
Bara tertawa kecil lihat Sania berlari kecil masuk kamar mandi. Bara bisa bayangkan betapa Sania malu diajak canda berlebihan. Padahal candaan Bara sangat sederhana dibincangkan antara suami isteri. Mengapa Sania selalu malu diajak bahas masalah ranjang.
Pikir punya pikir Bara lanjutkan tidur karena masih terasa ngantuk. Toh hari ini dia libur bisa santai di rumah sementara isteri wonder woman siap bertarung di luar cari rejeki untuk suami. Bara bukan mau manfaatkan kepintaran Sania tapi keadaan memaksanya harus sabar di rumah.
Bara menaruh harapan besar pada Sania untuk tangani proyek rumah sakit dan bank milik dua orang kaya di tanah air.
Singkatnya Sania berangkat kerja setelah pamitan pada orang tua Bara. Sania tak pamitan pada Bara karena lakinya sudah tidur lagi. Sania tak tega ganggu suaminya. Sania tak mau memikirkan mengapa Bara tak tidur semalam. Itu hak Bara. Sania tak boleh terlalu jauh campur urusan pribadi Bara mengingat hubungan mereka belum capai titik temu. Keduanya masih ragu ragu baca perasaan sendiri.
Sania tiba di kantor cukup pagi. Tak satupun pegawai Bara tiba karena memang belum jam kerja. Jam dinding masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Masih ada waktu setengah jam lagi menuju jam kantor sesungguhnya.
Sania naik ke lantai atas tempatnya biasa beraktifitas. Kesunyian menyambut kehadiran Sania. Keheningan merajai seluruh ruangan seakan ruang itu tak ada penghuni hidup selain perabotan tak bernyawa.
Sania menghela nafas ingat perjalanan hidupnya yang kacau. Terjebak cinta palsu Bobby dan sekarang terikat pernikahan dengan Bara. Bara perlahan tapi pasti telah mengukir keindahan di hati. Namun Sania tak mau gegabah putuskan suka pada Bara. Sania akan tinggalkan Bara setelah laki itu temukan sarang nyaman yang bisa dampingi laki itu melanjutkan hidup.
Sania berjanji dampingi Bara pada Nania. Janji itu tetap akan Sania tepati sampai waktunya Sania bisa ikhlas lepaskan Bara menemukan kebahagiaan.
Sania angkat telepon meneleponi seseorang yang misterius. Orang itu selalu bantu Sania menyelesaikan masalah diluar. Orang yang bisa Sania andalkan menyelesaikan misinya.
"Halo...ada kabar?" tanya Sania datar tak manis seperti biasa.
"Hasil test DNA Ranti masih butuh dua hari lagi. Darman sudah di tangan. Dia sudah akui semua. Tinggal bagaimana nona perintahkan urus orang ini. Masalah saham sudah diurus dengan aman. Sembilan puluh lima persen sudah di tangan. Kami menanti perintah nona."
"Tiga hari lagi rapat di kantor PT Sunrise. Aku akan atur siapa yang akan tampil sebagai pemegang saham mayoritas. Aku akan kabari kalian untuk dampingi orangku. Kawal Rangga dan Agra secara diam-diam! Aku tak mau terjadi sesuatu pada mereka. Oya..tolong cari orang bersihkan rumah peninggalan mamaku! Aku mau pindah ke sana."
"Siap nona! Oya rumah nona Ranti bagaimana? Tak ada tanggapan dari pihak Bobby."
"Eksekusi..jangan beri panggung untuk mereka! Mereka pikir aku badut bisa diajak buat lelucon. Kasih waktu dua hari untuk keluar." sahut Sania dingin kenang kejahatan Bobby dan Ranti anggap dia orang bodoh bisa dirayu pakai materi. Bobby harus rasakan bagaimana dilecehkan secara umum. Sania mau semua tahu kalau Ranti dan Bobby numpang tenar dari hak orang.
"Siap non! Ada empat orang siap kawal nona. Jarak sepuluh meter."
"Iya..jaga kesehatan para pengawal! Beri harga sepantas untuk pengabdian mereka. Kamu juga jaga diri."
