MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Chat Sania


__ADS_3

Rangga kesal pada Bara namun tak bisa berbuat lebih kasar mengingat Bara hanya beri perhatian sekedar teman. Teman manapun tak ingin melihat temannya hancur. Cuma teman yang dihargai licik. Menjebak Bara dengan tujuan tertentu.


"Usahakan cari adikku! Aku tak maafkan kamu bila Sania belum ditemukan! Pergilah! Jangan datang bila tak bersama Sania!" Rangga beri peringatan keras pada Bara.


Rangga wajib lindungi adiknya dari segala bencana. Untuk apa seorang abang bila tak mampu memberi perlindungan pada adik kandung. Masih berhargakah ikatan darah?


Bara mengangguk lesu tak berani menjawab peringatan Rangga. Bara tak punya pilihan selain berusaha mencari isteri kecilnya. Dada Bara luka tapi tak berdarah. Luka yang dia ciptakan sendiri. Tak seorangpun bisa disalahkan kecuali diri sendiri yang terlalu agungkan nilai persahabatan.


Bara kembali ke kantor harap Roy menemukan petunjuk di mana Sania berada. Roy pergaulannya luas mencakup segala genre. Roy pemilik cafe yang cukup terkenal. Segala model manusia datang makan minum di tempatnya. Manusia model apa belum singgah di tempat kumpulnya para remaja.


Bara melewati Dea dan Putri dengan wajah masam. Raut wajah Bara sungguh tak sedap dipandang. Tampak tua berkerut-kerut bagai orang ditinggal mati kekasih. Kedua wanita di bagian Bara itu tak berani menyapa.


Bukan disambut baik, bisa-bisa kena semprot. Jalan terbaik adalah diam jadi penonton setia. Rudi sudah cerita pada Putri mengenai Sania. Bara pelukan dengan Arsy di pub. Jelas sekali ada orang sengaja ciptakan kekacauan ini. Mana mungkin pas sekali ada orang kirim foto-foto tersebut pada Sania. Putri pastikan semua ini rekayasa Arsy jebak Bara biar berantem sama Sania.


Niat busuk Arsy dan kroninya berjalan sukses. Sania termakan hasutan memilih tinggalkan Bara. Putri tak salahkan Sania memilih pergi. Bara tak pantas dipertahankan.


Laki sok pengertian terhadap mantan tak punya tempat di hati pasangan sah. Biarlah Bara makan rasa iba pada Arsy. Campakkan berlian demi batu sungai yang bertebaran sepanjang bibir sungai. Tergeletak tak berharga.


Ting. Gawai Putri berbunyi Ting menerima pesan masuk. Putri melirik pesan itu lalu tersenyum lebar.


\=Put...besok akan datang seorang cowok bule gantiin aku urus proyek pulau B. Kau kerja sama dengan dia dan lakukan semua instruksiku. Aku akan rutin kasih pengarahan padamu."


Putri melirik pintu ruang Bara yang tertutup dari dalam. Apa dia perlu kabari Bara kalau Sania kirim chat pesan.


\=Kau di mana?\=


\=Pulang kampung. Tak perlu ributkan di mana aku. Aku butuh ketenangan. Pokoknya kau ikuti semua perintahku. Orang yang kukirim ada di pulau B. Suruh Roy jumpai dia.\=


\=Kampung mana? Kasih tahu. Aku tak berbakat jadi pengkhianat.\=


\=Cis..orang kasmaran suka lupa daratan. Dirayu Rudi dikit kamu hilang ingatan. Pokoknya aku baik saja. Oya orang kukirim namanya Joachim! Bule Jerman. Duda beranak satu macam Rudi mu.\=


\=Jaga mulut bumil. Siapa mau sama Rudi? Aku harus omong apa sama lakimu? Tuh! Wajahnya mendung tebal. Dia tak selingkuh cuma terjebak. Roy dan Rudi lagi cari tahu siapa kroni Arsy. Pulanglah bumil! Kasihan lakimu. Aku iba lihat awan kelabu nemplok di wajah gantengnya\=


