MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bara Bersumpah


__ADS_3

Lisa berbalik badan menghadap Sania dengan tatapan ingin ******* Sania sampai remuk. Namun di depan Rangga dia mana berani keluarkan jurus buaya lawan komodo. Sama-sama reptil ganas. Di depan Rangga harus tampil lembut, ramah dan manis.


Namun sekarang adik kesayangan sang pacar sengaja kerjain dia. Lisa mau ngamuk tapi tertahan oleh gengsi. Malu dong ngamuk di depan pacar. Jangan-jangan Rangga mengira Lisa wanita judes binti galak.


"Nyonya Bara...seleramu makin menggila ya! Atau tata bahasamu harus diperbaiki. Belajar beda cheese dan keju!" ujar Lisa sambil menahan rasa kesal.


Sania tersenyum manis seakan tak peduli emosi terpendam Lisa. Gadis ini harus diberi pelajaran biar kelak tak pakai cara kotor selesaikan masalah. Pakai acara hamil segalanya untuk pancing macan turun gunung.


"Aku orang kampung ngak ngerti kosa kata. Pokoknya sediakan cheese cake tanpa keju. Anakku yang minta." sahut Sania tersenyum licik.


"Akan kuusahakan nyonya Bara. Tunggu saja di sini!" geram Lisa tak berdaya dipermainkan Sania. Kalau dia membantah saat ini pasti Rangga tak senang. Rangga sedang girang jumpa adiknya mana mungkin Lisa hancurkan kebahagiaan orang tercinta.


Dengan langkah gontai Lisa keluar dari ruang Rangga seraya putar otak cari solusi kue pesanan Sania. Cara balas dendam paling konyol. Sederhana tapi mematikan.


Rangga tak bosan-bosannya menatap Sania melepaskan rasa rindu lama tak jumpa. Sania makin cantik sejak hamil, aura wanitanya makin timbul. Cuma sayang mata adiknya tak bersinar seperti biasanya. Ada kabut kelabu bertengger di sana.


"Dek..Agra asyik tanya kamu. Kapan mau jenguk dia?"


Sania baru teringat kalau dia masih punya adik kecil harus diperhatikan. Sania lupa pada Agra karena masalah datang bertubi-tubi. Kasihan lajang ganteng itu.


"Aku akan jumpa Agra kalau Bara sudah sembuh. Bagaimana perkembangan kasus Amanda?"


"Amanda hilang kontrol. Asyik teriak dia tak bersalah. Dia dalam perawatan psikiater. Pikirannya terganggu sejak lihat kamu. Kata dokter dia syok setelah tahu kamu masih hidup. Mungkin Amanda merasa bersalah pada mamamu. Inilah penyebab dia hilang akal sehat."


Sania harus bersyukur atau bersedih tak dapat menghukum Amanda secara resmi. Amanda sudah mirip orang gila karena telah banyak berbuat dosa. Satu persatu saingan dihabisi tanpa belas kasihan. Wanita jahat itu telah panen karma.


"Suhada?" Sania teringat ayah biologisnya.


"Masih dalam perawatan. Papa sudah tak bisa berbuat apapun karena serangan jantung ditambah stroke. Dia hanya terbaring di ranjang harap belas kasihan orang. Mas tak minta kamu jenguk papa tapi lepas dendammu padanya. Papa bersumpah tak tahu rencana Amanda habisi mamaku dan mamamu. Papa juga marah tapi semua telah terjadi. Papa menyesal terlalu percaya pada sikap manis Amanda."


Sania termenung. Suhada tetap bersalah bangga punya beberapa isteri. Laki gila perempuan. Disodorkan wanita langsung diam. Semua tindak tanduk Amanda tak diperhatikan selama ada wanita.


"Aku belum bisa jumpa dia. Apa dia sudah tahu keberadaan Agra dan aku?"


"Sudah...dia mau jumpa kalian dan minta maaf telah terlantar kalian berdua."


"Dia tahu Ranti bukan anaknya?"


