MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Rangga Marah


__ADS_3

Bara termenung diberi pilihan. Masih suka iba pada mantan atau kehilangan Sania selamanya. Bara tak ada rasa pada Arsy maupun wanita lain manapun detik ini. Cuma Bara masih di bayangi kenangan bersama para mantan. Mereka pernah singgah dalam hidup Bara bahkan pernah seranjang. Membuang semua kenangan tak semudah balik telapak tangan. Bara boleh tak cinta pada mereka namun tak boleh abaikan mereka di saat mereka perlu uluran tangan.


Bara bukan Rudi yang gampang cuci nama Arsy sampai bersih dari ingatan. Bara lain. Bara punya empati tinggi hargai nilai wanita. Cuma cara Bara salah beri perhatian berlebihan hingga mengusir Sania secara halus.


"Aku akan usahakan jauhi Arsy." Bara berjanji dengan ragu.


"Bukan usaha bro tapi harus. Lebih baik kita ke kantor. Aku akan coba cari tahu ke mana Sania pergi." janji Roy memikirkan nasib Sania yang belum jelas sekarang.


"Kalian pergilah ke kantor! Aku harus pergi jumpa abang Sania. Mungkin dia tahu ke mana Sania." ujar Bara lesu.


Rudi dan Roy kasihan juga pada Bara. Namun ada daya untuk kembalikan Sania pada Bara. Keberadaan Sania jadi tanda tanya.


"Ok...aku percaya Sania dalam keadaan baik! Keluargamu pasti tahu di mana dia. Kau lihat papa dan mamamu tak panik. Beri Sania waktu untuk menenangkan diri." Roy menepuk bahu Bara sebelum tinggalkan rumah Bara bersama Rudi.


"Kalian tak bersihkan wajah dulu? Tuh muka bantal berat sekali!"


"Di rumah saja. Ingat...jauhi Arsy!"


Bara mangut iyakan permintaan Roy. Niat temannya itu baik. Mereka tak ingin tragedi Nania terulang lagi dalam hidup Bara. Sudah saatnya benahi diri laundry kenangan masa lalu.


Bara bangkit dari lantai berkarpet naik ke lantai dua. Laki ini buka pintu kamar dengan hati kosong. Bau harum Sania masih tertinggal di kamar. Sania tidak pernah memakai minyak wangi yang memancarkan bau histeris. Bara tak tahu merek minyak wangi Sania. Tapi harumnya lembut cocok untuk karakter Sania yang keseharian berpenampilan feminim.


Semua barang Sania tak ada yang tertinggal. Termasuk hasil rancangan yang biasa tersimpan di atas nakas. Sania benar ingin bersihkan bayangannya dari Bara. Tak ada tersisa kecuali bau aroma yang melekat di selimut.


Bara tak punya banyak waktu mengenang sosok Sania. Hanya bisa mengenang tanpa memiliki Sania seutuhnya sama saja melihat bulan purnama tanpa bisa menjangkau. Bara harus cari Sania sampai dapat. Apapun resiko Sania harus kembali.


Laki ini segera mandi lalu pergi ke perusahaan Rangga. Rangga pasti tahu tujuan akhir Sania. Rangga sebagai abang tak mungkin tak tahu ke mana adiknya kabur. Tanpa buang waktu Bara meluncur ke perusahaan Rangga.


Mungkin Rangga sudah tahu Sania pergi tanpa pamit membawa luka di hati. Rasa sesal Bara tak bisa kembalikan Sania ke pelukan. Ini harga yang harus dibayar laki tidak punya pendirian. Bara pantas dapat ganjaran setimpal atas kelalaian menjaga Sania.


Kantor Rangga tenang dan nyaman. Semua karyawan tekun kerjakan bagian masing-masing tanpa ada keributan sedikitpun. Terbit datangkan rasa adem bagi yang lihat.


Bara melangkah ke meja resepsionis cari tahu posisi Rangga di kantor. Bara seorang pemimpin tahu tak bisa sembarangan terobos masuk kantor orang tanpa ijin. Apalagi yang dijumpai Bos perusahaan. Harus ada ijin bos baru bisa jumpa.


