MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bini Muda Rebutan


__ADS_3

Bobby tak pernah berpikir jauh kalau khianati Sania bawa akibat mengerikan. Sania anak baik, dibodohi cukup lama tapi gadis itu tak bikin onar. Gadis itu memilih hindari Bobby untuk lupakan masa kelam. Tapi Bobby menuai panen dari kelicikan sendiri.


"Sania...hanya Sania bisa bantu kita. Cari dia! Paksa dia datang ke sini. Dengan cara apapun." seru Bobby mulai kalap.


"Pak..jangan usik nona Sania lagi! Dia tak pernah bikin bapak malu sudah cukup. Dia bisa saja bongkar semua kebohongan bapak. Tapi dia diam. Kita pikir jalan lain. Atau minta bantuan Pak Suhada." saran Pak Anton beri solusi.


"Mertuaku sedang sekarat juga. Dia saja minta bantuan aku. Aku harus jumpa Sania. Dia harus kembali padaku. Jika perlu paksa dia."


"Jangan pak! Ini melanggar hukum."


"Tak ada jalan lain lagi. Aku akan cari dia sekarang." Bobby meraih kunci mobil langsung keluar dari kantor.


Pak Anton melongo tak paham niat Bobby. Dulu campakkan Sania demi bintang top. Sekarang ingin merebut Sania kembali ke pelukan. Mungkin Bobby sudah terlambat untuk hal ini.


Sania juga manusia punya perasaan. Disakiti sampai tinggalkan luka menganga. Di saat Bobby terpuruk baru ingat lagi pada gadis yang telah banyak berjasa padanya.


Di kantor Bara semua berjalan lancar. Bahkan usul Sania tukar guling dua tanah untuk pembangunan bank dan rumah sakit dapat respon baik. Pak Zainal dan Dr Cipto minta ketemu bahas masalah tanah sekaligus bikin konsep baru. Rencananya jumpa di restoran mewah yang ditentukan Pak Zainal.


Bara adalah insan paling bahagia mendapat pegawai dan isteri baik. Cuma sayang Bara belum bisa rasakan malam pengantin bersama Sania untuk sempurnakan pernikahan mereka.


Sania macan kecil terlalu teguh pada prinsip takkan keluar dari jalur perjanjian. Bara tak mau menuntut sadar Sania belum jatuh cinta padanya. Bara yakin ada masanya Sania anteng tidur dalam pelukannya.


Bara memanggil Sania masuk ke ruangnya. Maunya Bara Sania pindah kerja di ruangannya biar bisa puas menatap wajah imut sang bini kecil. Kecil tapi berbobot.


Sania tinggalkan mejanya masuk ke ruang Bara. Sania yakin Bara bukan sekedar mau gombal di kantor. Pasti ada yang hendak dibicarakan.


"Ya pak.." Sania berdiri sopan di depan Bara.


"Kita akan jumpai Pak Zainal dan Dr Cipto di restoran. Kau pulang mandi dan ganti sepatumu. Nanti aku jemput."


Sania turunkan netra ke bawah lihat sepatunya yang merana. Masih tersisa kotoran walau sudah dibersihkan. Bara memintanya ganti mungkin malu punya perancang amburadul.


"Ya pak..tak usah jemput. Bapak kirim saja alamat restoran. Aku bisa ke sana sendirian."


Bara bangkit dekati Sania. Tubuh besar itu menjulang bila dibanding tubuh imut Sania. Perbedaan sangat mencolok.


"Kenapa suka membantah? Kau tak merasa bersalah padaku?" Bara turunkan kepala dekatkan wajahnya ke wajah Sania.


"Salah apa?"


"Seenaknya kau panggil Rudi kakak sedang pada suami sendiri panggil bapak! Kau sedang main api?"


Sania tak menyangka panggilan akrab terhadap Rudi bisa jadi pemicu amarah Bara. Sungguh picik hati Bara.


"Pak...Rudi kan bukan pegawai sini. Dia bapaknya Kintan. Tak ada alasan aku panggil dia pak. Bapak lain. Bapak bos aku."


