
Sania harus berhasil lacak semua orang yang terlibat dalam kecelakaan mamanya. Sania berjanji akan hancurkan mereka sampai tak berbentuk. Tekad Sania bulat tak bisa diganggu gugat. Maju pantang mundur.
Ponsel Sania berbunyi. Sania segera angkat setelah tahu siapa yang telepon.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...tumben Lis?"
Sania mendengar helaan nafas panjang Lisa sebelum jawab Sania.
"San...Papa dan mama berantem gara Bu Susi. Mama menuduh papa selingkuh sama Bu Susi."
"Kok bisa? Bukankah papamu jarang jumpa pelakor keriput itu?"
"Ada jumpa pagi tadi. Maksud papa hendak jelaskan duduk masalah sama Bu Susi. Mamaku yang tak sengaja lihat papa ke warung Bu Susi jadi marah."
"Mamamu bukan orang gitu. Pasti ada sebabnya."
"Iya sih! Bu Susi genitan sama papa main pegang tangan. Papa sudah jelaskan kalau papa ke warung Bu Susi untuk batalkan beri ijin pelakor itu jualan di kantin bengkel. Mama salah paham. Tuh ngambek ngak masak! Dia hanya ceplok telor untuk Agra. Kami disuruh makan nasi putih." keluh Lisa putus asa.
"Gawat...besok pagi aku ke sana dulu. Papamu orang setia tak mungkin tertarik sama wanita somplak macam Bu Susi. Apa mereka teriak teriak undang nyamuk ikut nonton?"
"Mama bicara agak keras sih! Papa lebih banyak diam. Kau harus pulang urus mama. Kasihan Agra tak terurus nanti."
"Ok...sekarang kau pesan makanan online saja. Kasihan papa makan nasi putih! Sedih aku lihat tampang jelekmu makin jelek cuma diumpan nasi putih."
"Masih ada waktu ganggu aku. Aku mau gantung diri saja di batang tauge. Biar ente puas jadi anak gadis satu satunya Pak Bur."
Sania terbahak bahak dengar nada putus asa Lisa. Baru segini Lisa sudah patah semangat. Lisa belum tahu jalan liku liku keluarganya. Keluarganya malah keturunan kanibal pemakan sesama.
"Aku dukung ente gantung diri. Abangku akan kunikahkan sama karyawan kantor Bara."
"Kau berani? Percayalah! Aku akan giling ente sama cabe rawit. Hancur lumer sekalian kepedasan."
"Sadis amat nih kakak ipar! Aku mengundurkan diri jadi calon ipar ente. Kurayu mas Rangga kawini anak tetangga ente. Siapa namanya?"
"Dasar pengkhianat! Aku ke tempatmu sekarang. Kurujak ente."
"Aku di rumah suamiku. Datanglah! Paling kepala ente berputar ke belakang. Suamiku macho dan gagah."
"Keturunan gajah kan? Belalainya mungil kan?"
"Porno ente...mana kutahu? Kami belum berkomitmen menuju ke ranjang pengantin."
"Yaelah...masih pertahankan status gadis orisinilnya. Nanti mas Baramu nyari pengantin baru lain ente naru nyaho. Dosa lho tahan hak suami." Lisa kasih ceramah sok orang tua. Lisa mana tahu mengapa mereka menikah. Berhubungan intim tak ada dalam perjanjian mereka. Sania mana rela serahkan diri pada Bara tanpa rasa sayang. Istilah makan nasi tanpa lauk. Nasi putih doang tanpa ada penambah cita rasa. Hambar.
"Anak kecil jangan ikut campur urusan orang tua! Oya kembali pada bapak dan ibu. Kamu harus bujuk ibu soal Ibu Susi. Bapak orang jujur tak mungkin bikin sensasi yang akan hancurkan bahteranya sendiri. Kau yakin pada bapak?"
