
Sania tersenyum tak heran guyonan Putri cukup vulgar. Mereka sudah lalui waktu lumayan lama di kantor Bobby. Sedikit banyak baik buruk kelakuan sesama rekanan masih tercetak jelas di benak Sania.
"Kalian boleh daftar jadi nyonya Bara kw 2 dengan syarat tertulis." Sania mengulang tawaran pada kedua konconya untuk jadi selir Bara.
Putri dan Sekar hidupkan semangat coba cari keberuntungan jadi nyonya bos walau kw 2. Punya madu sebaik Sania bukan pilihan buruk.
"Ok...siap...aku pasti jadi kesayangan suami. Lihat gardan bohay ku! Wajahku mulus walau tak seputih Sania, Body aku bak gitar Spanyol." Putri promosikan diri seakan wanita paling sempurna.
"Dengar ya! Syarat pertama harus bersegel. Dua harus kerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga dari nyuci pakaian, menyetrika, membersihkan rumah, serta memasak. Jatah bulanan cukup sejuta dan jatah di ranjang setahun sekali." ujar Sania mau menang sendiri. Putri langsung pasang muka masam tahu sedang digoda Sania. Salah sendiri mau saja dibodohi Sania.
"Itu sih bukan nyari bini muda buat suami ente tapi cari asisten rumah tangga. Ditolak..." kata Putri tegas sambil mendelik.
Sekar dan Sania tertawa terbahak melihat Putri kesal dikerjain Sania. Sania mana mungkin gitu baik hati ijinkan suami kawin lagi. Andai Bara punya hasrat gitu Sania akan kabur sejauh mungkin tak mau lihat tampang suaminya lagi.
"Mau ya! Kita bisa bersama terusan. Aku ratunya dan kau selir alias gundik." bujuk Sania masih ingin melihat wajah muram Putri.
Putri perhatikan wajah Sania seksama dengan tatapan mata mengandung horor.
"Percayalah! Kau pasti kuracuni...jangan sombong mentang jadi bini bos! Akan kurayu bos kita sampai klepek-klepek. Soal body kau kalah total. Lihat body bohay ku!" Putri berputar perlihatkan tubuh sintal merangsang para pejantan.
"Bohay sih tapi dada tak jauh beda sama landasan pesawat terbang. Rata..." timpal Sekar berdiri di sebelah Sania. Sania mengeluarkan tangan beri high five pada Sekar.
Putri menghentakkan kaki ke lantai kalah set dari Sania. Tak disangka Sekar berbalik berpihak pada Sania.
"Dasar pengkhianat...awas kalian dua! Kalau Pak Bara jatuh cinta padaku kalian dua kukirim ke Ethiopia biar diumpan nyamuk Aedes!"
Sania dan Sekar makin lebarkan bibir mengejek Putri yang makin sewot. Tak lama Putri ikut tertawa ramaikan hari pertama kerja mereka. Percakapan penuh guyonan ini jadi awal kekompakan di kantor ini. Selanjutnya masih bergulung-gulung tantangan halangi langkah mereka.
"Selamat ya San...kami doakan kamu bahagia bersama Pak Bara. Mungkin ini jalan terbaik bagimu. Kita berjuang bersama. Aku jadi asistenmu lagi kan?"
Sania mangut tanda senang kerja sama dengan Putri lagi. Putri sudah tahu cara kerja Sania dan memahami semua teknik Sania. Tidak sulit adaptasi bila Sania tak berubah tak tik kerja.
"Aku jadi apa ya?" keluh Sekar takut kebagian tugas tak cocok di hati. Bekerja bukan sekedar mengabdi tapi juga harus sesuai keahlian kita.
"Katanya kamu jadi sekretaris wakil presiden. Orangnya asyik dan baik banget. Kau pasti betah. Kawan kuliah Pak Bara. Namanya Roy..ayo!"
"Yang bener San! Ntar malah kakek jompo kepala plontos macam bakso."