"Lalu selanjutnya?" Bara sengaja hembuskan nafas kasar ke arah wajah Sania goda gadis ini.


"Apaan sih? Bapak belum minum kopi ya? Otak lagi kosong?"


"Aku mau tahu selanjutnya aku ini apa kamu?"


"Oh itu...suami aku dan mbak Nania."


"Bagus kau sadar hal ini. Mulai sekarang kau harus panggil aku sayang."


Sania belalakkan mata kaget dengar permintaan Bara. Mau bikin sensasi di kantor umumkan hubungan mereka atau Bara hukum dia untuk balas panggilan terhadap Rudi.


"Aku..."

__ADS_1


"Mulai panggil atau kucium kau sekarang?" ancam Bara dengan nafas memburu. Bara makin ingin ******* bibir mungil di depannya. Bibir Sania persis di depan bibirnya. Bara maju dikit sudah dapatkan bibir mungil Sania.


"Pak say..." panggil Sania pelan.


"Ya Tuhan...coba hilangkan kata pak! Cukup say. Ayo!"


Dea intip dari luar sambil senyum simpul. Dea tahu Bara sedang menggoda bini mudanya. Laki mana bisa tahan terhadap wanita secantik Sania. Cantik dan lugu.


Dea biarkan kedua makhluk itu saling menggoda. Toh mereka pasangan halal walau belum ada kata kunci untuk buka pintu yang masih bersegel.


"Sayang..." akhirnya luncur juga sepatah kata keramat bagi pasangan resmi.


Bara tersenyum puas. Bara darat kan satu kecupan mesra di bibir yang sudah lama jadi incaran Bara. Sania terpekik kaget dikecup tanpa permisi.


"Dasar mesum.." seru Sania hendak memukul Bara. Tangan mungil Sania cepat pindah ke genggaman Bara.


Bara bawa tangan Sania ke wajahnya seraya gosok gosok tangan itu ke wajahnya. Sania meringis malu sambil lirik Dea. Dea tentu saja pura pura tak lihat adegan mesra di kantor. Malah romantis menurut Dea.


"Isteriku sayang. Terima kasih. Sekarang pulang. Nanti kujemput." bisik Bara lembut di telinga Sania. Nafas kasar Bara terasa hangat di kulit. Tak urung jantung Sania berpacu cepat.


Sania cepat cepat kabur sebelum Bara mulai konyol lagi. Sania segera beres beres untuk pulang. Makin lama bersama Sania akan bikin Sania kena serangan jantung. Rugi muda muda kena penyakit jantung.


"Pulang?" tegur Dea lihat rekannya beres mau pulang.


"Iya..aku harus jumpa klien. Aku mau pulang ganti pakaian. Doakan usahaku lancar "


"Kudoakan dong! Ini kan untuk kita semua."


"Trims.." Sania meraih tas selempang kesayangan hendak angkat kaki dari kantor.


Sebelumnya Sania minta ijin pulang sama bos juga suami tak tercinta. Bara tentu saja beri ijin pada Sania. Sania masih harus tanggung jawab membuat Pak Zainal dan Dr Cipto yakin kalau perencanaan mereka bawa hasil memuaskan.


"Sania sayang...mau ke mana?"


"Jumpa klien!" Sania sengaja bilang jumpa klien supaya Bobby tak ganggu dia.


"Biar kuantar. Aku memang mau jumpa kamu." kata Bobby lembut. Selembut salju.


"Tidak terima kasih... permisi." Sania hendak turun tapi dihalangi Bobby.


Bara yang lihat dari jauh segera keluar untuk selamatkan bininya dari godaan Bobby. Bara tak menyangka Bobby akan kembali ganggu Sania.


"Maaf pak Bobby..." Bara menarik Sania naik ke atas lagi. Sania segera berlindung di belakang Bara.


"Pak Bara...aku datang mau jemput pacar aku." ujar Bobby tenang.


"Pak Bobby bukankah sudah punya isteri cantik? Mengapa masih ganggu Sania? Di masa lalu kalian memang pasangan tapi sekarang Sania bukan milik Pak Bobby lagi. Dia milikku." kata Bara tegas.


