MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Semangat Baru


__ADS_3

Rangga geleng geleng tak tahu harus omong apa lihat cara Sania cari backing untuk muluskan rencana balas dendam. Gadis ini siap korbankan nama baik asal bisa padamkan nyalaan api dendam.


Dari luar Sania tampak imut menggemaskan tapi siapa sangka dibalik semuanya tersimpan sekam yang siap bakar penghalang di depan mata gadis ini.


"Dek...mas tak bisa kasih masukkan cuma mas mau bilang mas akan lindungi kamu dan Agra."


"Itu sudah cukup mas. Terima kasih."


"Sekarang urus adikmu yang mungkin tenggelam dalam bak mandi! Mas juga gerah mau mandi."


"Dasar Agra..." Sania terpaksa periksa kondisi adik kampungan yang lagi gembira rendam dalam bathtub. " Agra kau masih hidup?"


"Masih...bernafas lancar mbak!" sahut Agra bikin Sania terkekeh. Ternyata adiknya itu warisi sifat lucunya. Sania lega Agra mau menjawab artinya adik udiknya dalam kondisi fit.


"Mas Rangga mau mandi. Kamu cepat dikit. Awas mandi lama kulitmu bisa lumer kena air panas. Keriput." canda Sania biar Agra cepat sudahi acara mandi.


"Iya mbak!" sahut Agra.


Semoga Agra cepat keluar biar Rangga tak pasang muka asem. Rangga sangat disiplin mengurus Agra. Dalam pikiran Rangga hanya ingin adik adiknya menjadi manusia lebih baik dari orang tua mereka yang brengsek.


Untunglah Agra keluar dari kamar mandi perlihatkan wajah bahagia bisa jadi orang kaya. Hidup sederhana di panti menutup mata Agra dari teknologi yang mengalami kemajuan pesat. Anak anak panti dalam keseharian hanya melihat lingkungan itu ke itu. Pergaulan mereka juga dibatasi. Tak acara kumpul teman diluar panti apalagi jalan jalan ke mal seperti yang Agra rasakan hari ini.


Agra diperkenalkan kehidupan masyarakat yang aneka ragam sert tingkah laku insan insan menurut versi masing masing. Dari cara bicara, berpakaian juga gaya hidup yang majemuk. Agra yang masih kecil tentu belum paham benar arti sebenarnya bermasyarakat. Kehidupan di panti hanya mengajarkan mereka anak anak panti harus taat beragama, sopan dan rajin belajar agar menjadi manusia berguna.


Rangga masuk ke kamar mandi tanpa komentar maupun marahi Agra yang berkesan norak. Sania membantu Agra sisir rambut dan berpakaian rapi. Harum sampo dan sabun Sania kini tercium dari tubuh lajang kecil itu.


"Agra suka tinggal sama mbak di sini?" tanya Sania sambil ajak Agra duduk di sofa. Masih banyak yang ingin Sania ketahui tentang Agra. Mereka belum sempat ngobrol panjang lebar sejak bertemu.


Agra tersenyum perlihatkan senyum maut yang bakal jatuhkan hati para wanita sepuluh tahun mendatang.


"Suka dong! Agra boleh pulang sini kalau lepas sekolah?"


"Boleh sih cuma mbak kan kerja. Tak ada orang di rumah. Agra berani sendiri di rumah?"


"Berani..Agra suka di sini."


"Emang Agra tak suka sama Kak Lisa?"


"Suka tapi tetap enak sama mbak sendiri." Sania meraih Agra ke pelukannya. Sania tak dapat pungkiri darah mereka sama maka rasa nyaman itu hadir tanpa diminta.


"Agra sabar dulu! Kalau tugas mbak selesai kita akan bersama selamanya. Mbak akan bawa Agra ke Belanda Rumah mbak di sana."


"Belanda? Jauh amat..gimana mas Rangga? Apa kita ajak juga?" pertanyaan lugu muncul dari bibir Agra.


