
Sania menggeleng tetap ingin pilihan pertamanya. Sania tak ingin Bara buang uang hanya untuk menyenangkannya. Masih banyak cara lain untuk membuat keluarga bahagia bukan dari ukuran emas permata. Cukup ketulusan dan kesetiaan.
"Terima kasih niat Lieve. Aku pekerja lapangan tak cocok pakai batu yang ganggu gerakanku. Ini manis dan simpel. Yok bayar!" Sania meraih cincin itu dari kotak kecil tempat cincin itu. Lalu Sania serahkan pada Bara untuk disematkan ke jarinya.
Bara tertegun sesaat tak paham jalan pikiran Sania. Wanita lain berlomba dapat yang paling mahal sedang Sania pilih yang paling sederhana. Sania memang lain dari yang lain.
Bara tak punya pilihan lain selain ikuti selera Sania. Bara menerima cincin itu lalu menyematkan ke jari tangan Sania yang terulur menanti tindakan Bara. Akhirnya cincin itu mulus terpasang di jari Sania.
Sania memeluk Bara dengan bahagia. Akhirnya kepekaan Bara terbuka. Cincin tanda ikatan muncul juga.
Pramuria toko tepuk tangan ikut senang lihat moments romantis pelanggan. Pemandangan ini tetap indah walau berulang kali terjadi di toko permata. Janji suci yang semoga tak terkoyak oleh pengkhianatan salah satu pihak.
Lama keduanya pelukan salurkan rasa bahagia. Bara tanpa sadar mengelus perut Sania yang mulai buncit. Itu hasil cinta mereka. Semoga sehat sampai waktu melahirkan.
"Ayo bayar! Malu kita." bisik Sania tersadar masih berada di toko permata.
"Oh maaf! Berapa nona?" Bara cepat-cepat beralih ke penjaga toko yang masih takjub pada kisah cinta indah ini. Saling memberi dan menerima.
"Ini harganya dan kuberi diskon untuk cinta sejati kalian."
"Terima kasih!" Bara mengeluarkan kartu warna gold berikan pada penjaga toko.
Pramuria itu mengeluarkan mesin kecil lalu gesek kartu Bara sesuai nominal harga cincin. Tak seberapa bagi bos besar macam Bara namun maknanya melebihi nilai harga.
Transaksi selesai dibarengi hati damai Sania. Perasaan Sania terasa tenteram setelah memakai cincin Bara. Rasa memiliki dan dimiliki tumbuh subur di kalbu. Sania menjadi isteri tulen Bara.
Keduanya bergandengan menuju ke toko lain sambil cuci mata. Sania tak berniat beli apapun karena semua tercukupi. Bukan style Sania belanja tanpa perhitungan. Beli barang tak berguna tak ada dalam kamus Sania. Tepat guna itu motto Sania.
"Beli apa lagi sayang?" tanya Bara lihat Sania hanya lewati toko-toko tanpa niat singgah.
"Cuci mata. Kali aja ada cowok ganteng bisa dibeli!" goda Sania belum puas goda suaminya.
Bara mendecak tak senang Sania mulai lagi ganggu dia dengan niat busuk. Kali ini Bara termakan godaan Sania lagi. Bara tahu Sania tak ada niat main gila selain ingin ganggu perasan Bara.
"Ayok! Siapa tahu Lieve dapat cewek cantik bahenol."
"Ok..." sahut Sania rilex tak termakan gurauan Bara. Tak ada percikan api cemburu. Ini hanya guyonan iseng hidupkan suasana.
Bergandengan mereka menyongsong hari esok lebih cerah. Semua salah paham dan ganjalan hati telah terurai. Tak ada lagi dendam maupun rasa kesal terpendam di hati. Semua terkikis berkat kesadaran masing-masing.
Malam berlalu damai dan indah bagi pasangan muda ini. Mereka tidur saling berpelukan menyambut esok penuh harapan. Tak ada guratan kesal sedih terlukis di wajah. Plong lancar sampai batas waktu diberi Yang Maha Kuasa.
