MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Berbagi Ranjang


__ADS_3

Sania bisa saja berubah arogan setelah resmi jadi isteri Bara. Posisi Sania jauh lebih kuat dari Nania. Sania sehat, cantik dan bisa bantu Bara di kantor. Andai Bara lebih sayang pada Sania itu wajar. Nania tak ubah seonggok mayat hidup yang merepotkan orang.


Kini semua berbalik pada akhlak Sania. Andai Sania memang tulus maka hidup Nania akan aman. Namun bila kebalikan yang muncul, Nania akan sengsara.


Bersyukur di hari pertama Sania masuk rumah Bara tetap keramahan disodorkan gadis cantik itu.


"Sania...terima kasih!" desah Nania tak lupa puji syukur dapat madu berhati emas.


"Makasih apa? Kita saudara jadi jangan sungkan. Yok kita mandi!" Sania membantu Nania turun dari tempat tidur. Perlahan Sania memapah Nania ke kamar mandi. Sikap telaten Sania bikin Nania terharu. Tak dipungkiri Sania memang baik.


"Mbak duduk sini ya!" Sania dudukkan Nania di kloset duduk biar jangan lelah berdiri.


"Ada bangku untuk mbak. Ambil saja di balik pintu itu." Nania menunjuk pintu samping bathtub. Pintu seperti terhubung sama kamar lain.


Sania mendudukkan Nania dengan baik. Setelah yakin Nania duduk posisi pas baru Sania berani lepaskan wanita penyakitan itu. Tubuh Nania terlalu lemah untuk duduk sendiri. Butuh penyanggah untuk menopang tubuh ringkih itu.


Sania membuka pintu yang ditunjuk Nania perlahan. Sania tak tahu apa isi dibalik pintu satunya. Mungkin ada rahasia terselubung ataupun daerah terlarang.


Begitu dibuka tercium hawa kurang segar. Bau apek lembab mengelus hidung mancung Sania. Tampaknya itu ruang tak pernah digunakan maka timbul hawa tak sedap.


Sania mencari saklar lampu di dinding dengan meraba raba. Tangan Sania menyentuh sesuatu yang diyakini stop kontak lampu. Tak perlu waktu lama cahaya lampu terangi kamar lembab itu.


Sekilas Sania melihat tempat tidur bayi berikut segala pernak pernik anak bayi tertata rapi di kamar itu. Insting kepo Sania langsung menjalar ke seluruh otak. Kamar bayi siapa? Bara dan Nania pernah punya anak? Lalu mana anak itu?


Berpuluh pertanyaan muncul dalam benak Sania. Namun Sania sadar bukan wilayahnya tanya hal ini pada Nania. Mungkin ini bukan waktu tepat ungkit hal tak menyenangkan.


"San...sudah?"


Pertanyaan Nania mengembalikan kesadaran Sania. Sania langsung mengambil bangku yang memang tergeletak di samping pintu.


"Maaf mbak...melamun." kata Sania jujur. Sania segera meletakkan bangku itu dekat shower mandi. Lalu Sania memapah Nania pindah duduk di bangku dekat shower.


Perlakuan Sania lembut seakan takut sakiti kulit Nania. Semua Sania lakukan dengan penuh kasih sayang. Sania ingin tunjukkan pada Nania kalau dia masih berharga. Seorang madu saja perlakukan dia dengan baik. Semoga semangat hidup Nania berkobar bisa percepat kesembuhan.


"Kita mandi ya mbak! Kita baca bismillah!" Sania menyiramkan air hangat ke badan Nania setelah pakaian dibuka Sania. Tubuh Nania benar tinggal tulang bernafas. Daging ntah habis ke mana.


Sania betul betul kasihan pada Nania. Kalau ada yang masih ingin sakiti Nania hati orang itu tentu produk pabrikan setan bin iblis.


"Suhu airnya pas mbak?"


"Pas...cucilah rambut mbak! Sudah lama mbak tak keramas. Sudah bau asem."


"Bau asem itu yang bikin Pak Bara betah."