"Permisi..." Bara menyapa gadis manis yang duduk di belakang meja panjang kantor.


Bara disambut senyum manis gadis yang menjadi garda depan kantor. Setiap orang yang ingin masuk kantor harus melalui gadis ini.


"Iya pak...ada yang bisa kubantu?"


"Pak Rangga ada?"


"Sudah janji?"


"Belum...kasih kabar Bara dari Angkasa ingin jumpa! Penting."


"Oh iya...baik. Sebentar ya!" gadis itu menyahut lebih ramah karena Bara sopan tahu diri tak memaksa.


Gadis itu meneleponi seseorang menyampaikan tujuan Bara jumpa bos Rangga. Mata Bara nanar menatap gadis itu harap kabar baik Rangga bisa ditemui.


Bara lega lihat gadis itu mengangguk-angguk tanda ada respon dari bos mereka. Semoga Rangga punya waktu menemuinya. Ini jam kantor, jam orang sedang sibuk urusan masing-masing.


"Silahkan pak! Langsung saja ke ruang Pak Rangga. Bapak ditunggu."


Jawaban yang diharapkan Bara. Kalimat yang muncul dari bibir bergincu pink itu seperti air melepas dahaga Bara. Kini Bara tak ubah musafir terdampar di gurun panas. Tersesat tak tahu arah pulang. Semoga Rangga punya peta untuk mencari tempat buat Bara menemukan jalan pulang.

__ADS_1


Bara naik lift langsung menuju ke ruang Bara di lantai paling akhir. Lantai super mewah peninggalan Amanda. Ntah bagaimana nasib Amanda dan Suhada. Hukuman apa sedang menanti mereka. Ini hanya Rangga yang bisa beri keputusan. Bara dan Rangga sama-sama memiliki kelemahan yakni tak tega. Besar rasa iba.


Sikap ini yang akan antar keduanya dalam kemelut masalah. Keduanya terlibat dalam masalah yang berpacu pada Sania. Sania si wanita besi tetap ingin keadilan ditegakkan tapi Rangga tidak sampai hati penjarakan Ranti. Terhadap Amanda mungkin tak ada kata maaf. Tapi Ranti beda. Wanita itu hanya terlibat kejahatan soal asmara.


Bara disambut Lisa sebelum masuk ke ruang Rangga. Ini suasana resmi satu perusahaan. Tetap harus lalui asisten presiden direktur baru bisa leluasa masuk ruang kerja Rangga.


Lisa berusaha profesional sebagai sekretaris Rangga walau tahu itu calon adik iparnya. Andai Lisa jadi isteri Rangga maka posisi Lisa akan naik jadi kakak ipar. Satu level di atas Bara.


"Pak Bara...silahkan! Masuk saja!" Lisa membuka pintu beri jalan pada Bara masuk.


"Terima kasih Lis! Sania ada hubungi kamu?" tanya Bara pelan.


"Tidak...dia masih ngambek soal Ranti. Kenapa?"


"Sania pergi tanpa pesan." sahut Bara jujur.


"What? Segitu marahkah dia pada kami?" seru Lisa kaget tak kepalang tanggung. Berita ini mencubit hati Lisa berdarah di dalam. Lisa salah paham pikir Sania pergi karena dia dan Rangga.


"Ikutlah masuk! Kita bicara di dalam."


Bara harus menjernihkan hal ini supaya Lisa tidak merasa bersalah menekan Sania bebaskan Ranti. Kepergian Sania tak ada hubungan dengan Rangga maupun Lisa. Murni ketololan Bara. Tak hargai perasaan Sania sebagai isteri.


Rangga tersenyum menerima adik iparnya. Sama seperti Lisa pikiran Rangga juga tertuju soal Ranti. Rangga sudah siap penuhi permintaan Sania tuntut Ranti sesuai kesalahan. Rangga harus memilih antara dua adiknya. Berdasarkan pertimbangan Rangga memilih Sania.


"Duduk Bara! Mana adikku yang panas itu?" Rangga persilahkan Bara duduk di kursi di depannya.


Bara melirik Lisa yang menunduk sedih kepergian Sania. Bara sendiri gugup tak tahu harus mulai dari mana bercerita ketololannya.


