
Lisa sudah tak bisa toleransi keangkuhan Suhada dan Amanda. Pernyataan mereka tak masuk logika. Hanya berdasarkan pikiran Rangga tak punya uang mereka tuduh Rangga sabotase aset mereka. Model kanibal produk tahun kekinian. Barbar tak punya etika. Lisa yakin Rangga akan menangkan kasus ini.
"Kamu siapa berani ikut campur? Ini urusan keluarga!" bentak Amanda lontarkan tatapan berapi-api pada Lisa yang pasang badan lindungi Rangga.
"Aku...aku.." Lisa bingung tak tahu harus menyebut diri sendiri berada di posisi apa dalam hidup Rangga. Lisa tak mungkin mengaku sebagai pacar Rangga karena laki itu belum keluarkan pernyataan cinta pada Lisa.
"Ini calon isteriku! Dia yang bantu aku selama ini. Di saat keluargaku mengusirku seperti seekor anjing dia dan keluarganya tampung aku hingga berdiri di sini. Dialah keluargaku!" Rangga bangkit dari kursi merangkul Lisa tanpa malu.
Hati Lisa berbunga-bunga diakui Rangga di depan orang tuanya. Gadis mana tak bahagia diakui langsung oleh laki yang menghiasi mimpi tiap malam. Jalan menuju hari bahagia makin di depan mata. Lisa memang mengharap bisa menjadi pelengkap hidup Rangga. Lisa berharap dia memang tulang rusuk Rangga yang hilang.
Mata Amanda meneliti Lisa lebih ketat. Amanda menimbang apa Lisa cocok jadi pendamping Rangga yang sudah tajir. Mata elang Amanda berputar-putar di tubuh Lisa seperti sedang berbelanja tas untuk dipakai. Pantas ngak tas itu dibawa keluar untuk dipamerkan pada seluruh dunia.
"Siapa orang tuanya? Apa pengusaha kaya?" tanya Amanda angkuh seakan dia yang berhak tentukan masa depan Rangga.
"Aku mencintai dia apa adanya. Bukan ada apa! Dan kalian tak berhak melarang aku menentukan pasangan hidupku. Aku sudah dewasa. Silahkan pergi dari sini! Kalau kalian merasa aku berbuat curang bawa saja ke hukum. Kita lihat siapa yang akan masuk penjara." cetus Rangga tak berbaik hati.
"Erlangga...kami orang tuamu! Kau harus ingat siapa yang biayai kuliahmu! Kau harus ingat budi kami." bentak Amanda keras.
"Aku tak lupa budi kalian maka itu aku berkewajiban ngasih uang belanja pada papa. Tiap bulan aku akan kirim uang untuk papa. Papa tak perlu kerja lagi. Pensiun nikmati hari tua." Rangga mengarahkan mata pada Suhada yang tak bersuara dari tadi. Rangga lihat ada keletihan di mata yang mulai redup itu. Cahaya terang yang biasa memancar dari mata itu tak tampak bersinar lagi.
"Tak bisa...ini perusahaan aku. Tak mungkin kubiarkan dipimpin oleh anak bawang macam kamu."
"Jangan lupa ini bukan perusahaanmu tapi punya mama Santi! Beliau meninggal karena dihabisi orang. Bukan kecelakaan. Jangan takut! Semua akan terbuka bila saatnya tiba." Rangga sengaja buka sedikit tabir yang selama ini tertutup.
Wajah Amanda berubah warna dimop oleh Rangga. Kejadian ini sudah berlalu lima belas tahun lalu. Mengapa sekarang Rangga mengungkit kejadian yang merengut nyawa ketiga bini Suhada. Apa yang diketahui Rangga.
"Apa maksudmu mama Santi dihabisi? Dia meninggal karena kecelakaan." buru Suhada kaget Rangga ungkap penemuan baru tentang meninggalnya mama Sania.
Rangga tertawa sinis, "Aku sudah tahu semuanya. Mama Santi sengaja ditabrak lalu Santi menghilang. Perusahaan ini jatuh ke tangan kalian. Rencana yang sangat licik. Tapi Allah itu tidak tidur. Satu persatu kebenaran akan terungkap."
