
Pak Imron sebagai seorang pemimpin pondok pesantren tahu kalau Sania bukan wanita lemah gemulai seperti isterinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Sania bernada penuh tekanan. Pak Imron tak marah walau dikuliahi anak kemarin sore. Apa yang diucapkan Sania adalah fakta yang harus dilakukan Pak Imron. Berlaku adil bukan perkara gampang. Sesempurna manusia tetap saja ada sudut terkoyak. Pak Imron berusaha semampunya walau dalam hati ragu. Cuma di depan Sania tak mungkin ditampilkan keraguan itu.
Bisa-bisa Sania tak ijinkan sang kakak jadi madu Umi Fatima.
"Insyaallah Abi berusaha adil. Abi tak memaksa harus menikah lagi. Cuma Umi yang ingin punya anak darah daging Abi. Anak itu titipan Allah. Tidak dikasih artinya kita belum dipercaya asuh anak. Abi ikuti semua permintaan Umi." sahut Pak Imron wibawa.
"Semoga sakinah..masih ada mas Rangga. Harus ijin mas Rangga juga." Sania teringat abangnya yang masih di kantor. Rangga penentu pernikahan Ranti karena dia Abang sulung. Suhada mungkin tak ada ide selama anak-anaknya hidup tenteram.
"Papa akan bicara dengan Abang kalian. Asal Ranti tak keberatan jadi yang kedua papa rasa mas Rangga takkan menolak." Suhada akhirnya buka mulut.
"Terserah kakak saja! Pikirkan lagi! Jangan menyesal di kemudian hari. Menikah itu bukan untuk satu hari tapi seumur hidup. Masih ada waktu buat kakak berpikir sebelum ambil keputusan." Sania masih berharap Ranti kaji ulang jadi orang kedua dalam rumah tangga pemimpin pesantren itu.
"Iya dik! Kakak akan pikirkan lagi!" Ranti menyahut untuk menyenangkan hati Sania. Dalam hati Ranti sudah bulat terima tawaran Umi untuk jadi madunya. Belajar melatih kesabaran dan belajar agama. Syukur kalau dipercaya hamil anak Abi Imron.
"Kalau kakak yakin silahkan! Kalau ragu kakak bisa ikut aku ke Belanda. Rencananya setelah bayi-bayi aku sudah tiga bulan aku akan balik ke Belanda untuk sementara waktu."
Bu Jaya kaget dengar rencana Sania bawa cucu-cucunya pergi jauh ke Belanda. Kalau dibawa ke sana kapan mereka bisa jumpa lagi. Hati Bu Jaya langsung menciut atas rencana Sania. Mau tegur tapi ada tamu. Simpan dulu rasa kaget itu.
"Belanda? Jauh amat?" keluh Ranti tak tertarik. Ranti lebih tertarik pada pondok pesantren yang adem ayem. Mana lagi ada Abi Imron yang kharismatik. Wibawa memancarkan aura jantan.
"Sania serahkan pada kakak! Kalau memang fix mau menikah silahkan! Yang penting kakak bahagia."
"Terima kasih dik! Kakak boleh peluk kamu?" tanya Ranti ragu takut ditolak Sania lagi. Sania tak langsung iyakan permintaan Ranti. Tersirat keraguan di wajah Sania untuk memeluk kakak sekaligus orang yang telah hancurkan rencana pernikahan pertamanya.
"Nak...peluklah kakakmu! Ranti telah menyesali semua yang telah dia lakukan padamu. Papa harap kalian hidup rukun tanpa dendam. Kini kamu adalah ibu dari tiga bayi. Kelak kau akan tahu bagaimana rasanya jadi orang tua." kata Suhada lirih tahu kesalahan berada di pihak mereka. Sania adalah korban keserakahan Amanda dan Ranti.
Sania melirik mertuanya memohon petunjuk. Suhada mengatakan bagaimana harus jadi orang tua tapi dia sendiri terlantarkan anak demi wanita dan harta. Suhada tak punya hak bicara atas nama orang tua.