Nania terkekeh dicandai Sania. Mana ada bau asem bisa bikin betah. Bara masih tetap bersamanya mungkin karena janji yang pernah dia ucapkan pada tempo dulu. Laki itu tak bisa tinggalkan Nania walau apapun terjadi.


Nania bahagia bukan main bisa canda dengan Sania. Wanita ini menyiram Sania dengan air bikin gadis ini menjerit keras. Alhasil keduanya basah kuyup. Sania terpaksa ikutan mandi karena terlanjur basah. Wajah Nania ceria main siram siraman dengan Sania. Sudah lama keceriaan itu sirna bersama hadirnya penyakit ganas di tubuh Nania.


"Badanmu sangat indah." puji Nania terpaku melihat dada dan bokong Sania yang serasi. Bentuk tubuh gol bisa bangkitkan imajinasi kotor setiap pria. Bara beruntung dapat bini muda yang bahenol.


Nania tak tahu antara Bara dan Sania ada terikat janji tak tertulis. Tak ada kontak fisik antara mereka karena pernikahan mereka hanya demi Nania dan proyek.


"Aku yakin tubuh mbak jauh lebih indah sebelum sakit. Maka itu mbak harus semangat kalahkan aku. Pak Bara akan makin cinta mati pada mbak."


"Sudah jadi suami kenapa masih panggil pak. Kalau orang tak tahu pikir mas Bara om senang suka daun muda."

__ADS_1


"Apa bukan? Dia kan sudah tua. Di kampung kami orang setua gini sudah punya cucu selusin."


"Masak iya. Mas Bara baru berumur tiga puluh lebih. Dari mana punya cucu. Asal saj kamu ini."


"Ini artinya wajah Pak Bara boros. Tampangnya kayak bapak bapak umur empat puluh tahun. Ok..kita sudah siap mandi. Kita cepat berpakaian agar jangan masuk angin." Sania mengambil handuk membungkus badan Nania agar jangan kedinginan. Sania sendiri memakai handuk melilit sebatas dada.


Kedua wanita Bara keluar dari kamar mandi saling berpelukan. Sania memeluk Nania erat takut wanita ini jatuh. Nania terlihat lebih segar dan harum. Badan tak terasa lengket lengket lagi.


Sania mengeringkan Nania lalu memakaikan Nania baju tidur. Sania mengeringkan rambut tipis Nania pakai hair dryer biar tak masuk angin. Daya tahan tubuh Nania memang tak ada. Rentan terkena penyakit lain.


"Ok..mbak sudah manis. Aku boleh pinjam pakaian mbak? Pakaianku masih di rumahku. Tidak bawa baju ganti."


"Pakai saja sesukamu."


"Trims..mbakku memang baik." Sania membuka lemari pakaian Nania. Satu lemari penuh pakaian mewah berlabel mahal. Cuma bukan selera Sania. Warnanya sangat mencolok di mata Sania. Sania suka pakaian sederhana tak hambat kegiatannya sebagai pekerja lapangan. Sania sering turun tangan tinjau lokasi kerja butuh pakaian santai.


"Wah..pakaian mbak hasil karya perancang ternama. Tapi aku cuma butuh baju kaos dan celana puntung. Ini terlalu mewah."


"Mbak jarang pakai kaos oblong. Coba pakai baju kaos mas Bara saja. Tuh ada di lemari sebelah kiri!" Nania beri petunjuk pada Sania ambil pakaian Bara.


Sania membuka lemari pakaian Bara. Bau maskulin laki itu membelai hidung Sania. Bau pejantan tangguh. Sungguh beda dengan bau badan Bobby. Bobby suka wewangian agak lembut tak menyengat hidung. Bara pencinta wewangian agak keras bangkitkan semangat berontak.


Sungguh dua karakter berbeda. Jujur Sania suka harum tubuh Bobby tak bikin kepala pusing.


Sania memilih kaos warna putih bertulisan DEEP. Sania mematut kaos itu sambil tertawa keras. Kaos Bara terlalu besar untuknya. Kalau dipasang ke badan Sania seperti pakai daster kaos.


