MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Kantor Baru


__ADS_3

"Waalaikumsalam...tumben lari pagi? Biasa langsung berangkat ke kantor." Bu Jaya takjub lihat pasangan muda ini pulang dengan kondisi lelah. Sania jauh lebih capek dari Bara. Bara bukan joging tapi ngobrol sama tetangga.


"Lemaskan otot sebelum berperang hari ini. Mama ikut ke kantor ya! Biar bisa bantu atur para pegawai." ajak Sania beri kehormatan pada Bu Jaya ambil andil atur posisi pegawai. Orang tua macam Bu Jaya maunya diberi perhatian agar tak merasa terbuang di rumah tak bermanfaat karena berumur.


"Mama bisa apa? Ngak usah sayang. Mama di rumah doakan kalian saja."


"Ngak bisa gitu. Mama harus datang bersama papa. Bintang sebenarnya kan mama dan papa. Tanpa kalian Lieve bukan apa-apa." Sania tetap ngotot kedua orang tua Bara harus hadir.


"Baiklah anak manis! Papa dan mama akan datang. Semua sudah mama atur. Mama ada pesan lontong serta kue-kue untuk yang datang pagi ini. Semoga lancar. Kita sarapan dulu." Bu Jaya menggamit tangan Sania berjalan iringan ke meja makan. Pak Jaya dan Fadil belum tampak batang hidung. Mungkin masih berberes untuk berangkat ke kantor.


Bara merasa tersisih tak dianggap oleh dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Bara telah memiliki segalanya. Perusahaan sedang berkembang dan keluarga sakinah. Andai Bara terjerumus jatuh dalam pusaran cinta loakan maka tamatlah riwayat laki ini. Sania sudah berkali bilang tak ada kesempatan dua kali bagi pecundang.


"Halo good morning semua...wah...ada yang manis pagi ini. Kopi aku tak perlu ditambah gula. Lihat wajah kakak ipar saja terasa sudah manis!" Fadil muncul dengan wajah segar tak lupa gombalan maut yang bikin baper.


"Ntar diabetes lho!" olok Sania


"Aku rela menderita diabetes asal dokternya kamu. Di penjara juga ok asal polisinya kakak ipar."


Sania terbiasa digombalin Fadil tak merasa terlena. Bagi gadis lain mungkin setiap rayuan Fadil bisa datangkan perasaan bahagia. Lain dengan Sania yang sudah kebal terhadap rayuan Fadil.


"Dil..lupa sikat gigi ya! Mulutmu bau banget!" ucap Bara tak suka pagi-pagi adiknya ngerayu bininya. Laki manapun tak senang bini dirayu di depan mata.


"Hehehe...mulutku bau karena terkontaminasi virus cinta Sania. Betah bersarang di hatiku." sahut Fadil melempar senyum maut pada Sania.


Sania menarik kursi berseberangan dengan Fadil biar laki muda itu tak sibuk minta dia duduk di sampingnya. Bara cepat-cepat duduk di samping Sania sebelum Fadil berbuat ulah pindah ke samping Sania. Fadil orangnya nekat tak peduli bagaimana kesal Bara.


Pak Jaya ikut bergabung dimeja dengan wajah berseri. Pak Jaya bangga memiliki keluarga utuh yang punya masa depan cerah. Fadil sudah mampu menangani perusahaan yang sekarang dipimpin Pak Jaya. Bara sudah memiliki perusahaan sendiri yang mulai punya nama. Sebagai orang tua harapan Pak Jaya hanya ingin melihat anak-anak hidup layak.


"Ada apa? Kok rame?" Pak Jaya mengedarkan mata ke seluruh anggota keluarga yang ikut sarapan. Pak Jaya tampak makin gagah walau usia sudah merangkak jauh. Semangat juang masih berkobar di dada buat beliau terlihat jauh muda dari usia sebenarnya.


"Biasa pa...kakak ipar telah memenjara hatiku. Aku terkurung dalam penjara cinta. Kebun bunga bermekaran tapi kakak ipar telah membuat hatiku berbunga-bunga." Fadil lanjut serang Sania dengan rayuan makin maut.