Cuma saat ini Sania masih punya hati nurani tak kucilkan Suhada di depan calon menantu. Kalau lidah tajam Sania telah bergoyang maka akan keluar kalimat bisa melukai perasaan seseorang. Sania tak bisa sembunyikan suara hati yang sesuai fakta.
Beruntung Sania masih hargai Suhada tak ngoceh sembarangan. Sania tak punya pilihan lain selain rentangkan tangan menerima kehadiran Ranti ke pelukannya. Soal ketulusan menjadi nomor ke sekian. Sania ingin memberi Ranti panggung agar tak dilecehkan oleh keluarga barunya. Sania mau tunjukkan pada Pak Imron bahwa Ranti punya keluarga yang siap lindungi dia kalau disakiti.
Ranti laksana dapat undian hadiah utama tatkala tangan Sania terentang siap menerimanya. Moments ini yang dinanti Ranti setelah lalui banyak rintangan. Semua bermula dari sifat tamak dan angkuh. Tak ada ending manis, justru dia terima sad ending.
Sania bersedia buka lembaran baru maka Ranti harus pandai membawa langkah menyusuri jalan terang agar jangan tersesat dalam rimba dosa lagi.
Ranti memeluk Sania erat-erat disaksikan Suhada dan mertua Sania. Sebagai orang tua keduanya ikut bahagia saksikan adegan manis. Cukup sudah tragedi menyedihkan. Kisah baru akan berawal manis berakhir sesuai rencana Allah asal dilakoni dengan hati bersih.
"Maafkan kakak dik! Terima kasih mau terima kakakmu yang jahat. Dan maafkan juga semua kesalahan mamaku. Kami pantas mendapat hukuman setimpal." ujar Ranti dengan nada sedih.
__ADS_1
Hati Sania luluh juga. Dasar Sania yang berhati emas. Menjadi orang berhati busuk bukan gaya Sania. Selama Sania diperlakukan baik, sebanyak itu akan Sania balas. Bahkan berkali lipat.
"Lupakan semuanya kak! Selamat menempuh hidup baru. Kami ada untuk kakak. Kakak punya payung kokoh untuk berlindung. Jangan segan datang bila ada keperluan!"
"Pasti kakak ingat! Untuk sementara papa ajak ke pesantren. Di rumah tak ada yang rawat papa jadi biar ikut kakak. Kalian tak keberatan?"
"Terserah papa! Mau tinggal di mana tak jadi soal. Kurasa mas Rangga juga tak keberatan bila harus rawat papa."
Ranti melepaskan pelukan lantas sepasang tangannya menangkup pipi Sania tak ubah seorang kakak tulen terhadap adik kecil. Ranti mengarahkan mata ke mata Sania ingin melihat apa isi hati Sania. Sudah tulus pada atau hanya terpaksa.
Sania melengos tak mampu lanjutkan beradu mata dengan Ranti. Memaafkan langsung dari lubuk hati mungkin masih terlaksana tapi Sania janji akan rajin belajar menyayangi Ranti. Semua itu butuh proses tak semudah balikkan telapak tangan.
Ranti tertawa pahit maklum belum ada kerelaan Sania menerimanya dengan ikhlas. Sadar akan kesalahan sendiri Ranti siap menunggu hari itu tiba. Suatu hari itu pasti datang walau ntah kapan.
Berbasa-basi sebentar Pak Imron mengajak Umi dan Ranti serta Suhada pulang. Mereka hanya datang silahturahmi bukan datang merawat Sania. Ranti berjanji akan datang lagi menjenguk anak-anak Sania yang masih berada di inkubator.
Pertemuan sederhana ini membuahkan sedikit hasil. Sania mulai terbuka sedikit buat Ranti walau cuma sedikit. Suhada menaruh harapan ke depan Sania akan rentangkan tangan lebih lebar menerima mereka. Hari itu akan tiba walau ntah kapan.
