MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Keisengan Bara


__ADS_3

Gadis ini tolol atau sengaja kerjain Bara. Siapa berani larang dia bersama isteri sah dalam segala segi.


Ingin sekali Bara jitak kepala mungil Sania supaya sadar kata kata yang terucap melawan fakta.


"Mabuk apa kamu?" geram Bara kesal.


"Mabuk? Minuman keras itu dilarang agama. Aku waras.." Sania membela diri.


"Coba lihat lebih teliti siapa aku?" Bara berdiri tegak pasang gaya termacho. Sosok keren bertubuh kekar jadi titik fokus netra Sania. Ganteng menggoda iman wanita.


"Bapak Bara..." dua kata meluncur mulus dari bibir Sania.


"Bara siapa kamu?"


Sania menepuk jidat tersadar kalau Bara adalah suaminya saat ini. Tak ada larangan Bara masuk ke kamarnya. Tidur di situ juga tak ada dosa.


"Maaf lupa! Ayo silahkan masuk! Tapi jangan lama!"


Bara tak mau jawab membiarkan Sania tekan beberapa angka di pintu besi model kekinian. Sekarang ini serba canggih. Masuk rumah tak perlu kunci lagi. Cukup ingat beberapa angka di kepala jadi kode pintu masuk.


Bara tak bodoh tak hafal angka apartemen bini mudanya. Setiap angka tercopy di kepala laki ini. Suatu saat angka ini pasti akan berguna.


Pintu terbuka. Bara disambut bau harum yang sama dengan tubuh Sania. Ruang sederhana tak banyak perabotan namun bersih. Mata Bara keliaran cari sesuatu yang menyangkut berbau laki. Bara takut Sania menyembunyikan pejantan di rumah.


"Ada yang mau dibawa pulang?" sindir Sania tahu Bara sedang berubah diri jadi detektif tak berlisensi. Bara pikir Sania gadis murahan menyimpan cowok dalam kamar.


"Ada..."


"Silahkan! Semua yang di sini boleh kau ambil kalau suka. Anggap hadiah dariku." Sania membuka kulkas mengeluarkan dua botol air mineral. Sania tak bisa suguhkan minuman lebih manis karena dia memang jarang simpan minuman bersoda.


"Kau yakin aku boleh ambil sesuatu dari ruang ini?"


Sania mangut sambil meneguk air mineral langsung dari botolnya. Sania serahkan satu botol lain pada Bara sebagai rasa hormat pada tamu. Setiap tamu datang tetap harus disuguhi minuman, biasa jus atau minuman manis. Sania tak punya itu maka yang tampil hanya air mineral.


"Ambil saja. Gratis...hadiah dariku."


"Terima kasih." Bara hampiri Sania lalu memeluk gadis ini erat erat. Sania kaget kontan menolak. Bara sungguh berani langgar janji. Padahal dari awal janji tak ada kontak fisik. Ini malah seenak perut peluk dia.


"Pak...jaga kelakuan!" Sania membuat jarak dengan Bara.


"Kau sendiri bilang aku boleh ambil apa saja di sini. Kuambil yang aku mau. Salah toh?" ujar Bara tanpa rasa bersalah. Giliran Sania bengong.


Bara tak salah, dia yang beri ijin Bara ambil sesuatu dari situ. Cuma tak terpikir oleh Sania kalau Bara akan meminta sesuatu luar biasa. Yaitu dirinya.


"Aku... aku..." Sania gugup tak bisa jawab.


"Aku mau kamu. Kau double jadi milikku. Jangan putar balik janjimu sendiri lho! Pertama kau milikku karena telah jadi biniku dan kedua jadi milikku sebagai hadiah darimu. Aku kuat sebagai pemilik sah kamu."


"Kau jebak aku?"


"Tidak...kau sendiri yang tawar hadiah untukku."


Sania menjadi pusing mikirin tingkah Bara menjebak dia. Niat baiknya untuk membantu Nania jadi bumerang bagi Sania. Sania secara hukum memang isteri Bara namun sesuai perjanjian pernikahan ini hanya untuk sementara.