\=Kalau suka buat kamu saja. Gratis tak usah bayar.\=


\=Dasar bumil sinting. Lalu mau kubuang ke mana si Rudi?\=


\=Kamu yang sinting. Bilang ngak mau Rudi sekarang sayang dibuang. Oya..kukasih nomor hpmu pada Joachim ya! Dia akan hubung kamu kalau sampai di pulau B. Minta Roy temui dia. Dia akan jadi mandor gantiin aku.\=


\=San..jangan tinggalkan Bara! Nanti beneran jatuh ke tangan Arsy. Rudi sudah cerita buruknya Arsy. Ingat Debay dalam perutmu! Mereka butuh papanya.\=


\=Beri kami waktu. Biar Bara merenungi kesalahannya. Aku sudah pernah dikhianati maka tak bisa terima pengkhianatan sekecil apapun. Usahakan proyek berjalan lancar. Aku akan kirim file padamu untuk ikut tender proyek baru. Minta Bara ikut tender. Ini proyek untuk pengerjaan tahun depan. Tender masukkan saja.\=


\=Aku tak berani tanpa kamu say. Nyaliku cuma segede telor cicak. Tak seperti kamu nyali segede telor dinosaurus. Pokoknya pulang sini\=


\=Aku lagi transit terbang ke tempat damai. Aku akan hubungi kamu kalau sudah tiba. Ikuti semua petunjukku. Aku akan kirim email.\=


\=Kau mau bunuh aku perlahan? Kau pikir Bara tak desak aku kasih tahu posisimu? Jangan gila say!\=


\=Kau takkan mati sayang. Cukup ikuti semua petunjukku! Aku harus segera berangkat. Pesawatku sudah ready terbang.\=


\=San..kasih tahu posisimu.\= Putri kirim pesan namun hanya ada satu centang warna abu. Artinya ponsel Sania sudah tak berfungsi.


Putri mengelus ponselnya dengan hati bimbang. Apa harus lapor pada Bara atau diskusi dulu dengan Roy. Persoalan ini sangat sensitif. Ditambah mood Bara sedang porak poranda kena angin badai Sania. Daya rusak melebihi angin ****** beliung.


Putri harus pintar menjelaskan pada Bara biar tak salah paham padanya. Laki itu pasti berpikir Putri tahu posisi Sania. Paling sulit adalah hadapi orang hilang akal sehat.

__ADS_1


Putri dilema harus melangkah ke arah mana. Ke Roy atau Bara. Bibir Putri terasa kering walau pagi tadi sudah poles lipsgloss di bibir.


Otak Putri berputar cari jalan terbaik sampaikan pesan Sania agar Bara tak kecil hati diabai Sania. Lama berpikir akhirnya Putri mantapkan hati hubungi Rudi. Kini Rudi adalah tempat curhat paling tepat. Laki itu kagum pada Sania dan memuja kepintaran bini Bara itu.


Tanpa ragu Putri tekan no Rudi.


"Assalamualaikum..pak Rudi!"


"Waalaikumsalam...ada apa Putri? Mau diajak makan siang?" goda dari seberang.


"Makan apa? Ini ada yang lebih urgen dari makan."


"Kenapa? Bara tepar?"


"Isshhh...doa jelek! Aku dapat chat dari Sania. Kau mau ke sini bantu aku sampaikan pada Bara? Aku takut dapat tekanan." Putri turunkan nada hingga terdengar memelas.


"Sania? Di mana dia?"


"Katanya mau tenangkan diri. Datang sini baca sendiri chat darinya."


"Ok...tunggu aku! Oya ..terima kasih sudah percaya padaku." ujar Rudi sendu menggoda.


"Jangan terima kasih dulu! Ini baru titik awal. Cepetan datang."


"Iya nih cewek! Kalau disuruh cepetan ngelamar kan enak. Mau ngak?"


"Dasar jomblo ngenes!" Putri menutup ponsel dengan jantung berdetak kencang. Rudi katakan semua ini sekedar candaan atau serius. Tak urung taman bunga di hati Putri serentak bermekaran. Musim bercinta sudah datang.


Rudi tiba di depan Putri sebelum lima menit. Laki ini pasti gunakan gaya pelari estafet meluncur mulus tiba tanpa pakai lama. Laki ini terengah-engah tak sanggup atur irama nafas setalah kejar waktu untuk menyenangkan Putri.