Amanda merasa badannya bergetar di pojokan Rangga mengenai kejadian masa lalu. Tak pernah Amanda sangka kalau Rangga akan balik serang mereka. Fakta apa ada di tangan Rangga.
"Apa maksudmu nak?" tanya Suhada bingung Rangga celoteh kata-kata tak masuk akal. Dari mana Rangga mendapat sumber berita yang sangat menyesak pendengaran Suhada.
"Mamaku, mama Santi dan mama Agra meninggal bukan karena sakit tapi dihabisi. Aku punya bukti lengkap. Tinggal kita buka bersama di kepolisian!" Rangga perlihatkan senyum sinis pada Amanda. Wanita ini sudah kelewatan dan sangat jahat. Mungkin ini moments tepat bongkar semua kebusukan Amanda dan Suhada.
"Kau memang anak durhaka. Orang tua lagi susah bukannya dibantu malah menuduh yang bukan-bukan. Kau anak kualat." tuding Amanda menunjuk wajah Rangga dengan kuku yang terlihat indah hasil kreasi salon mahal.
__ADS_1
Lisa mau lihat sampai kapan Amanda bisa keluar masuk salon kecantikan dengan kondisi terpuruk. Belum lagi Ranti masih mendekam di tahanan atas pelaporan Bara dan Sania. Kini Rangga secara halus hendak bongkar konspirasi kelam di masa lalu.
"Aku tak pernah menyakiti kalian. Dasar apa aku disebut durhaka? Kalau papa minta uang jajan maka dengan senang hati kuberikan. Segala kebutuhan hidup papa akan terpenuhi tapi bukan beri perusahaan ini."
"Kau ini anak tak diuntung. Kau tahu adikmu Ranti sedang ditahan di kantor polisi. Ini semua gara-gara wanita sialan yang rebut Bobby. Ranti berbaik hati ingatkan Bara tapi malah dituduh yang bukan-bukan. Kau harus keluarkan adikmu dari tahanan." seru Amanda kesal ingat Sania selalu jadi batu sandung Ranti.
Seharusnya Amanda harus kaji ulang siapa yang jadi kerikil di hidup Ranti. Sania atau Ranti yang jadi batu sandung Sania. Sifat egois dan berhati picik telah butakan hati Amanda lihat kebenaran. selalu usik ketenangan Sania. Sania sudah banyak mengalah tapi asyik diserang terusan.
Semua manusia ada batas kesabaran. Diteror terusan tak mungkin tak beri reaksi. Kini Sania telah ada backing yang cukup kuat. Keluarga Jaya yang cukup punya nama di kalangan pebisnis.
"Ranti yang cari gara-gara. Untuk apa dia bawa wartawan serang Sania. Minta dinikahi Bara. Ranti itu tak ubah seperti wanita jalanan penjaja cinta. Ranti harus sadar dia isteri orang. Pantaskah datang ke perusahaan orang jelekkan isteri orang lalu minta dinikahi. Wanita gila.." Rangga ikut emosi bayangkan kelakuan Ranti bikin sensasi menyerang Sania.
"Erlangga...Kau bela orang luar. Ranti itu adikmu. Bukan perempuan sialan itu!" koar Amanda bergema di seluruh kantor.
Amanda sedang pertontonkan kekuatan arogan yang tak terkalahkan selama ini. Amanda sudah biasa memerintah semua orang harus tunduk pada sabdanya. Rangga tampil dengan kokoh tak goyah walau Amanda keluarkan segala alasan.
Bagi Rangga semua itu hanya alasan basi. Saking basi sampai bau busuk.
"Yakin Ranti adikku?" Rangga memainkan lidah cari sela bongkar kebusukkan Amanda di hadapan Suhada. Suhada mungkin belum tahu kalau Ranti bukan darah dagingnya. Pak tua ini tak sadar dipermainkan Amanda dalam dekade cukup panjang.
"Aku merasa Ranti bukan adikku. Tak ada kemiripan aku dengan Ranti. Kita keturunan berkulit putih mengapa dia kuning Langsat. Sosok wajahnya juga bukan dari trah kita. Dia asing sendiri. Aku ingat wajah Santi yang putih bersih. Paduan sempurna." Rangga makin gencar serang Amanda pakai kartu truf yang sudah ada di tangan. Sania telah berhasil selidiki semua kecurangan Amanda.