"Ya Tuhan...bisakah mulutmu anteng sebentar nak! Kau merusak selera makan abangmu." ucap Bu Jaya sadar Bara mulai gelisah oleh ulah konyol Fadil. Mata Bara liar hendak menerkam sang adik yang tak tahu diri. Masih iseng menggoda isteri Abang sendiri.


"Slow mamaku...mas Bara sudah terbiasa digandrungi para cewek. Diculik satu tak apa toh! Aku ini kan pengagum sejati kakak ipar. Aku orangnya suka battle face to face. Ogah main belakang." ujar Fadil bercanda. Namun Bara menangkap kesungguhan dalam nada bicara Fadil. Secara tak langsung Fadil nyatakan perang terangan mencari perhatian Sania.


"Anak mama ini besar dirawat musang ya! Kok licik banget?" ujar Bara sambil rapatkan gigi. Terdengar suara gigi saling berantuk dalam rongga mulut Bara. Laki ini menahan diri agar jangan meledak di depan semua orang.


"Huusss..omong apa itu?" bantah Bu Jaya


"Tuh! Mulut tak pernah kuliah..." Bara menunjuk Fadil pakai bibir manyun.


Sania menyentuh tangan Bara agar tak bikin onar. Sarapan pagi bukan ajang adu mulut tapi adu gigi kunyah makan pagi. Dua kakak adik ini selalu bermusuhan seperti kucing dan tikus. Pangkalnya tentu permen manis bernama Sania.

__ADS_1


"Kita siap-siap ke kantor. Matahari mulai tinggi." Sania melerai pertikaian kecil yang takkan selesai bila diteruskan. Fadil mana mau menyerah kalau hanya ditegur secara halus. Fadil si songong.


"Ayo...awas kau!" ancam Bara mengarah ke Fadil. Lajang muda itu bukannya takut malah tertawa besar mengejek abangnya yang parno.


Kedua orang tua Bara mengurut dada tak habis pikir mengapa Fadil bisa demikian terobsesi pada Sania. Wanita-wanita Bara yang dulu tak masuk buku Fadil. Fadil malah benci pada wanita penggoda yang telah hancurkan hidup Bara.


Sania dan Bara tinggalkan meja sarapan naik ke lantai dua bersiap untuk awali hari ini dengan semangat baru.


"Fadil...kenapa kamu suka sekali ganggu abangmu? Biarkan dia tenang fokus pada pekerjaan! Jangan usik Sania!" kata Pak Jaya berusaha membaca niat Fadil terhadap Bara.


Fadil meletakkan sendok garpu menyandarkan diri ke sandaran bangku menatap lurus ke tangga di mana barusan tadi Bara melewati tangga itu. Fadil cemas kalau suatu waktu Bara terpuruk lagi gara wanita masa lalu. Bukan tak mungkin Bara terperdaya oleh kelicikan wanita penghamba materi.


"Aku sengaja buat gitu agar dia tahu bahwa ada bahaya mengancam bila dia lengah jaga Sania. Jujur aku sayang sekali pada Sania. Aku hargai Sania sebagai kakak ipar. Melihat Sania bahagia aku ikut bahagia. Mas Bara sulit keluar dari lingkaran setan masa lalu. Apalagi kini Maya kembali. Wanita itu jauh lebih berani dari Arsy. Aku kuatir Bara jatuh."


Pak Jaya termenung mencerna kalimat Fadil yang seratus persen mengandung kebenaran. Bara sangat lemah bila dihubungkan dengan masa lalu. Bara selalu menganggap teman-teman masa lalu adalah teman sejati tak boleh dilupakan. Cuma sayang para teman manfaatkan kelemahan Bara untuk kepentingan sendiri.


Sebelum pukul delapan seluruh keluarga Jaya bergerak menuju ke kantor baru Bara. Wajah sumringah iringi sekeluarga merajut benang baru yang lebih kokoh. Bakal mengikat seluruh keluarga lebih harmonis.


