MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Keadilan


__ADS_3

"Siapa adikmu? Adikmu cuma Ranti. Jangan ngawur kamu!" Amanda nyerocos potong pengakuan Rangga memiliki adik lain selain Ranti.


"Ini adikku dari lain ibu. Ingat bunda Rene? Dia anak bunda Rene yang dulunya bernama Santi." Rangga tak mau tutupi siapa sesungguhnya Sania lagi. Sudah saatnya Amanda tahu bahwa masih ada penerus asli Sunrise.


Wajah Amanda berubah pucat. Ntah itu hanya akting atau memang kaget dengar anak Rene masih hidup. Bertahun-tahun Santi hilang tanpa kabar. Semuanya berpikir Santi telah meninggal diculik orang. Kini Santi yang dianggap sudah tewas duduk manis di depannya.


"Jangan karang cerita Erlangga! Santi telah mati. Kau gunakan orang lain untuk jadi tameng kebusukan hatimu. Peras orang tua, curi harta orang tua. Dasar anak tah tahu diri." jerit Amanda histeris.


Amanda berubah tak terkendali dikabari anak Rene masih hidup datang menuntut keadilan. Walau dalam hati Sania kesal namun wanita ini berusaha tenang. Dia sudah lama menunggu moments ini. Tinggal selangkah lagi dia akan jebloskan wanita busuk itu ke penjara. Dendam masa lalu akan impas walau Sania tetap harus kehilangan mamanya.


Kegaduhan terjadi di ruang pemeriksaan kantor polisi. Amanda tak terkendali teriak histeris tak terima Sania masih hidup. Semua aset Rene akan diungkit akan kembali pada yang berhak.


Pengacara Amanda kerepotan tenangkan kliennya yang berubah seperti orang hilang akal. Mata Amanda jadi liar menatap curiga semua yang ada di ruang polisi.


Sebenarnya Sania iba lihat wanita paro baya itu namun setiap kejahatan ada hukumannya. Siapa menabur bibit busuk dia akan panen hasil busuk juga. Tak ada yang bisa melawan keadilan dari Yang Maha Kuasa. Amanda sudah memetik hikmah dari semua keserakahan serta akal busuknya.


Jangan sekali-kali berniat lakukan kejahatan karena karma buruk akan menimpa orang yang suka berbuat jahat. Berjalan di jalan lurus jauh lebih mudah dari pada lalui jalan berkelok-kelok.


"Bu Amanda...anda tenang! Semuanya akan terang benderang bila saatnya tiba. Andai anda tak merasa bersalah silahkan gugat balik. Demikian juga pihak Pak Rangga. Kita perlu pembuktian. Pemeriksaan kita tunda berapa hari lagi sampai Bu Amanda tenang." pak polisi pilih tunda pemeriksaan karena kondisi Amanda tak bisa diajak kerja sama. Wanita itu syok berat orang-orang dari masa lalu telah berdatangan hakimi dia.


"Apa klien kami boleh kami bawa pulang dulu? Kami akan bertanggung jawab bila dia kabur. Jadikan dia tahanan kota pak! Kondisi jiwanya sedang terganggu." pengacara Amanda memohon kebijakan pihak polisi beri waktu pada Amanda untuk menenangkan diri.


Tatapan mata Amanda jadi kosong. Wajah anggun seorang presiden direktur sirna ganti wajah bodoh calon orang sakit jiwa. Amanda sanggup berbuat keji menghabisi nyawa orang tapi tak sanggup terima kekalahan.


Sania dan Rangga terenyuh melihat kondisi Amanda langsung berubah begitu tahu Sania masih hidup. Aset-aset Rene yang selama ini dia kuasai akan segera pindah tangan. Sania telah kembali menuntut semua haknya. Nasib Amanda tak ubah jadi gembel tanpa harta apapun. Wanita ini tak bisa terima tiba-tiba jatuh miskin. Segala kemewahan sirna di makan keadilan.