"Terserah mas Rangga. Mau tinggal atau ikut kita biar dia pilih sendiri. Sekarang tugas Agra jadi anak atuh dan rajin belajar. Main hp boleh tapi tak boleh terusan."


Agra mangut kecil. Sania makin enggan tinggalkan Agra di sini kalau kelak misinya selesai. Dia ingin didik adiknya menjadi yang terbaik dari yang baik.


"Agra janji akan patuh sama mak dan mas Rangga. Juga sama mama Bur."


"Bagus..ini baru adik mbak yang ganteng. Ayo mbak bawa lihat kamar! Malam Agra tidur sama mbak karena kamar mbak cuma satu. Mas Rangga tidur di lantai."


Agra tertawa geli bayangkan badan gede Rangga meringkuk kedinginan di lantai. Apa laki itu bisa tahan tidur di lantai keras?


Sebelum sampai kamar, bel pintu rumah berbunyi. Sania menduga itu adalah orang mengantar makanan pesanannya. Sania mengambil sesuatu dari tas selempang yang masih tergeletak di meja makan.

__ADS_1


Pintu dibuka. Seorang laki memakai masker dan kacamata hitam mengangguk sopan sambil serahkan beberapa bungkusan yang dikira makanan. Sania juga menyerahkan satu bungkusan kecil pada laki itu. Tanpa interaksi lebih lanjut laki angkat kaki dari rumah Sania.


Sania menenteng bungkusan ke meja makan. Baru kali ini Sania beli banyak makanan. Biasa dia makan sendiri, bahkan kadang cukup makan buahan bila sedang malas keluar cari makan.


Agra berlari kecil dekati meja makan sambil endus apa isi bungkusan. Harum makanan langsung ganggu hidung mancung Agra. Perut otomatis berbunyi kriuk. Padahal tadi sebelum datang makanan masih aman. Dasar perut rakus. Agra monolog sendiri.


"Agra lapar?"


"Lapar dikit. Kita tunggu bos kita dulu. Takut bos nangis ditinggal makan. Agra mau lihat kamar mbak dulu." ujar Agra lebih tertarik pada kamar Sania. Agra sudah bayangkan tempat tidur besar berkasur lembut.


Sania suka pada Agra yang tak rakus. Tampaknya lajang ini tertarik pada makanan di meja namun dia bisa menahan diri untuk tidak rakus. Menahan diri sangatlah penting melatih emosi diri. Andai Agra mampu bendung hasrat membara di hati maka kelak anak ini akan jadi orang berakhlak baik. Harapan Sania dan Rangga tentu lihat Agra menjadi bibit unggul teruskan impian mereka yang tertunda. Agra tak perlu rasakan beban mental seperti yang dirasakan Rangga dan Sania.


Sania membawa Agra ke kamarnya. Ruang kamar Sania juga sederhana tanpa banyak barang mewah. Isi kamar Sania ikuti sifat Sania yang tak ingin disibukkan barang barang mahal yang ribet perawatan. Sania tak punya banyak waktu urus hal tak bermanfaat baginya.


Agra tampak kecewa tak temukan hal menarik selain tempat tidur bagus dan seperangkat televisi berhadapan dengan tempat tidur. Selainnya lemari pakaian dan meja rias.


"Cuma segini mbak?" tanya Agra dirundung rasa kecewa.


"Emang Agra mau kamar gimana?" Sania cari tahu selera Agra.


Agra berpikir melayangkan angan kamar impiannya. Ada tempat tidur bagus, meja belajar, lemari lucu dan pasang pernik pernik tokoh kartun kesayangan. Tapi teringat janji pada Rangga tak boros membuat Agra menepis angan indahnya.


"Tak ada mbak. Kita tidur pakai AC kan?"


"Tentu...Mbak janji akan bikin rumah dan kamar indah untuk Agra tapi harus dapat ranking."


"Beres mbak. Agra boleh simpan tas di sini?"


"Boleh dong! Mbak bereskan makan malam kita dulu. Siap kalian sholat kita makan. OK?"