Pagi cerah. Cahaya keemasan mentari memancar menerangi seluruh alam persada. Sang mentari mengajak seluruh umat di bumi jalankan aktifitas ditemani cahayanya.
Di salah satu sudut kota. Sepasang suami isteri bertamu ke rumah tetangga untuk selesaikan rasa ngidam di hati sang isteri. Ya Bara menemani Sania berkunjung ke rumah Pak Slamet untuk mengelus burung piaraan bapak tua itu.
Wajah Sania berseri cantik. Sania mengenakan stelan sederhana kaos oblong dengan celana karet. Sania tak bisa pakai pakaian ketat lagi karena perutnya membuncit tak muat pakaian ketat. Untuk sementara celana jeans tak berlaku bagi Sania.
Bara juga tampak santai dengan pakaian olah raga. Bara baru saja olah raga lari pagi untuk bugar kan badan. Sekian lama tiduran membuat otot laki ini kaku. Dibiarkan terusan bisa menimbun lemak kurangi daya tarik Bara. Bara tak mau berubah jadi om-om berperut buncit sementara bini masih muda. Bisa kalah pamor.
Kembali pada niat Bara penuhi janji bawa Sania berkunjung ke rumah Pak Slamet. Kini keduanya sudah berada di depan pagar rumah Pak Slamet. Dari luar tampak puluhan burung berada di sangkar bergantungan di depan rumah. Suara kicauan burung bersahutan hadirkan suasana berada di alam liar.
Sania tersenyum puas dapat melihat dari jauh walau belum menyentuh burung yang diinginkan. Sania ingin menyentuh burung yang tiap subuh berkicau merdu.
"Assalamualaikum..." seru Bara beri salam dengan suara keras karena tak ada orang di halaman rumah Pak Slamet.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." terdengar sahutan berintonasi berat. Bersamaan itu muncul seorang bapak-bapak berkain sarung bertubuh gempal. Raut wajahnya ramah penuh persahabatan. Sekilas mata Sania merasa suka pada pak tua itu.
Bayangan orang bertampang sangar dengan kumis segede bet pingpong tak terbukti. Yang muncul malah laki bertampang welas tanpa kumis atau jenggot. Bersih klimis.
"Hei nak Bara...ayok masuk!" Pak Slamet buka pintu pagar beri jalan pada Bara dan Sania menjejakkan kaki ke halaman bersih itu.
"Terima kasih pak! Apa kabar? Lama tak ngobrol." Bara basa basi sebagai awal obrolan sebelum ke point ijin elus burung.
"Bapak sehat saja. Nak Bara sudah sehat? Bapak sudah dengar kejadianmu. Maaf bapak tak sempat jenguk ke rumah sakit. Maklumlah tak ada yang jaga rumah! Anak-anak pada sibuk."
"Tak apa pak...maklum kok!"
"Nona ini..." Pak Slamet menjatuhkan mata pada Sania yang tampak mungil berada di samping Bara.
"Oh..kenalkan ini Sania isteriku!"
"Wah cantik sekali...baru hari ini lihat! Ayok duduk!" Pak Slamet persilahkan keduanya duduk di kursi rotan model minimalis.
"Terima kasih pak! Sebenarnya tujuan kami datang adalah ingin melihat burung piaraan bapak. Sania ngidam ingin mengelus burung yang tiap pagi berkicau di pagi subuh." Bara berkata malu-malu takut menyinggung perasaan tetangganya.
Pak Slamet tertawa renyah sedap di kuping. Tawa itu lepas tanpa beban.
"O itu...ayok sini! Ini burung murai! Dia memang paling rajin berkicau di pagi subuh." Pak Slamet menunjuk seekor burung warna hitam dengan dada warna coklat muda. Ekornya panjang indah berdiri tegak perlihatkan keanggunan burung itu. Burung seolah tahu jadi primadona di mata Sania. Berdiri tegak tak bergerak cuma goyangkan ekor panjangnya.
Sania takjub melihat burung yang jauh dari bayangannya. Sania mengira akan dapatkan burung bertubuh mungil warna warni. Tak disangka bertemu makhluk ciptaan Allah bertubuh ramping anggun.