"Jangan main hakim sendiri sebelum lihat! Nanti malah jatuh cinta. Ganteng lho!" Sania memuji Roy. Roy lumayan ganteng walau tak seganteng Bara. Malahan Roy lebih modis dari Bara yang berpenampilan agak kuno.
"Semoga kamu tak bohong. Mana orangnya?"
Sania mencari bayangan Roy yang sibuk dari tadi. Roy yang ngatur semua acara pagi ini. Laki itu sudah sering mengatur acara di cafe. Ntah yang ulang tahun, reunian bahkan ada acara lamaran.
"Itu dia!" Sania menunjuk Roy yang sedang ngobrol dengan Pak Jaya. Wajah Roy berseri tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Roy pintar siasati hidup tak tegang macam Bara.
Mata elang Sekar tertuju pada objek yang ditunjuk Sania. Sekar sudah melihat orang ini waktu masuk kantor. Orang ini yang beri pengarahan sambut Bara sekeluarga. Orangnya lumayan ganteng dengan kulit bersih. Tak kumis dan brewok hiasi wajah ganteng itu. Pokoknya tidak mengecewakan.
"Pilih bos atau pilih suami?" Putri menyikut Sekar yang masih terpesona oleh bos barunya. Jiwa jomblo yang merana cukup lama berkibar lagi. Tak dapat meraih cinta bos tak apa. Asal mata termanjakan tiap hari oleh pemandangan teduh.
"Kalau bisa duanya..." sahut Sekar diakhiri tawa kecil. Putri dan Sania ikut tertawa. Sekar lega bukan main dapat bos muda belia tak malu-maluin.
"Aminkan saja Put! Gadis Soleha harus dapat laki berkarakter mantap. Yok kita cari ruang kita." ajak Sania tak mau berlama-lama kumpul makan kue full lemak yang bisa menambah berat badan.
"Sip..." sahut Putri dan Sekar barengan.
__ADS_1
Ketiga wanita muda ini berjalan ke arah lift untuk naik ke atas. Sania sudah tahu di mana letak ruang kantornya langsung tekan lantai sepuluh. Sementara Sekar masih ragu harus ke lantai berapa.
Sania membantu Sekar menjawab keraguan di wajah gadis berhijab itu. Sania menekan tombol lantai sembilan di mana Roy berkantor.
"Trims sis...kami berdua harap kamu jaga kami di sini. Kamulah andalan kami kalau berbuat salah!"
"Sekar...optimis saja! Yang penting jaga hati jangan berniat jelek. Semua tantangan akan terjawab."
"Kami akan berbuat semampu kami. Oya..kudengar Ranti dan Bobby sedang bermasalah." Sekar bocorkan sedikit gosip tak sedap tentang mantan bos mereka.
"Jangan ghibah! Itu bukan urusan kita! Kita urus diri sendiri saja. Ok?" Sania mematahkan niat Sekar bergunjing hal yang bukan urusan mereka. Itu urusan rumah tangga Bobby. Bukan ranah mereka bahas soal itu.
"Kau tak berubah San! Tetap berhati emas. Itu yang kami sukai dari kamu." Putri memeluk Sania tanpa malu.
"Apa bukan cari muka sama nyonya Bara?" olok Sania goda Putri.
"Untuk apa cari muka? Muka aku jauh lebih cantik darimu. Lihat saja kusikat lakimu! Jangan nangis darah ya!"
"Tidak...Pak Bara itu sudah kupelet takkan bisa cari wanita lain. Hatinya sudah khusus untukku. Coba saja kalau tak mau ditendang bak bola kempes!" ucap Sania pede Bara tak mungkin berpaling.
"Ok...dengan senang hati!"
Bunyi Ting lift berhenti di lantai sembilan tempat Sekar akan mulai berperang dengan tugas baru. Pintu lift terbuka meminta yang bersangkutan keluar. Sekar dengan gagah melangkah keluar buka lembaran baru sebagai sekretaris Roy.
Sania dan Putri melambai sebelum pintu lift tertutup menuju ke lantai atas. Tinggallah Putri dan Sania melanjutkan naik ke lantai paling atas. Putri sedikit gugup walau tahu orang yang jadi atasannya adalah Sania. Suasana baru tetap datangkan perasaan aneh.