"Mas...Lisa harap mas tenang dengar cerita Bara!" ujar Lisa tak kalah gugup dari Bara.


"Mana Sania?" seru Rangga keras.


Lisa dan Bara tersentak kaget. Laki yang biasa berbicara dengan nada rendah kini meraung bak singa lapar. Nyali Bara berlipat-lipat kecil takut dihantam Rangga bila tahu kebenaran.


"Sania pergi semalam tanpa kabar!" ujar Bara setelah mengumpulkan keberanian.


Cepat atau lambat Bara tetap akan temui amarah Rangga. Makin cepat Bara ungkap kejujuran makin bagus. Rangga pasti akan bantu cari adiknya.


"Sania pergi lagi? Kenapa?"


Bara menelan air saliva sebanyak mungkin untuk ademkan kerongkongan sebelum jelaskan kronologi kepergian Sania.


"Ini salahku! Aku tak tahu aku dijebak oleh mantan pacar aku. Sania pergi karena aku." Bara berkata jujur walau berat hati.


"Kau..." Rangga bangkit dari kursi langsung beri bogem mentah ke wajah Bara.


Mata Rangga merah menyala hendak bakar Bara hingga hangus. Rangga tak terima adik yang sudah dia cari puluhan tahun raib lagi. Susah payah Rangga menemukan adik kini kabur gara-gara suami brengsek macam Bara.


Lisa menjerit menahan Rangga hajar Bara lebih lanjut. Bara tak melawan hanya pasrah dipukul Rangga. Bara pantas menerima pukulan abang Sania karena semua ini mutlak kesalahan Bara.


"Mas...jangan gitu! Kekerasan tak bisa selesaikan masalah. Kita dengar cerita Bara dulu." Lisa merangkul lengan Rangga menjauhi Bara. Lelaki kalap bisa berbuat apa saja lampiaskan emosi.


Rangga menyugar rambut pakai tangan. Tanpa sadar Rangga menetes air mata ingat perjuangan Sania bisa sampai hari ini. Hidup Sania bukan gampang. Dia berjuang sejak kecil untuk rebut kembali kejayaan mamanya.


Lisa ikut menangis merasakan kesedihan Rangga. Lisa sangat paham Rangga sangat menyayangi Sania. Dunia Rangga hanya ada Sania dan Agra. Tak seorangpun bisa ganti posisi Sania dan Agra di hati laki itu.

__ADS_1


"Maafkan aku! Sania salah paham padaku memilih pergi. Aku dijebak orang. Aku bersumpah setia pada Sania." Bara tak berani meringis walau pipinya sakit dipukul Rangga.


"Apa maksudmu dijebak?"


Bara menceritakan kronologi dia bisa berada di pub dan foto-foto yang terkirim pada Sania. Jelas-jelas Arsy bersekongkol dengan orang lain untuk hancurkan rumah tangga Bara.


Rangga menyimak cerita Bara dengan hati panas. Sama seperti yang lain salahkan siapa plin plan Bara terhadap para mantan. Wajar para mantan pikir Bara masih sayang pada mereka. Ini berawal dari perhatian Bara berlebihan pada mantan masa lalu.


Rangga termenung setelah dengar cerita Bara. Bara memang tak bisa disalahkan sepenuhnya. Bara hanya ingin bantu orang dalam kesulitan tak sadar terjebak dalam kesulitan sendiri.


"Sania sama sekali tak tinggalkan pesan?"


"Sama aku tidak tapi dia ada hubungi adikku. Adikku bilang Sania sudah ke luar negeri pakai jet pribadi. Ntah itu benar atau bohong. Adikku itu kadang konyol bila menyangkut Sania."


"Maksudmu?"


"Adikku kagum pada Sania. Dia memuja Sania seperti memuja bidadari. Mereka cukup dekat."


"Sania ada affair dengan adikmu?" selidik Rangga kurang suka berita ini.


"Ya ngaklah! Mereka hanya suka guyon dalam batas wajar. Aku tak ambil hati percaya sepenuhnya pada Sania. Aku ke sini mau tanya Sania sering ke mana?"