"Yakin..papa sangat kaget setelah tahu niat Bu Susi. Papa langsung bilang akan batal ijinkan pelakor keriput itu jualan di bengkel kita. Itu sudah tunjukkan niat baik papa."
"Aku tahu..kita bahas besok lagi. Perutku agak mules seperti mau kedatangan tamu bulanan. Tak ada bawa pembalut pula. Dasar apes!" gerutu Sania disambut tawa Lisa. Lisa senang Sania dapat bencana dadakan gini. Sania pasti bingung nyari pembalut di rumah suami tak diinginkan.
"Lapor saja sama suamimu! Minta pembalut!" ejek Lisa bikin Sania kuping panas. Andai Lisa berada di dekatnya pasti akan habis dicubitin. Kalau perlu minta tolong sama tawon sengat mulut berbisa itu.
__ADS_1
"Ok...aku akan bikin pengumuman di rumah kalau Sania sedang datang bulan perlu pembalut type long yang ada sayap. Puas ente?"
Sania menjauhkan kuping dari ponsel karena tawa Lisa seperti kuntilanak ketemu cowok ganteng. Tertawa panjang mengerikan. Sakit kuping Sania dengar tawa melengking Lisa.
"Ngucap non! Kamu kesurupan kuntilanak jatuh cinta."
"Kamu yang songong. Sudah ach...aku mau mandi! Bentar lagi magrib. Kutunggu ente besok pagi. Mau sarapan apa?" Kata Lisa setelah bisa kuasai tawa seramnya.
"Roti manis dan capuccino. Rotinya beli lebih ya. Buat makan siang. Aku kurang selera makan kalau lagi halangan."
"Siap periku sayang. Urus dulu pembalut bersayapmu. Semoga tidak terbang ya."
"Cerewet... assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Ruang kamar Sania kembali sepi. Aura kamar ini memang dingin seakan tak terima kehadiran Sania di kamar ini. Namun Sania bukan orang yang terlalu percaya pada hal mistis. Hidup di luar negeri menempa Sania menjadi kuat. Tak boleh manja walau ada segala fasilitas.
Sania tumbuh mandiri di antara rasa dendam. Sebenarnya dalam agama dilarang orang menyimpan dendam pada sesama manusia. Namun cobaan yang diterima Sania membuat gadis ini tetap menyimpan rasa sakit kehilangan mama tercinta. Sania janji akan tuntaskan tanpa berbuat keji. Cukup merenggut keangkuhan orang orang berhati iblis itu.
Rasa mules di perut mengharuskan Sania cari kamar mandi. Sania yakin dalam kamar besar ini pasti ada kamar mandi tersendiri. Mata indah Sania menjelajahi seluruh ruang cari tahu di mana posisi kamar mandi. Terakhir jatuh pada satu pintu terbuat dari kaca bermotif bunga teratai. Motifnya simpel namun elegan. Mungkin inilah satu satunya rancangan terbaik dalam kamar ini. Yang lain terlalu norak.
Sania bangkit dari tempat tidur coba buka pintu kaca itu. Agak sedikit berat mungkin engselnya berkarat karena lama tak dipakai. Sania gunakan sedikit tenaga mendorong pintu agar terbuka.
Pintu terbuka juga. Mata Sania dimanjakan satu pemandangan menyejukkan mata. Dekorasi kamar mandi ini sangat indah. Kesannya beri kita jam mandi berkualitas bila berendam dalam bathtub model oval. Semua di dominasi warna putih. Dari shower hingga kloset duduk juga warna sama.
Sania jatuh cinta pada dekor kamar mandi ini. Orang yang design kamar mandi ini adalah orang romantis. Di atas dinding tergantung genta angin persis di depan jendela kecil berfungsi sebagai lubang ventilasi kamar mandi. Bila angin bertiup makan genta angin akan berbunyi. Suatu dekor langka, namun Sania suka.