Bara ambil kesempatan dalam kesempitan kuasa hidup Sania. Mungkin Bara bisa jadi Bobby seri dua bagi Sania. Celakanya Sania terlanjur nikah sama Bara.


"Pak...pulanglah! Demi mbak Nania. Kita sudah lelah. Besok masih banyak tugas menanti kita. Ingat! Berapa hari lagi kita akan bertarung dengan perusahaan lain ikut tender proyek SHINY." bujuk Sania supaya Bara mau pulang. Laki itu bukannya angkat kaki malah rebah kan tubuh di sofa Sania.


Kedua tangan Bara diletakkan di bawah kepala jadi bantal. Penolakan halus Sania tak buat Bara goyah untuk pergi. Bara dengan santainya tutup mata tak hirau tatapan membunuh Sania.


"Pak..." seru Sania mulai hilang kesabaran. Nyali Sania sedang dapat ujian hadapi laki bebal macam Bara. Maju tak gentar atau biarkan Bara berbuat semaunya.

__ADS_1


"Sania...aku mau tidur sini." Bara keluarkan suara tanpa buka mata.


Sania mendesah tak sangka Bara begitu tak tahu malu. Hari pertama sudah munculkan ekor rubah licik. Bagaimana hari selanjutnya. Apa Sania sanggup kontrol diri tak jatuh ke pelukan Bara.


"Pak...kumohon pulanglah! Jangan sampai mbak ilfil padaku! Waktu kita masih panjang. Kita masih harus saling mengenal siapa kita. Semua perlu proses. Percaya padaku! Aku hormati pernikahan kita. Tak ada laki lain sampai kita cerai kelak." janji Sania sungguh hati.


Bara terbangun dari sofa berusaha menangkap makna kata Sania. Kata kata semua mengandung kebenaran. Semua perlu waktu. Bara tak mungkin memaksa Sania lakukan hubungan intim walau itu haknya.


Ada baiknya Bara mundur dulu untuk dapatkan hati Sania bulat bulat. Siapa tahu mereka saling jatuh cinta. Dewa amor antar panah cinta menembus hati keduanya.


"Tidurlah! Aku pulang. Jangan buka pintu sembarangan! Hati hatilah!" Bara mengalah pilih pulang ke tempat Nania.


"Terima kasih...jumpa di kantor."


Bara mengelus kepala Sania sekejab lalu angkat kaki dari apartemen Sania. Sania menarik nafas lega setelah Bara pergi. Ternyata Bara tak seburuk dugaan. Laki itu masih ada etika hormati diri Sania.


Malam itu Sania menghubungi beberapa orang untuk melakukan semua perintahnya. Sania yang manis lugu tak ada tampak saat sedang telepon. Wajahnya dingin tak bersahabat. Nyaris mirip mafia cewek sedang kontrol anak buah.


Setelah masalahnya kelar Sania bersihkan diri lalu tidur. Hari panjang melelahkan. Sania tak mau terlalu capek mikir posisikan diri menyambut mimpi indah.


Malam berlalu gitu saja menyongsong fajar pagi. Ntah kisah apa akan hiasi buku catatan hidup Sania hari ini. Kisah baru akan di mulai setelah kelelahan kemarin.


Pagi pagi setelah sholat subuh Sania langsung berangkat menuju ke tempat Pak Bur untuk ambil mobilnya. Sania pesan taksi online antar dia ke tempat Pak Bur.


Di acara kemarin Sania tinggalkan mobil mungilnya di tempat Pak Bur karena menuju ke rumah Bara menggunakan mobil Pak Bur. Rangga dan Agra menyusul setelah itu.


Sania turun dari taksi online sebelum sampai rumah Pak Bur. Sania melihat ada warung nasi bersih sediakan nasi pagi. Sania berniat beli nasi untuk abangnya. Laki itu pasti jarang makan pagi kalau tak disuruh makan. Paling minum kopi ganjal perut sampai waktu makan siang.


Sania mendekati warung itu lalu meminta beberapa bungkus nasi untuk dibagi ke teman Rangga.