Di depan gedung baru Bara sudah ramai dihadiri karyawan baru dan karyawan lama. Mereka hanya berdiri di depan gedung menanti sang pemilik datang.


Dua mobil mewah berhenti di depan gedung langsung disambut satpam membuka pintu mobil untuk Pak Jaya. Satpam yang sudah lama ikut Bara dengan bangga melayani bos besar mereka. Pak Jaya adalah papa Bara wajar dapat kehormatan lebih.


Bara dan Sania menyusul turun dari mobil tanpa bantuan satpam. Angin sejuk menyambut langkah pertama sepasang suami isteri itu. Sania tampak mungil berdiri di sisi Bara. Jelas sangat tidak sepadan karena Bara tampak jauh lebih matang dari Sania. Sania terlihat seperti anak SMA di sandingkan dengan om-om.


"Sania...ayo masuk!" Bara meraih tangan Sania berjalan ke arah pintu kaca otomatis. Laki ini optimis melangkah ke hari lebih baik dari sebelumnya. Apalagi bidadari setia dampingi setiap detik.


Tepuk tangan bergemuruh iringi pasangan muda masuk ke ruang kantor baru. Roy selaku panitia penyambutan beri aba-aba pada seluruh karyawan beri sambutan hangat pada keluarga Jaya. Semua karyawan ikut masuk berbaris rapi ikuti instruksi Roy.


Suasana tenang tanpa suara bising dari karyawan yang pada dewasa. Tak ada yel-yel pekakkan kuping. Hanya ada senyum sopan tersungging di bibir menerima kehadiran bos besar.


Bara selaku pemimpin perusahaan berhenti pas di ujung terakhir barisan para pegawai yang hadir. Lebih banyak wajah baru daripada wajah lama yang sudah Bara hafal luar dalam.


Bara berdiri di hadapan para pegawai beri kata sambutan di dampingi Sania beserta kedua orang tuanya. Bara benar-benar pancarkan aura bos berkharisma. Tampan dan gagah. Di samping berdiri seorang wanita muda cantik jelita menebar senyum ramah. Orang pasti mengira Sania itu asisten Bara maupun sekretaris di kantor. Jika dipasangkan jadi suami isteri terlalu jauh gap antara mereka.


Mirip kisah Datuk Maringi meminang Siti Nurbaya moderen. Cuma Datuk Maringi yang ini keren walau tetap nampak tua dikit untuk Sania..


"Assalamualaikum semua...selamat datang di ANGKASA JAYA. Hari ini hari pertama kita aktifitas di kantor baru. Harapan aku tak banyak cuma minta kesungguhan kalian bekerja sama membangun perusahaan kita bersama-sama. Bagi pegawai baru boleh beradaptasi dan jangan segan bertanya pada yang lebih senior. Tak ada kata tak bisa selama kalian ada kemauan. Adapun segala keluhan hendaknya disampaikan secara terbuka agar kita tahu di mana kendala kesalahan kita. Jujur, rajin, kerja keras dan setia. Itu jadi motto kantor kita. Semua berpulang pada kalian masing masing. Wassalam.." Bara akhir pidato singkat tanpa bertele-tele bikin pusing para pegawai. Singkat padat itu bunyi pidato Bara.


Tepuk tangan riuh sambut pidato Bara. Pak Jaya dan Bu Jaya tersenyum bangga pada pencapaian Bara. Ini tak luput dari dukungan wanita super hebat Sania.


"Sebelum kita mulai bekerja silahkan cicipi hidangan sederhana ini untuk menyatukan hati kita!" Bu Jaya persilahkan para pegawai ambil makanan yang sudah terhidang di meja. Dua pelayan manis siap melayani orang yang ingin cicipi aneka kue dan lontong sayur.


Suasana akrab bersama berbaurnya semua pegawai. Sania mencari Putri dan Sekar yang akan jadi prioritas Sania di kantor. Kedua gadis itu juga sudah tak sabar ingin lepaskan rasa rindu pada Sania. Sudah berbulan-bulan mereka tak jumpa sejak Sania hengkang dari PT. BUILD.

