
Bara malu bukan main diajak bahas soal hubungan suami isteri oleh mamanya. Bara mana mungkin terus terang bagaimana dia bercinta dengan Sania. Sungguh mama gaul, tak malu ungkap percintaan pria wanita.
"Mama sudah tua. Mama sudah lalui hari-hari yang telah kalian lalui. Tak usah malu-malu ayam sama mama." ujar Bu Jaya seakan Bara anak kecil bisa diatur. Bu Jaya mungkin lupa sudah ada berapa wanita lalu lalang dalam hidup anaknya.
"Ma...jangan buat Bara malu. Papa dan Fadil mana?" Bara turun ke lantai bawah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan namun tak tampak dua jagoan di rumah itu.
"Kamu pikir sudah jam berapa? Papamu sudah pergi urus masalah semalam."
"Apa betul bisa dibongkar?"
"Katanya sih bisa. Orang lapangan sudah hubungi papa bilang sudah bisa bongkar. Mama kagum pada bini lhu! Super woman."
Bara tak sangka kemampuan Sania memang tak usah diragukan. Isterinya tak membual bisa bebaskan alat berat dari Jerman yang tertahan karena salah dokumen. Pak Jaya sudah ingin bayar lebih agar alat berat bisa lepas namun tetap tak berhasil.
Sania muncul persoalan langsung clear. Artinya Sania punya latar belakang cukup kuat baru bisa selesaikan keribetan dalam waktu singkat. Sejujurnya Bara masih buta soal Sania. Bara belum dalami siapa sesungguhnya bini mudanya itu. Masih banyak pr harus dia kerjakan untuk gali kehidupan pribadi Sania.
"Kok jadi melamun?" Bu Jaya menepuk punggung Bara agar jangan asyik melamun. Sudah dapat jatah pagi demikian lezat masih belum puas.
"Ma...kalau Bara ada penyakit jantung mungkin sudah lewat. Mama suka kagetin orang." omel Bara dibuat kaget sama mama tercinta.
"Tak baik kosongkan pikiran. Dirasuki setan baru nyaho. Sekarang sarapan dan habis itu kawani mama belanja. Stok makanan sudah habis."
Bara mengiyakan tak bisa ngelak. Di rumah hanya tinggal dia yang jadi pengangguran sementara ini. Yang lain pada pergi kerja. Tak as ada alasan Bara menolak ajakan sang mama.
Di kantor Sania melupakan moments indah bersama Bara karena dikejar target. Sania harus bisa selesaikan sketsa kasar untuk Dr. Cipto dan Pak Zainal untuk dilanjutkan ke rancangan sesungguhnya. Sania tetap harus diskusi setiap ruang dan lantai sesuai permintaan pelanggan. Memenuhi harapan pelanggan adalah tugas seorang perancang. Sania keluarkan semua isi otak dituangkan ke rancangan sesuai permintaan kedua pelanggan Bara.
Di tengah kesibukan ponsel Sania berbunyi. Sania melirik ponsel yang tergeletak di meja gambar. Sania angkat tanpa ragu setelah tahu siapa yang telepon.
"Assalamualaikum pa.."
"Waalaikumsalam...papa ucapkan terima kasih nak! Semua alat berat sudah bisa dibongkar." ternyata yang telepon Pak Jaya ingin ucapkan terima kasih pada mantu berkualitas itu.
"Mengapa harus ada kata terima kasih. Itu kewajiban ku membantu keluarga. Semoga untuk selanjutnya tak ada kendala begini lagi."
"Amin...kau di kantor?"
"Iya pa! Kejar target."
"Kerja boleh tapi jaga kesehatan. Papa ingin traktir kamu makan siang."
"Tak usah repot pa. Kita jumpa di rumah nanti. Sania benar sibuk." tolak Sania halus. Sania bukan hendak menolak niat baik sang mertua tapi tak mau dibilang minta balas jasa.
"Baiklah! Papa tunggu kamu di rumah. Cepat pulang ya!"