"Ijinkan saja pak polisi! Kami yakin dia tak bisa ke manapun. Bawa dia ke psikiater dulu pak pengacara. Jiwanya terguncang dimiskinkan." ujar Rangga tak tega penjarakan Amanda dalam kondisi labil. Rangga sengaja omong duluan sebelum si hati baja Sania tegas penjarakan Amanda. Rangga ngerti perasaan Sania yang tak sabar ingin lihat kehancuran wanita culas itu.


"Baiklah kalau pak Rangga sudah jamin. Anda berdua manusia pilihan. Dizholimi masih baik hati. Kasus ini akan kami usut hingga tuntas. Kalian tak perlu kuatir. Masih ada keadilan walau sekarang banyak bilang hukum bisa dibeli. Itu tergantung oknum yang tangani kasus. Masih banyak aparat berhati bersih. Oknum nakal itu tidak wakili institusi kepolisian tapi itu pribadinya." pak polisi berkata memaparkan kalau masih ada keadilan walau kadang ada aparat nakal tergiur sogokan.


"Kami berterima kasih. Pengacara kami akan beri bukti konkrit semua tentang kejadian di keluarga kami. Mohon tegakkan keadilan bagi adik saya."


"Pak Rangga tak usah kuatir. Keadilan masih ada. Silahkan bawa Bu Amanda pulang! Beri dia ketenangan dulu. Jangan beri tekanan karena akan pengaruhi kejiwaan Bu Amanda."


Pak polisi mendapati Amanda baru saja alami goncangan batin. Pikiran wanita ini sedang kacau balau semua rahasianya terbongkar karena kemunculan anak Rene. Madunya yang telah meninggal. Kalau Amanda terbukti jadi dalang meninggalnya mama Rangga dan mama Sania penjara seumur hidup tak lari dari genggaman. Bisa jadi hukuman mati.


Namun semua masih harus dikaji. Pembantu Amanda berbuat jahat telah di tangan pihak berwajib. Darman secara suka rela serahkan diri karena lelah dikejar rasa bersalah. Pihak kepolisian berjanji akan bongkar kejadian masa lalu sampai muncul keadilan hakiki untuk korban kejahatan Amanda.


Amanda dibawa pergi oleh pengacaranya. Tinggal Rangga dan Sania melanjutkan tuntutan kasus Ranti. Rangga dan Sania tak bisa berbuat banyak bantu Ranti karena kesalahan Ranti diketahui umum. Wartawan sebagai bukti tuduhan babi buta Ranti. Di sini Bara berperan apa Ranti bisa dibebaskan atau harus melahirkan di penjara.


Hati kecil Sania berontak tak tega lihat wanita yang telah menikam jantungnya hidup sengsara. Namun orang macam Ranti besar kepala bila dibebaskan tanpa dakwaan. Pelajaran pahit harus di berikan pada wanita itu agar sadar dia bukan maha Dewi yang bisa berbuat seenak perut.

__ADS_1


"Bagaimana dakwaan nona Ranti? Dia masih belum kami penjarakan karena kondisinya sedang hamil. Sementara ini dia jadi tahanan di kantor polisi." pak polisi terangkan kondisi terkini Ranti.


Sania dan Rangga saling berpandangan. Maju atau bebaskan Ranti. Hanya ada dua jalan bagi mereka. Sania bayangkan bagaimana angkuhnya Ranti bila dibebaskan tanpa tuntutan. Dia akan makin semena-mena pada Sania.


"Dia adalah adikku juga pak! Aku dan Ranti tak ada dendam tapi dia telah melukai hati adikku yang satu ini. Begini pak! Minta Ranti buat pernyataan kalau dia telah fitnah Sania dan buat konferensi pers. Minta maaf secara publik untuk bersihkan nama baik Sania. Aku sebagai Abang dari dua adik menengahi masalah ini." Rangga ambil keputusan tanpa tanya pada Sania. Sania pasti takkan bebaskan Ranti dengan mudah. Rangga harus bijak tengahi dia adiknya karena sama-sama sedang hamil.


Sania ingin buka suara tak terima Rangga demikian mudah maafkan Ranti. Tapi Rangga cepat-cepat genggam tangan Sania agar diam. Rangga tak ingin kasus ini merebak makin lebar. Mereka semua jadi sorotan publik. Bara sedang naik daun, Ranti bintang top. Kasus ini akan menjalar ke kiri kanan buat suasana makin runyam.