Sania tinggalkan Agra dalam kamar hendak hidangkan makanan yang dibeli anak buahnya. Sania minta masakan dari restoran ternama untuk manjakan lidah Rangga dan Agra.


Sania lagi datang bulan tak ikut kedua saudaranya sholat. Kedua laki itu laksanakan sholat magrib baru Sania ajak makan. Hidangan di meja memancing air liur Agra. Ada udang besar masak asam manis, daging ayam bakar, ikan masak kecap, tumis cap cay, sup iga dan terakhir salad sayur kesukaan Sania.


"Wah...makan enak." seru Agra girang.


"Makan yang banyak. Sini piringnya biar mbak isi nasinya." Agra menyodorkan piringnya pada Sania. Sania dengan telaten isi piring Agra dengan nasi. Begitu juga piring Rangga.


Rangga bukan orang bodoh tak tahu dari mana asal. Hidangan di meja bukan dari warung kaki lima yang cukup dibayar seratus dua ratus ribu. Rangga juga pernah hidup mewah waktu bersama papanya. Segala berubah tatkala Rangga memilih tinggalkan keluarga penuh keculasan itu.


"Sania...kenapa buang uang lagi?" tegur Rangga tak suka Sania foya foya walau hasil keringat sendiri.


"Mas..sekali kali Agra makan enak tak apa. Sania malah ingin sumbang pakaian dan sepatu untuk anak anak panti. Kita lihat apa kebutuhan vital mereka. Berbagi akan melancarkan rejeki kita. Percayalah! Selama uang kita mengalir ke tempat halal maka rejeki halal juga akan datang."


"Itu mas setuju tapi janji tak buang uang kalau tak penting. Mas kerja di bengkel Pak Bur gaji cuma tiga jutaan. Habis bulan hampir habis gaji maka mas harus hemat." Rangga buka pahitnya hidup selama ini. Rangga bukan ingin ngeluh cuma ingin buka mata Sania bahwa uang itu bukan dipergunakan sembarangan.


"Sania tahu susahnya mas maka mas harus punya usaha sendiri. Andalkan gaji segitu bagaimana kawin nanti?"


"Belum terpikir sama mas. Ayo makan! Agra harus belajar. Tak lama lagi kan ujian naik kelas."


"Ya mas.."


Malam indah ini seakan jadi kenangan manis buat tiga saudara yang terpisah cukup lama. Ini waktu terindah bisa kumpul walau tanpa orang tua. Ketiganya tak ubah seperti anak yatim piatu. Untungnya Rangga dan Sania sudah punya pekerjaan tetap bisa biayai hidup Agra setelah dibawa keluar dari panti asuhan. Tantangan ke depan masih menanti tiga bersaudara itu.


Di pagi hari ketiga saudara kembali ke tempat seharusnya mereka berada. Sania ke kantor Bara, Agra ke sekolah dan Rangga balik ke bengkel. Tugas masing masing telah menanti mereka. Beginilah rutinitas insan insan di dunia selama masih bernafas. Setiap orang telah tergaris harus berjuang untuk dapatkan sebutir nasi. Kecuali pemalas yang hanya pandai ulurkan tangan minta belas kasihan orang lain. Mau hidup tapi malas. Tak jarang mengarah ke jalan tak benar. Menjadi maling, merampok, menipu dan segala cara haram untuk sambung hidup tanpa mau keluar keringat.

__ADS_1


Tak ada kata takut akan dosa. Cuma sampai kapan orang demikian bisa bertahan hidup di dunia yang mulai uzur ini?


Sania agak telat masuk pagi ini karena urus Agra sarapan serta bereskan bantu Agra siapkan alat sekolah. Setelah Agra beres baru Sania urus diri sendiri persiapkan diri ke kantor.


Dea duluan sampai padahal biasa ibu muda ini selalu telat. Sania melirik ruang kantor Bara. Bara sudah datang tak open kehadiran Sania.


Bara tampak ganteng pagi ini dalam pakaian kemeja warna biru muda dan dasi warna biru tua bermotif tol tol keabuan. Pakaian serasi.


