
Maya besarkan mata tak senang Sania sedang ungkit masalah pribadi. Maya memang pernah salah langkah berselingkuh dengan gigolo tampan di hotel sebelum bikin bencana pura-pura bunuh diri di hotel. Tak disangka Sania ingat kejadian memalukan itu. Cuma pertanyaannya Maya punya rasa malu?
Pura-pura hendak bunuh diri tak cukup sekali namun berulangkali. Sania jadi kebal terhadap trik kuno Maya. Maka itu Sania berani ambil resiko menyelamatkan Maya tanpa takut Maya nekat terjun ke bawah.
"Kau rubah licik..." ucap Maya buang muka segan menatap wajah cantik Sania.
"Kalau aku tak licik bagaimana bisa melindungi suamiku dari sengatan tawon-tawon nakal?" Sania perlihatkan barisan gigi rapi mengejek Maya yang mulai sadar Sania bukan wanita gampang dibodohi.
Maya makin paham Sania bukan wanita sembarangan bisa kena mop. Harapan menjadi pemilik Bara makin pupus.
"Bara beruntung punya isteri setegar kamu. Kamu jangan lengah karena aku bisa datang setiap saat menjaring lakimu."
"Silahkan kalau mampu!" Sania tertawa lebar biar Maya tak kecewa dipatahkan semangat di detik itu juga. Mental Maya sedang rapuh maka itu Sania tak ingin menambah beban di hati wanita itu. Perlahan Maya akan sadar suami sendiri adalah yang terbaik.
Maya ikut tertawa merasa lega Sania tak kesal rumah tangganya diusik terusan. Seharusnya Maya sadar perbuatannya adalah tindakan memalukan. Namum rasa ego mengantar Maya berulangkali berbuat salah.
Tawa Maya dan Sania berhenti tatkala beberapa orang menerobos masuk ruang kerja Sania tanpa permisi. Kedua wanita dalam ruangan menoleh serentak ke arah pintu.
Roy, Bara dan Rudi masuk dengan wajah cemas. Mata mereka terbelalak melihat Sania dan Maya sedang tertawa renyah seakan tak pernah terjadi sesuatu. Rasa cemas yang mengganjal dari tadi hanyalah pekerjaan sia-sia. Orang yang dicemaskan ternyata sedang bahagia bisa tertawa renyah.
Roy dan Rudi dongkol bukan main dipermainkan Maya. Hari yang seharusnya menjadi hari bersejarah bagi Bara menjadi ternoda gara-gara keisengan Maya. Reputasi Bara nyaris ternoda bila sandiwara Maya berlanjut.
Bara lebih sabar dari kedua rekannya walau hati sedikit kesal. Bara baru saja kena pukulan mental cukup berat. Namun sebagai lelaki sejati Bara tak mungkin tebar amarah.
"Maya...bisa ngak jangan kekanakan? Nyawa itu jangan dipermainkan! Setan itu di mana-mana. Bisa saja kakimu terpeleset jatuh ke bawah. Bayangkan tubuhmu remuk terhempas ke bawah." Ujar Bara pelan namun mengandung rasa jengkel.
"Maaf...aku cuma mau kamu melihat aku!" ujar Maya lirih berasa bersalah.
"Maya...ini hari baik kami! Kekonyolan kamu telah merusak suasana hati kami. Sekarang pulanglah ke hotel sebelum aparat datang mengusut. Kau mau dibawa ke kantor polisi? Kau telah berbuat onar di tempat umum!" ancam Roy tak seramah Bara. Roy gregetan berulangkali dikacangi Maya.
"Maaf...aku akan pergi! Besok aku akan balik ke State. Ternyata kamu bukan laki impianku. Aku takkan ganggu kamu lagi." Maya bangkit dari sofa berjalan ke arah Bara. Maya mendapati sesuatu dari ekspresi wajah Bara yakni amarah tertahan. Tak pernah Maya melihat tatapan tak bersahabat Bara. Sejauh itu Bara belum keluarkan kalimat yang menyakiti Maya.
