MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania


__ADS_3

Mendengar kalimat sehatkan badan perut Sania terasa keram. Bayangan satu sosok makhluk dengan perut buncit, pipi tembem, pantat menonjol, dada membusung ke depan, lemak bergelantungan di seluruh badan menari di bola mata Sania. Punya bentuk tubuh gitu membuat perut Sania mual. Sania hampir muntah ingat tawaran Bu Jaya dan Bara minta dia harus sehat. Sehat model apa? Sehat tetap ideal atau sehat menimbun lemak.


"Kenapa sayang?" Bara lihat reaksi aneh Sania mendekap mulut hendak keluarkan isi perut. Sania bangkit dari tempat tidur berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perut.


Bara ikut masuk ke kamar mandi dengan cemas. Sania memuntahkan isi perut di wastafel biar lega. Bara memijit tengkuk Sania bingung tak tahu harus buat apa. Laki ini tak pernah lihat wanita hamil maka tak tahu kalau wanita hamil akan sering mual.


Wajah Sania memerah menahan rasa mual yang makin kuat. Sania kembali memuntahkan isi perut sampai berkali-kali. Bara kasihan pada Sania namun tak tahu harus bagaimana bantu bininya hilangkan rasa mual menyiksa.


"Kita ke dokter ya! Ini bahaya sayang. Lihat kau makin lemas!" ujar Bara memeluk pinggang Sania agar wanitanya tak tersungkur jatuh. Lutut Sania terasa lemas tak bertenaga berkali-kali buang isi perut.


"Aku tak apa Lieve...jangan suruh aku makan terus! Aku takut gemuk." Sania berterus terang alergi kata sehat.


"Terserah kamu sayang! Yang penting kamu senang. Kamu ada pingin ngemil apa?"


Sania tak jawab sibuk kumur-kumur bersihkan sisa muntah dalam mulut. Sania merasa jijik lihat tumpahan muntah di wastafel. Makanan yang dia makan sudah berubah menjadi sampah sedikit beraroma tak sedap. Rasa mual datang lagi.


Bara melihat situasi tak kondusif maka segera bawa Sania keluar kamar mandi. Sisa muntahan menjijikkan biar menjadi tugasnya. Melayani wanita hamil akan jadi tugas baru seorang bos perusahaan. Ini demi debay yang berada dalam perut Sania.


Bara menuntun Sania balik ke tempat tidur. Perlahan Sania berbaring pulihkan stamina terkuras gara-gara muntah.


"Berbaring dulu. Aku ambil minuman dulu! Jus atau air putih?" tawar Bara lembut.


"Tak usah! Berbaring sebentar juga ok. Lieve tak balik kantor?"


"Rencana mau tinjau lokasi Dr. Cipto. Kau begini mana bisa kutinggalkan?"


"Tugas lebih penting Lieve. Aku akan baik saja asal jangan kalian paksa harus gemuk! Aku bukan sapi bunting tapi Sania imut."


Bara mulai paham mengapa Sania mual disuruh makan banyak. Wanita ini takut gemuk. Ini penyakit berat wanita. Takut lemak padahal tak semua wanita gemuk tampak jelek. Banyak wanita bertubuh subur berhasil jadi idola penggemarnya. Dulu penyanyi Adele berkebangsaan Inggris juga gemuk tapi penggemarnya berjibun. Orang tak pandang bentuk tubuh tapi prestasi.


"Sayang...aku mencintaimu karena kamu Sania. Tak peduli bagaimana tampilan luaran. Yang penting bagiku adalah isi hatimu. Aku mencintaimu..." Bara tak ragu tuang isi hati supaya Sania ngerti cinta tulus tak pandang bulu. Mau keriting, hitam atau putih tetap berharga di hati pencintanya.


Sania menatap lurus ke bola mata Bara mencari kesungguhan di mata Bara. Kilatan cahaya di mata laki itu terlihat jernih tanpa ada kebohongan. Bara tak berkedip menantang Kilauan mata Sania. Jangan ada dusta antara kita. Mungkin gitulah makna pertemuan dua pasang mata tersebut.


