya.


"Kenapa harus kesal pada orang hilang tujuan hidup? Maya mu lebih mirip orang kena gangguan jiwa. Terobsesi pada sesuatu yang tak wajar." Sania keluarkan cara pandang sendiri tentang Maya.


"Dia menikah dengan seorang Professor hebat walau sedikit tua. Mereka punya sepasang anak yang cantik. Lama tak dengar berita Maya. Muncul sudah berubah total." keluh Bara merasa iba pada Maya. Dulu Maya lumayan cantik dengan tampang khas ketimuran. Mata belo dengan rahang khas produk orang timur. Bara ingat sekali waktu kuliah bersama di Australia.


"Aku rasa ada sesuatu buat Maya berubah sikap. Mungkin cemburu pada seseorang atau memang cinta padamu." Sania menanti reaksi Bara dibilang Maya cinta padanya.


Bara menggeleng, "Kami berteman cukup lama. Dia termasuk siswa pintar. Dia itu S2 juga di bidang Biologi. Dia bisa jadi dosen tapi dia malah memilih jadi ibu rumah tangga. Ntah apa tujuan utamanya?"


"Lieve harus bantu dia keluar dari kemelut ini. Kasihan anaknya bila mamanya begini."


"Aku tak boleh terlalu dekat dengannya. Nanti dia pikir aku cinta padanya. Bukan selesaikan masalah tapi cipta masalah baru. Aku sudah punya isteri yang harus kunafkahi mana mungkin aku main gila lagi." ujar Bara sambil tersenyum lembut pada Sania. Sania pura-pura tak lihat senyum manis suaminya. Sania yakin Bara sedang menggodanya.


"Malam ini kamu tidur di rumah ya! Kasihan Bik Sur sendirian di rumah."


"Bik Sur atau beruang kutub kesepian?"


Bara terkekeh, " Duanya. Nanti malam kita bahas tugas ke PT SHINY. Aku dukung kamu selama kamu senang. Tapi janji jangan capek! Proyek PT SHINY bukan proyek kecil. Itu bernilai triliunan. Kita tak bisa kerja berdasarkan insting. Tapi harus dengan perhitungan matang."


Sania menangkap keraguan di nada suara Bara. Bara mungkin belum percaya pada kepiawaian Sania di bidang konstruksi. Umur Sania terbilang muda di bidang ini walau Sania sudah buktikan rancangannya bisa dipakai.


Sania tak berniat jelaskan bagaimana dia usaha untuk menang tender ini. Hanya cuap di mulut tanpa bukti bukan satu prestasi besar. Sania harus buktikan di ajang pertarungan di PT SHINY.


"Kita lihat besok." Sania tak mau gembar gembor sok pintar sebelum beri bukti nyata pada Bara.


Restoran mewah yang dituju sudah di depan hidung. Bara dan Sania segera mencari Pak Jaya yang sudah duluan tiba di tempat. Suasana restoran adem walau ramai karena memang saatnya orang mengisi perut. Yang datang rata-rata orang berpakaian necis. Ini nyatakan restoran ini terbilang bonafide.


Mata Bara mencari sang papa yang katanya sudah hadir di tempat. Benar saja kata Pak Jaya, pak tua itu melambai beri tanda pada Bara dan Sania untuk merapat.


Tanpa buang waktu Bara meraih tangan Sania untuk hampiri sang papa. Senyum lebar Pak Jaya menyambut anak mantunya. Wajah Pak Jaya berseri bahagia lihat Bara dan Sania akur. Sebagai orang tua Pak Jaya hanya punya harapan anaknya hidup bahagia dengan keluarga.


"Ayok duduk! Mau makan apa?" Pak Jaya tanya menu selera kedua anak yang baru bergabung.


"Sania cukup salmon bakar dan jus tomat." sahut Sania sambil ambil tempat di samping Pak Jaya.

__ADS_1


"Aku cukup beef steak dengan saos tiram. Minum air mineral saja." Bara ikutan pesan menu makan siang.


"Ok.." Pak Jaya beri kode pada pelayan untuk beri orderan Sania dan Bara. Pak Jaya tampak sangat bahagia hati itu. Apa yang menyebabkan Pak tua ini tampak sumringah. Mungkin dapat undian berharga dari salah satu produk yang dia jual.


"Tak ajak mama makan bersama?" tanya Bara tak melihat wanita pujaan sang papa di sekeliling.


"Papa dari kantor langsung ke sini. Bagaimana perkembangan perusahaanmu?"


"Hari ini kami lakukan wawancara pegawai baru. Aku bakal rekrut Sepuluh pegawai baru." sahut Bara.


"Kantormu kecil apa bisa tampung segitu banyak pegawai?"


"Segitu dulu pa! Bara belum punya dana cari gedung baru. Sewa gedung kan mahal. Apalagi perusahaan baru mulai move on."