"Iya nona! Mereka supir online, pengemudi ojek online dan dua berpakaian preman jaket putih."
"Aku ngerti. Kalian hati hati bertindak! Jangan anarkis apalagi lukai orang! Kita cari keadilan bukan pembunuh."
"Ngerti."
"Baiklah! Aku akan telepon lagi kalau perlu. Jalankan semua misi dengan sempurna!"
"Siap"
Sania menutup ponsel lalu meletakkan di meja. Hati Sania terasa sedih harus turun tangan kejam pada orang-orang yang telah curang padanya. Sania harus kasih pelajaran pada orang yang gampang jatuhkan tangan kejam pada orang lain tanpa pikir sakit orang itu. Mereka juga harus rasakan sakitnya yang dirasakan orang lain.
Sania tak buka laptop karena datang memang hanya untuk ambil mobil hendak jumpa klien. Sania sengaja menunggu Dea untuk beri amanah pada semua pegawai sini menjaga rahasianya sebaai isteri Bara. Sania tak mau statusnya terekspos keluar sebelum yakin pada perasaan sendiri.
__ADS_1
Satu persatu pegawai datang memenuhi kantor. Rencana rekrut pegawai baru tertunda gara meninggalnya Nania. Sania tak mau memaksa untuk rekrut pegawai sebelum dapat ijin Bara. Bara adalah bos dari perusahaan, Bara yang berhak tentukan kapan masuk pegawai baru dan siapa yang bisa diajak kerja.
Sania menanti kehadiran Dea yang paling paham kondisinya. Sania mau ajak semua pegawai rapat soal statusnya di kantor. Dia hanya pegawai Bara walau status aslinya adalah nyonya Bara.
Dea berseru senang melihat Sania masuk kantor. Dea memeluk Sania dengan hati riang. Kehadiran Sania bisaa menambah semangat kerja mereka. Tanpa pemimpin kantor seperti kehilangan gairah bak orang kekurangan vitamin.
"Kau masuk kerja?"
Sania mengangguk benarkan kata Dea. Dea melepaskan pelukan meneliti kondisi Sania yang agak pucat. Kesehatan Sania juga bukan fit sekali karena beberapa kejadian beruntun menyita pikirannya.
"Kalian gimana? Bisa kerja tanpa instruksi Pak Bara?"
"Ada pak Roy kontrol kami. Tapi kami tetap senang kamu yang datang." kata Dea dengan mata berbinar.
"Kak Dea..aku mau minta tolong pada kalian untuk tak sebar aku ini isteri Pak Bara."
"Lha kenapa?"
Sania kembali duduk di mejanya tak tahu kasih alasan tepat buat Dea tutupi statusnya. Menjadi isteri Bara merupakan impian para wanita tapi mengapa Sania mau menyembunyikan siapa dirinya. Dea terheran-heran pada permintaan Sania.
"Kak..isteri Pak Bara baru meninggal dan tersebar berita sudah punya bini baru. Bukankah akan jadi berita buruk. Di mata orang tetap mengira aku pelakor dan Pak Bara berselingkuh sampai isteri meninggal." Sania beri alasan tepat biar Dea paham tujuan dia sembunyikan status sebagai isteri Bara.
"Oh gitu! Ok..aku akan panggil semua anggota kita. Biar kamu langsung omong. Kalau aku yang omong nanti dikira cari muka."
Sania mangut setuju saran Dea langsung berhadapan sama pegawai yang semua berada di lantai bawah.
"Siap nyonyaku yang cantik." Dea rapatkan jari siagakan diri jadi petugas setia laksanakan perintah atasan.
Sania mengatur nafas sebelum jumpa para pegawai inti yang tak tahu apa yang ada di benak mereka berpikir sosok Sania sesungguhnya. Sania orangnya bagaimana mungkin hanya Dea yang lebih tahu. Sania berhati emas itu julukan Dea buat Sania.
Semua pegawai inti kantor Bara cukup kaget diajak rapat tanpa Pak Bara. Mereka tahu posisi Sania cukup penting dalam hidup Bara maka tak ada yang berani membantah. Mereka ikut rapat secara suka rela.