"Sejak kapan Lieve jatuh cinta padaku?" tanya Sania pada sang suami.


Bara tak segera jawab malah memeluk Sania erat-erat untuk salurkan isi hati via kedekatan nyata. Ucapan yang keluar dari bibir bisa saja hanya pemanis mulut namun dari bahasa tubuh tak dapat berdusta.


"Aku tak tahu...kau masuk dalam hidupku perlahan tapi nyata. Seluruh ingatanku hanya ada kamu. Kau telah borong semua akal sehatku. Tanpa kamu hidupku akan hampa."


Sania hargai kejujuran Bara tak umbar rayuan kosong. Bara tak perlu bicara panjang lebar untuk ungkap isi hati. Cukup dengan ketulusan.


"Terima kasih Lieve...sekarang pergi kerja! Anakmu tak suka daddy-nya pemalas."


"Tapi kamu kurang fit." Bara terpaksa ganti kata sehat dengan fit takut Sania kumat


"Ajak aku ke lokasi proyek! Pasti langsung fit."


Bara acung jari telunjuk goyang kiri kanan tanda tak beri surat ijin injak lokasi proyek. Sania monyongkan bibir ngambek tak terpenuhi keinginan jabang bayi. Ini permintaan jabang bayi atau sang mami yang sudah tak betah dikurung dalam rumah.

__ADS_1


"Jadi anak manis saja! Aku segera pulang dari lokasi. Jaga mami kalian ya bro! Jangan nyusahin mami!" Bara mengusap perut Sania yang masih rata. Bara bicara seolah anak dalam perut Sania ngerti apa pesan sang Daddy.


"Minta ikut!" rengek Sania cari kesempatan pantau proyek garapan Bara. Sania lebih tahu detail proyek karena dia perancangnya.


"Sayang...kau masih fit. Andai kamu sudah ok silahkan kembali ke kantor. Sekarang duduk manis di rumah ya! Aku tahu kamu bosan tapi ini demi bayi-bayi kita."


"Cuma demi bayi?" selidik Sania tersinggung Bara hanya peduli pada anak mereka bukan pada dirinya.


Bara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mengapa Sania jadi sensitif sejak hamil. Biasa Sania masa bodoh dia ke mana. Tak pernah tanya sekalipun. Apa ini pengaruh hormon ibu-ibu hamil? Sepertinya bencana sedang hampiri Bara andai Sania makin berubah. Langkah Bara menjadi pendek.


"Tentu untukmu juga sayang. Kamu masih lemah. Aku janji kalau kau sudah fit benar boleh kembali ke kantor. Ok? Sekarang Lieve pergi dulu ya! Jadi anak baik." Bara persis bujuk anak balita. Sania masih belum puas walau telah dibujuk Bara. Hati Sania was-was Bara akan pergi jumpa Maya maupun wanita penghibur lakinya.


Ntah sejak kapan Sania menjadi pencemburu kelas Wahid. Sania yang santun cuek bebek berubah menjadi over protective pada Bara.


"Ngak mau aku supaya bebas jumpa Arsy atau Maya?"


Badan Bara kontan lunglai tak bertenaga. Ke mana larinya arah pemikiran Sania sampai teringat pada tukang kacau hidup Bara. Mengapa Sania teringat pada dua wanita masa lalu Bara. Mungkinkah Sania cemburu pada dua orang itu? Seharusnya Bara bahagia Sania mulai menyimpan rasa cemburu. Ini artinya Sania telah jatuh cinta padanya.


"Aku pergi kerja sayang. Kalau kau tak suka aku tinggal di rumah temani kamu. Biar Rudi yang ke sana."


"Tak boleh...Lieve harus berangkat ke proyek dan aku ikut. Titik..." seru Sania keras. Bara tak percaya pada pendengaran kuping nya. Biasa Sania santai tak pernah pakai nada tinggi. Wanita itu tetap kalem dalam situasi genting apapun. Kok pada berubah?