"Iya pa.."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..." Sania menarik kembali ponsel di atas meja kerja. Sania lemparkan pandangan ke arah Dea yang makin repot akhir-akhir ini karena banyak tugas. Untunglah Roy bisa bantu Bara handel tugas di lapangan. Kalau tidak Sania yang harus terjun langsung gantiin Bara.
Ponsel Sania berbunyi lagi. Sania melihat no yang tertera di layar dengan hati bimbang. Sania tak bisa angkat hp di dekat Dea karena ini menyangkut ranah masalah pribadi.
Sania mengambil ponsel lalu masuk ke ruang kerja Bara. Di sana lebih tertutup leluasa bicara ke ranah rahasia.
"Halo...ada apa?"
"Semua sudah beres non! Bobby terpaksa beli rumah itu dengan harga tinggi karena malu. Darman aman dan terakhir hasil DNA Ranti dan sample yan nona berikan tak ada hubungan sama sekali. Negatif."
Sania termenung dengar laporan orang yang ditugaskan melakukan semua perintah. Ternyata dugaannya tak meleset. Ranti bukan saudaranya. Ranti anak hasil perselingkuhan Amanda dengan laki lain. Sania makin yakin untuk habisi Amanda tak bersisa. Wanita itu terlalu kejam tak pantas diberi tempat di bumi ini. Manusia licik itu hanya menambah polusi di bumi.
"Kirim surat ke PT. Sunrise untuk rapat Senin ini. Pemilik mayoritas akan ambil alih perusahaan."
"Ya non...kapan kita arahkan Darman ke polisi?"
"Tunggu kabarku! Setelah rapat baru kita kirim manusia iblis itu ke penjara. Jaga Darman baik-baik jangan sampai kabur!"
"Siap...apa ada perintah lain?"
"Kawal Agra dan Rangga! Dan jangan kasih ruang pada Bobby main cicil uang rumah. Laki sialan itu harus rasakan gimana rasa yang namanya sakit."
__ADS_1
"Ya non! Non juga harus hati-hati. Menurut Darman kalau Amanda itu senang pakai mafia. Tapi sudah kami pantau pihak mana yang jadi anjing suruhan wanita itu."
"Bagus...kamu juga harus waspada. Jangan lengah!"
"Terima kasih non! Aku ada hari ini karena non. Seumur hidup aku takkan lupakan jasa non pada kami sekeluarga."
"Huuusss omong apa itu? Kamu sudah seperti saudara bagiku. Jaga kesehatan!"
"Siap."
Sania mematikan ponsel tanpa ragu. Sania terduduk di sofa ruang Bara mengingat beratnya area yang harus dia lalui ke depan. Sania bukan kuatir soal Bara tapi soal Rangga dan Agra. Sania harus atur masa depan kedua saudaranya agar tidak terlunta-lunta bila Sania tak ada.
Sania angkat ponsel meneleponi seseorang untuk ajak diskusi masalah keluarga mereka. Siapa lagi kalau bukan Rangga.
"Assalamualaikum mas.."
"Waalaikumsalam...ada apa dek? Masih ingat punya abang?" terdengar nada sewot di seberang sana.
"Idihhh yang marah! Kita bisa jumpa? Jangan bawa Agra!"
"Bisa... urgent?"
"Banget...kutunggu mas di cafe dekat kantor Bara."
"Sekarang?"
"Ngak...tahun depan!"
"Lho kok sewot? Seharusnya mas yang marah. Kamu lupa sama kami."
"Siapa lupa? Aku benar sibuk mas. Aku cuma punya kalian berdua. Kalian darahku."
"Lalu si Bara apa? Selingkuhan?"
"Mas sarapan apa sih? Kok panas melulu?"
Sania merasa seluruh tulang rontok ingat Agra yang haus kasih sayang dari orang terdekat. Sania percaya Lisa dan keluarganya sayang pada Agra tapi tetap ada gap antara mereka. Agra bisa rasakan hubungan darah kental antara dia, Sania dan Rangga. Remaja tanggung macam Agra memang butuh perhatian lebih.
Ada rasa bersalah menyelinap di hati. Sania merasa berdosa abaikan adik kandung sendiri.