Maya sadar diri tak mungkin meraih simpatik Bara. Malah makin menjauh. Di tambah pancaran permusuhan dari Roy. Maya makin terpojok tak bisa berulah lagi.
"Bu Maya...tinggallah sampai suamimu datang menjemput. Kita lihat kau yang salah menilainya atau dia memang tak cinta padamu lagi." lembut Sania mencoba menenangkan Maya agar jangan hilang harga diri. Andai suami datang menjemput berarti Maya masih bisa bersatu dengan keluarga.
Maya balik badan ke arah Sania. Sania mengangguk menyakinkan Maya agar terima sarannya. Sania bukan wanita jahat hendak tenggelamkan rival sampai tak bisa timbul hirup udara bebas.
"Kau yakin dia akan datang setelah tersakiti?"
"Ada sejuta maaf atas nama cinta!" Sania mengeluarkan kata penyejuk bikin Maya mangut coba percaya pada kata-kata Sania.
"Terima kasih adik kecil. Aku ikut bahagia Bara dapat isteri macam kamu. Baik hati dan pemaaf."
__ADS_1
"Beri aku nomor hp suamimu? Biar kujelaskan semuanya."
"Sekali terima kasih." Maya merangkap kedua telapak tangan ke dada. Tak urung mata Maya berembun terharu pada kebaikan Sania. Sania sudah dia jahatin masih berniat membantunya untuk bersatu dengan keluarga.
Ketiga laki yang menyaksikan percakapan antara Sania dan Maya tak dapat sembunyikan rasa respek pada Sania. Usia Sania masih muda namun kiprahnya jauh melebihi mereka yang sudah berumur.
"Bu Maya kembali ke hotel untuk istirahat. Kak Rudi bersedia antar Bu Maya?" Sania menghadap Rudi yang lebih netral di banding Roy yang pasang muka anjing bulldog. Galak hendak menerkam Maya.
"Aku tak punya mobil. Naik motor boleh?" Rudi gelagapan tiba-tiba diminta antar Maya.
"Pakai mobilku. Jangan kau bawa kabur!" Roy menyodorkan kunci mobil pada Rudi. Rudi mendelik jengkel digoda Roy. Rudi tahu Roy tak berniat menuduh cuma sekedar bercanda. Reputasi Rudi kan jelek karena pernah bawa kabur Arsy.
"Paling kugadai! Ayo May..kuantar ke hotel!" Rudi mengambil kunci dari tangan Roy mengajak Maya berlalu agar tak menambah heboh suasana kantor.
"Ok...Oya Sania...ini no hp suamiku! Aku pergi ya! Semoga kau dan Bara langgeng hingga akhir hayat! Kau wanita hebat." puji Maya sebelum pergi menyusul Rudi yang sudah duluan menuju ke lift.
Sania mengacung tangan setuju dengan ucapan Maya. Bibir Sania membentuk garis lurus senyum tipis. Satu masalah Bara tuntas sudah. Semoga Maya bisa petik hikmah dari sikap konyolnya.
Roy dan Bara menghela nafas lega. Benalu yang gerogoti Bara beberapa hari ini pupus sudah. Kini mereka bisa bernafas lancar tanpa ada yang usik perhatian Bara lagi.
Bara bersyukur dapat bini bijak mampu tangani wanita macam Maya. Ntah sugesti apa Sania tanamkan di otak Maya bisa berubah patuh. Ilmu hipnotis Sania lumayan mumpuni sanggup tenangkan kucing liar itu.
"Terima kasih sayang! Aku tak tahu apa yang bakal terjadi kalau kau bisa bujuk Maya."
"Apa kalian pikir dia rela nyawanya melayang? Dia cuma terobsesi padamu. Dia tertekan karena tak dapat perhatian suami. Suaminya cuek tak beri kasih sayang. Anggap bini cuma objek yang dipajang!" ujar Sania mengarah ke Bara. Sebenarnya Sania sedang mengejek Bara yang tingkahnya tak jauh beda dengan laki Maya. Selalu anggap Sania partner kerja. Bukan isteri yang harus dimanja. Uang belanja saja tak pernah Bara berikan. Apa masih termasuk pasangan suami isteri?