Konco-konco Sania datang silih berganti mengunjungi Sania. Ucapan selamat datang bertubi-tubi dari teman dan para relasi. Siapa tak ingin cari muka pada bos baru SHINY. Ini moments tepat Galang hubungan dengan bos perusahaan raksasa itu. Yang datang tentu berharap dapat kerja sama dengan Sania di kemudian hari. Lagu lama tapi ampuh dijalankan. Dari dulu hingga sekarang tetap itu lagunya. Diulang-ulang nadanya itu-itu juga.
Tiga bayi beruntung. Begitu lahir sudah jadi Sultan. Kemewahan mengelilingi mereka. Tidak seperti mama mereka hidup dalam tekanan trauma masa lalu. Penderitaan Sania selama ini terbayar sudah. Dia telah petik kemenangan dari segala kesabaran dan ketulusan terhadap sesama.
Janganlah berbuat jahat kalau tak mau terima karma buruk. Allah itu tak pernah tidur. Allah melihat semua tindak tanduk umatnya serta memberi balasan sesuai amal perbuatan masing-masing. Tetaplah jalan di jalan yang diridhoi Allah. Insyaallah semua akan dilancarkan.
Di sudut kota seorang pria termangu duduk melihat benda pipih di tangan. Pria itu lusuh dengan brewok tak terurus, rambut panjang awut-awutan mendatangkan pemandangan menjijikkan. Bobby duduk di rumah orang tuanya yang tak semewah rumahnya dulu.
Bobby sudah jatuh tak punya apa-apa lagi. Perusahaan pailit tak ada kegiatan. Hutang menumpuk tak sanggup bayar gaji karyawan. PT. BUILD yang megah hanya tinggal nama. Keangkuhan serta kesombongan antar Bobby ke jurang kehancuran. Bobby lupa daratan setelah berada di atas angin. Laki ini tak sadar tak selamanya angin bertiup searah.
Sekali terhempas Bobby hancur lebur. Bobby pantas terima kehancuran di karenakan memandang diri terlalu tinggi. Seharusnya posisi Bara adalah miliknya. Dialah pendamping bos besar SHINY cuma sayang Bobby tak lulus ujian.
Seorang gadis muda meletakkan gelar demi mencari cinta sejati. Bobby nyaris lulus jadi kandidat tunggal sayang nafsu dunia butakan mata laki itu. Bobby terjungkal masuk jurang. Bara hadir dengan ketulusan berhasil ikat Sania dan tampil jadi juara.
Bobby lalui hari dengan membawa segunduk penyesalan. Pertanyaannya apa penyesalan itu berguna?
Setahun kemudian.
Tiga pasangan muda sedang melangsungkan ijab kabul di mesjid dekat rumah Pak Bur. Rangga menikah dengan Lisa, Rudi berhasil gaet Putri dan terakhir Sekar dilamar Roy. Ketiganya sepakat ijab kabul bersama walau pesta resepsi beda waktu. Persahabatan yang sangat indah. Berbahagia juga bersama-sama.
Dari salah satu sudut Sania tersenyum bangga melihat orang-orang yang dia kasihi menemukan tujuan hidup. Semua berhak bahagia. Perjuangan Sania telah buahkan hasil. Sania menang melawan Angkara amarah berhasil enyahkan semua emosi tak sehat. Sania telah temukan yang namanya damai.
__ADS_1
Sania memaafkan Ranti dan Suhada. Semua orang berhak dapat kesempatan kedua. Sania lapangkan dada beri kesempatan pada orang yang mau tobat. Ranti telah temukan jalan terang jadi isteri Pak Imron. Kakaknya itu sedang hamil anak Pak Imron. Sania hanya bisa kirim doa semoga rumah tangga kakaknya tak rapuh. Harus kokoh hingga akhir hayat.
"Sayang...kenapa melamun?" tiba-tiba Bara sudah berada di samping isterinya. Sania melempar senyum damai buat laki yang telah menemani harungi badai beberapa waktu. Laki itu makin tampan dengan setelan jas warna hitam. Wajahnya berminyak tanda bahagia. Sania bersyukur jumpa Bara. Tak lupa Sania berterima kasih pada mendiang Nania yang mengantar dia pada Bara. Nania telah berbuat baik di akhir hayatnya.
"Lieve...semua berhak bahagia!"