"Baiklah! Akan kami tawarkan pada nona Ranti. Terima kasih jiwa besar kalian. Tugas kami makin ringan kalau ada niat baik berdamai tanpa perlu naik sidang."


"Sama-sama pak! Maaf keluarga kami sudah merepotkan bapak polisi!"


"Itu tugas kami. Kami siap dua puluh empat jam layani masyarakat. Jangan ragu melapor bila ada kasus!"


"Siap pak. Kami permisi. Untuk selanjutnya kami serahkan pada pengacara kami!" Rangga menarik tangan Sania keluar dari kantor polisi. Rangga harus gerak cepat sebelum bibir tajam Sania berkotek keluarkan nada-nada tajam yang bisa tenggelamkan Ranti dalam kubangan.


Sania mendesah tak puas cara Rangga selesaikan kasus Ranti. Ranti menang banyak andai Rangga gampang bebaskan dia. Rangga terlalu lemah ambil keputusan hukum orang bersalah. Sania memang tak tega memenjarakan Ranti namun harus ada efek jera. Sekedar minta maaf persoalan dianggap selesai bukankah terlalu enak bagi Ranti?


Tampang Sania penuh kabut keluar dari kantor polisi. Cocok dengan cuaca mendung di langit. Sama-sama kelabu. Rangga tak banyak komentar selain bantu Sania naik ke mobil. Tugas Rangga saat ini kembalikan Sania dalam keadaan utuh pada Bara. Selanjutnya tunggu niat baik Ranti bersihkan nama baik Sania.


Mobil bergerak balik ke kantor Bara. Rangga ngerti perasaan Sania dilangkahi ambil keputusan. Sania sedang hamil muda tak baik berbuat kasar pada orang. Kata orang jaman ibu hamil harus lihat yang indah-indah agar anaknya terlahir cantik. Rangga pingin punya keponakan cantik dan ganteng maka tak ijinkan Sania turun tangan jahat.


"Dek...jangan ngambek dong! Mas ambil keputusan ini demi kamu juga."


"Bukan gitu! Kamu sedang hamil. Tak baik berbuat kejam. Orang hamil harusnya manis Budi biar anak-anak juga manis. Kau kan tak tega penjarakan Ranti kan? Dia minta maaf secara terbuka merupakan hukuman paling sadis. Seorang bintang besar akui kesalahan di publik. Itu mencoreng muka Ranti. Siapa simpatik pada orang macam dia? Karier dan nama tenggelam bersama muncul pernyataan maafnya." Rangga jelaskan dengan sabar supaya Sania puas.


Sania buang muka belum terima penjelasan Rangga. Sania kesal Rangga ambil keputusan tanpa diskusi dengannya. Rangga memang berhak memutuskan yang terbaik untuk adik-adiknya cuma harus ada ijin Sania sebagai orang terzolimi.


Rangga melirik wajah murung Sania. Adiknya masih terluka diserang bertubi-tubi oleh Amanda dan Ranti. Rangga gampangan beri ampun menjadi pukulan bagi Sania. Rangga sudah terlanjur beri jawaban pada pihak berwajib. Jalan itu yang harus ditempuh. Tinggal bagaimana Ranti sikapi kemurahan hati Rangga.


"Mas...aku mau Ranti akui dia yang berbuat curang rebut Bobby. Bukan aku yang menggoda Bobby."


"Ok...ok..mas akan tekan Ranti beberkan kronologi kejadian pernikahan mereka. Kau akan dapat apa yang kau mau." janji Rangga akan buat Ranti terbuka memaparkan kalau Sania hanya korban Ranti dan Bobby.


"Kuharap itu terjadi."


"Mas janji..." Rangga berusaha menyenangkan Sania agar tak tegang. Bara takkan memaafkannya bila terjadi sesuatu pada Sania dan bayi mereka. Bisa-bisa Bara lancarkan perang kalau sempat Sania drop.


"Antar aku ke apartemen! Aku mau tenangkan diri. Mas jangan temui aku kalau persoalan Ranti belum kelar."