"Maafkan Sania mas. Setelah Sania selesai dengan rancangan bangunan akan jemput Agra nginap di rumah."
"Bagus tapi ingat janjimu! Jangan beri angin surga kosong!"
"Iya..kita jumpa nanti. Mas berangkat sekarang ya!"
"Iya...tapi kupesan Lisa jemput Agra dulu! Kasihan Agra tak ada yang jemput."
"Baiklah!" Sania yakin Lisa tak keberatan jemput calon adik ipar. Lisa tergila-gila pada Rangga tentu saja rela lakukan apa saja untuk laki itu.
Sania kembali menutup hp. Sania tak buang waktu segera keluar untuk temui Rangga di tempat yang sudah dijanjikan. Sania pamitan juga sama Dea untuk hormati wanita itu sebagai senior di kantor. Sania termasuk pendatang walau kiprahnya jauh lebih luas. Sania tak boleh angkuh dengan kemampuan yang dia miliki saat ini. Semua pasti ada batas. Harus ingat pepatah mengatakan di atas langit ada langit lagi.
Sania duluan sampai di cafe menanti Rangga. Jarak antara kantor dengan cafe sangat dekat. Cukup ditempuh dengan jalan kaki. Sedang Rangga harus tempuh jarak lumayan jauh dari bengkel Pak Bur ke lokasi kantor Sania.
Sania memesan jus tomat sebagai pelepas dahaga di hari menjelang siang. Udara lumayan menyengat kulit. Sania berjalan kaki menuju ke cafe terkuras juga cairan di tubuh. Saatnya bayar pakai segelas jus tomat segar. Sania nikmati minuman hidangan pelayan sambil menanti Rangga.
Iseng-iseng Sania meneleponi Lisa cari tahu kondisi bengkel dan keluarga Pak Bur. Sania rindu juga pada temannya yang bocor itu. Sudah berapa hari mereka lost kontak. Sania tak tahu kalimat ajaib apa bisa keluar dari bibir mirip bibir ikan koi itu.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam...dasar anak tak tahu diri! Ente amblas ke ketek Bara ya? Terjepit di sela ketek bau lakimu?" Sania jauhkan kuping dari ponsel tak sanggup dengar ledakkan listrik ribuan watt. Lisa bak listrik tegangan tinggi siap nyetrum orang di depan mata. Untung Sania tak berada di dekat Lisa. Bisa gosong disetrum gadis bocor itu.
"Ketek Bara wangi maka betah. Kau mau coba?" tawar Sania kalem tak ikutan gila.
"Siapa sudi jadi pelakor? Amit-amit deh!"
"Woi..ente ngejek aku ya? Aku kan pelakor kondang di antara Nania dan Bara."
"Kamu diistimewakan. Ente pelakor elite. Kapan pulang sini?"
__ADS_1
"Tugasku satu ton. Gimana bengkel?"
"Sembilan puluh persen. Doorsmeer mas Rangga hampir selesai. Kamu harus pulang lihat semuanya."
"Aku percaya pada kalian. Aku betul sibuk say! Kejar proyek!"
"Jangan bilang kamu jadi budak Bara cari proyek ya! Kisah lama jangan terulang lagi!"
"Tidak..Bara yang cari proyek. Aku cuma rancang. Kamu mau gabung di kantor kami?"
"No...aku mau jadi nyonya pemilik doorsmeer. Takut mas tulen ku diembat orang. Sini banyak jentik nyamuk harus dibasmi. Kudengar Putri dan Sekar sudah resign dari Bobby. Kau mau rekrut mereka?"
"Suruh mereka kirim lamaran ke perusahaan Bara. Kami lagi cari pegawai baru. Terutama Putri, dia sudah kenal sifatku. Aku bisa angkat dia jadi asistenku."
"Ok..eh..tadi mas Rangga minta aku jemput Agra. Dia bilang mau jumpa kamu. Apa iya?"
"Ngak tuh! Mungkin jumpa ceweknya kali." Sania sengaja goda Lisa biar cemburu buta.
"Yang bener peri jelek. Dia bilang mau jumpa kamu bahas soal bengkel."