"Indahnya..." desah Sania suka.
"Bapak turunkan sangkarnya!" Pak Slamet mengambil kayu berkait untuk turunkan sangkar dari gantungan di teras.
"Setiap saat nona cantik mau datang. Bapak senang nona cantik suka pada burung bapak. Mereka semua burung pilihan. Bapak rawat dari kecil sampai bisa berkicau. Silahkan lihat yang lain."
Bara agak ilfil waktu Pak Slamet bilang Sania suka burungnya. Secara logis bisa jadi jadi kalimat cabul namun faktanya hanya burung piaraan. Tergantung bagaimana orang sikapi cara bicara Pak Slamet. Bara sudah satu kali salah paham tak berniat menambah daftar dosa pada Sania.
"Cukup pak! Begini saja Sania sudah berterima kasih. Maaf merepotkan bapak!" Sania memberi senyum semanis manis pada Pak Slamet sebagai ucapan terima kasih.
"Ngak...ngak repot! Bapak senang kalian mau berkunjung. Bapak hidup sendiri maka sepi. Kalian datang bawa keramaian. Bapak terhibur."
"Kami akan datang lagi. Kami permisi dulu. Mau berangkat ke kantor. Hari mulai siang. Sekali lagi terima kasih." Sania membungkuk hormat pada Pak Slamet.
"Jangan sungkan! Bapak suka pada anak muda energik. Datang kapan saja!"
"Iya pak! Assalamualaikum..." Sania menarik tangan Bara berlalu dari rumah Pak Slamet. Bara bagai kerbau dicocok hidung tak melawan diseret keluar dari halaman rumah Pak Slamet.
"Waalaikumsalam..." jawaban lembut diterima kuping Bara dan Sania.
Sania puas sekali sudah lihat sosok burung yang rajin membangunkannya tiap pagi. Ternyata burung sangat indah. Mungil tapi angkuh. Ekornya sangat menarik memanjang ke atas. Profil burung anggun.
Sementara di pihak Bara lega telah tunaikan janji bawa Sania bertemu pemilik suara merdu di pagi subuh. Ternyata permintaan Sania sederhana. Dia saja yang berpikir jauh sampai gulana takut Sania kepincut burung keramat Pak Slamet. Ada-ada saja tingkah ibu hamil.
Keduanya pulang ke rumah dengan hati puas. Hasrat Sania terpenuhi sedang Bara lega telah memenuhi keinginan jabang bayi. Sama-sama puas.
Tugas telah menanti mereka. Bara akan mulai aktifitas di kantor setelah sekian lama absen. Tugas sebagai pimpinan banyak diambil alih oleh Roy. Saatnya Bara tampil lagi memimpin perusahaan.
Tanpa banyak proses kedua insan itu tiba di kantor disambut ucapan oleh puluhan karyawan. Semua senang Bara kembali bertugas setelah pulih. Semoga ke depan kantor aman dari gangguan orang tak waras.
__ADS_1
Bara masuk ke ruangannya dan Sania masuk ke ruang tersendiri. Kerja masing-masing telah menanti. Sania mencari proyek baru sementara Bara cek kinerja kerja anak buahnya. Bara memanggil Roy dan Rudi sebagai penanggung jawab selama dia absen. Banyak kekurangan harus mereka bahas bersama.
Sania berada di ruang samping Bara tak ingin ikut campur masalah proyek yang sedang on going. Telah berjalan baik tinggal bagaimana buahkan hasil lebih sempurna.
Sania hubungi Rangga cari tahu keadaan Agra. Sania sudah lama tak jumpa adik kecilnya. Sejujurnya Sania rindu pada anak ganteng itu. Tapi persoalan datang bertubi-tubi menghalangi Sania kumpul dengan sang adik.
"Assalamualaikum mas!"
"Waalaikumsalam...gimana dek? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat...gimana Agra? Dia pasti marah padaku."
"Pintar...sudah jadi paranormal kondang ya! Tahu adik kita marah."
Sania ngerti Rangga sedang mengejeknya. Tak perlu diramal Sania bisa tebak Agra ngambek. Berkali janji jarang ditepati.