Kini hanya tinggal cari tahu apa Suhada ikut terlibat dalam kejahatan Amanda. Sania pasti takkan tinggal diam kalau kedapatan sang ayah ikut terlibat dalam kejahatan Amanda.
Suhada seperti terbangun dari mimpi buruk mencoba cari kebenaran dari omongan Rangga. Mengapa tak terpikir olehnya Ranti asing sendiri di dalam keluarga. Suhada ingat anak-anaknya rata berkulit putih bersih terutama Santi yang masih keturunan orang barat.
Kata-kata Rangga ibarat palu Godam ketok kesadaran Suhada. Kini Suhada terbangun kaji ulang sosok Ranti.
"Mami..mengapa papi merasa Erlangga ada benarnya! Apa kau sembunyikan sesuatu dariku? Dan soal isteriku yang lain. Benarkah mereka meninggal seperti yang kau ceritakan?" Suhada agak limbung tak bisa terima kenyataan bahwa isterinya yang satu ini banyak menyimpan misteri.
"Aduh papi...mantan istrimu sudah tenang di alam sana. Untuk apa diungkit? Kini kita harus keluarkan Ranti. Dia sedang mengandung cucu kita. Kasihan dia di tahanan. Wajahnya pucat saking kaget. Si tolol Bobby malah menghilang." Amanda memelas minta Suhada cari jalan usaha bebaskan Ranti dari jeratan hukum.
"Bobby kabur bukan salahnya. Ranti yang tak tahu malu berani merayu laki orang secara terbuka. Di mana muka Bobby lihat isteri sendiri kejar laki orang. Sedang hamil pula. Apa ada orang gila mau kawini wanita hamil? Isteri orang pula. Bara masih waras tak mau terima isteri orang. Dasar anak ibu sama sinting." Rangga tak bisa jaga mulut lagi untuk tak protes kelakuan Ranti yang memalukan.
"Tapi Ranti bintang terkenal. Siapa tak suka padanya?" bela Amanda belum kalah.
"Apa kalian pikir semua orang tergiur bintang top? Bara jijik pada Ranti. Dia telah menikah dengan Sania yang segalanya jauh di atas Ranti. Pintar, cantik dan berprestasi." Rangga tak segan puji Sania sesuai fakta.
__ADS_1
"Kalau Sania seperti yang kau bilang mengapa Bobby tinggalkan dia untuk Ranti. Di sini letak pesona Ranti."
"Kalian tahu ngak sekarang Bobby menyesal terperdaya oleh kemunafikan Ranti. Perusahaan kacau balau gara punya bini sok kaya. Bobby hancur karena Ranti."
"Jangan asal tuduh! Ranti itu bintang mahal. Wajar harus ikuti pola hidup jet set. Erlangga...kenapa kau bela orang lain? Ranti itu adikmu. Kau harus keluarkan dia. Dan kembalikan perusahaan pada kami. Kita kelola bersama. Kau bisa jadi direktur sementara dewan presiden tetap mama dan papamu. Kita hidup damai...mau kan?" Amanda keluarkan jurus bidadari bermulut manis. Amanda mencoba ganti metode setelah kekerasan tak mempan.
Rangga sedikitpun tak takut walau banyak preman mengelilingi kantornya. Rangga sudah kabari pengacara Sania untuk bantu dia melawan Suhada dan Amanda. Mereka pasti dalam perjalanan ke kantor Rangga.
Rangga melunak tak pancarkan wajah sangar. Amanda melunak Rangga ikut redakan emosi. Pada dasarnya Rangga tak suka kekerasan. Namun dikasari Rangga takkan tinggal diam. Rangga bisa ladeni setiap serangan Amanda.
"Maaf...soal perusahaan tak bisa digugat. Perusahaan ini mutlak milik aku dan temanku. Uang temanku banyak tertanam di sini. Soal Ranti besok aku akan coba cari Bara. Ok? Sekarang pergilah sebelum makin panjang!"