"Selamat pagi Bu...minta nasi delapan bungkus!" pinta Sania sopan.


Seorang wanita berumur kisaran empat puluhan dan seorang gadis muda langsung tersenyum ramah dapat orderan lumayan banyak.


"Nasi uduk? Nasi apa itu?"


"Nasi uduk nasi dimasak sama santan. Gurih dan wangi. Biasa orang sini suka sarapan nasi uduk. Terserah nona mau makan apa!"


Sania mangut sok tahu tapi sumpah mati Sania tak ngerti soal nasi uduk. Baru hari ini Sania dengar ada nasi sejenis itu. Bagaimana rasanya nasi dimasak sama santan. Sania penasaran juga.


"Bu.. bungkus satu tidak pedas. Asing kan dengan yang bungkusan delapan."


"Ok..tunggu ya!"


Sania menarik bangku plastik tak jauh dari etalase warung. Mata Sania memandang setiap lauk dalam etalase kaca itu. Ada telor dadar, ikan goreng, tempe, tahu dan beberapa jenis gulai santan. Hidangan lauk tersebut cukup menggugah selera. Kokinya pasti sudah ahli di bidang baru mampu hasilkan karya cukup mengundang selera.


Sayang Sania tak makan jenis makanan itu. Musuh utama Sania adalah rasa pedas. Sania tak bisa makan pedas.


"Bu...kapan kita pindah jualan di bengkel Pak Bur?"


Sania memasang kuping begitu nama Pak Bur disebut. Mungkin ibu ini yang disebut Pak Bur akan buka kantin di bengkel.


"Ngak lama lagi. Bukankah bengkelnya sedang diperluas. Kau pikir ibu cuma jualan di situ? Ibu akan jadi Bu Bur setelah itu." kata ibu ibu itu sambil tertawa kecil.


"Ibu jangan macam macam! Mereka sudah baik sama kita. Pinjami modal usaha lagi." tukas sang anak tak suka niat buruk ibunya.


Sania mengeluarkan hp merekam semua pembicaraan anak ibu itu. Sania geram pada ibu tak tahu diri itu. Sudah di kasih mau jantung. Niatnya sungguh buruk.


"Neng..Pak Bur sudah kaya. Ibu mau pensiun hidup senang. Tak mau berwarung lagi. Ibu akan jebak Pak Bur untuk nikahi ibu. Kamu tenang saja. Kita bakal hidup senang tak perlu bangun pagi masak segini banyak."


"Bu... istighfar..! Itu dosa. Bu Bur sudah cukup bantu kita. Masak ibu tega hancurkan keluarga orang. Neng ngak mau."

__ADS_1


"Kau tak mau ibu mau. Bayangkan kerjanya hanya belanja, masak di rumah lalu duduk santai nonton sinetron. Hidup penuh gaya. Tunggu bengkel Pak Bur siap ibu juga siap jadi nyonya Bur. Ibu singkirkan Bu Bur yang sok alim itu."


"Bukan sok alim tapi memang alim. Ibu yang jahat."


"Kau anak kecil tahu apa? Ibu sudah capek jualan gini. Punya suami kaya dan baik macam Pak Bur sudah ibu impikan dari dulu. Ini sudah datang kesempatan. Mana boleh disiakan."


"Pokoknya neng tak suka ibu berbuat jahat. Lebih baik tak usah pindah ke tempat Pak Bur. Tetap sini."


Kuping Sania panas dengar niat busuk ibu itu. Sania kagum pada hati bersih sang anak. Ibu model apa ajar anak yang tidak pantas.


"Bu...sudah siap?" Sania merasa tak sanggup duduk lebih lama di warung berhawa negatif tersebut. Sania paling benci orang berselingkuh. Keluarganya hancur karena selingkuh selingkuhan.


Muncul pula wanita tak tahu diri hendak hancurkan keluarga orang dekatnya. Sania takkan biarkan Ibu itu masuk dalam kehidupan Pak Bur. Keluarga sakinah itu pasti hancur.


"Sudah nak! Ini nasinya! Total seratus tiga lima."