Putri menatap Rudi yang masih atur pernafasan biar lancar. Mulut Putri ikut menganga seakan ikut rasakan kelelahan Rudi jadi atlet dadakan. Mata Putri berputar-putar ikuti irama nafas Rudi.


Dari jauh Dea tertawa kecil. Dea ngerti kalau bibit cinta sedang bersemi di hati dua insan itu. Semoga tumbuh subur. Dea sudah pernah rasakan indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Rekan barunya sedang buka lahan hati untuk ditanami bibit cinta.


"Sudah?" tanya Putri setelah Rudi bernafas lega.


"Sudah...mana chat Sania?" Rudi tak sabar ingin tahu kondisi malaikat penyelamat Kintan. Sampai detik ini tak seorangpun tahu dari mana asal biaya operasi jantung Kintan. Sania wanti-wanti tak boleh bocorkan rahasia dia donatur operasi Kintan.


Beginilah sosok malaikat tanpa sayap. Memberi tak harap balasan. Masih ada berapa orang di dunia ini mau bersikap tertutup beri bantuan. Di jaman ini memberi sedikit sumbangan ramai-ramai di siarkan melalui media. Bikin konten jadi dermawan cari tenar.


Sania lain dari yang lain. Menyembunyikan diri dalam kebaikan. Berpahala manusia macam Sania.


Putri menyodorkan ponselnya pada Rudi kagetkan laki yang masih terbayang kebaikan Sania. Rudi gelagapan menerima ponsel milik gadis tulen pujaannya.


Rudi menatap benda pipih di tangan. Ada keraguan di balik sikap tenang Rudi. Apa kata Bara tahu Sania memilih percaya pada Putri dari pada dirinya. Akankah Bara legowo terima kekalahan tak dianggap Sania.


Masa bodoh amarah Bara. Toh laki itu ciptakan tragedi sendiri sok jadi pahlawan kesiangan. Untung tak diraih malah buntung.


Rudi baca semua chat Sania dan Putri diakhiri hati lega. Sania menghindar untuk tenangkan diri. Bukan berpikiran ingin pisah dari Bara. Sania tak bisa disalahkan bila menuntut diberi waktu. Bara mang harus dikasih pelajaran agar mawas terhadap godaan syaiton menjelma dalam tubuh manusia.


"Yok kita ngobrol dengan Bara!" ajak Rudi setelah yakin temui Bara. Dalam chat Sania tak gambarkan Sania marah pada Bara. Namun dalam tindakan Sania menghukum Bara dengan hukuman sadis.


"Pak Bara takkan tekan aku?"


"Apa mau ditekan? Kamu toh sudah berusaha bujuk Sania balik. Yang penting dia baik-baik saja." Rudi sigap mencekal tangan Putri ikut masuk ruang Bara.


Mau tak mau Putri ikut Rudi walau diterpa rasa takut. Takut Bara ngamuk pikir Putri sekongkol dengan Sania bohongi Bara.

__ADS_1


"Dea...kami ijin jumpa bos?" seru Rudi tanpa abaikan Dea sebagai sekretaris Bara.


Dea mengangguk beri luang pada Rudi jumpa bos. Suasana lantai sepuluh sedikit horor. Bos datang dengan tampang mafia siap membunuh. Tak ada senyum ramah seperti biasa. Sejak Sania hadir dalam hidup Bara laki itu mencair. Benua kutub telah mencair.


Hari ini suasana dingin membeku membalut seluruh lantai sepuluh. Mencekam bagai sedang musim salju.


Rudi mengetok pintu ruang Bara. Terdengar sahut mendalam dari dalam ruangan.


"Masuk!"


Putri merinding bulu kuduk meresapi suara sedingin es balok. Tanpa sadar Putri mencekal baju Rudi dari belakang.


Rudi jalan di depan sementara Putri berdiri di belakang ngeri-ngeri sedap. Rudi hampir meledakkan tawa ngejek lihat tampang Bara hancur. Wajah kuyu ditambah memar hadiah Rangga. Bara benar-benar kacau.