Sesaat Sania lupakan tujuan dia cari kamar mandi saking terpesona pada dekor kamar mandi spektakuler itu. Kalau diijinkan Sania ingin tambah tanaman kaktus sebagai pemanis hiasi sudut kamar yang masih kosong. Cuma sayang Sania tak punya hak itu karena itu kamar Bara dan Nania.
Sania tak punya pilihan lain selain coba cari Nania minta pembalut. Siapa tahu wanita itu ada menyimpan barang kebutuhan vital setiap wanita.
Sania melihat suasana rumah tetap cool. Tak ada tanda tanda ada kehidupan di rumah ini. Nania dalam kamar sedangkan Bik Sur pasti sedang sibuk di dapur. Sebentar jam makan malam maka perempuan paro baya itu berkutat di dapur siapkan makan malam.
Tanpa ragu Sania masuk kamar Nania dengan harapan wanita itu punya barang yang dia butuhkan.
Sania terbelalak kaget karena Bara ada dalam kamar Nania bertelanjang dada. Lagi lagi Sania merasa matanya ternoda oleh pemandangan mendebarkan jantung. Tubuh Bara sangat sexy walau sudah berumur. Otot di badan tak sisakan lemak lebih.
Sania cepat cepat buang muka tak mau terpesona pada tubuh Bara. Nanti otak mesumnya melayang layang tak karuan cetak angan ingin mendaratkan kepala ke dada bidang Bara.
Bara yang sadar Sania sedang gugup melihat tubuh bagusnya sengaja dekati bini mudanya pamer dada kekar.
Sania mundur selangkah makin gugup. Keringat curi curi keluar dari pori pori tanpa disuruh. Sania benar benar canggung berada di kamar Nania bersama suami full sensasi.
"Ada apa isteri mudaku?" suara bas Bara mengganggu kuping sania.
"Aku perlu sama mbak."
"Oh..." Bara mundur beri ruang pada Sania dekati bini tuanya. Laki ini dengan santai mengambil pakaian dari lemari lalu pakai di depan mata Sania.
Sania pura pura tak lihat otot otot Bara bergerak gerak saat memakai pakaian. Sungguh view menggoda.
"Mbak...apa ada simpan pembalut?" bisik Sania persis di kuping Nania takut Bara ikut dengar.
__ADS_1
"Ngak..mbak sudah bertahun tidak halangan. Mana ada beli barang itu lagi. Kau lagi dapet?"
Sania mengangguk muram. Ternyata Nania tak memiliki barang yang sangat dibutuhkan saat ini. Ke mana dia harus pergi cari di rumah ini. Perempuan di rumah hanya Nania dan Bik Sur. Apa mungkin Bik Sur menyimpan brang gituan?
"Bik Sur?"
Nania tertawa kecil lihat kepanikan Sania. Bik Sur sudah berumur lima puluh tahun lebih. Sudah pensiun memakai barang itu.
"Mas...binimu minta dibeliin pembalut!" seru Nania bikin Sania terloncat kaget. Nania dengan enteng omong Sania perlu pembalut padahal Sania matian ingin rahasiakan dari Bara.
Bara mengerut kening diminta beli sesuatu yang baru dia dengar hari ini. Seumur hidup Bara belum pernah melihat barang kebutuhan wanita itu. Tiba tiba bini mudanya butuh barang itu tak ayal Bara ikut bingung.
Sania bukan bingung lagi tapi ingin rasanya masuk ke perut bumi hilangkan diri. Rasa malu Sania menjalar ke seluruh badan. Andai dia Sania binti kura kura maka dia akan masukkan kepala dalam cangkang biar tak lihat reaksi Bara.
"Barang apa itu?"
"Aduh mas...jangan konyol deh! Itu pembalut untuk wanita yang sedang datang bulan. Bini kecilmu sedang datang bulan. Dia lupa bawa pembalut. Mas pergi beli deh!" kata Nania enteng seakan itu bukan hal memalukan. Lain halnya dengan Sania yang malu bukan main.