"Balik kantor dulu dek! Tinggal dengan Bara redakan emosi. Kau perlu Bara."

__ADS_1


"Tidak...aku lagi kesal. Aku mau tenang di rumahku." Nada Sania sedikit memanjat ke atas capai oktaf tinggi. Rangga melongo.


Sekian lama bersama Sania belum pernah sekalipun Rangga lihat Sania emosi. Kenapa hari ini Sania berubah anarkis tak bisa diajak berdamai. Sania yang santun sirna bagai embun kena panas cahaya matahari. Menguap tanpa jejak.


"Dek...apa salah mas? Kok ketus?"


"Pulang tanya diri sendiri!" ketus Sania melempar pandangan keluar jendela mobil.


Kutu-kutu di kepala tumbuh subur membuat lajang akut Rangga menggaruk kepala. Gatal terasa di mana-mana. Rangga belum terbiasa dicueki adik kesayangan. Gara-gara hindari konflik lebih berat bikin kasus baru. Kasus Rangga kena blacklist Sania.


Rangga pusing dicueki Sania. Padahal niat Rangga baik. Dalam persaudaraan tak perlu ada dendam walau Ranti memang banyak buat salah pada Sania. Rangga tak ngerti amarah Sania pada Ranti capai setinggi puncak Himalaya. Ranti berkali-kali sakiti Sania. Masih untung Sania tak sewa orang turun tangan kejam pada Ranti.


Rangga tak punya pilihan lain selain ikuti permintaan Sania turunkan dia di gedung apartemennya. Tak ada guna melarang ibu hamil muda. Emosi ibu hamil labil berubah sesuai keinginan mereka.


Rangga hentikan mobil persis di pintu masuk gedung. Angin sejuk menyambut Sania keluar dari mobil abangnya. Wajahnya masih murung belum bisa diajak baikan. Rangga mengurut dada sesak dicueki adik tercinta.


Semua terlanjur basah. Hendak dikeringkan perlu waktu. Biarlah Sania menenangkan diri di apartemen sepinya. Semoga Sania paham maksud baik Rangga.


Tanpa ucap salam Sania melangkah masuk ke gedung diiringi tatapan suram Rangga. Sania ngambek.


Rangga angkat hp beri kabar pada Bara agar lihat Sania di apartemen. Rangga tak ingin hal buruk menimpa adiknya. Bara adalah orang paling tepat dikabari mengenai keberadaan bini mungil Bara.


"Assalamualaikum...Bara..ini Rangga!"


"Waalaikumsalam...di mana Sania? Tumben telepon.!"


"Sania ngambek. Dia ada di apartemennya. Kau datang hibur dia."


"Sania kenapa mas?" buru Bara terdengar cemas.


"Dia marah aku beri keringanan pada Ranti. Sania sedang hamil, aku tak mau dia berbuat kejam. Ini tak bagus untuk janin-janin di perutnya. Ibu hamil jangan anarkis! Dia malah ngambek!" cerita Rangga putus asa kena blacklist Sania.


"Mas tak tanya kemauan dia?"


"Bara...kalau tanya dia Ranti bisa melahirkan di penjara. Aku sebagai Abang tak mau kedua adikku berseteru dalam keadaan hamil."


"Aku ngerti tapi apa tuntutan mas pada Ranti?"


"Bersihkan nama baik Sania dan minta maaf secara terbuka. Dia publik figur..minta maaf secara publik sudah merupakan hukuman kejam. Sania menambah Ranti harus akui dia yang berselingkuh dengan Bobby. Bukan Sania yang menggoda Bobby seperti tuduhan Ranti. Kurasa itu cukup menghukum Ranti. Karier nya bakal hancur."


"Aku sih terserah kalian. Asal Sania puas aku tak masalah."

__ADS_1


"Sania tak terima aku cuma hukum Ranti segitu. Ntah apa maunya? Mungkin dia mau Ranti rasakan sakit yang dia rasakan."


"Sania sedikit berubah sejak hamil. Keras kepala tak bisa kita kasari. Aku maklumi niat baik mas cuma ibu hamil tak bisa kita lawan."


__ADS_2