Bunyi Ting kembali bergema. Pintu lift terbuka menyuruh Sania dan Putri harus keluar. Sania menarik tangan Putri meninggalkan lift berjalan ke ruang kerjanya. Tempat duduk Putri berdekatan dengan Dea yang tetap jadi sekretaris Bara. Ruang kerja Sania dan Bara berdampingan hanya dipisah oleh dinding. Tak heran Putri dan Dea bisa satu ruang di luar ruang kerja Sania dan Bara.
Wanita Batak itu sudah duluan sampai sedang memeriksa komputer miliknya yang dibawa dari kantor lama. Sania memuji semangat kerja Dea yang tak berubah walau telah dapat posisi makin bagus.
"Halo kak Dea...gimana kabarnya?" sapa Sania ceria.
"Oh ini Putri yang jadi asistenku! Kalian berdua harus kerja sama membantu di perusahaan ini." Sania perkenalkan Putri pada Dea. Kelak mereka berdua akan saling membahu majukan perusahaan.
Putri mengulurkan tangan menjabat tangan wanita Batak ini. Keduanya saling lempar senyum hangat. Ntah apa yang menjadi janji di hati masing-masing.
"Ok...kalian ngobrol dulu. Aku mau masuk ke dalam." Sania meninggalkan Putri dan Dea. Bayangan Sania menghilang di balik pintu. Ruang Sania lebih privasi tak seperti di kantor lama yang semua tembus pandang. Ruang Sania tertutup rapat tanpa ada cela buat orang intip ke dalam.
Sania merasa lebih nyaman berada di kantor baru. Mau bicara dengan orang tak perlu curi-curi tempat agar tak didengar orang. Sania bebas ngobrol dengan siapapun saat ini.
Yang pertama terlintas di benak adalah hubungi Rangga yang tak beri kabar dalam beberapa hari ini. Apa Rangga terlalu nyaman jadi bos sampai lupa punya adik. Atau Rangga kewalahan hadapi manusia busuk macam Suhada dan Amanda.
"Assalamualaikum...mas Rangga."
"Waalaikumsalam...ke mana kamu? Kok tak ada kabar?"
"Lha? Seharusnya Sania yang tak tanya. Mas kok tak kasih kabar pada Sania. Ada perkembangan di perusahaan?"
"Mas lagi benahi perusahaan yang amburadul. Untung ada Lisa bantu mas. Kalau tidak pasti kacau. Kau menang tender kan?"
"Ya... makhluk planet Dajjal datang ke rumah Bara omong yang bukan-bukan. Minta Bara ceraikan aku untuk tampung Ranti."
"Gila apa? Ranti sedang hamil besar gitu? Ya Allah... betul-betul orang gila. Urat malunya sudah putus kali ya?"
"Mana kutahu...kurasa tak ada urat malu. Mereka tak teror mas?"
__ADS_1
"Tiap hari datang bikin kacau di kantor. Papa matian mau ambil jabatan ku. Minta aku talangi kerugian mereka. Aku kasihan pada papa tapi aku tak boleh mengalah kali ini. Mereka harus bayar kesalahan mereka di masa lalu."
"Biarkan mereka bangkrut mas! Setelah itu baru mas urus papa. Memiskinkan mereka dulu. Mas tak boleh lemah hati demi Sania dan Agra. Oya...Minggu depan Sania ingin beri santunan pada anak yatim piatu di panti asuhan. Mas minta Lisa atur mereka datang ke kantor baru Bara. Sania akan undang keluarga Lisa juga."
"Baik..San..Amanda sudah datang padamu. Kau harus hati-hati. Mereka itu licik dan jahat. Mas tak mau terjadi sesuatu padamu."
"Tenanglah mas! Sania bukan anak kemarin. Yang harus kita lindungi Agra. Jangan sampai mereka tahu keberadaan Agra! Mereka bisa jadikan Agra senjata lawan kita!"