"Mas tak bilang itu. Kesehatannya kurang bagus dek! Jantungnya bisa berhenti setiap saat bila kena shock lebih parah. Sejahat apapun dia tetap orang tua kita. Papa sudah terima karmanya. Kau tak usah pikir mereka. Fokus pada kesehatanmu sendiri dan keponakanku." Rangga menepuk punggung tangan Sania untuk meredakan gejolak hati adiknya. Rangga tahu Sania sedang berperang antara amarah dan rasa iba.


Sania bukan manusia tanpa hati. Justru hati Sania terlalu mulia maka gampang ditipu Bobby. Dendam masa lalu ciptakan Sania jadi wanita besi tanpa perasaan pada papanya. Sania menganggap Suhada pangkal dari penderitaannya.


"Biarlah waktu yang bicara! Ranti gimana?"


"Masih menanti tuntutan dari hakim. Kasusnya bergulir terus, namanya sudah hancur. Semua orang mencibirnya sebagai wanita murahan. Kisahnya dengan Bobby makin terkuak dan kasus dia merayu Bara mencuat. Banyak yang ingin tahu siapa kamu. Kami berusaha tutupi siapa calon isteri Bobby yang kena tipu. Ranti sudah tamat. Kau puas kan?" Rangga mencari sesuatu di mata Sania. Rasa bahagia atau kecewa kasus Ranti berjalan di tempat.


"Tutup kasus Ranti! Biarkan dia melahirkan di luar penjara. Dia sudah terima karma buruk." ucap Sania perlihatkan jiwa malaikatnya.


"Benarkah?" seru Rangga senang akhirnya Sania bersedia bebaskan Ranti dari jeratan hukum. Rangga memang bukan Abang kandung Ranti namun Ranti pernah jadi adiknya. Rangga tak mungkin bahagia lihat adiknya jadi narapidana dalam kondisi hamil.

__ADS_1


Untunglah Sania berbaik hati cabut tuntutan. Ranti keluar dari penjara pun hidupnya tetap hancur. Noda hitam terlanjur basahi tubuh wanita arogan itu. Ranti terlalu angkuh dengan nama besarnya. Ranti tak sadar dengan siapa dia sedang adu otot. Adiknya sendiri yang berjiwa baja.


"Mas...jaga Agra dan Lisa! Segeralah lamar Lisa agar jangan terjebak dosa! Sania doakan mas dan Lisa selalu rukun."


"Tunggu masalahmu kelar! Kau mau ke mana lagi? Jangan bilang mau kabur!"


"Ya ngaklah! Sania harus rawat Bara sampai sembuh. Dan lagi Sania mau ke mana dengan anak di perut. Cuma Sania ada niat bawa Agra ke Belanda. Untuk temani Opa di sana. Biarlah Agra tumbuh jadi anak mandiri."


"Kita tanya Agra dulu. Terserah dia mau ke sana atau di sini! Bu Bur sayang sekali padanya. Mas kuatir Bu Bur tak ijinkan."


"Ok...kita dengar pendapat Agra. Sania pamit dulu. Salam untuk Lisa."


"Pergi? Pesananmu gimana? Lisa sudah pergi beli lho!"


Sania tertawa kecil bayangkan rasa putus asa Lisa cari kue permintaannya. Sampai kepala rontok ke tanah takkan jumpa kue itu.


"Sania cuma bercanda. Dimana ada kue keju tanpa keju? Dia sudah main gila permainkan Sania. Ini balasannya."


Rangga baru sadar Sania sengaja permainkan Lisa. Dari mana pacar sanggup cari kue keju tanpa keju. Trik konyol permainkan Lisa. Bukan Sania kalau tak bisa balas orang yang bermain dengannya.


"Kamu ini! Kasihan Lisa bingung!"


"Sakit hati pujaannya kena prank? Ok deh! Sania ke rumah sakit dulu jenguk Bara. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Sania memeluk Rangga sejenak lalu merenggangkan badan keluar dari ruang Rangga. Rangga menarik nafas lega Sania bertindak rasional tak hukum Ranti sampai wanita itu remuk. Masih ada sisi kemanusiaan tertanam di hati Sania. Rangga tahu Sania bukan orang kejam.