"Baiklah! Kita pergi tapi kamu tak usah turun dari mobil." Bara mengalah demi perdamaian dunia. Berdebat dengan ibu hamil pasti yang menang tetap bumil. Dari pada buang energi sia-sia lebih baik mundur selangkah.


"Ok..." ujar Sania riang. Satu kecupan mesra nempel di pipi Bara sebagai ucapan terima kasih dari Sania. Wanita ini meloncat turun dari ranjang lupa kalau ada kehidupan dalam perutnya.


Jantung Bara nyaris meloncat keluar ikuti gerakan Sania turun dari kasur. Laki ini mengurut dada sambil mengucap. Kenapa Sania jadi aneh sejak divonis hamil. Ada saja tingkahnya bikin Bara jantungan.


"Aku mandi dulu ya Lieve!" Sania bersenandung ria masuk kamar mandi.


Bara mengucek mata yakinkan diri kalau itu wanita adalah Sania bininya. Jangan jangan itu makhluk halus menyerupai Sania. Tampang sama tapi sifat berbeda.


Ke mana Sania si wanita besi bini mungilnya? Yang ini wanita manja egois.


"Astaghfirullah...pikir apa aku ini?" Bara menepuk dahi buang pikiran buruk yang baru saja terlintas di otak.


Selamat datang mimpi buruk. Hari-hari Bara selanjutnya pasti akan penuh warna. Seberapa besar cobaan yang menerpa untuk menjadi seorang bapak? Semoga sikap otoriter Sania cukup sekian. Besok semua kembali normal.


Lama sekali Bara menanti duduk di pinggir ranjang. Saking lama laki ini sampai ngantuk. Menunggu adalah kerja paling membosankan itu kalimat fakta. Bukan sekedar kata kiasan mulut.


Bara menertawai nasib buruknya setelah Sania hamil. Bara harus melatih diri capai titik kesabaran level tertinggi. Kalau perlu Bara akan berguru pada guru spiritual melatih kesabaran hadapi bumil. Bara tak sadar ini adalah awal penderitaannya. Ke depan belum tahu mood Sania bertiup ke arah mana.


"Lieve...kok melamun? Mikirin Arsy atau Maya?" Datang-datang Sania menuduh lakinya berselingkuh dalam angan.


Lidah Bara pahit sekali mau jawab. Susah buka mulut cari jawaban bisa mencuci halusinasi Sania.


"Tak bisa jawab artinya iya...aku tak jadi pergi kalau otak Lieve masih menyimpan kupu-kupu masa lalumu." Sania kembali ngoceh buat Bara makin sengsara.


"Siapa mikirin mereka? Aku mikirin kamu sayang. Mana ada waktu pikir mereka, di sini ada yang lebih penting dari mereka. Lieve pergi ya kalau tak jadi ikut."

__ADS_1


"Siapa bilang tak ikut? Lieve tak pikir mereka artinya aku ikut. Ayo come on! Sania mengambil tas selempang kesayangan tak peduli Bara hampir nangis dibuat bini mungilnya.


Seenak dengkul Sania tinggalkan Bara di kamar. Wanita muda itu berjalan santai turun ke lantai bawah seolah lupa suami tertinggal di kamar. Bara bangkit dari kasur tanpa gairah. Semangat Bara terbang ke langit sulit dijangkau.


Di bawah Sania sedang minta ijin sama Bu Jaya untuk ikut ke proyek. Bu Jaya gusar pada Bara yang bawa isteri ke lokasi proyek padahal tahu kondisi Sania belum stabil.


Lagi-lagi Bara jadi korban dari efek hormon ibu hamil. Bara disalahkan karena bawa Sania.


"Bara...kau lupa Sania butuh istirahat. Kenapa kau ajak kerja?" bentak Bu Jaya tak bersahabat.


"Ma...Sania minta ikut. Aku sih senang kalau dia betah di rumah. Lokasi proyek juga panas. Sania di rumah sama mama ya!" bujuk Bara pada Sania yang tengah bersemangat dampingi dia kerja.