"Papa akan atur gedung untukmu. Kita kan punya gedung sepuluh lantai di depan kantor papa. Kau bisa pakai untuk sementara ini. Semua inventaris sudah lengkap. Tinggal kalian pindah. Papa akan atur yang terbaik." kata Pak Jaya kalem.


Bara menatap Sania minta pendapat. Kini Bara sudah beristeri wajar berkoordinasi dengan Sania dulu sebelum beri jawaban. Sania juga punya hak berbicara bila dihubungkan dengan kantor.


"Kantor lebih besar memang diperlukan. Tapi biaya perawatan juga lebih mahal. Untuk saat ini kita perlu modal cukup besar." Sania beri pendapat sesuai fakta. Keuangan Bara belum bisa bicara investasi kantor baru.


Pak Jaya mangut pahami tujuan Sania ingin hemat pengeluaran. Ini demi Bara yang baru mulai bangkit dari keterpurukan. Pak Jaya makin buka mata kalau Sania bukan wanita mata duitan. Sania malah ingin Bara berhemat agar bisa jangkau hasil lebih sempurna di proyek.


"Gimana kalau gabung sama papa. Toh di gedung papa masih banyak ruang kosong. Kalian bisa pakai empat lantai."


"Tak usah pa. Tak mungkin kita gabungkan dua perusahaan dalam satu gedung. Untuk sementara kita pakai gedung sekarang. Kita lihat perkembangan berapa bulan lagi." Bara keluarkan isi tak mau merepotkan orang tua. Bara juga memikirkan Fadil yang belum tentu setuju kedua perusahaan bergabung.


"Ok..papa tunggu kabar kalian. Oya Sania...ini papa mau minta tolong hubung perusahaan di Jerman! Ada pemesanan alat berat yang sama dengan yang dulu. Kau bisa atur?"


"Tentu..." sahut Sania cepat. Ternyata tujuan makan siang adalah bicara bisnis. Sania tak menolak permintaan sang mertua yang ingin minta bantuan beli alat berat.


"Baguslah! Semoga papa bisa andalkan kamu untuk selanjutnya. Papa cukup pusing lewat pihak ketiga. Uang ditransfer tapi barang datang sampai berbulan."


"Papa tenang saja. Jam tiga nanti kita hubung mereka. Di sana masih pagi. Tak enak ganggu orang. Papa kirim data barang yang ingin dipesan. Nanti Sania kabarin!"


"Terima kasih nak! Papa lega Bara dapat pengawal kompeten. Papa kuatir seumur hidup Bara terjebak di lingkaran itu itu juga." Pak Jaya melirik Bara harap anaknya keluar dari lingkaran setan yang menjeratnya. Ini semua berawal dari teman kuliah di Australia yang telah menoreh kisah kusam.


Sania menghela nafas ingat satu persatu orang masa lalu Bara berkumpul kembali. Roy, Rudi, Arsy dan sekarang Maya telah hadir dalam hidup Bara lagi. Kisah apa bakal muncul di kemudian hari?


"Yang berlalu biar berlalu pa! Kini kita harus berjuang untuk capai hasil lebih baik. Papa doakan kami menangkan tender PT. SHINY. Besok kami akan presentasi di PT itu!"


"Kau yakin? Itu proyek raksasa. Bukan cuma sekedar gedung kecil." Pak Jaya tak yakin Bara dan Sania mampu tembus tender semegah itu. Pesaing berat siap lumatkan mereka.


"Insyaallah Sania yakin. Konsep awal sudah kukirim ke perusahaan itu. Katanya yang terpilih cuma empat perusahaan."


"Bukankah papa dengar proyek itu sudah diberikan pada Build tanpa tender?"


"Sania rasa tidak. Kalau memang milik PT BUILD kenapa bisa muncul pelelangan proyek? Itu hanya rumor. Kudengar PT BUILD tak lolos seleksi. Malah kita yang kecil berhasil curi perhatian mereka. Pokoknya papa bantu doa." Sania mematahkan keraguan Pak Jaya mohon dukungan agar bisa menangkan tender.


"Tentu...tentu..kita doa bersama." Pak Jaya tak ingin patahkan semangat juang Sania. Menang kalah bukan soal. Yang penting semangat juang berkobar di dada.

__ADS_1


Anak muda macam Sania dan Bara memang seharusnya punya semangat juang tinggi. Mengharap tanpa buang tenaga pikiran itu tugas orang pemalas. Ingin capai puncak tapi tak boleh capek. Hanya orang invalid punya pola pikir gitu.


Pak Jaya tak habis kagum pada wanita pilihan Bara kali ini. Selain cantik juga pintar. Mungkin sudah rejeki Bara diberi bonus lebih sempurna setelah tenggelam dalam lumpur comberan selama tujuh tahun


__ADS_2