"Maksud anda?"


"Sania adalah isteriku. Kami sudah menikah secara resmi. Jadi kuharap Pak Bobby jaga sikap terhadap isteriku."


Bobby tertawa tak percaya cerita Bara. Sejauh ingatan Bobby bahwa Sania bukan gadis gampang ditaklukkan. Mengapa tiba tiba berubah status jadi isteri Bara.


"Tak usah guyon lindungi Sania. Aku kenal Sania dari siapapun. Untuk menyentuhnya saja mungkin harus lapor ketua RT."


Bara tertawa sumbang. Bangga Sania pandai menjaga diri dari bajingan macam Bobby. Kalimat Bobby siratkan dia juga belum mampu miliki Sania seutuhnya.


Bara meraih Sania ke pelukan lalu mengangkat dagu bini kecilnya. Tanpa ba bi bu Bara daratkan bibir kasarnya ke bibir mungil Sania. Bobby dan Dea sebagai saksi Bara cium Sania pertama kali.

__ADS_1


Bara sangat ahli kuasai gadis lugu macam Sania. Sania terpana namun tak menolak ciuman perdana mereka. Sania hanya bisa ikuti permainan Bara buat satu kantor jadi heboh.


Pegawai lantai bawah jadi ikutan nonton adegan mesra di kantor. Tak tanggung tanggung pemeran adegan mesra itu adalah bos dan karyawan pembawa hoki mereka.


Bahkan ada yang ambil foto untuk dokumentasi adegan mesra yang sangat indah bagi pencinta keindahan percintaan.


Bobby sangat marah sampai tak tahu harus omong apa. Tak disangka Sania benar jadi milik orang lain. Bobby masih mengira Sania cinta mati padanya. Ternyata Sania telah bisa move on cari pengganti yang lebih bertanggung jawab.


Bobby segera angkat kaki sebelum lebih malu lagi. Dalam hati Bobby menyesal telah datang ke kantor Bara. Bukannya dapat jawaban tapi dapat rasa malu kelas wahid.


Sementara itu Bara hentikan ciuman setelah puas rasakan bibir mungil bini mudanya. Bara sangat berterima kasih pada Bobby yang telah memberinya kesempatan lakukan sesuatu yang sudah dia pendam cukup lama.


Kalau Bobby tak datang selamanya Bara takkan pernah dapat rasakan bibir Cherry Sania. Bibir itu lembut bak puding meleleh waktu dimakan. Bara janji akan ulangi ciuman dahsyatnya. Kalau bisa lebih dari sekedar ciuman.


Sania pucat dicium Bara di hadapan orang ramai. Apa kata para pegawai saksikan adegan mesra gratis. Sania bisa dicap sebagai pelakor dalam rumah tangga Bara dan Nania.


"Kita pulang! Kita masih harus jumpa klien." kata Bara lembut tahu Sania masih syok tiba tiba hubungan mereka terbongkar. Sania tetap jadi duri di mata orang. Yang paham macam Dea tentu tak masalah cuma pegawai lain belum ngerti duduk perkara. Sania akan sandang predikat baru yakni pelakor.


"Ya pak say.."


Bara tak masalah lagi panggilan aneh Sania. Kini terpenting adalah kembalikan rasa percaya diri Sania. Andai Sania drop mental banyak tugas akan terbelangkai.


Bara segera bereskan perlengkapan untuk jumpai Pak Zainal dan Dr Cipto. Bara tak yakin Sania bisa tampil maksimal dalam kondisi begini. Sania syok dicium di tempat umum. Seharusnya Bara berpikir jauh efek dari kenekatan tampilkan Sania sebagai isteri. Tapi itu satu satunya jalan bantu Sania lepas dari gangguan Bobby. Bara serba salah.


Bara membawa Sania pakai mobilnya sementara mobil Sania ditinggalkan di kantor. Bara minta satpam jaga mobil nyonya majikan mereka. Sania tak banyak membantah. Biarlah sekali kali jadi anak manis.