"Kalian dua sedang beri kuliah gratis?" Bara tersindir.
"Terserah kau anggap apa! Seharusnya hari ini kita rapat dewan direksi untuk bagi tugas tangani proyek. Tapi mood kita terlanjur berantakan. Besok saja ya!" usul Roy selaku penanggung jawab kantor untuk hari ini.
"Hari ini kita bereskan posisi pegawai. Kita butuh lebih banyak insinyur yang mau turun lapangan. Rudi kita posisikan penanggung jawab bagian lapangan. Kita cari beberapa orang untuk bantu dia. Rudi kita tempatkan di pulau B karena dia lajang. Buka otaknya biar tak incar milik orang melulu." kicau Bara masih ingat kenakalan Rudi.
"Masih dendam toh! Bini ente tak ada yang bisa rebut. Akhlaknya terpuji." Roy tak malu akui kehebatan Sania.
"Untung aku tak suka pakai topi. Bisa-bisa tak kuat lagi. Memuji orang jangan di depan! Ntar besar batok kepala."
"Aku cuma bicara fakta bukan omong kosong! Untuk sementara ini cukup sekian. Aku harus balik ke ruang ku. Sekretarisku bikin adem. Cantik dan alim! Betah lihat tampangnya." Roy mengedipkan mata hendak keluar dari ruang kerja Sania.
"Woi...Sekar anak baik! Jangan kau goda!"
"Tidak kugoda cuma kuajak ke KUA." seru Roy sambil tertawa lebar kabur ke lantai bawah.
Dalam ruangan tinggal pasangan suami isteri. Bara menarik nafas dalam-dalam bersyukur Sania mampu menampung bebannya. Andai Bara disuruh hadapi Maya sendirian pasti kelimpungan
__ADS_1
"Terima kasih sayang!" Bara hampiri Sania lalu mendekapnya. Perasaan nyaman dan lega menjalar dalam rongga dada Bara. Jantung terasa berdetak lebih teratur. Sania memang terlahir untuknya.
"Sama-sama...Kuharap Lieve sadar kalau godaan itu datang dari segala arah. Lieve harus tebalkan iman hadapi semua godaan. Perasaanku mengatakan cobaan untukku tak sampai di sini. Masih banyak wanita lain akan hadir cari perhatianmu."
"Biarkan mereka datang! Aku cukup punya kamu." Bara mengecup ubun kepala wanita dalam dekapannya. Sania biarkan Bara memeluknya. Dari sini Sania bisa mendengar detak jantung Bara yang berdegup teratur. Emosi Bara sudah stabil.
"Kembalilah ke ruangan mu Lieve! Kita mulai kerja. Hari ini aku mau atur alat berat untuk dikirim ke pulau B. Kita harus gerak cepat karena Pak Elmo kasih tempo cukup singkat."
"Sayang...itu bukan tugasmu! Kau cukup urus rancanganmu. Biar kami yan turun tangan. Kamu bisa andalkan suamimu."
Sania mendorong tubuh Bara menjauh tak suka dianggap lemah tak mampu tangani alat berat. Waktu kerja di Build Sania yang handle dari awal sampai proyek kelar. Seluk beluk alat berat sudah tertulis di benak Sania.
"Aku jadi invalid sejak punya suami? Kita perlu alat berat yang cukup rumit. Bukan hanya buldozer dan Beko. Masih banyak alat berat canggih. Alat berat yang ada di sini tak boleh kita ganggu karena di sini kita juga ada kerja. Aku harus diskusi sama papa masukkan alat berat untuk kita." ujar Sania tegas tak mau serahkan tanggung jawab pada Bara. Sania takut Bara belum paham karena jarang terima proyek besar. Sania sudah sering bekerja sama dengan perusahaan besar bangun bangunan pencakar langit maka tahu banyak soal fungsi alat berat.