"Mas ngerti...apa kita pulangkan Agra ke panti sampai semua aman! Aku takut suatu saat mereka terlacak Agra. Gimana?"
"Kita bicara sama Agra. Terserah dia mau atau tidak! Tinggal bersamaku juga boleh. Biar aku yang antar jemput dia."
"Jangan! Ini merepotkan kamu dan. sekarang keluarga itu sedang bidik kamu. Makin berbahaya. Paling aman di panti."
"Sania tak mau Agra merasa dibuang. Nanti malam kita jumpa di rumah Pak Bur. Aku akan usaha cepat pulang! Ingat ya mas! Ranti itu tak ada hubungan darah dengan kita. Kita tak perlu jaga perasaan dia tapi juga tak boleh anarkis. Dia sedang hamil."
"Mas ngerti...kamu memang anak baik. Mas bangga punya adik sejuta talenta macam kamu."
"Gombal atau pujian kosong?"
"Dipuji bilang gombal. Dimarahin dibilang tak sayang. Aneh kamu."
Sania terkekeh diprotes Rangga di seberang sana. Sania rindu pada tatapan penuh curiga Rangga. Laki itu selalu curiga pada setiap orang bila sedang ngobrol. Trauma pada kebohongan keluarga Suhada membuat Rangga jadi parno.
"Mas..gimana Lisa?"
"Baik...dia anak baik seperti kamu."
"Hhuuu..dasar batu karang. Ngak punya naluri dewa amour! Itu... feeling ke Lisa."
"Lisa...mas suka padanya karena dia rajin juga pintar. Berani walau kadang kebablasan."
"Isshhh...kok ada orang berhati batu kayak mas? Cinta ngak sama Lisa?" Sania hilang rasa sabar terhadap sikap cuek bebek Rangga terhadap cinta.
"Itu masih perlu kajian...Mas masih sibuk mengatur ulang perusahaan. Sudah stabil akan mas pikirkan."
"Telat...keburu dipatok ayam! Mas harus segera tembak Lisa. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa? Mau kamu kawini?"
"Di tempat kerjaku banyak jomblo ganteng. Mereka lagi nyari cewek model Lisa yang bisa diajak hidup susah. Sania akan jodohkan mereka."
"Kau berani sentuh sesuatu yang sudah mas patenkan? Kucopot gelar mu sebagai adik Rangga." ancam Rangga bikin Sania tergelak-gelak. Nyatanya Rangga suka pada Lisa namun belum berani ungkap secara langsung. Badan segede Rambo tapi nyali sekecil kurcaci.
"Cinta toh! Jangan telat mas! Lisa itu sudah tak muda. Dia pasti kuatir tak dapat jodoh. Dijodohin sama bapaknya dia pasti tak nolak. Mas jangan nyesal nanti." Sania kompor Rangga agar berani nyatakan isi hati pada dara pujaan.
"Mas harus gimana? Bilang langsung cinta dia? Wah.. .kiamat deh!"
"Mas...cinta itu perlu keberanian. Utarakan isi hati saja mas tak berani. Bagaimana nyali mas hadapi masa depan bila yang kecil tak mampu. Lisa pasti terima mas karena dia sering puji mas. Malam Minggu nanti ajak dia kencan lalu tembak dia. Mas kan lelaki. Harus jantan. Siap terima semua kondisi."
"Waduh...tadi bilang Lisa suka. Sekarang harus siap terima kemungkinan terburuk. Yang benar yang mana sih?"
"Coba dulu! Semua ada jalan. Sania tunggu kabar baik mas. Sania lega kalau mas sudah ada yang urus. Begitu juga Agra. Lisa sayang banget sama Agra. Hidup Agra terjamin bila berada di keluarga Lisa."
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Insyaallah...Sania yakin. Mas harus mawas diri terhadap Suhada. Dia memang orang tua kita tapi kita cukup dibuat menderita olehnya. Kalau dia sudah jatuh sampai nol baru kita beri dia hak sebagai papa. Kita biayai hidup dia sampai akhir hayat beliau."
.