"Apa ini pantas mbak?"


"Suami kita terlalu raksasa untuk kita. Pakai saja. Toh tak ada orang lain di rumah."


"Ok...aku tak punya daleman. Bugil keren.." Sania melepaskan handuk melilit tubuhnya. Gadis ini berniat mengenakan kaos Bara menutupi tubuh polosnya.


Adrenalin Bara sontak melambung menggelegar bakar ***** lakinya. Jeritan Sania membuyar hasrat Bara jatuh ke tanah. Bara serasa di tampar untuk sadar bahwa itu bukan haknya.


"Dasar penjahat...masuk tak ketok pintu. Ini daerah wanita." seru Sania berang juga malu.


Sania cepat cepat mengambil handuk melilit tubuhnya lagi lalu lari masuk kamar mandi untuk berpakaian. Bara masih bengong terpesona pemandangan langka. Sudah cukup lama Bara tak menyaksikan tubuh indah seorang wanita. Yang ada hanya tubuh kurus Nania yang tak bisa disentuh. Bertahun Bara puasa soal hubungan rahasia wanita pria.


Kehadiran Sania buka mata Bara akan ***** lelakinya yang nyaris punah.


"Mas...Sania masih lugu. Mas harus sabar hadapi dia." kata Nania paham bagaimana gejolak hasrat di hati Bara.


"Ya...kau mandi?"


"Ya mandi bersama Sania. Dia anak baik."


"Mas tahu...malam ini dia akaan pulang ke rumahnya dulu. Dia akan balik sekalian bawa pakaiannya ke sini. Kau harus sabar bila ingin bersama Sania."


"Tapi mas..dia itu binimu. Masak hari pertama nikah langsung pisah." protes Nania ingatkan Bara status Sania saat ini.


"Perlahan saja. Biarkan dia mau gimana! Hari kita masih panjang. Bentar lagi kau makan ya!"


"Aku ingin makan bersama malam ini. Ini hari bersejarah buat kita. Rumah kita yang sepi tambah anggota baru."


"Tanya Sania dulu. Jangan memaksa bila dia mau pulang! Semua akan mas lakukan asal kau dan Sania senang."

__ADS_1


"Terima kasih mas."


Bara mengelus kepala Nania yang harum shampo. Biasa kepala Nania akan bau kecut karena jarang tersentuh air. Paling hanya lap badan dilakukan Bik Sur. Bik Sur mengerjakan semua tugas sendirian kadang dibantu keponakannya kalau bersihkan rumah. Setiap minggu keponakan Bik Sur akan datang membantu Bik Sur bereskan rumah. Bara tak bisa memakai dua pembantu karena keuangan tak begitu mulus. Bara tak mau minta bantuan orang tuanya. Mereka tak suka pada Nania mana mau bantu.


Sania sudah keluar dari kamar mandi memakai kaos Bara. Tubuh Sania tenggelam dalam pakaian Bara hasilkan pemandangan lucu. Sania seperti badut cantik peragakan baju kaos.


Lagi lagi Bara terpesona kecantikan alami Sania. Gadis muda ini tetap cantik walau baru mandi tanpa make up. Bara yakin inilah tampang asli Sania yang tak jauh beda dari kesehariannya.


Dewi fortuna sedang berpihak padanya kirim seorang gadis bernilai plus plus. Nania paling berjasa mengantar Sania mendarat di pelukannya. Tapi Bara tahu bukan perkara gampang taklukkan gadis ini. Sifat konyol gadis ini bisa buat Bara cepat kena hipertensi. Mulut sadis melawan bila ditegur.


"Belum pergi?"


"Mau ke mana? Ini kamarku dan kalian adalah wanitaku. Wajar aku di sini. Apa aku harus ke rumah tetangga?" Bara duluan patahkan niat Sania hendak skakmat dia.


"Pergi saja biar dibacok satu RT!" dengus Sania angkuh.