"Besok lagi? Sekarang saja Ranti sudah tak tahan di tahanan. Sedetik seperti dalam neraka." Amanda goyangkan tangan tak setuju Rangga menunda mengeluarkan Ranti. Kalau bisa detik ini Ranti harus keluar.
"Itu bukan kuasaku! Aku harus cari Bara. Tak ada guna kalian jamin Ranti selama proses hukum berjalan. Ranti tetap kena penjara bila Bara tak cabut tuntutan. Semua ini salah Ranti. Cari penyakit!"
"Kau bilang cari penyakit? Ranti itu pintar. Bobby sudah jatuh...pakai apa biayai hidup Ranti? Sekarang Bara yang sedang naik daun. Dapat proyek trilliunan, diakui Pak Jaya sebagai pewaris. Bukankah Bara jauh lebih ok dari Bobby? Wajar Ranti beralih ke Bara. Otakmu yang tolol."
Lisa ingin gampar mulut beracun Amanda. Seenak hati ingin merebut Bara dari tangan Sania. Sudah sekali curangi Sania kini hendak lancarkan tak tik kuno jerat Bara. Bara bukan Bobby si bodoh terpengaruh nama bintang film.
"Bara mana mau sama bekas orang. Bara sudah menikahi Sania. Mereka hidup bahagia. Sejuta Ranti takkan mampu menggoda hati bersih Bara. Sadar lah! Ranti tak berharga di mata masyarakat karena ulah dia sendiri. Apa kalian tak tahu Ranti sedang dihujat? Jangan menambah buruk keadaan!" Rangga berkata pelan untuk dinginkan Amanda.
"Bara pasti mau Ranti. Sania itu apa? Tak sekuku Ranti adikmu. Sekarang kau beri uang sepuluh milyar dulu. Kami perlu dana untuk keluarkan Ranti."
"Maaf tak ada dana itu. Perusahaan baru menuju ke arah membaik. Tak mungkin kucurkan dana sebesar itu. Dan lagi apa hak kalian minta uang sebanyak itu dariku? Ini perusahaan kami."
"Jangan salahkan bila bertindak kasar! Kau lihat body guard kami?" Amanda menunjuk beberapa laki berpakaian serba hitam berdiri siaga menanti aba-aba bertindak. Satu kata perintah dari orang yang gunakan jasa mereka tindakan brutal akan segera terjadi.
"Kita punya hukum. Seluruh ruang kantor ada cctv. Dari awal kalian datang sampai detik ini semua terekam jelas. Kami paling rugi materi tapi kalian? Hukum menanti dan nama kalian hancur berantakan. Jadi kuharap kalian segera angkat kaki dari kantorku dan jangan kembali." ujar Rangga kembali memanas.
Amanda dan Suhada hendak main kasar Rangga siap layani. Mungkin Amanda sudah hilang akal sehat main kekerasan di kantor yang bukan haknya lagi. Gaya hidup tinggi membuat Amanda tak terima harus merangkak tanpa gelar presiden direktur. Pamornya sudah hancur berkeping.
"Mari kita pergi mami..mungkin bukan waktu tepat kita minta hak kita. Kita balik nanti." Suhada menyadari Rangga bukan hanya sekedar menggertak. Anak itu tentu saja sudah siap siaga hadapi kehadiran mereka. Suhada merasa mulai lemah hati mengingat kata-kata Rangga tentang ketiga isterinya yang meninggal satu persatu.
"Tidak...aku harus dapat kepastian kapan perusahaan dikembalikan pada kita? Uang kita sudah habis bayar pinalti. Ranti di penjara. Kita harus bangkit papi." Amanda mewek tak mau diajak pergi. Amanda menggebu-gebu harus tuntaskan kepemilikan perusahaan hari ini juga. Dia harus bebaskan Ranti dari hukuman penjara. Ranti sedang hamil tak pantas nginap di hotel gratis itu.
"Rangga.. kasihani mamamu! Beri dia peluang menjadi ibu dan nenek yang baik. Adikmu Ranti tak lama lagi melahirkan. Bobby ntah ke mana?" Suhada memelas pada Rangga.
__ADS_1