Bara setuju. Laki itu memeluk pundak Sania menyaksikan acara ijab kabul serentak itu. Rudi paling kaku padahal dia itu duda. Wajahnya paling tegang sampai keluar keringat dingin. Tingkah Rudi mengundang tawa dan ejekan sanak saudara.
"Kita cepat pulang ya! Kasihan anak-anak ditinggal di rumah. Lieve kangen pada mereka." ujar Bara teringat pada kembar tiga yang ditinggal bersama Oma mereka di rumah. Repot bawa tiga anak di acara ramai-ramai gini.
"Yakin rindu anak?" Olok Sania mengerling genit.
"Rindu sama emaknya juga. Aku pingin juga kayak pengantin baru. Kita cetak kembar baru lagi ya!" bisik Bara sedikit mesum.
Tangan mungil Sania mendarat di pinggang Bara membuat laki itu mengaduh. Tidak sakit tapi cukup pedih.
"Urus tiga bayi saja rasanya dua puluh empat jam tak cukup. Mau tambah lagi? Ogah."
"Banyak anak banyak rezeki lho! Kita bisa pakai jasa baby sister. Mau ya?" bujuk Bara tiba-tiba bernafsu pada Sania.
Mungkin pengaruh aura pengantin baru di lingkungan mesjid. Bara ikutan sok pengantin baru. Otak Bara bergerilya cari cara Sania bersedia diajak pulang untuk tuntaskan panggilan alam suami.
"Apa Lieve tak baca berita? Majikan selingkuh dengan baby sister? Lieve sedang rancang skenario itu? Mau ikutan masuk berita?" todong Sania besarkan mata segede jengkol.
"Ya Tuhan bukan itu mau Lieve! Lieve cuma kangen...kau asyik sama trio kwek-kwek! Kapan urus Lieve? Lieve sampai karatan tunggu sayang tiap malam."
"Tiga sudah repot mau tambah kembar lagi. Lieve bisa pindah tidur di gudang."
"Lieve betul kangen! Kita pergi yok! Hari ini cuma ada Lieve dan sayang. Trio kwek-kwek biar sama Omanya." Bara masih berusaha bujuk Sania untuk layani hasratnya yang menggebu. Setan mesum mana hinggap di otak Bara sampai demikian bergairah ingin meleburkan diri pada Sania.
Sania kasihan juga lihat pancaran mata penuh gairah itu. Sania akui memang banyak habiskan waktu bersama si kembar sampai abaikan tugas sebagai isteri dari Bara. Sania cukup lelah bagi waktu antara bisnis dan keluarga. Keduanya harus jalan seimbang sehingga tak sadar ada dicampakkan.
"Baiklah! Kupesan pada Kak Ranti kalau kita duluan pulang. Tak baik main kabur gitu saja." Sania mengalah menuruti keinginan Bara.
"Terima kasih sayang." sahut Bara dengan mata berbinar. Bayangan tubuh Sania yang halus lembut bermain di mata Bara. Sudah berapa lama mereka tak nikmati waktu bersama tanpa rengekan si kecil? Bara tak ingat itu lagi.
Itu tak penting. Sekarang Sania bersedia membayar waktu yang terbuang merupakan saat terindah bagi Bara. Mereka berhak menikmati masa indah layak pengantin baru.
Bara sengaja bawa Sania ke salah satu hotel mewah agar tak ada gangguan dari siapapun. Secara diam-diam Bara kirim kabar pada mamanya mengatakan bahwa mereka takkan pulang hari ini. Mereka honeymoon lokal. Bara ingin gunakan kesempatan ini menunjukkan pada Sania kesabarannya sebagai suami. Tak memaksa walau jatah ranjang disita oleh kurcaci kecil nan lucu. Bara mengalah pada anak yang lebih dominan kuasai Sania.
__ADS_1
Waktu yang ditunggu Bara datang juga. Bara dan Sania berpelukan di ranjang bersih hotel mewah. Kalau ada orang tak kenal mereka pikir mereka pasangan selingkuh booking hotel untuk berbuat maksiat.