Rangga dan Bara alihkan netra ke Lisa. Lisa tentu paling ngerti Sania karena hubungan mereka berdua sangat dekat. Teman Sania yang paling intim mungkin hanya Lisa. Tak mungkin Lisa tak jauh ke mana Sania mati langkah.


"Kenapa kalian memandangku? Aku benaran tak tahu ke mana dia kabur. Sania memang suka menghilang tak pernah bilang ke mana. Kalau di sini paling sembunyi di apartemen ataupun rumahku. Tak ada tempat lain." Lisa Jawab sebelum ditanya.


"Apa dia pernah cerita kalau ke luar negeri ke mana?" tanya Rangga.


"Seingatku dia suka ke Belanda. Tapi tak bilang kota apa. Kadang foto-foto berlatar belakang kincir angin. Kadang gunung es, kadang seperti pedesaan. Tapi aku yakin itu foto luar negeri."


Bara dan Rangga lemas tak dapat korek keterangan dari Lisa. Teman terdekat Sania tak bisa kasih info. Sekarang pada siapa lagi harus cari berita.


"Satu-satunya clue ada pada adikmu. Kau harus bujuk dia beritahu posisi Sania. Ke ujung dunia pun akan kujemput dia." ujar Rangga pada Bara.


Pipi kiri Bara agak memar kena bogem mentah Rangga. Rasanya tentu sakit, tapi ini tak sebanding rasa sakit di hati Sania. Rangga tak nyesal telah layangkan pukulan ke Bara. Laki itu pantas dihajar.


"Aku akan bujuk Fadil. Aku minta maaf sekali lagi mas Rangga. Kujamin kejadian ini takkan terulang lagi."


"Kuharap begitu. Papaku masih di rumah sakit. Amanda hilang akal teriak-teriak di rumah. Ranti masih di tahan. Sania kabur. Ya Allah...cobaan apa ini?" Rangga menutup wajah dengan kedua tangan meratapi nasib keluarganya yang berantakan. Mengapa cobaan tak pernah putus dari hidupnya. Ada seberkas sinar hangat muncul dari lubuk hati Sania menerangi Rangga dan Agra. Tiba-tiba sinar itu meredup sisakan kekelaman.


"Bagaimana proses hukum Amanda?"


"Dia hampir gila waktu Sania muncul sebut nama Rene. Darman sudah akui semua kesalahan siap dihukum menurut prosedur. Ayah biologis Ranti juga tak luput dari hukuman. Kita lihat perkembangan kejiwaan Amanda. Kalau dia benar gila maka segala tuntutan gugur."


Apa mungkin Sania bisa terima Amanda bebas tanpa dituntut apapun? Dendam di hati Sania terlalu dalam untuk diselami. Tak seorangpun bisa cari dasar dendam Sania. Terlalu dalam tak mampu dipahami.


"Pak Suhada gimana?"


"Papaku tak tahu rencana Amanda habisin nyawa bunda Rene dan mamaku. Beliau terpaku pada wanita-wanita di sodorkan Amanda. Papaku tak tahu diberi racun oleh Amanda. Dia pikir Amanda isteri baik rela dimadu oleh wanita lebih muda. Ternyata untuk jebak wanita-wanita itu masuk perangkap. Harta direbut nyawa melayang."


"Sania sangat benci pada Pak Suhada. Tujuannya ingin bersihkan Amanda dan Suhada dari bumi ini. Di mana dia?" desis Bara teringat kesedihan Sania.


Andai Sania pulang Bara bersedia sujud minta maaf. Sania sangat berarti bagi Bara. Tak perlu proyek segunung, yang penting Sania selalu di sampingnya.


"Pulang dan tanya Fadil di mana Sania! Kita pergi jemput bersama. Jika perlu kita bawa Agra. Sania sayang pada Agra. Dia tak mungkin kecewakan adik satu-satunya."

__ADS_1


"Iya mas! Sekali lagi maaf! Aku benar khilaf melangkahi hak Sania. Andai aku tak lemah hati mungkin kini Sania tertawa senang memulai proyek impiannya." Bara menerawang sosok wanita wonder womannya.


__ADS_2