"Isshhh musyrik..hari Minggu ini kita liburan bersama. Tanya Agra mau ke mana?"
"Tanya sendiri. Bukankah kau sudah beliin dia hp?"
"Sania takut Agra ngambek. Sania belum siap disemprot adik sendiri. Mas saja yang tanya."
"Baiklah! Oya dek! Kau tak berniat jenguk papa? Kondisinya memburuk. Harus operasi jantung karena ada beberapa jaringan tersumbat. Mas minta ijin padamu untuk operasi papa."
"Kenapa harus aku? Mas anak Suhada. Aku ini apa?" sinis suara Sania.
"Dek...nyawa papa sudah diujung tanduk kau belum niat maafkan! Kita tak tahu hasil operasi gimana? Bisa jadi dia meninggal di meja operasi. Papa itu korban nafsu dan korban Amanda. Mas tak memintamu maafkan dia tapi
jenguklah dia sekali! Kita mana tahu mungkin itu pertemuan terakhir."
"Mas...Sania belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Kalian atur saja. Sudah kasih tahu Ranti?"
"Sudah...dia tak berdaya. Nasib Ranti tergantung padamu. Mas sudah cerita soal kamu pada Ranti. Ranti menangis telah sakiti kamu. Dia ingin minta maaf. Dia tak minta kau bebaskan dia karena dia merasa bersalah besar padamu."
Ntah mengapa dada Sania bergemuruh hebat dengar Ranti mengakui kesalahan. Lagi akting minta dikasihani atau memang tulus dari lubuk hati.
"Bukankah sudah Sania bilang mau dia minta maaf secara publik dan cerita bukan Sania rebut di brengsek Bobby. Dia yang murahan langkahi hak aku."
"Dek...tak perlu minta maaf semua orang tahu kejadian ini. Nama Ranti sudah hancur. Tak ada sisa. Apa yang kau inginkan lagi? Bobby sudah akan ceraikan dia setelah anaknya lahir. Ranti bodoh ngaku itu bukan anak Bobby."
"Lalu ****** itu hamil anak siapa?"
"Ya anak Bobby. Ranti sengaja manasi Bobby bilang bukan anaknya. Makin hancurlah dia!"
"Bobby tak boleh ceraikan Ranti. Dia harus tanggung jawab atas hidup anak tak berdosa itu. Dasar Bobby sialan!" rutuk Sania terpanggil hati nurani bela jabang bayi Ranti. Sania bukan peduli pada nasib Ranti tapi pada anak dalam perut Ranti.
"Kapan kau mau bebaskan Ranti? Tak lama lagi dia melahirkan. Kamu mau keponakanmu lahir di penjara?"
"Keponakanku? Kami tak ada hubungan darah. Jangan kotori darahku dengan darah wanita tak jelas bentuk!"
"Dek...Ranti lagi stress berat. Mamanya sudah gila, papa sekarat, nasibnya tak jelas. Apa ada yang tersisa padanya? Kau jumpa dia dulu. Kau lihat sendiri fakta nasib bintang top pujaan orang! Mirip perempuan stress tanpa semangat hidup."
Sebenarnya hati Sania terenyuh dengar nasib keluarga Suhada. Mereka hancur atas ulah sendiri. Sania memang ikut membuat keramaian ini mengantar keluarga itu terjun bebas ke jurang. Harapan Sania terwujud sudah. Dendamnya terbalas karena musuh utama hidupnya telah remuk. Sania telah menang.
Tapi apa kemenangan ini bawa kenyamanan di hati? Sania justru gelisah dengar keluarga Suhada hancur tak berbentuk. Semua terima karma sendiri. Amanda gila, Suhada sekarat dan Ranti di penjara. Tak ada yang tersisa.
__ADS_1
"Beri Sania waktu untuk berpikir. Sania akan beritahu pengacara untuk urus kasus Ranti. Kita bebaskan dia untuk sementara. Jadikan dia tahanan kota! Tunggu sampai anaknya lahir baru kita lanjutkan kasusnya."