"Ada apa?" tanya Bara tak semangat.


"Ini..." Rudi menyodorkan ponsel Putri ke hadapan Bara.


Bara bukan menerima ponsel itu tapi menatap Rudi dan Putri bergantian. Apa maksud Rudi sodorkan ponsel tanpa jelaskan tujuan.


"Apa ini?" Bara menunjuk benda ajaib penghubung seluruh dunia dalam genggaman tangan.


"Bukalah! Kau akan tahu jawabannya."


"Aku tak ada waktu main teka teki sama kalian. Kalian lupa aku bisa khilaf pecat orang tanpa tanya salahnya?"


"Itu Sania...!" jelas Putri pelan.


Bara terbelalak segera mengangkat ponsel itu. Layar diaktifkan langsung keluar chat Sania dengan Putri. Rudi sengaja posisikan ponsel chat Sania dan Putri di layar ponsel. Begitu aktif langsung terbaca chat keduanya.


Bara baca sambil scroll layar ponsel Putri dari chat pertama hingga selesai. Lama Bara termenung selesai baca chat Sania. Tak ada kata keluar dari bibir laki itu. Ntah apa bermain di benak laki itu. Tentu tak jauh dari kata sedih. Putri dan Rudi diam menanti reaksi bos patah hati itu.


Hati remuk redam sudah tak terhindari. Pada siapa Bara hendak tumpahkan rasa bersalah. Cari kambing hitam luapkan emosi?


"Kapan dia kirim chat ini?" akhirnya tapa bisu berakhir. Suara Bara muncul tanpa emosi.


"Barusan ini. Saya dan Pak Rudi langsung kabari bapak." Putri mulai berani bicara berhubung bos tak meletup terbakar amarah.


"Asal dia kasih kabar langsung hubungi aku. Biar tengah malam. Kita tunggu orang yang bernama Joachim itu. Kalian kembali kerja."


"Iya pak! Permisi.." Putri pamit balik ke tempatnya mengais rezeki.


Rudi belum angkat kaki dari ruang Bara masih ingin ngobrol dengan laki itu. Mungkin Rudi bisa kasih dikit masukkan bantu Bara menemukan Sania.


"Bara...kau jangan kuatir! Aku akan minta Putri usahakan pancing Sania kirim foto. Dari foto kita bisa cari tahu Sania berada di posisi negara mana? Sepandai tupai melompat pasti akan jatuh."


"Usahakan! Kau pesan pada satpam agar Arsy tak diijinkan masuk gedung. Aku lelah begini terusan. Kerjaku berantakan, hidupku sengsara." keluh Bara mengusap pipi sakit kena bogem Rangga. Tanpa sadar Bara meringis sakit.


"Ok...Arsy takkan berhenti sampai di sini. Roy sudah lacak siapa yang fotoin kamu dan Arsy. Arsy tak mungkin kerja sendiri. Dan kami yakin ada orang kasih no ponsel Sania pada Arsy. Arsy dan Sania tak pernah akur. Sania tak mungkin beri ponselnya pada Arsy. Itu saja kamu ingat!" Rudi mengurai analisanya bersama Roy.


"Kamu rasa siapa?"


"Roy lagi usahakan rekaman cctv pub tempat Arsy mabukan. Sabar dikit! Cuma kunasehati kamu jangan percaya pada Arsy! Aku pernah hidup dengannya. Baik buruk dia aku tahu jelas. Tapi aku tak mau buka aib Arsy karena aku juga bukan orang baik."


Bara mengangguk percaya pada omongan Rudi. Rudi hidup dengan Arsy beberapa tahun. Segala tindak tanduk Arsy jelas terekam dalam ingatan Rudi. Rumah tangga yang seharusnya bahagia karena mereka dikaruniakan seorang anak walau mempunyai riwayat sakit jantung bawaan lahir. Arsy hancurkan menyeret Rudi dalam neraka. Rudi terusir dari keluarga gara-gara korupsi untuk penuhi gaya hidup Arsy.


"Bantu aku keluar dari kenangan masa lalu. Lama-lama aku bisa gila kalau begini terusan. Aku masih terkurung dalam masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2