"Aku beli barang gituan?" Bara menunjuk hidung sendiri tak percaya dapat tugas ringan namun berat dipelaksanaan. Apa kata orang seorang laki berbadan besar beli pembalut untuk bini. Ceritanya lebih rumit bila dijabarkan. Apa Bara harus bilang mau beli pembalut untuk isteri mudaku?
"Kenapa mas? Beli saja di mini market dekat sini! Mas tanya saja pembalut untuk wanita."
"Kalian permainkan aku?" ucap Bara mulai kesal.
"Ya Allah...hanya beli kebutuhan bini mas merasa berat. Sania juga tanggung jawab mas lho! Pergi cepat! Nanti bocor mana mana."
Bara berat sekali dapat tugas aneh ini. Tapi Bara tak dapat kesampingkan nilai Sania sebagai bini. Bara juga wajib penuhi segala kebutuhan Sania selama masih berstatus bininya. Kali ini Sania hanya minta sesuatu yang tak mahal namun efeknya luar biasa.
"Tak usah mbak. Aku bisa minta kawan aku beli saja. Nanti diantar sini." Sania menolak tak mau merepotkan Bara. Sania bukan gadis bodoh tak tahu Bara keberatan disuruh beli barang aneh bin ajaib bagi Bara.
"Siapa kamu suruh?"
"Mas Rangga..dia pasti mau." sahut Sania hanya bisa ingat nama abangnya saat ini. Rangga bisa datang bersama Lisa antar kebutuhannya.
"Tak perlu..aku pergi saja. Tak baik merepotkan orang." ketus Bara tak suka Sania menyebut nama Rangga dengan mulus.
Dada Bara bergemuruh tatkala dengar Sania sebut nama laki lain. Padahal kalau Bara bisa berpikir waras pasti bisa tebak siapa Rangga yang jadi wali nikah Sania. Bagaimana hubungan dengan Sania?
Cuma saat ini otak Bara penuh rasa jengkel tak bisa cerna fakta sebenarnya. Bara mulai gelisah kalau Sania main mata dengan laki lain. Ada desiran halus tak rela Sania berhubungan dengan laki asing.
Bara keluar dari kamar Nania menuju ke parkiran mobil. Di sana terparkir beberapa mobil mewah namun penuh debu. Tampak sekali mobil itu sudah cukup lama dibiarkan menganggur. Mesinnya mungkin sudah karatan tak disentuh. Kalau batere jangan ditanya. Sejuta persen soak.
Deretan mobil ini bisa gambarkan Bara pernah berjaya di masanya. Mengapa Bara bisa terpuruk dalam hanya Bara yang bisa jawab.
Bara tidak mengeluarkan mobil tapi mengeluarkan sepeda motor. Jarak ke mini market hanya sekitar seratus meter. Kalau memakai mobil hanya capek keluar masuk mobil. Menambah kerja saja.
Bara membawa motornya melaju ke mini market dekat rumah. Dua kali tarik gas motor sudah sampai depan mini market. Sedikit ragu Bara parkir motor depan mini market.
Bara lihat kiri kanan takut jumpa orang dikenal. Bara cukup top di sekitar rumah sebagi cowok ganteng berkharisma. Kini datang ke mini beli pembalut mungkin akan merusak reputasi Bara sebagai idola komplek perumahan.
Setelah yakin tak ada masalah perlahan Bara melangkah masuk ke mini market. Suara ting pintu kaca awali rasa gugup Bara mencari barang titipan Sania.
Bara pura pura cari minuman segar sambil tajamkan mata ke benda yang namanya pembalut. Padahal Bara tak perlu grogi ambil barang itu. Tak ada yang mau usil hakimi suami beli pembalut untuk bini. Malah orang akan puji Bara suami siaga. Ada untuk orang tercinta.
__ADS_1
Setelah putar putar beberapa saat Bara menemukan barang titipan Sania. Bara bingung karena di situ terdapat beberapa macam model. Besar kecil dan aneka merek. Bara kembali dibuat pusing. Mana yang cocok buat Sania.