"Enak saja...nanti Lieve janjian sama Arsy atau Maya! Ngak...ngak.. aku harus ikut."


Bara menatap mamanya minta bantuan bujuk Sania tak usah ikut ke tempat dia bekerja. Bara yakin di sana dia pasti akan dapat kesulitan lebih tinggi. Mood Sania berubah-ubah laksana angin bertiup ke serampangan arah.


"Sania...Bara kan ke proyek! Di sana tak cocok untukmu. Mama sudah pesan rujak untukmu. Sebentar lagi sampai! Bukankah kamu ngidam rujak?"


"Tapi Lieve mau selingkuh?"


Bara besarkan mata dituduh selingkuh. Angin badai dari mana bertiup kacaukan otak bini kecilnya. Ini makin jauh dari profil sosok Sania. Mengapa wanitanya bisa cemburu buta tanpa fakta.


"Ya Allah...cobaan apa sih? Sayang..Lieve mana mungkin selingkuh? Sebentar lagi kita punya anak. Siapapun takkan bisa mengalihkan cintaku padamu. Ayok kita pergi kalau kau kuatir aku selingkuh! Tapi janji duduk dalam mobil ya!" Bara menekan nada agar makin lembut. Amarah tak boleh terselip dalam setiap untai kalimatnya.


"Tapi rujakku..??" Sania menimbang ikut Bara atau cicipi rujak berbahan buahan segar. Sania tak bisa memilih antara dua pilihan yang menggoda. Ikut Bara atau santap rujakan.


"Gini sayang...Lieve akan cepat pulang! Sebentar saja Lieve di proyek. Kau tak perlu kuatir aku selingkuh. Itu bukan sifatku! Jadi anak manis ya!" Bara memeluk Sania dari depan lantas hadiahkan kecupan lembut di kening wanita sedang hamil itu.


"Janji tak lama?" Sania mengadu biji matanya ke mata Bara.


"Janji...Lieve rindu padamu setiap detik. Kau adalah semangat hidupku."


"Awas kalau bohong!"


"Kalau Lieve bohong terserah kau hukum apapun. Sini duduk manis tunggu rujakmu!" Bara mendudukkan Sania di sofa ruang keluarga. Sania patuh mengingat sebentar lagi akan makan makanan jenis baru yakni rujak.


Sama halnya dengan gado-gado, Sania baru ada makanan namanya rujak. Biasa paling salad sayur ataupun salad buah. Ini lain pula. Rujak makanan jenis baru bagi Sania.


"Lieve cepat pulang ya!"


Bara mengangguk iyakan permintaan Sania. Laki ini cepat ambil langkah seribu sebelum bininya berubah pikiran. Untuk saat ini Bara terbebas dari situasi membingungkan. Baru pertama kali jadi Daddy susahnya minta ampun. Gimana kalau tahun depan Sania hamil lagi.


Bara yakin kepalanya akan lebih cepat plontos. Rambut di batok kepala akan rontok makan hati. Mungkin Sania harus disteril bila sudah melahirkan. Bara tak mungkin terusan diteror olah ibu hamil yang tak kenal toleransi.


Bara melajukan mobil ke proyek Dr. Cipto. Para pekerja sudah lama menunggu pengarahan Bara untuk melanjutkan tahap selanjutnya. Di rumah tadi Bara buang waktu hampir dua jam melayani ibu muda.


Ponsel Bara berbunyi menampilkan nama Maya. Bara menarik nafas panjang. Insting Sania sangat jitu. Wanita itu bisa rasakan bakal ada tukang kacau hubungi suaminya maka ngotot mau ikut.


Ingin sekali Bara abaikan panggilan Maya namun hati nurani Bara tak tega berbuat kejam pada mantan pacar masa SMA. Gimanapun Maya pernah ada dalam kisah hidup Bara.

__ADS_1


"Halo..." Bara memutuskan angkat panggilan Maya. Bara pasang headset agar tak menggangu dia menjalankan kenderaan roda empat.


"Bara...ketus amat! Aku Maya!"


__ADS_2