Gantengnya suamiku. Cuma sayang Sania hanya boleh kagumi Bara sebagai atasan. Tak boleh melenceng keluar yang akan bawa akibat buruk bagi mereka. Nania pasti akan kecewa bila Sania suka pada Bara.


Perasan suka tak boleh timbul di hati Sania. Suka saja tak boleh apalagi cinta. Cupido tak boleh hadir di antara mereka. Baik dari Bara maupun Sania.


Ponsel Sania berbunyi. Sania melirik nama yang tertera di layar. Gadi ini langsung angkat.


"Darman sudah ngaku dan sudah kami rekam." lapor seseorang dari seberang.


"Bagus.."


"Hari ini Ranti ada acara reality show di rumahnya. Kami rencana eksekusi rumahnya. Boleh?"


"Lanjut...jangan bawa namaku! Pintar pintar kalian." Sania matikan ponsel seperti biasa. Di depan orang Sania tak bisa beri perintah lebih panjang agar tak ungkap jati diri.


Dea perhatikan Sania bicara singkat tapi nadanya seram. Sania jarang bertingkah aneh apalagi bernada kejam gitu. Kesannya itu bukan Sania.


"Ssssttt..ada masalah?" bisik Dea pelan takut di dengar bos mereka.


"Oh tak ada...ada saudara mau beli tanah. Aku bantu lobi. Mereka mau minta kurang ya kubiarkan saja. Yang penting jangan libatkan aku lagi." Sania mengarang cerita bohong. Sania merasa berdosa bohongi teman baiknya. Tapi Sania tak punya pilihan. Berbohong tanpa merugikan orang lain mungkin dosanya masih bisa diampuni.


"Syukurlah tak ada masalah! Kamu seperti maskot keberuntungan kita. Tadi Pak Bara dapat proyek baru lagi. Sejak kamu datang tawaran proyek mengalir." Dea ungkap rasa syukur kehadiran Sania bawa angin segar.


"Itu bukan karena aku tapi rejeki dari Tuhan. Proyek apa?"


"Rumah sakit dan bank. Pak Bara berniat tambah pegawai untuk handel kerja yang tambah banyak. Beliau sudah suruh aku pasang iklan rekrut pegawai baru untuk bidang masing masing."


"Baguslah! Apa kantor sini muat pegawai ramai? Tampaknya lantai atas harus kita fungsikan."


"Bisa jadi. Kantor kita akan tambah ramai. Layak kantor besar perusahaan lain." ujar Dea terharu akhirnya Bara bisa bangkit dari keterpurukkan sejak Nania sakit.


Hati Sania ikut bahagia dengar Bara mulai semangat cari proyek. Cuma Sania takut Bara tak mampu handel segitu banyak tugas. Proyek Pak Wandi sudah cukup menyita waktu, tambah pembangunan bank. Hari ini ada tambahan proyek baru. Bara perlu beberapa arsitek baru untuk kawal kerja di lapangan.


"Sania...masuk!" Bara berdiri di depan pintu kaca memberi kode Sania masuk ke ruang kerjanya.


Sania tahu apa yang akan dibahas suaminya kalau bukan masalah proyek baru yang masih dalam perencanaan. Tanpa tunda Sania masuk ke ruang kerja suaminya.


Di sini Sania posisikan diri sebagai bawahan yang bertugas. Bukan sebagi bini muda yang sah hukum dan agama.


"Kau sudah sarapan?" tanya Bara lembut. Pagi ini Bara sangat cerah bersemangat tak perlihatkan kerutan di wajah.


"Sudah di rumah."


"Aku ada beli roti kesukaanmu." Bara mengambil kotak di samping meja lalu sodorkan ke arah Sania yang berdiri sopan di depan Bara.


"Terima kasih..bapak tak perlu repot beli makanan untukku. Mau sogok biar bisa selingkuh?" Sania isengi Bara.


"Ke arah mana otakmu pergi? Lari ke kiri atau ke kanan?"

__ADS_1


__ADS_2