Suasana kantor masih heboh berita Sania adalah bini muda bos mereka. Tak disangka Bara menyimpan bini muda di kantor. Beramai ramai para pegawai naik ke atas lantai dua cari Dea yang lebih dekat dengan Sania.


Dea seperti terdakwa dikerubuti Intel Intel kelas tinggi. Dea meneliti rekan kerjanya satu persatu cari tahu berapa tebal jiwa kepo rekan kerjanya.


"Sejak kapan kau tahu Sania bini muda bos?" Sugeng paling duluan interogasi Dea.


"Kepo...Sania tak seburuk dugaan kalian. Dia dinikahkan sama bos oleh Bu Nania. Jadi singkatnya Sania bukan pelakor tapi bini pilihan Bu Nania untuk dampingi bos kita." cerita Dea dengan sabar.


"Apa ada cerita kayak gitu?" Dhenok paling tak ikhlas Sania dipilih Bara jadi bini. Dhenok sudah mimpikan jadi pendamping bos bila sewaktu Nania meninggal. Semua pegawai tahu isteri Bara sakit parah.


"Ya ada. Itu Sania jadi bini muda dan tinggal serumah dengan Bu Nania. Kalau ada konflik tak mungkin mereka aman. Kalian sendiri bisa nilai Sania itu orangnya gimana? Jadi kumohon jangan bikin yang pojokan Sania."


"Aku percaya. Sania orangnya tulus. Tak sombong walau dirinya nyonya kita. Aku dukung Sania." Mosa angkat tangan dukung Sania.


"Ya sudah. Kita tak berhak adili orang lain. Sania pasti punya alasan sendiri jadi bini muda. Kalau dilihat dari kecerdasan Sania bukan sulit cari yang lebih baik dari Pak Bara. Apa kalian tak lihat bos PT BUILD juga datang untuk Sania." Tio tengahi semua pola pikir masing masing karyawan.


Semua mengangguk kecuali Dhenok. Wanita ini belum puas dikalahkan anak kecil macam Sania. Dia yang sudah lama dampingi Bara kenapa Sania yang petik hasil.


"Sania pasti pakai cara kotor rayu Pak Bara." cetus Dhenok


"Salah...Pak Bara yang ngebet ingin dapatkan Sania. Sania masih muda dan pintar. Wajar Pak Bara tergila. Sania fresh from oven." sanggah Dea kurang suka Sania dituduh berbuat curang. Sania justru selalu menolak Pak Bara.


"Kalau tak genit bagaimana Pak Bara suka padanya? Wajah cantik sih tapi penampilan kalah jauh dari aku. Aku modis dan bahenol. Kepintaranku tak kalah." Dhenok promosi diri sendiri melambung ke angkasa.


"Sania muda dan cantik. Kulitnya bersinar tanpa make up. Soal pinter mungkin kau tak ada apa apa dibanding Sania. Sejak Sania datang proyek masuk seperti kran baru keluarkan air. Curah terus." Dea masih bela Sania. Dea bukan sekedar bela tapi ungkap fakta.


"Emang Sania yang cari proyek?" tanya Savitri penasaran.


"Iya..Pak Bara sudah perintah rekrut pegawai baru untuk bantu semua proyek. Kita baru dapat dua proyek baru lagi. Lagi digodok Sania." ucap Dea bangga bisa kenal Sania lebih dekat.


"Wow...pembawa hoki. Ya kita dukung bini muda sepesial bos kita." seru Mosa girang.


Reputasi perusahaan mereka akan naik. Sebagai pegawai PT ANGKASA JAYA Mosa ikut bahagia. Kantor mereka akan jadi kantor bonafide. Tak perlu malu kenalkan nama perusahaan tempat dia kerja.

__ADS_1


"Syukuri kehadiran Sania bawa angin segar. Semoga ke depan proyek makin banyak." Sugeng menyadari Sania bukan pemanis para pengusaha. Tepatnya disebut gula gula di samping bos bos besar. Penampilan aduhai tapi otak kosong. Sania jauh dari kata pemanis bos besar.


__ADS_2