"Sania...aku tak mau kamu terlalu lelah. Kau lihat tubuhmu makin tipis karena asyik bekerja. Aku sakit hati melihatmu capek kuras tenaga. Lebih baik tak dapat proyek bila harus lihat kamu sakit."
"Oh so sweet...aku sudah terbiasa. Ijinkan aku atur langkah pertama! Selanjutnya boleh serahkan pada orang kepercayaanmu. Lusa aku akan terbang ke pulau B. Lieve kawal proyek sini. Biar aku di sana!"
Bara langsung menggeleng tak setuju Sania berangkat ke pulau B sendirian. Bara belum mau berpisah dengan Sania di saat hubungan mereka baru dimulai. Rasa suka cita baru saja berawal manis, masa harus segera berakhir pahit.
"Tidak...kau tak boleh ke sana sendirian. Aku takut keselamatanmu terancam. Aku yang pergi dengan Roy."
Sania tersenyum mendengar ketulusan Bara terhadapnya. Bara tak tahu Sania sudah puluhan kali ke pulau B untuk survey proyek Pak Elmo. Kalau tidak bagaimana dia bisa merancang dengan sempurna.
"Terima kasih Lieve...aku akan baik-baik di sana! Aku sudah sering ke sana. Aku lebih ngerti medan sana. Lieve belum pernah ke sana tentu masih buta. Aku pergi paling seminggu. Aku akan pergi dengan Putri."
"Kita pergi berdua saja. Aku tak bisa lepaskan kamu pergi tanpa pengawalan. Aku kuatir." Bara tak henti berharap Sania berubah pikiran batal ke pulau B. Laki mana rela ijinkan bini cantik melanglang buana ke pulau terpencil.
Bara kuatir Bobby akan berbuat sesuatu merugikan Sania. Bobby sudah berani mengacaukan proyek perumahan Pak Wandi. Mungkin saja akan berbuat lebih bila Sania berada di tempat tanpa perlindungan suami. Hati manusia siapa bisa tebak.
"Lieve...mulai ragu pada wonder woman milik Lieve?" Sania menatap Bara lekat-lekat intimidasi lakinya agar jangan ragu pada kemampuan Sania.
"Bukan ragu sayang tapi aku takut keselamatan bini mudaku. Banyak orang intip tender proyek ini. Bisa jadi orang berniat buruk. Kau lihat keluarga Ranti datang omong yang bukan-bukan! Aku cuma belum bisa tenang biarkan kamu pergi sendiri."
"Kan ada Putri."
"Kalian berdua sama saja. Takkan mampu hadapi orang jahat. Kita bahas dengan Roy. Mungkin ada solusi."
"Solusi apapun tetap aku harus di sana. Aku yang kenal penduduk sana, aku juga yang tahu di mana persis lokasi tanah PT. SHINY. Langkah awal tetap aku harus di tempat. Atau aku, Roy dan Putri ke sana?"
Bara mendelik tak suka Sania harus pergi dengan laki lain walau ada pendamping lain yakni Putri. Bara cemburu pada Roy yang terangan kagum pada Sania.
"Kita pergi berdua Minggu depan. Kita atur posisi karyawan baru berangkat. Jangan membantah lagi sayang!"
__ADS_1
Sania benar-benar tak membantah lagi. Bara sudah beri keputusan cukup bagus. Sania cuma harus bersabar sampai kondisi kantor baru teratur rapi. Lebih baik sabar ketimbang perang urat leher yang tak bakalan berakhir.
"Ok Lieve...Oya..kita harus cari satu rekanan untuk bantu kita bangun beberapa gedung kecil di pulau B. Ada sekolah dan tempat ibadah bisa kita limpahkan ke perusahaan lain. Itu hanya bagian kecil yang bisa kita bagi. Kita tak boleh tamak borong semua bangunan. Kita beri kesempatan pada perusahaan yang kompeten untuk kerja sama."