Sania menyodorkan uang warna merah dua lembar sambil lontarkan tatapan menghina.


"Ini uangnya. Tak usah balik. Cuma Kuingatkan pada ibu untuk cuci otak ibu pakai air comberan. Biar bersih."


"Hei...siapa kamu berani omong kurang ajar?" bentak ibu itu marah.


"Aku? Aku anak Pak Bur!" Sania perkenalkan lalu meninggalkan warung sambil menenteng nasi untuk pekerja bengkel.


Hati Sania panas setelah tahu niat terselubung ibu warung. Tenyata ingin jerat Pak Bur untuk nikahi dia. Sungguh wanita tak tahu malu. Kaya miskin berpotensi berbuat curang jerat milik orang.


Seberapa tipis iman manusia sekarang. Tega halalkan cara kotor demi hidup layak. Berapa banyak kisah terjadi di masyarakat tentang perzinahan dan perselingkuhan. Janji suci waktu nikah hanyalah pemanis bibir untuk lalui tahap akhir dari pacaran. Ekor ekornya terjadi perselingkuhan. Ngak laki wanita sama saja porsi dosa. Tangan tak mungkin berbunyi bila ditepuk sebelah. Tetap sepasang baru ada reaksi.


Sania tak mau memikirkan reaksi ibu itu setelah tahu siapa dirinya. Mungkin ibu tak percaya ataupun gelisah rencana jahatnya terbongkar sebelum berjalan.


Sania langsung menuju ke rumah Pak Bur dengan wajah masam. Pagi cerah ternoda oleh wajah kecut Sania.


"Assalamualaikum..." seru Sania tak sabar hendak masuk ke dalam. Pintu rumah memang terbuka namun tak sopan bila nyelonong tanpa ijin tuan rumah.


"Waalaikumsalam...eh pengantin baru..masuk nak!" Bu Bur sambut Sania gembira.


Sania tak dapat bayangkan bagaimana keluarga ini bila ibu warung sempat lancarkan aksi jebak Pak Bur. Masih adakah wajah welas Bu Bur wara Wiro di sekeliling mereka?


"Agra sudah bangun?"


"Sudah...sedang mandi. Agra anak baik dan patuh. Mama sayang sekali padanya. Kamu tak boleh bawa dia pergi dari rumah ini. Agra harus tumbuh besar di rumah ini."


"Iya Bu..Lisa mana?"


"Masih tidur. Kamu sudah sarapan?"


"Belum...tadi ada beli nasi uduk. Mau coba gimana rasanya!"


"Nasi uduk Bu Susi ya. Bu Susi pintar masak. Masakannya enak." Bu Bur memuji pemilik warung culas tanpa prasangka buruk.


Andai Bu Bur tahu wajah asli Bu Susi besar kemungkinan akan caci wanita berakhlak rendah itu. Sudah dibantu saat susah masih piara niat jelek. Orang kayak gitu enaknya diapakan. Dikuliti atau dipanggang di panas terik matahari.


"Bu...Sania cari Lisa bentar dulu ya. Ada hal penting harus kami bahas. Nanti kita sarapan bersama."


"Pergilah! Ajak Lisa bangun. Anak gadis kok malas." omel Bu Bur masih ceria seperti biasa.


Bu Bur tak tahu ada tangan setan hendak remuk kan fondasi rumah tangga beliau. Andai sempat terjadi badai besar melanda keluarga yang adem ayem berpuluh tahun.


Allah masih berpihak pada orang Sholehah. Tanpa sengaja Sania mampir di warung itu untuk beli sarapan buat Rangga dan orang bengkel. Allah seperti beri petunjuk bongkar niat jahat Bu Susi sebelum semua terlanjur hancur.


Sania mengetok pintu kamar Lisa kuat agar gadis pemalas itu cepat bangun. Lama tak ada jawaban.

__ADS_1


Sania tersenyum cari akal agar Lisa cepat bangun. Sania tak bisa berlama lama di rumah Lisa karena harus ke kantor. Sebentar lagi jalanan macet. Sania harus gerak cepat tak terjebak macet.


__ADS_2