Ketegangan warnai suasana ruang rapat. Sania berdiri di depan meja sedikit gugup ntah bagaimana harus mulai percakapan yang menjurus masalah dia dan Bara. Sejujurnya Sania mau jaga nama baik Bara.
Dea yang maklum kegalauan Sania ambil inisiatif masuk dalam topik agar jangan berlarut dalam ketegangan. Cepat atau lambat masalah ini harus dibincangkan.
"Teman-teman kita tahu Bu Nania baru meninggal. Kita di sini harus hormati beliau yang telah dahului kita. Sebagaimana kita ketahui kalau Sania ini juga isteri Pak Bara. Alangkah baik kalai kita bisa jaga privasi bos kita di masyarakat." ujar Dea diplomasi.
"Aduh! Pusing aku berputar-putar. To the point saja." judes Dhenok tak sabaran Dea pidato tanpa arah jelas. Dhenok paling anti Sania ambil kesempatan cari posisi aman masuk ke hidup Bara.
"Maaf temanku! Biar aku jelaskan di sini. Pak Bara baru kehilangan isteri dan tiba-tiba ada kabar Pak Bara sudah ada isteri sebelum isterinya meninggal. Bukankah akan merusak reputasi beliau sebagai bos perusahan. Jadi kumohon kalian lupakan Pak Bara sudah menikah lagi. Ini demi nama baik beliau." ujar Sania cukup grogi ditatap lekat-lekat oleh teman sekantor.
"Takut disebut pelakor ya?" sinis Dhenok senang Sania terpojok oleh status tak jelas.
"Kenapa harus takut bila kita tak merasa bersalah. Aku cuma tak mau masyarakat berpikir negatif pada Pak Bara. Kalau kalian suka bergunjing aku yang diuntungkan. Toh mbak Nania sudah meninggal! Posisiku makin kuat. Tapi itu bukan point aku tak mau tampil sebagai isteri bos. Ini menjaga reputasi bos." Sania jawab mematahkan mulut keras Dhenok.
__ADS_1
"Kau memang sengaja goda Pak Bara?"
"Aku goda Pak Bara? Dari mana ku duga kau wanita penggoda? Aku di sini bekerja untuk perusahaan bukan kerjanya bergunjing dan pamer tubuh untuk dilirik bos. Kalaupun aku punya status sebagai isteri bos adalah ranah pribadi tapi aku tak mau gunakan statusku menekan kalian. Aku hanya mau dianggap rekan kerja majukan perusahaan." Sania mulai keras pada Dhenok yang dianggap Sania terlalu lancang mengurus masalah pribadi Bara.
Semua menunduk tak bisa jawab. Tak dipungkiri sejak kehadiran Sania kantor berubah total. Lebih bercahaya dan suasana lebih adem. Kerjapun berdatangan bak air mengalir. Ini tak luput dari kegigihan Sania lobi proyek.
"Kami ngerti..mulai detik ini soal ini kita tutup buku. Pak Bara tutupi pernikahan kalian tentu ada sebab." ucap Sugeng sebagai pegawai paling senior.
"Salah..bukan Pak Bara mau tutupi hal ini tapi aku. Aku hanya jaga reputasi Pak Bara. Dan setelah tujuh hari meninggal Mbak Nania aku kembali pada hidupku menjadi pegawai biasa macam kalian." Sania menekankan kalau semua tak seperti yang dibayangkan rekan-rekan lain.
"Kami paham. Kita sudahi masalah pribadi Pak Bara. Apapun keinginan Pak Bara akan kita penuhi." jawab Savitri mulai paham niat Sania melindungi nama Bara di kalangan pebisnis.
"Terima kasih. Dan sekarang kita bahas soal kerja. Hari ini aku akan lobi dua proyek untuk pembangunan rumah sakit dan bank. Aku akan kirim gambar dan file pada kalian secepatnya. Doakan aku berhasil!"