"Aku di sini karena tak mau terjadi pertumpahan darah. Kita makan malam bersama malam ini. Kau mau nginap sini kan?"


"Boleh...aku tidur sama mbak malam ini. Bapak tidur di kamar atas. Aku mau habiskan malam ini bersama kekasihku tercinta." Sania beri tanda dua jari jempol dan telunjuk disatukan. Tanda cinta.


"Hah??? Aku disuruh tidur sendiri di atas? Kalian memang keong beracun. Tampak lemah tapi mematikan." Bara besarkan mata tak terima dicampakkan dua wanitanya.


"Bapak sudah tua tapi masih kayak anak kecil. Gini saja bapak tidur saja sama Bik Sur. Mungkin bapak bisa dikeloni Bik Sur."


Nania tak dapat tahan tawa melihat Bara tercengang diberi usul aneh bin ajaib. Suasana cerah mewarnai kamar Bara. Tawa yang sudah lama hilang kini muncul lagi di rumah itu. Nania geli melihat Bara mati kutu hadapi gadis muda macam Sania.


"Dasar kurang waras. Kalian senang lihat aku menderita ya!" kata Bara dengan mata merah. Ntah menahan amarah atau menahan tangis. Punya bini malah makin sengsara. Bukan dapat pelukan hangat tapi harus tidur sendiri.


"Jangan manja pak! Belajar mandiri! Ambil baju mandi sono. Kita sholat magrib bersama. Ok?"


"Aku terbiasa mandi sini. Kenapa mesti mandi di kamar atas?" Bara nyelonong masuk kamar mandi tak peduli tampang tak bersahabat bini barunya. Sania keberatan Bara ikut bergabung dalam kamar bersama dia dan Nania.


Malam ini adalah lady's time. Sania dan Nania akan tidur bersama untuk jalin saling pengertian lebih dalam. Sania juga tunjukkan pada Nania kalau dia bukan ancaman bagi Nania. Bara tetap milik Bara seutuhnya. Tak boleh ada wanita ketiga lagi dalam hidup Bara.


"Mbak...biar Pak Bara tidur di atas ya! Malam ini waktu kita." Sania mendekati Nania seraya membelai pipi tirus itu.


"Tapi dia suamimu juga. Dia juga berhak tidur bersamamu."


"Aku belum siap. Biarin dia rasakan dinginnya kamar bisu. Kita aman di sini."


"Jahat banget kamu! Kasihan mas Bara nelangsa di malam pengantin."


"Pengantin apaan? Aku di sini karena mbak. Siap siap kita sholat bersama. Mbak sholat di tempat tidur saja. Tak usah bangun."


"Tapi ambil air wudhu gimana?"


"Nanti kubantu. Dalam berwudhu ada dua versi. Ada yang bilang batal kalau kita bersentuhan dengan suami setelah berwudhu tapi ada juga yang bilang masih dilanjutkan sholat bila hanya bersentuhan biasa asal tak melakukan hubungan intim. Versi manapun jangan padamkan niat kita bersholat."


"Kau tahu agama?" tanya Nania makin kagum pada Sania.


"Tahu walau tak detail. Niatkan yang baik saja mbak! Mbak memohon agar diberi kekuatan capai kesembuhan."


"Iya...amin."


Sania tersenyum damai. Nania menggenggam tangan malaikatnya erat erat semoga Sania bisa beri harapan baru buatnya.

__ADS_1


Cukup lama Bara mandi. Bara mandi atau sedang cari wangsit bagaimana bisa tidur di kamar bersama Nania seperti biasanya. Mungkin Bara sedang berdoa semoga Sania berubah pikiran ijinkan dia tidur di tempat nyaman dengan Nania.


Kamar atas sepi juga seram sejak ditinggal kosong. Sudah cukup lama dikosongkan sejak Nania kena penyakit kanker. Bara sendiri hampir tiga tahun tak menginjak kamar itu. Kini tiba tiba disuruh tidur sendirian serasa disuruh masuk kamar angker. Bara tetap menolak tidur sendiri di atas.


__ADS_2