Sania mengarahkan mobilnya ke rumah sakit di mana Bara di rawat. Sania bukannya tak tahu Bara hanya korban dari keegoisan Arsy. Apa yang bisa lolos dari pantauan Sania. Cuma Sania tak mau gampang beri maaf pada Bara supaya jadi obat pada laki itu.


Tidak semua niat baik dapat pahala. Harus dilihat di mana kita tempatkan kebaikan itu. Punya nilai tidak kita sumbang niat baik pada orang tersebut. Jika niat baik dibalik malah jadi bumerang serang diri sendiri. Bara sudah rasakan kena bumerang dari Arsy.


Sania berjalan sendirian menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat Bara. Perasaan Sania sedikit lebih baik telah dapat kabar soal Amanda dan Ranti. Sejujurnya Sania tak begitu benci pada Ranti walau telah merebut Bobby. Justru Sania bersyukur Ranti telah membantu buka topeng busuk Bobby.


Laki macam Bobby tak pantas dapat yang terbaik. Laki busuk akan dapat perempuan busuk juga. Itu telah tercantum dalam ayat suci Alquran. Ranti cocok jadi isteri Bobby. Sama-sama manusia berakhlak tipis.


Bunyi sandal Sania berakhir di pintu ruang rawat Bara. Dua pengawal Bara telah berganti orang. Baron dan Ritonga bebas tugas diganti pengawal lain. Mereka tentu saja kenal Sania sebagai orang yang juga dapat pengawalan. Keduanya mengangguk hormat pada Sania.


Sania tersenyum manis pada dua laki berbadan tegap itu. Kesetiaan mereka tak usah diragukan. Gaji mereka memadai dan keluarga mereka dijamin selama mereka bertugas mengawal keluarga Sania.


Sania masuk tanpa ketok pintu. Sania merasa tak perlu basa basi sok manis pada Bara. Laki itu masih berada dalam posisi orang kena hukuman. Sania belum memaafkan Bara yang suka bagi perhatian pada para mantan.


Di dalam ruang hanya ada Roy dan Bara. Kedua orang itu masih tertidur. Roy tertidur di sofa dalam posisi duduk. Sedang Bara tidur pulas di brankar rumah sakit. Selang infus dan kabel-kabel tersambung di monitor masih melekat di tubuh Bara.


Sania dekati Bara menatap wajah ganteng Bara. Wajah itu berubah tirus pucat. Pucat wajar karena baru habis operasi. Kalau tirus mungkin tekanan batin kehilangan isteri dan calon anak.


Sania mengulur tangan menyentuh wajah Bara perlahan. Ada rasa rindu terselip di hati. Sania juga rindu pada Bara. Ada benang-benang halus membentang di hati ingin mengikat ke hati Bara. Maukah Bara menerima bentangan benang cintanya atau Bara masih menyimpan rasa pada wanita masa lalunya.


Sepasang mata Bara terbuka merasakan ada elusan lembut di pipi. Insting Bara cepat tanggap kalau itu sentuhan penuh cinta dari sang isteri.

__ADS_1


Sania segera menarik tangannya ketangkap basah sedang meneliti wajah sang suami. Bara bergerak lebih cepat menangkap tangan Sania untuk tetap berada di wajahnya. Bara rindu sentuhan Sania yang lembut. Rindu segalanya yang ada pada Sania.


Sania merasa pipi panas ketahuan melepas rindu dalam kebisuan pada Bara. Rona merah menjalar di pipi bak kepiting rebus.


"Kau datang sayang!" bisik Bara lembut.


"Aku lihat ada nyamuk di pipimu." Sania mencoba mengelak sedang rindu pada Bara.


"Oh...marilah sayang! Aku rindu banget padamu! Kau pergi tanpa kabar buat aku hilang nyawa." rayu Bara


"Hilang nyawa. Bukankah masih hidup? Mati di tangan kekasih tercinta bukankah satu kebanggaan?" sindir Sania ingat Arsy tega tusuk Bara.