Mata yang hadir di ruang rapat kontan berbinar. Dapat proyek lagi merupakan karunia besar setelah vakum cukup lama. Sania adalah bintang rejeki bagi Bara. Tak sia Bara nikahi wanita sekokoh Sania.
Dhenok merasa terhempas ke dasar jurang dijatuhkan Sania. Hasrat menggebu untuk jadi nyonya besar Bara butakan mata Dhenok dengan siapa dia cari lawan. Dhenok sengaja berpakaian sexy dengan harapan Bara akan tertarik padanya. Nyatanya harapan itu hanyalah angan kosong. Bara telah temukan mesin pencari rejeki maha canggih. Bisa lobi proyek secepat kilat.
"Kita tak sabar menanti kabarmu Sania. Kami minta maaf bila kamu tersinggung pada sikap kami tadi." Sugeng kembali keluarkan kalimat baik untuk pulihkan mood Sania yang sempat berantakan gara sikap kasar Dhenok.
"Tak apa. Kalian kawal perumahan Pak Wandi. Kita semua harap hasil terbaik untuk perusahaan. Kalau ada rekan kalian yang ahli di bidang konstruksi boleh rekomendasi. Kita butuh pegawai baru untuk bantu proyek mendatang."
"Ada...pegawai dulu yang resign banyak yang nganggur. Rata pegawai lama." seru Tio tak dapat sembunyikan rasa senang karena bisa ajak rekan -rekan yang keluar gara perusahaan terpuruk.
"Ok..suruh mereka buat lamaran sesuai prosedur. Keputusan ada sama Pak Bara."
Kelegaan terpancar di wajah para pegawai Bara. Andai perusahaan Bara betul bangkit mereka juga akan dapat berkah. Mereka adalah senior di situ otomatis posisi mereka lebih tinggi dari pegawai baru. Paling tidak bisa angkuh jadi senior. Bisa bicara lebih keras pada bawahan. Angan indah melayang di angan masing masing bayangkan kantor ramai oleh pegawai baru. Siapa tahu masuk cewek cantik dan cowok ganteng untuk lepas dahaga bagi jomblo sejati.
"Ok..kita bubar! Kalian tetap ikuti perintah Pak Bara. Aku langsung ke klien. Berdoalah agar jalan kita diperlancar!"
"Amin..." koor panjang semarakkan ruang rapat kantor Bara. Harapan mereka tentu sama. Harap perusahaan maju.
"Terima kasih. Aku permisi. Assalamualaikum..." Sania duluan tinggalkan ruang rapat kembali ke meja kerjanya.
Sebenarnya dalam hati Sania sedih dituduh menggoda Bara oleh Dhenok. Dhenok tak salah. Secara logika semua orang akan berpikir sama Sania memang sengaja jebak Bara dalam pernikahan. Tak ada yang tahu Sania hanya korban dari rasa sosial terlalu besar.
Sedikitpun Sania tak sangka Nania akan cepat pergi. Sania belum sempat lakukan apapun untuk Nania walau hari hari terakhir hidupnya lebih semangat. Mungkin itulah titik akhir kebahagiaan Nania.
Dea kurang suka pada Dhenok yang sudutkan Sania seakan Sania wanita gila materi. Berdasarkan kehebatan Sania tak susah cari uang lebih banyak dari milik Bara. Dea paling ngerti mengapa Sania menikah dengan Bara.
"Nok...kunasehati kamu jangan asal cuap! Suatu saat mulutmu akan makan kamu sendiri. Kau berkaca lah! Bertahun pakai baju ketat goda Pak Bara. Apa yang kau dapat? Zonk bukan?"
"Apa peduliku? Pak Bara cuma belum lihat pesonaku." koar Dhenok belum menyerah ingin jadi nyonya Bara. Itu cita-cita terbesar dalam hidup Dhenok.
"Kau bisa bawa tender ke kantor? Kau bisa gambar rancangan yang diminta Pak Bara?" seru Dea keluar logat Batak full power.
__ADS_1
"Dhenok bisa kok gambar profil telanjang Pak Bara di otak kotornya." timpal Mosa sambil tertawa ngejek.