"Aku di kantor. Masih sibuk. Kapan mau jumpa mas Rangga?" Sania makin gencar kacaukan pikiran Lisa dengan dugaan jelek terhadap Rangga.
"Aduh peri jelek...cewek genit mana ajak kencan dewa Venusku? Aku harus cari tahu siapa berani rebut milik pribadi Lisa? Akan kuulek sampai gepeng." seru Lisa berapi-api. Dari seberang Sania bisa rasakan hawa panas dari tubuh Lisa.
"Duh yang cemburu! Dengar ya non Lisa! Kalau ente suka pada seorang jangan kekang dia! Biarkan cinta mengalir tepat sasaran. Kalau kau cinta sementara dia ngak toh tak ada arti. Kau akan sengsara oleh cintamu." nasehat Sania sok tahu padahal dia juga intip dari uraian di Mbah Google.
"Jadi mas Rangga tak cinta aku?"
"Belum tentu...dia kan tak menolakku. Masih mengandalkan kamu. Terbukti dia minta tolong padamu jemput adiknya. Artinya dia percaya padamu."
"Apa bukan dijadikan budak? Buktinya dia pergi kencan dengan cewek lain. Kalau dia suka padaku tentu takkan main kabur dengan cewek genit." Lisa lesu keluarkan kata-kata tak menggairahkan.
"Kan belum tentu jumpa cewek. Bisa jadi orang bisnis, tukang doorsmeer atau jumpa adiknya yang cantik macam aku."
"Sialan kamu peri jelek! Tapi katamu betul juga. Belum tentu dia jumpa cewek. Bisa jadi orang lain. Tapi mengapa dia bohong jumpa kamu."
"Emang jumpa aku! Tuh sudah datang! Bye sayang!"
"Dasar penipu jelek. Beraninya kamu bohongi aku." teriak Lisa kena tipuan Sania. Seenaknya aduk perasaan Lisa sampai hancur lebur lalu seenak dengkul ngaku memang jumpa Rangga.
Lisa kesal pada Sania telah permainkan perasaannya namun juga senang Rangga tak bohong padanya. Laki itu jujur cuma sayang punya adik macam nek lampir senang lihat orang susah.
Di dalam cafe Rangga muncul dengan wajah tegang seperti biasa. Kapan abangnya ini mau rilex jalani hidup ini. Setiap bergantung beban berat di wajah ganteng itu. Kalau orang tak kenal Rangga mungkin akan berpikir laki itu pakai topeng tiap hari. Kaku tak berekspresi.
Rangga menarik kursi di depan Sania tanpa perlihatkan ekspresi apapun. Sania menghela nafas tak paham beban apa lagi bergantung di pundak. Kedua adik kandung sudah di sisinya. Pekerjaan juga Sania atur sebaik mungkin. Masih ada ganjalan apa lagi.
"Mau minum apa?" tanya Sania masih menatap wajah tegang Rangga.
"Cappucino..Kau sendiri?"
"Iya...mas harap aku bawa siapa?"
"Bara..."
"Dia masih berkabung. Mas mau makan di sini?"
"Tidak...ini bukan selera mas. Cukup minum saja."
Sania mangut kecil lalu acung tangan panggil pelayan sediakan pesanan Rangga. Rangga kelihatan agak gelisah belum tahu apa tujuan Sania ajak bicara sangat pribadi. Agra tak boleh ikut dengar artinya topik bahasan cukup rumit dan rahasia.
"Mas kok gelisah? Sania tak minta mas minum racun kok."
"Kamu ini...bikin mas jantungan. Senang mas cepat mati ya!"
"Rugi mati muda. Banyak hal harus kusampaikan pada mas. Tapi kita tak boleh terpancing saat ini."
"Apa maksudmu?" Rangga makin bingung plus tegang.
"Ranti bukan anak Suhada. Aku sudah test DNA dia dengan DNA Agra. Hasilnya nihil. Dari awal aku sudah curiga. Kita bertiga kulitnya bersih mengapa Ranti berbeda. Dari raut wajah juga. Kita bertiga masih mirip."
__ADS_1