"Aku belum mau mati sebelum jumpa kamu. Sekarang aku siap mati kalau kau mau. Kalau aku harus mati harus mati di tanganmu."


"Ciiisss...aku belum pingin masuk penjara. Aku masih sayang pada bayi-bayi aku. Mereka harus terlahir mulia."


"Tentu bersama Daddy mereka ya!"


"Sok Daddy..aku sudah punya calon Daddy untuk mereka. Daddy yang tak punya pacar sekarung." Sania angkat kepala ke atas hindari kontak mata dengan Bara agar jangan ketahuan bohong.


"Aku akan ajak perang orang yang berani ngaku Daddy anak-anak aku. Aku takkan biarkan orang menyentuh milikku. Kau dan anak-anak milik aku."


"Ge er banget!" Sania mencoba lepaskan tangannya dari cekalan Bara. Tenaga Sania mana bisa melawan tenaga Bara yang jauh lebih kuat walau terluka. Bukannya terlepas malah Sania makin dekat akibat ditarik Bara ke dadanya.


Keintiman berlangsung sesaat. Sania cepat-cepat mundurkan badan menjauh sebelum lakinya lebih anarkis. Bara bisa silap saking rindu pada Sania. Bara ingin mencium bibir ranum yang menggoda dari tadi.


"Jaga diri! Masih terluka tuh!"


"Sudah sembuh! Kehadiranmu adalah segalanya. Obat paling tokcer."


"Ngerayu...ngak mempan!"


"Terima kasih sudah pulang sayang. Aku teringat padamu dan anak-anak waktu berjuang melawan maut. Kalian adalah motivasi ku untuk berjuang. Aku tak boleh menyerah."


"Arsy memang gila." sungut Sania memendam rasa kesal dan benci pada Arsy. Anak-anak dalam perutnya nyaris jadi yatim sebelum lahir. Kalau Bara tak selamat Sania janji Arsy juga takkan luput dari hukum setimpal.


"Dia sudah berada di tempat tepat. Lupakan semuanya! Sekarang cuma ada kau dan aku serta anak-anak kita. Oya apa benar anak kita bertambah satu?" Bara antusias ingat kata-kata mamanya kalau janin Sania bertambah satu.


"Iya..aku juga tak tahu. Waktu dokter bilang anak kita tiga. Papa dan mama ikut ke dokter."


"Kok bisa? Terakhir kita cek up cuma dua."


"Di sana peralatan lebih canggih. Pakai USG 4D. Janin terakhir agak kecil berada di belakang kakaknya. Semoga dia kuat tumbuh sehat bersama."


"Amin...Allah pasti dengar doa kita! Mereka akan kuat. Kaulah keajaiban hidupku! Percayalah tak ada wanita lain dalan hidupku selain kamu dan Nania. Nania pasti ikut bahagia di atas sana. Dia pasti lindungi kita dari segala cobaan."


"Semoga saja. Aku tak suka punya suami pecicilan. Suami sejuta umat. Di rumah suami orang di luar kekasih orang lain lagi."


Bara menggeleng tak ingin Sania berpikiran buruk. Ini akan berakibat fatal pada kesehatan Sania yang sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


"Apa selama ini Lieve pernah dekat wanita lain. Kita hampir setiap detik bersama. Lieve akui salah telah tanggapi jebakan Arsy tapi itu tak lebih perhatian seorang teman. Lieve berani ambil sumpah atas Alquran tak ada niat lain pada Arsy."


Sania menggeleng tak ijinkan Bara angkat sumpah atas Alquran. Itu bukan sumpah biasa. Kita ini manusia tak luput dari kata khilaf. Saat ini Bara yakin jauhi Arsy, siapa tahu kelak Bara lupa diri berbuat salah. Otomatis laki itu akan termakan sumpah. Sania tak ingin Bara termakan sumpah sendiri.


__ADS_2