__ADS_1


Sania merentangkan tangan melihat kedua rekan kerja berlari kecil hampiri dia. Andai ada Lisa mungkin pelukan ini mirip pelukan boneka Teletubbies. Yang ini cuma tiga orang. Berpelukan.


Ketiganya tenggelam dalam kegembiraan bisa satu kantor lagi. Mungkin posisi mereka akan bergeser fungsi namun takkan kurangi rasa persaudaraan yang sudah lama terjalin.


"Kau makin cantik San...apa posisimu di sini? Masih jadi kompas perusahaan?" tanya Putri sambil memegangi wajah cantik Sania. Putri menangkup wajah Sania dengan kedua tangan menghadap wajahnya. Sania tampak makin dewasa cuma makin kurus..


"Aku? Masih perancang cuma naik pangkat dikit!" sahut Sania biarkan Putri berbuat sesuka hati untuk lepaskan rasa kangen. Putri masih ceplas-ceplos seperti dulu. Kelakuan sebelas dua belas dengan Lisa. Selalu heboh.


"Jadi apa? Wakil presiden atau direktur?" buru Sekar antusias posisi apa dijabat Sania saat ini. Mereka tentu saja berharap Sania dapat posisi pantas dibanggakan.


Sania tersenyum misterius bikin kedua temannya penasaran. Sekar sampai cubit pantat Sania saking gemas lihat tingkah Sania main rahasia.


"Ayolah San! Belum kerja aku sudah mati penasaran dibuat olehmu." ujar Sekar mulai jengkel dikerjain Sania.


"Mau tahu atau mau tahu banget?" olok Sania masih belum puas ciptakan rasa penasaran lebih menggunung di hati kedua konconya.


"Duanya..." sahut Sekar dan Putri barengan. Tawa Sania berderai mengundang lirikan para karyawan lain yang sedang ngobrol cari kecocokan.


Ada beberapa pegawai cewek mencibir sikap norak Sania caper di kantor baru. Mereka tentu mengira Sania sama saja dengan mereka karyawan PT ANGKASA JAYA.


"Huusss...mirip nek lampir kehilangan tongkat sakti. Jangan bilang kamu selingkuhan bos baru kami!" tebak Sekar.


"Lebih kurang gitulah!" sahut Sania Santuy.


"What? Gila lhu ya!" seru Sekar tanpa sadar menarik perhatian yang lain.


Putri mendekap mulut Sekar agar rem dikit jangan cari perhatian yang lain. Nanti mereka akan lebih cepat top di kalangan pegawai perusahaan. Sania tertawa geli lihat reaksi kedua konconya.


"Aku nyonya Bara..." kata Sania lugas.


Dua pasang mata gadis di depan Sania nyaris meloncat keluar dari lubang mata di wajah. Mereka sulit percaya Sania telah menjadi isteri orang. Padahal yang mereka tahu Sania dikacangi Bobby frustasi menghilang ntah ke mana. Kini muncul dengan status baru isteri orang.


"Jangan bercanda San!" Sekar masih belum percaya kata-kata Sania. Rasanya tak mungkin Sania cepat move on dari Bobby. Sania kan orangnya kolot sedikit. Tak mungkin bisa berpindah hati secepat kereta super cepat.


"Itu faktanya. Lisa juga tahu. Ngapain ingat laki tak berguna itu?"


"Sialan Lisa...tak kabari kita! Tapi dia terlalu tua untukmu. Onderdilnya masih ok?" Putri tak setuju Sania bersanding dengan laki jauh lebih tua dari Sania.


"Kenapa tak daftar jadi bini muda? Kau bisa rasakan langsung."


"Apa kamu ijinkan? Jangan-jangan kamu kasih kue yang ada sianida racuni aku sampai metong!"


"Aku tak keberatan asal ada perjanjian tertulis."

__ADS_1


"Apa? Bos kita lumayan ganteng walau tuaan dikit. Bolehlah jadi ban serap!"


__ADS_2